
Satu bulan kemudian ....
Sinar mentari mulai muncul di cakrawala timur, menandakan pagi telah datang. Sinar sang surya berhasil membuat kamar yang tadinya gelap menjadi terang karena jendela kaca yang besar itu di biarkan terbuka tanpa tirai.
Senyum merekah terbit dari bibir Ezar tatkala kedua manik hitamnya menatap wajah polos Bella yang terlelap dalam tidurnya. Entah mengapa pagi ini ia ingin melihat wajah sang istri lebih lama dari biasanya.
Setelah melewati proses yang panjang akhirnya Ezar menetapkan hati hanya untuk Bella seorang. Ia berusaha keras mengusir sosok Jessica dari hatinya, ia tidak mau terus hidup dalam bayang-bayang wanita yang tidak mungkin ia miliki lagi.
Perubahan sikap Bella berhasil membantu Ezar kembali seperti dulu. Menjadi sosok suami dan papa yang memiliki banyak cinta untuk keluarga kecilnya. Ezar bisa melihat ketulusan cinta yang di berikan Bella untuknya, Bella pun sudah menjadi istri dan mama yang ideal dan perhatian.
Sosialita dan hal-hal tidak penting yang dilakukan Bella di masa lalu telah di tinggalkannya sejak ia tahu perselingkuhan yang dilakukan suaminya. Sejak saat itu, Bella bertekad untuk merubah diri menjadi lebih baik, menjadi istri ideal yang di inginkan oleh Ezar.
Terkadang kita harus merasakan sakit hati terlebih dahulu untuk bisa merubah diri menjadi lebih baik.
Setelah puas memandang wajah sang istri, Ezar bergegas turun dari ranjangnya. Ia berinisiatif membuatkan sandwich untuk Bella, tak lupa ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar.
Lima belas menit telah berlalu begitu saja, dua potong sandwich telah tersaji di atas piring keramik berwarna putih. Ezar berlalu dari dapur menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Pintu kamar kembali tertutup setelah Ezar berhasil masuk ke dalam kamar. Ia berjalan menuju ranjang yang masih berpenghuni, Bella pun masih terlelap dalam tidurnya.
"Baby, bangun yuk!" tangan Ezar menyusuri rahang Bella dengan penuh kelembutan. Hal itu berhasil mengusik tidur nyenyak Bella.
Perlahan Bella mulai membuka kelopak matanya, senyum tipis terbit dari bibirnya untuk menyambut senyum hangat yang di berikan sang suami pagi ini.
"Good morning, Baby ...." ucap Ezar dengan diiringi sebuah senyuman yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan.
Bella tersipu melihat tatapan yang di layangkan Ezar untuknya. Rona merah terlihat jelas di wajah mulusnya ketika Ezar menyerahkan piring yang berisi sandwich untuknya.
"Morning, Baby ...." Bella menatap Ezar dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Ini sandwich khusus untukmu, aku sendiri yang membuatnya," ucap Ezar.
"Wah benar kah? terima kasih, Baby ...." binar bahagia terpancar dari sorot mata Bella saat ini.
Keduanya menikmati pagi yang indah ini dengan berbagi sandwich, saling menyuapi satu sama lain di atas ranjang yang masih berantakan.
"Ya Tuhan ... terima kasih telah mengabulkan semua doa hamba. Terima kasih telah mengembalikan cinta di hati suami hamba," gumam Bella dalam hatinya, ia tak henti mengulas senyumnya pagi ini.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu yang terdengar berulang kali berhasil membuyarkan suasana romantis yang baru saja tercipta. Bella segera turun dari ranjang untuk melihat siapa yang ada di depan kamarnya.
"Mila ... ada apa?" tanya bella ketika melihat perawat Bu Lidya berdiri di depan kamarnya.
"Maaf Nyonya jika saya sudah mengganggu tidur nyenyak Nyonya. Saya hanya di suruh Nyonya Lidya untuk memanggil Nyonya Bella dan Tuan Ezar, beliau ingin Nyonya dan Tuan datang ke kamar sekarang juga," ucap Mila sambil menatap wajah Bella.
"Baiklah, sampaikan kepada Mama jika saya akan ke bawah setelah ini," ucap Bella sebelum Mila berlalu pergi dari hadapannya.
"Nak Ezar, Mama mau minta tolong," ucap Bu Lidya dengan suara yang lirih.
"Apa yang Mama inginkan?" tanya Ezar seraya duduk di sisi ranjang, ia meraih tangan Bu Lidya dan menggenggamnya erat.
"Tolong antar Mama untuk bertemu Jessica pagi ini," ucap Bu Lidya dengan nada penuh harap, "tapi sebelum itu, tolong buatkan surat pengalihan hak milik. Mama ingin menyerahkan semua hak Jessica yang pernah Mama rebut dengan kakak iparmu," lanjut Bu Lidya dengan suara yang bergetar.
Ezar hanya diam lalu ia beralih menatap Bella yang sedang berdiri di sampingnya. Sebuah anggukan dari Bella untuk menjawab pertanyaan dari Ezar yang tersirat lewat sorot matanya.
"Setelah ini Ezar akan membuat suratnya, Ma. Nanti setelah sarapan kita bisa ke rumah suaminya Jessica." sebuah jawaban dari Ezar yang membuat Bu Lidya menghela nafasnya lega.
"Tapi Nak, apa kamu tahu di mana tempat tinggal Jessica saat ini? Mama tidak mau di antar Siva dan suaminya, Mama ingin pergi dengan kalian," ucap Bu Lidya dengan nada penuh harap.
__ADS_1
"Ezar akan mencari tahu Ma, Mama tenang saja," ucap Ezar sebelum berlalu pergi dari kamar Bu Lidya. Ia pergi ke ruang kerja untuk membuat surat kuasa pengalihan harta yang akan di tanda tangani Bu Lidya dan Jessica di atas materi nanti.
Setelah Ezar berlalu pergi, kini tinggal lah Bu Lidya dan Bella. Ibu dan anak itu berbicara dari hati ke hati dengan serius.
"Mama tidak boleh ngomong seperti itu, Mama pasti sembuh. Kalau Mama mau, Bella bisa membelikan Mama kaki palsu," ucap Bella untuk menangkan jiwa rapuh sang mama.
Ya, Kaki kanan Bu Lidya telah di amputasi sekitar dua minggu yang lalu. Dokter terpaksa harus melakukan amputasi karena kaki kanan Bu Lidya tidak berfungsi lagi dan membu-suk karena ada luka yang terus menjalar ke atas. Komplikasi yang di derita Bu Lidya kini bertambah parah karena adanya gula darah yang tinggi.
Semangat hidup Bu Lidya sudah tidak ada lagi, setiap hari beliau terus berdoa agar Tuhan segera mengambil nyawa nya. Kondisi psikis Bu Lidya benar-benar terpuruk, apalagi setelah kakinya harus di amputasi.
"Mama tidak boleh patah semangat, Bella dan Kak Siva ingin Mama segera pulih dan kembali ceria seperti dulu," ucap Bella setelah melihat Bu Lidya termenung dengan tatapan kosongnya.
Bu Lidya hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi, beliau memberikan isyarat kepada Bella agar keluar dari kamarnya, beliau ingin sendiri saat ini.
Bella menghela nafasnya ketika melihat kondisi Mamanya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Ia berjalan menuju ruang kerja Ezar untuk melihat surat yang sedang di siapkan suaminya itu.
Senyum tipis mengembang di wajahnya ketika melihat Ezar serius di depan laptop. Bella berdiri di samping pintu yang kembali tertutup rapat setelah dirinya masuk ke dalam ruang kerja. Ia bersandar di dinding dengan tangan yang bersekedap.
"Suamiku, terima kasih karena kamu sudah menghapus Jessica dari hatimu. Aku sangat yakin, jika nama wanita itu tidak ada lagi di hatimu karena tanpa ragu kamu berani mengantar Mama bertemu dengannya setelah ini," gumam Bella dalam hatinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Hallo semua😉😉mumpung hari senin, yang punya Vote monggo di Vote kan ke mbak Jess ya😀 jika tidak punya vote, boleh dong kasih poin untuk mbak Jess sebagai bentuk apresiasi dari kalian♥️😍 othor sangat berterima kasih jika ada yang memberi Bunga, kopi ataupun koin🙏
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷