
Alunan musik yang menenangkan terdengar di ruang kerja yang ada di Butik milik Jessica. Ruangan yang biasa tertata rapi kini terlihat berantakan. Kertas-kertas hasil design busana terbaru pun berserakan di atas meja, menjadi saksi bisu sang pemilik yang sedang di rundung kegelisahan hati.
Raut wajah yang biasa berhiaskan senyum cantik, kini sepertinya senyum itu tertinggal di kantor milik Ezar, hingga membuat sang pemilik terlihat murung di kursi kebesarannya.
Jeje menopang dagunya dengan tangan kanan yang di tekuk di atas meja. Raut wajahnya mengisyaratkan bahwa keadaannya saat ini tidak baik-baik saja. Tatapannya menerawang jauh entah kemana.
"Haruskah aku menerima saran dari Ezar untuk menjadi istri keduanya?" gumam Jeje dalam hatinya.
Kegelisahan dan keraguan sedang berperang dalam dirinya untuk sebuah keputusan besar yang akan berpengaruh dalam kehidupan Jessica setelah ini. Semua kalimat yang di ucapkan Ezar beberapa jam yang lalu terus terngiang dalam indera pendengarannya. Ungkapan cinta, rayuan dan janji-janji manis dari Ezar sedang menghantui dirinya.
"Apakah menjadi istri kedua pilihan yang tepat?" tanya Jeje pada dirinya sendiri.
Jeje melirik jam dinding yang terpasang di ruangannya yang menunjukkan pukul dua siang. Sebuah ide muncul dalam pikirannya dan tentu saja ini bukanlah ide yang baik.
Jeje meraih tasnya untuk mengambil benda pipih yang biasa di pakai untuk menghubungi Ezar. Ia mencari nomor ponsel Bella yang pernah ia curi dari ponsel Ezar.
Beberapa detik kemudian, sambungan itu pun berhasil tersambung dengan seorang wanita yang ada di sebrang sana. Suara lembut Jessica pun menggema di ruang itu, nada bicara yang tenang menjadi ciri khas nya.
"Baiklah, aku tunggu di cafe mini yang ada di samping rumah sakit," ucap Jeje sebelum mengakhiri panggilan telfonnya.
Lagi dan lagi Jeje memijat keningnya, masalah ini benar-benar membuat kepalanya pening. Ketika hati dan pikiran tak sejalan, di situ lah kebimbangan akan terjadi. Jeje tahu, menikah dengan Ezar tidak mungkin membuatnya selalu bahagia, tapi melepas Ezar pun rasanya ia tidak akan sanggup. Ia terlanjur menaruh hati dengan pria beristri itu.
Setelah bersiap selama tiga puluh menit, Jeje akhirnya siap berangkat untuk menemui Bella di Rumah sakit. Entah apa yang di lakukannya nanti, yang jelas ide gila tengah merasuk ke dalam pikirannya.
Sebuah midi dress selutut dengan model V-neck berwarna hitam melekat dengan sempurna di tubuh sexy itu, membuat Jeje semakin percaya diri untuk bertemu dengan Bella.
"Rima ... kunci salon kamu yang bawa, jangan lupa besok buka lebih awal ya," ucap Jeje ketika menemui Rima di salon miliknya.
"Siap cin, besok eyke berangkat subuh dah!" kelakar Rima dengan gaya kemayu nya, membuat Jeje mengukir senyumnya.
...π π π π ...
__ADS_1
Secangkir cappucino late baru saja di hidangkan seorang waiters di meja tempat Jeje berada saat ini. Sepuluh menit yang lalu, ia baru sampai di rumah sakit tempat Alana dirawat. Ia duduk dengan tenang, menunggu kedatangan Bella di Cafe rumah sakit.
Jeje mengalihkan pandangannya ketika mendengar derap heels dari arah pintu masuk, seketika satu sudut bibirnya terangkat ketika melihat siapa yang datang.
"Silahkan pesan minum terlebih dahulu sebelum kita ngobrol," ucap Jeje ketika Bella sudah duduk di hadapannya. Tatapan mata menyebalkan tersorot dari mata indahnya.
Bella tak bergeming, ia terus menatap wajah wanita yang sudah merusak rumah tangganya itu dan jujur saja ia ingin sekali menarik rambut Jeje yang di biarkan tergerai itu.
"Tidak usah, aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu, jadi katakan saja apa tujuanmu mengajakku bertemu!" ucap Bella dengan wajah datarnya.
Jeje menyibakkan rambutnya ke belakang, ia mengatur posisinya sebelum membicarakan hal penting bersama istri kekasihnya itu.
"Baiklah jika itu mau mu ...." ucap Jeje dengan manik hitam yang terpaku pada wajah datar di hadapannya.
Jeje mulai menceritakan apa yang sudah ia bahas bersama Ezar tadi pagi. Semua rencana Ezar telah di sampaikan kepada Bella tanpa ada yang di tutupi.
Bella meremas ujung dress yang di pakainya setelah mendengar semua penuturan Jessica. Lagi dan lagi hatinya harus merasakan sakit akibat cinta segitiga yang sedang di lakukan oleh suaminya.
"Jadi bagaimana menurutmu, Bel?" tanya Jessica yang acuh dengan rasa sakit di hati Bella.
"Jangan harap kamu bisa menikah dengan suamiku, Ja-la-ng!" ucap Bella dengan penuh penekanan.
Telaga bening itu memancarkan kilatan amarah yang begitu besar. Bella tidak habis pikir terbuat dari apa hati Jessica ini, hingga membuat ia tega melakukan semua ini terhadapnya.
Kedua wanita ini sama-sama terdiam, saling menatap satu sama lain dengan sorot mata yang berbeda. Jeje masih menunggu jawaban yang terucap dari bibir Bella.
Bella tidak habis pikir dengan keputusan suaminya, ia tidak menyangka jika suaminya benar-benar serius dengan Jessica. Ezar sudah tidak waras lagi, bagaimana bisa ia memutuskan menikahi Jessica tanpa berbicara kepadanya, apalagi ketika putrinya terbaring lemah di rumah sakit.
"Baiklah, jika kamu masih bungkam. Aku mempunyai dua pilihan untukmu," ucap Jeje dengan senyum penuh kemenangan.
"Katakan!" ucap Bella.
__ADS_1
"Biarkan Ezar menikah denganku atau aku akan merebut Ezar agar menjadi milikku seutuhnya," sungguh, kalimat panjang ini berhasil membuat Bella seketika terhenyak.
"BRENGS3K!!" teriak Bella dengan telapak tangan yang di pukulkan di meja Cafe. Ia semakin melebarkan kedua matanya melihat ekspresi tenang Jessica, apalagi ketika kedua sudut bibirnya tertarik ke dalam.
"Hey ... hey ... tenang!! lihatlah, banyak orang sedang menatapmu!" lirih Jeje, membuat Bella mengedarkan pandangannya.
Bella mencoba menguasai dirinya, ia kembali duduk di kursi, tentunya dengan segenap amarah yang semakin berkobar dalam hatinya.
"Jadi kesimpulannya, biarkan Ezar menikah denganku secara sah di mata hukum dan agama, aku ingin kamu melamarku untuk Ezar dan menyaksikan sendiri pernikahan kami," ucap Jessica dengan entengnya di hadapan Bella.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Bella dengan kedua tangan yang di lipat di bawah dada nya.
Jeje semakin menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Bella, ia meraih tasnya dan berdiri lalu ia membungkukkan tubuhnya dengan di topang kedua tangan yang ada di atas meja.
"Kalau kamu tidak mau ... bersiaplah menjadi janda dari sekarang, akan aku pastikan Ezar akan meninggalkanmu, dan tentu saja aku akan membuat Ezar membawa putrimu ikut bersama kami," Lirih Jeje dengan di iringi senyum smirk setelahnya.
"Aku memberimu waktu untuk memikirkan dua pilihan dariku, Nyonya Bachtiar ...." ucap Jeje sebelum berlalu dari hadapan Bella yang termangu di tempatnya.
Bella mencerna kalimat panjang yang baru saja di ucapkan oleh Jessica. Sebuah rangkaian kata yang sangat menyakitkan hatinya. Bendera perang antara dua wanita ini pun mulai berkibar.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
Nulis part ini menguras emosi bangetπ mood othor jadi jungkir balik, gegara ngebayangin si Bellaπ°
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·π·