Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Jerry Vs Fery,


__ADS_3

🎡When I look into your eyes


I can see a love restrained


But darlin' when I hold you


Don't you know I feel the same?


Nothin' lasts forever


And we both know hearts can change


And it's hard to hold a candle


In the cold November rain ....


Alunan lagu dari band legendaris Guns N' Roses terdengar lirih di Ruang kerja Jerry. Pria keturunan Mexico itu tengah menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Laporan dari beberapa cabang perusahaan yang masuk melalui E-mail harus membuatnya lembur malam ini.


Secangkir kopi hitam dengan sedikit gula telah tersaji di meja kerjanya, sesekali ia menyeruput kopi hitam itu ketika rasa penat mulai menghampirinya.


Satu persatu E-mail yang masuk telah terbaca, membuat Jerry tersenyum tipis karena profit perusahaan tidak ada yang turun. Jerry meraih ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya karena ada hal yang harus di selesaikan.


"Oh iya Dan, jangan lupa berikan bonus kepada semua karyawan di awal bulan nanti. Surat resminya sudah aku kirim ke E-mail mu," ucap Jerry sebelum panggilan bersama Dani terputus.


Jerry beranjak dari kursi kerja, ia berjalan menuju rak yang berisi buku-buku miliknya. Ia memutuskan mengambil buku tentang bisnis untuk mencari sesuatu yang harus ia temukan.


Halaman demi halaman telah Jerry lewati. Namun, aktifitasnya harus terhenti ketika mendengar suara pintu yang di ketuk dari luar dan beberapa detik kemudian pintu terbuka sedikit.


"Maaf Tuan Muda, ada tamu yang menunggu di Ruang tamu," ucap Kokom, salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Wongso.


Jerry mengernyitkan keningnya lalu ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "siapa?"


tanya Jerry dengan wajah yang datar.


"Namanya Fery, Tuan. Katanya ada hal yang sangat penting yang harus di bahas bersama Tuan," ucap Kokom.


"Lima menit lagi saya akan turun," ucap Jerry sebelum Kokom kembali menutup pintu ruang kerjanya.


Berbagai spekulasi tengah bertebaran dalam pikiran Jerry. Ia menerka untuk apa Fery datang menemuinya di jam seperti ini, "apa Fery masih penasaran dengan identitas Fano?" gumam Jerry sambil menggerakkan kursinya ke kanan dan ke kiri.


***


Keringat dingin tiba-tiba membasahi telapak tangan Fery ketika melihat kehadiran Jerry di ruang tamu. Bola matanya mengikuti tubuh pria yang lebih muda darinya. Entah mengapa, Ferry tiba-tiba merasa gugup ketika melihat Jerry duduk di sofa yang ada di depannya.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan Fery ...." suara berat Jerry berhasil membuat Fery terkesiap.


"Hal penting apa yang membuatmu datang ke rumahku?" tanya Jerry sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.


"Ini masih tentang Fano, aku belum percaya jika dia adalah putramu," ucap Fery yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Jerry.


Jerry beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju kaca besar yang menghubungkan pandangannya ke sebuah kolam kecil dengan air mancur buatan yang sangat indah untuk di nikmati.


Kesunyian terasa dalam ruang tamu itu, Jerry bergeming di tempatnya saat ini sambil memikirkan langkah yang harus ia tempuh. Haruskah ia mengungkap identitas Fano saat ini?


"Tolong Jer, katakan yang sejujurnya," ucap Fery dengan nada memohon. Ia sangat berharap pada pria yang masih berdiri membelakanginya itu.


Fery beranjak dari tempatnya, ia pun memposisikan diri di samping Jerry, memandang kolam ikan koi yang bisa menenangkan jiwa.


Irama jantung Fery semakin tak beraturan ketika Jerry mengubah posisinya saat ini. Berdiri menghadapnya dengan tatapan tajam yang sangat menakutkan.


"Kenapa baru sekarang kamu mencari tahu tentang Jeje dan putranya? kemana saja kamu selama ini?" tanya Jerry dengan tangan yang bersedekap.


"Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana nasib Jeje setelah terusir dari rumahnya sendiri?" sarkas Jerry yang berhasil membuat Ferry menghela nafasnya dalam.


"Aku tidak pernah berpikir tentang semua itu Jer sampai aku tahu bahwa Caca telah masuk ke dalam rumah tangga adik iparku," ucap Fery penuh sesal.


"Aww!!" pekik Fery. Tubuhnya terhuyung karena mendapat bogem mentah dari Jerry di pipi kanannya.


"Karena pria sepertimu pantas mendapatkannya, bahkan satu pukulan di wajahmu tak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit yang pernah di rasakan Jeje," sungut Jerry dengan jari telunjuk yang mengarah di wajah Fery.


Tanpa di duga Fery, pukulan yang keras kembali mendarat di wajahnya, kali ini tepat di rahang kirinya. Rasa ngilu pun dirasakan Fery saat ini.


"Akan aku beri tahu sebuah fakta yang bisa membuatmu tenggelam dalam penyesalan setelah ini," ucap Jerry dengan rahang yang mengeras.


"Fano adalah darah dagingmu! kamu adalah ayah biologisnya!" sebuah pengakuan yang lolos dari bibir Jerry, hal itu membuat Fery terkejut bukan main.


"Katakan sekali lagi, Jer!" Fery mencoba meyakinkan apa yang baru saja di dengarnya.


"Kamu adalah ayah biologis Fano!" ucap Jerry dengan tegas.


Deg. Jantung Fery seakan berhenti berdetak setelah mengetahui kebenaran. Rasa haru tengah menyelimuti hatinya saat ini, ia tidak pernah menyangka bahwa Jessica benar-benar mengandung benihnya.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah tahu bahwa Fano adalah darah dagingmu?" tanya Jerry dengan kedua tangan yang terkepal.


"Tentu saja aku akan membawa Fano ke rumahku, aku akan bertanggung jawab atas hidupnya. Aku akan menebus kesalahanku selama ini," ucap Fery tanpa berpikir panjang. Ia tidak sadar bahwa ucapannya berhasil memancing amarah pria di hadapannya.


"BRENGSEK!!" teriak Jerry sebelum menyerang tubuh pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Amarah yang di pendam Jerry selama ini akhirnya terlampiaskan pada sasaran yang tepat. Ia menghajar Fery tanpa ampun, beberapa kali pukulan pun berhasil mendarat di wajah Fery hingga membuat tubuhnya terkulai di lantai. Jerry seperti orang yang kesurupan. Sudah lama ia ingin menghajar Fery. Namun, Jeje selalu menahannya karena ia tak ingin berurusan dengan Fery dan istrinya.


"Jangan pernah bermimpi untuk menjauhkan Fano dari Jessica!" teriak Jerry yang saat ini berada di atas tubuh Fery. Nafasnya tersengal karena emosi yang semakin berkobar.


"Bangs*t kau!!" umpat Jerry dengan di iringi bogem mentah yang sangat keras sebagai penutupnya.


Fery memejamkan matanya untuk merasakan rasa nyeri dan ngilu di sekujur tubuhnya. Ia tak bisa melawan Jerry yang memiliki postur lebih besar dan lebih kuat darinya. Wajahnya tak lagi terlihat tampan karena kebrutalan Jerry.


"Kamu tidak pernah tau apa saja yang di alami Jessica selama mengandung benihmu! dia hampir kehilangan janinnya karena depresi setelah kamu mencampakkannya begitu saja!"


"Apa kamu pernah sedikit saja mencari tahu kabarnya hmm? apa kamu tahu betapa beratnya perjuangan Jessica ketika melahirkan Fano tanpa seorang suami?"


"Kamu bersenang-senang bersama wanita lain sedangkan Jessica meratapi kehancuran hidupnya, dan sekarang kamu ingin mengambil satu-satunya harta Jessica yang paling berharga?"


Ferry berusaha bangkit dari tempatnya, sekuat tenaga ia berusaha berdiri tegak di hadapan Jerry yang sedang menampakkan sisi lain dari pembawaan tenang yang selama ini menjadi ciri khas dari seorang Jerryan Wongso.


"Aku minta maaf Jer. Tapi ... Biar bagaimana pun aku tetaplah ayah kandung dari Fano, kamu tidak bisa memisahkan hubungan ayah dan anak, Jer." Nafas Fery tersengal setelah mengatakan semua itu.


Tanpa berpamitan, Ferry mengayun langkah keluar dari istana megah ini. Langkahnya tertatih karena menahan rasa sakit di hati dan tubuhnya. Namun, langkahnya harus terhenti ketika mendengar suara Jerry kembali menggema di ruang tamu ini.


"Kamu hanya menitipkan benih di rahim Jessica jadi kamu tidak bisa mengatakan jika Fano adalah anakmu. Fano adalah anakku karena aku lah yang selama ini merawatnya. Aku yang menemani Jessica melahirkan, aku yang membantu Jessica membesarkan Fano dan hanya aku yang di akui Fano sebagai Papa nya!"


"Aku akan melakukan apapun jika kamu berani mengusik ketenangan Jessica dan Fano! ingatlah kata-kataku Fery sebelum kamu bertindak!"


Fery tak menjawab semua kalimat panjang yang baru saja di dengarnya. Ia harus segera pulang untuk mengobati luka lebam yang ada di wajahnya.


"Mungkin aku pantas mendapatkan semua ini," gumam Fery ketika masuk ke dalam mobilnya.


Sementara itu, di dalam ruang tamu ... Jery duduk bersandar di sofa mewahnya. Ia tengah memikirkan apa saja yang harus di lakukan setelah ini. Ia harus menyusun rencana untuk melindungi Fano dan Jessica dari gangguan Fery dan keluarga Aruna.


"Aku harus bisa meluluhkan Jeje agar menerima permintaanku. Akan lebih mudah melindungi Fano ketika Jessica menjadi istriku," gumam Jerry sebelum beranjak dari ruang tamu.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β™₯️😍


Mau cepet Duo Je menikah atau konflik lagi nih?


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2