Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Ketakutan Bella,


__ADS_3

Pemandangan langit malam tak seindah biasanya, bintang dan bulan tengah bersembunyi di balik awan hitam, Tak ada gemerlap indah yang biasa menghiasi langit malam kota Jakarta.


Malam semakin merangkak naik, penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh. Seorang wanita sedang mondar-mandir di ruang tamu sebuah rumah bergaya eropa. Wanita itu tak lain adalah Bella, ia sedang berpikir kemana anak dan suaminya pergi hingga larut malam seperti saat ini.


Resah dan gelisah, itulah yang di rasakan Bella saat ini, hatinya di liputi rasa takut karena membohongi suaminya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan betapa marahnya Ezar nanti. Bella tiba di Jakarta pukul lima sore setelah merayakan sebuah pesta di Bali bersama geng sosialitanya.


Waktu terus berlalu, membuat Bella semakin gelisah di ruang tamu, sejak tadi ia menghubungi nomor ponsel Ezar, namun tidak ada satu pun yang terhubung. Pikiran Bella berkelana entah kemana, banyak pikiran negatif yang sedang menghantuinya sampai suara mobil Ezar berhenti di halaman rumah.


Bella terkesiap tatkala pintu rumah terbuka lebar, ia melihat Ezar yang sedang berjalan dengan membopong Alana yang sedang tertidur pulas. Sekilas Ezar menatapnya, namun bukan tatapan penuh cinta yang tersorot dari netra teduh itu.


"Baby ...." Sapa Bella dengan senyum palsu yang menghiasi wajahnya. Semua itu berbanding terbalik dengan isi hatinya yang kacau saat ini.


Ezar terus melangkahkan kakinya menuju kamar Alana, ia sama sekali tak menghiraukan Bella yang mengekor di belakangnya. Tak ada satu kalimat yang terucap dari bibir Ezar sampai ia menidurkan Alana di atas ranjang empuk yang ada di kamar Alana.


"Baby ... kita harus bicara," ucap Bella tatkala Ezar berjalan keluar dari kamar Alana, meninggalkan dirinya yang termangu di samping ranjang Alana.


Tak ada jawaban dari Ezar, ia berlalu begitu saja dari hadapan Bella yang tengah memancarkan raut wajah ketakutan. Ia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri sebelum berkelana ke alam mimpi.


"Ya tuhan ... apa yang harus aku lakukan! Ezar pasti sedang marah saat ini," lirih Bella setelah masuk ke dalam kamarnya, ia mondar-mandir di sisi ranjang.


Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka lebar, menampilkan tubuh indah milik Ezar dengan handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Ia sama sekali tak memandang wanita yang sedang menunggunya di sisi ranjang.


Apa yang dilakukan Bella beberapa hari yang lalu berhasil memupuk rasa kecewa yang ada dalam hatinya, menghapus rasa bersalah yang sempat memenuhi relung hati Ezar setelah apa yang di lakukannya bersama Jessica.


Malam ini, suara Ezar mendadak hilang entah kemana, tanpa menyapa atau pun menumpahkan kemarahannya kepada Bella, ia langsung naik ke atas ranjangnya, menata bantal dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Ezar pun tidur membelakangi Bella yang sedang termangu di sisi lain.

__ADS_1


"Baby ... aku minta maaf, aku tau aku salah besar karena sudah membohongimu, tapi kita harus bicara, aku tidak tahan jika melihatmu diam seperti ini," ucap Bella dengan suara yang bergetar.


Ezar tak bergeming, ia masih pada posisi nyamannya saat ini, memeluk guling besar dengan kehangatan yang di berikan oleh selimut tebal berwarna hijau itu.


"Baby, apa aku boleh tau, kamu dan Alana dari mana? aku sangat mengkhawatirkan kalian," ucap Bella yang kini berada di atas ranjang, tepatnya di sebelah Ezar.


Telapak tangan Bella yang lembut, berhasil mendarat di atas kepala Ezar, ia mengusap rambut tipis itu untuk meredam amarah yang sedang menyelimuti suaminya.


"Jangan menyentuhku, Bel! jauhkan tanganmu dari tubuhku! tidurlah, dan urus saja dirimu sendiri, lakukan apa yang membuatmu bahagia!" sebuah kalimat panjang yang lolos dari bibir Ezar, sebuah kalimat yang berhasil menampar Bella atas perbuatan yang di lakukannya.


"Aku bisa menjelaskan semua ini, Baby ... tolong beri aku waktu untuk bicara dan minta maaf atas semua kesalahanku," Lirih Bella dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan! aku sudah tau apa saja yang kamu lakukan selama ini. Jangan ganggu aku!" sarkas Ezar dengan suara yang tegas.


"Ya Tuhan ... suamiku benar-benar marah, apa yang harus hamba lakukan," gumam Bella dalam hatinya, ia benar-benar sedih malam ini.


Jarum jam sudah berhenti di angka satu dinihari, sampai selarut ini, Bella belum terlelap ke alam mimpi, pikirannya sedang kacau saat ini memikirkan tentang Ezar.


Bella beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju jendela besar yang ada di sisi kanan ranjang, tatapannya terarah pada taman yang ada di halaman rumahnya.


Kedua sudut bibir Bella melengkung ke dalam tatkala sebuah kenangan membahagiakan yang ada di taman terlintas dalam pikirannya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke ranjang melewati meja rias berwarna putih miliknya.


Bella menghentikan langkahnya tatkala melihat ponsel Ezar yang ada di atas meja rias miliknya. Setelah memastikan keadaan aman, Bella mendaratkan tubuhnya di atas kursi kayu berwarna putih itu.


Kedua jempol itu menari-nari di atas layar datar milik Ezar, mencari hal-hal yang membuat jantung Bella berdetak lebih kencang, karena ia takut Ezar bangun dan melihat apa yang sedang di lakukannya saat ini.

__ADS_1


"Jadi hari ini Ezar dan Alana pergi ke puncak," lirih Bella setelah mengetahui isi galeri suaminya.


Jempol bella bergerak ke sebuah icon berwarna hijau, sebuah aplikasi pengirim pesan yang sedang nge trend saat ini. Ia membaca satu persatu pesan yang ada disana, namun ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan disana.


Helaian nafas berat berhembus dari indera penciuman Bella, bola matanya memutar ke segala arah, memikirkan apa yang harus di lakukannya setelah ini, karena hati nuraninya mengatakan bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.


Sebuah ide terlintas di pikiran Bella, ia kembali berselancar di layar datar milik Ezar untuk melancarkan ide cemerlang yang baru saja ia dapatkan.


Beberapa saat kemudian, Bella tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil menghubungkan GPS ponsel Ezar dengan ponselnya, setelah ini ia akan memantau kemana saja Ezar akan pergi.


"Ya Tuhan ... semoga apa yang aku lakukan adalah benar, hamba hanya ingin tau apa saja kegiatan suami hamba,"


Bella masih termenung di depan meja riasnya, ia menatap pantulan wajahnya di cermin besar yang ada di hadapannya. Satu persatu kesalahan yang ia perbuat di belakang Ezar kini menguap sudah, membuat Bella berkali-kali mengehela nafasnya kasar.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2