Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Bermunajat,


__ADS_3

"Ya Tuhan ... ampuni segala kesalahan yang sengaja hamba lakukan selama ini. Hamba bukan wanita suci lagi, hamba malu untuk menghadap Engkau wahai Sang Pemilik jagat ...."


Dalam keheningan yang tercipta di sudut kamar yang ia tempati saat ini, Jessica tengah bermunajat, mengharap pengampunan dari Sang Pencipta. Setelah tidur beberapa jam, akhirnya Jessica terbangun ketika penunjuk waktu berada di angka tiga pagi.


Setelah beberapa jam yang lalu berbicara dengan Jerry tentang langkah yang harus ia tempuh setelah ini, Jessica memutuskan untuk mengakhiri semua kekacauan dalam hidupnya, kini ia sedang merayu Sang Kuasa agar mengampuni segala dosa yang sudah ia perbuat.


Jessica menumpahkan tangisnya setelah mengeluarkan segala kegundahan dalam hatinya. Ia sadar bahwa selama ini yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Jessica tahu bahwa ia tidak berhak untuk menghukum wanita-wanita yang telah mengabaikan pasangannya.


"Aku sudah lancang, Ya Robb ...."


Jessica mencoba berdamai dengan hatinya, ia harus melepaskan apa yang bukan miliknya demi menjalani hidup yang tenang seperti dulu. Semua keresahan telah di keluarkan Jessica dari hatinya, membuat hati dan pikirannya menjadi lega.


Waktu terus berjalan tanpa bisa di hentikan, kini suara adzan subuh mulai menggema, waktunya umat muslim melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Begitu pun dengan Jessica, ia segera berdiri di atas sajadah merahnya untuk melaksanakan kewajibannya.


***


Weekend telah tiba, dimana semua orang menanti datangnya hari ini untuk menikmati waktu bersama keluarga. Bunyi alarm yang ada di nakas berhasil membuat Jerry mengerjapkan kedua kelopak matanya.


Setelah beberapa menit meregangkan otot-ototnya di atas tempat tidur, Jerry segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebuah rutinitas yang wajib ia jalani di pagi hari.


Matahari masih malu untuk menampakkan dirinya, hanya semburat warna kekuningan yang terlukis di cakrawala. Aroma parfum maskulin bertebaran di sepanjang jalan yang di lewati Jerry, ia mencari keberadaan Fano dan Jessica yang tidak di temukan di kamarnya.


"Dimana Fano dan Jeje?" tanya Jerry ketika berpapasan dengan Kokom, sang asisten rumah tangga.


"Nona Je ada di depan Tuan muda," ucap Kokom


Jerry berlalu begitu saja dari hadapan Kokom, mengayun langkah menuju taman yang ada di depan. Tawa renyah milik Fano akhirnya bisa ia dengar dari teras rumahnya. Jerry menatap Fano yang sedang bermain bersama Jessica dan Nyonya Monik di taman.


"Kenapa kalian sudah di luar? ini masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas di luar," ucap Jerry ketika sampai di taman.


"Kamu saja yang terlambat bangun, Jer!" ucap Nyonya Monik tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah kecil yang sedang mengukir senyum di hadapannya.


"Oh ya Jer ...." Bu Monik kini mengalihkan pandangannya dari Fano, "hari ini Mommy harus kembali Ke Bali, sejak kemarin Anne terus menelfon Mommy agar segera pulang," lanjut Nyonya Monik.


"Kenapa buru-buru sih Moms! bukankah ini rumah Mommy, kenapa harus tinggal di Bali sih!" ucap Jerry dengan wajah yang tertekuk.

__ADS_1


"Seperti yang Mommy katakan dulu, Mommy akan kembali kerumah ini jika kalian sudah menikah!" ucap Nyonya Monik yang berhasil membuat Jessica terkejut.


"Mommy!" ucap Jerry dan Jeje bersamaan.


"Sudahlah Jer, Mommy tidak mau tau, hari ini juga Mommy harus kembali ke Bali, Mommy sudah rindu dengan keponakanmu," ucap Nyonya Monik yang berhasil membuat Jerry mendengus kesal.


Jeje mencoba membujuk Nyonya Monik agar tidak kembali Ke Bali, karena ia kasihan melihat Jerry yang kembali kesepian setelah ini. Ia pun berencana untuk kembali ke rumahnya.


"No ... no ... no ... Mommy tidak mengizinkan kamu kembali ke rumahmu, Je! bila perlu akan Mommy jual rumah itu! kamu dan Fano harus tinggal di rumah ini, Mommy tidak mau kamu sakit lagi," ucap Nyonya Monik dengan suara lantangnya.


Duo Je itu akhirnya hanya bisa pasrah dengan keputusan yang di ambil Nyonya Monik, tidak mudah untuk merayu wanita paruh baya yang mempunyai watak keras kepala ini.


...🌹🌹🌹🌹...


Senja terukir indah untuk mengiringi sang surya pulang ke singgasananya. Setelah mengantar Nyonya Monik ke Bandara, kini mereka bertiga berlalu pergi dari gedung raksasa ini.


"Papa ... Fano pengen main ke Mall," ucap Fano yang ada di kursi belakang.


"Baiklah Pangeran kecil, kita kesana sekarang," ucap Jerry dengan pandangan fokus kedepan.


Fano terlihat bahagia ketika memasuki area timezone. Ia mencoba bebagai permainan bersama Jerry, sedangkan Jessica hanya duduk manis menikmati pemandangan yang indah di hadapannya, tak ada lagi yang membuatnya bahagia selain melihat Fano tertawa lepas seperti saat ini.


"Loh kok udah selesai, Jer? tumben?" Jeje menaikkan satu alisnya ketika Fano dan Jerry sudah kembali, padahal mereka berdua biasa menghabiskan waktu berjam-jam disana.


"Aku laper, Je ... kita cari makan dulu," ucap Jerry.


Jeje pun beranjak dari tempat duduknya, ia mengikuti langkah Jerry menuju salah satu resto ternama di Mall ini.


"Tumben gak makan di Resto Jepang?" tanya Jeje ketika mereka bertiga berhasil menemukan meja kosong.


"Aku ingin makan iga bakar disini," ucap Jerry sembari membaca daftar menu yang ada disana.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka telah datang. Berbagai jenis masakan tersaji disana. Fano bahkan memesan banyak salad buah, entah untuk apa ia merengek ingin pesan makanan sebanyak itu.


"Ma ... mama ...." Fano menarik dress yang di pakai Jessica.

__ADS_1


"Ada apa, Nak? Mama belum selesai makan," ucap Jessica tanpa menatap Fano, ia sedang asyik menikmati iga bakar yang sangat lezat itu.


"Ma ... tante itu perutnya kan besar, di dalamnya pasti ada adek bayi ya Ma?" Fano menunjuk seorang wanita hamil yang sedang berdiri di dekat kasir.


Jeje dan Jerry mengikuti arah jari telunjuk Fano, "Betul sekali, Nak ... anak Mama pinter banget sih!" Jeje mengusap rambut Fano dengan tangan kirinya.


Jeje telah selesai menikmati makanannya, kini tinggal Jerry yang masih asyik dengan iga bakar yang baru saja ia pesan lagi.


Perut Jessica rasanya mau meledak, karena Fano terus mengulurkan sendok berisi salad buah ke bibir Jessica, mau tidak mau ia harus menerima perlakuan dari putranya.


"Fano, stop Nak! Mama udah kenyang, perut Mama sudah penuh," Jessica menggelengkan kepalanya karena tak sanggup lagi menerima pemberian Fano.


"Mama harus makan yang banyak, biar nanti perutnya Mama besar seperti Tante yang tadi," ucap Fano dengan wajah polosnya.


"Mama harus makan banyak mayonaise ya Ma, biar adonan adeknya Fano cepat matang, Ma ...." Jessica terperangah setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh putranya.


"Emm ... Fano di kasih tau siapa kalau adonan adek bayi terbuat dari mayonaise?" Jessica menyelidik karena rasa penasaran yang besar dalam dirinya.


"Fano di kasih tau Papa, Ma ... iya kan Pa? Mama harus makan mayonaise yang banyak kan pa?"


"Uhuk ... uhuk ...."


Jerry tersedak setelah mendengar pertanyaan dari Fano, ia menghentikan kegiatannya, iga bakar pun tk lagi disentuhnya, kini ia menatap wajah wanita yang ada di hadapannya. Jerry bergidik ngeri ketika melihat sorot mata menakutkan yang terpancar dari kedua manik hitam Jessica.


"JERRY!!!!!!"


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 ♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2