Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Aku harus memastikan,


__ADS_3

Malam telah datang menyapa, langit pun menjadi gelap gulita tanpa adanya gemerlap bintang yang muncul malam ini. Bulan pun tak mampu untuk lari dari kungkungan awan mendung yang menghitam, siap untuk memberikan rintik hujan kepada siapapun yang menanti.


Wajah sendu tengah menghiasi wajah seorang wanita yang memiliki rambut berwarna kecokelatan. Wanita itu termenung di depan meja rias, pikirannya melalang jauh entah kemana hingga ia tak sadar jika sang suami telah hadir di balik tubuhnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ezar dengan kedua tangan di atas bahu sang istri.


Bella menegakkan kepalanya, ia menatap Ezar lewat pantulan cermin yang ada di hadapannya. Sorot matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


"Aku memikirkan nasib Kak Siva dan keluarganya, Baby." suara Bella bergetar setelah mengatakan suatu hal yang mengganggu pikirannya


Ezar hanya bisa menghembuskan nafasnya yang berat, ia sendiri tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Fery menyelamatkan perusahaannya karena Jerry adalah salah satu Investor besar di perusahaannya.


"Aku tidak bisa membantu apa-apa untuk perusahaan kak Fery. Asisten pribadinya Jerry sudah memberiku peringatan agar tidak ikut campur dalam masalah Fery dan Jerry," gumam Ezar sambil menatap Bella lewat cermin di hadapannya.


"Apa Jessica sengaja balas dendam kepada Kak Siva? atau ada masalah lain yang membuat Jessica dan suaminya semarah itu?" Bella mulai penasaran dengan apa yang terjadi.


Bella dan Ezar baru saja pulang menjenguk Fery di Rumah sakit. Bella terkejut setelah mengetahui penyebab kakak iparnya kecelakaan. Siva sendiri yang menceritakan semua yang terjadi.


"Apa kamu belum di kasih tau kak Siva jika Kak Fery baru saja membuat masalah dengan keluarga Wongso? Kak Fery nekat menculik Fano," ucap Ezar sebelum berlalu menuju ranjang.


Bella membalikkan tubuhnya, ia sedikit terkejut ketika mendengar kabar yang di sampaikan oleh suaminya, "Apa ada masalah lain yang membuat suaminya Jessica semakin marah?" Bella mencoba mengorek informasi dari suaminya.


Ezar menatap wajah sang istri sebelum menceritakan sesuatu yang terjadi setelah Bu Lidya di makam kan, "Iya, mungkin Jerry tahu sesuatu yang terjadi saat di pemakaman Mama." akhirnya Ezar memutuskan untuk memberi tahu sang istri.


Bella seketika membekap mulutnya setelah mendengar Ezar menceritakan semua yang terjadi. Ia tidak habis pikir dengan sikap Fery yang seperti itu kepada Jessica. Hatinya pun sedikit terusik karena mengetahui jika sang suami masih perduli kepada Jessica.


"Apa kak Fery masih punya perasaan kepada Jessica?" tanya Bella seraya berjalan menuju tempat Ezar berada, ia menghempaskan tubuhnya di samping sang suami.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tahu." Ezar mulai tak nyaman dengan pertanyaan dari Bella.


Bella menatap wajah Ezar dari samping, ia menemukan sebuah keresahan di sana. Lagi dan lagi perasaannya menjadi tak karuan hanya karena membahas wanita bernama Jessica.


"Menurutku, kesalahan Kak Fery memang sudah keterlaluan, aku tidak menyalahkan Jerry jika dia melakukan semua ini. Maka dari itu aku tidak mau ikut campur karena ini bukan urusanku. Jika kamu ingin membantu Kak Siva secara finansial, jangan terlalu mencolok." Ezar menepuk pelan paha mulus sang istri.


"Anggap saja Kak Fery dan Kak Siva sedang menuai hasil dari apa yang pernah mereka tanam di masa lalu. Mungkin sudah saatnya kak Siva merasakan apa yang pernah di rasakan Jessica dulu." Ezar menatap manik hitam Bella dengan tatapan penuh makna.


Bella memutar bola matanya seraya menghela nafasnya yang berat. Sebesar apapun kesalahan Siva, hatinya pun ikut merasakan sakit ketika melihat kakaknya itu sedang dalam masalah yang serius, Apalagi kondisi Fery yang tidak stabil saat ini.


...🌹🌹🌹🌹...


Tiga hari telah berlalu. Kondisi Fery pun lebih baik dari sebelumnya, ia sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah meski harus kontrol ke rumah sakit dua minggu sekali.


"Mas, istirahatlah di kamar! Aku akan mengemas beberapa barang-barang penting seperti yang di perintahkan oleh Jerry," ucap Siva seraya menatap Fery dengan tatapan sendunya.


Siva mengedarkan pandangannya setelah pintu kamar terbuka lebar. Ia mengabsen satu persatu bagian kamar tamu yang di desain elegan dengan pernak-pernik mewah. Ia pun mulai mengumpulkan barang berharga yang ada di kamar itu di atas ranjang agar ART nya nanti bisa mengemas barang-barang tersebut.


Siva mulai membuka pintu almari yang ada di dekat ranjang. Ia menaikkan satu alisnya ketika melihat kain berenda warna hitam yang ada di rak paling bawah.


"Hah lingeri?" Siva terkejut ketika melihat kain yang sudah ia tenteng, di endusnya aroma lingeri itu berkali-kali untuk memastikan kalau itu bukan miliknya, "Ini bukan aroma tubuhku ataupun parfum yang biasa aku pakai, lalu ini milik siapa?" Siva bermonolog sambil mengingat siapa saja yang pernah menginap di kamar ini.


Hampir lima belas menit Siva duduk di sisi ranjang sambil mengamati lingeri hitam yang ada di tangannya. Namun, ia belum bisa menyimpulkan siapa pemilik lingeri ini.


"Ini bukan punya Bella, dia tidak pernah menginap di sini," gumam Siva dengan suara yang lirih. Jujur saja ia sangat penasaran dengan sang pemilik lingeri hitam yang ada di kamar tamu.


Suara ketukan pintu kamar berhasil membuyarkan lamunan Siva. Beberapa detik kemudian muncullah ART yang tadi ia tugaskan untuk membantunya.

__ADS_1


"Asti, apa ada wanita lain yang pernah menempati kamar ini jika saya tidak ada di rumah?" Siva memastikan praduganya kepada ART-nya.


"Tidak ada Nya, kamar ini kan selalu kosong, Nya. Tapi kalau tengah malam saya sering melihat Tuan Fery masuk kamar ini," ucap Asti dengan polosnya.


"Mas Fery? sama siapa?" Siva semakin penasaran di buatnya.


"Sendiri Nya, saya melihat bapak turun dari tangga langsung masuk kamar ini Nya," ucap Asti, ia tidak sadar jika jawabannya berhasil membuat ketenangan Siva mulai terusik.


Siva tak melanjutkan pertanyaannya, ia lebih memilih diam sambil menerka apa yang di lakukan Fery seorang diri di kamar ini. Apa lingeri ini ada hubungannya dengan Fery yang masuk kamar tamu setiap malam? ya, itu lah pertanyaan besar yang ada di pikiran Siva.


Tanpa berpamitan kepada ART nya yang sedang merapikan barang-barang di atas ranjang, Siva berlalu begitu saja. Ia tidak mau berpikir yang aneh-aneh sebelum mendengar jawaban dari suaminya.


"Aku harus memastikan langsung kepada Mas Fery," gumam Siva saat berjalan menuju kamarnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


nih aku dah double up😂 kalau bisa ak up satu lagi dah, tp gk janji ya😁


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2