
"Mama ... kemana Oma?" tanya Alana ketika tidak menemukan kehadiran Bu Lidya di ruang keluarga.
Sudah satu minggu ini, Bu Lidya menginap di rumah Bella. Kerinduan yang besar kepada Alana menjadi salah satu alasan kenapa wanita paruh baya itu betah sekali berada di rumah sang putri.
"Oma mungkin lagi di kamar, Sayang ...." ucap Bella sembari menatap wajah imut sang putri.
"Papa ... main sama Alana yuk, Pa!" Alana menyambut Ezar yang baru saja turun dari lantai dua.
Ruang keluarga itu akhirnya di penuhi gelak tawa keluarga kecil yang sedang menghabiskan waktu di hari minggu. Perasaan hangat tengah menyelimuti hati Bella saat ini, karena sejak pulang dari Thailand, Ezar lebih perhatian kepadanya dan juga Alana. Selama dua hari ini tidak ada pembahasan yang menyinggung tentang Jessica.
Seulas senyum tipis terbit dari seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di tengah tangga, wanita itu tak lain adalah Bu Lidya. Niat hati ingin pergi ke teras belakang rumah, namun langkahnya harus terhenti ketika melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya.
"Mama sangat bahagia melihat kalian kembali tersenyum seperti ini, semoga kalian tetap seperti ini terus," gumam Bu Lidya dalam hatinya.
Bu Lidya memutuskan untuk bergabung bersama anak dan cucunya disana, beliau gemas melihat tingkah lucu Alana yang sedang heboh bermain bersama Ezar.
"Wah ... Alana sedang ngapain itu?" ucap Bu Lidya ketika sampai di ruang keluarga.
"Alana sedang bermain bersama empus Oma ...." jawab Alana sembari menunjukkan boneka kucing berwarna putih di tangannya.
Bu Lidya akhirnya duduk di sofa tunggal yang ada di dekat Bella. Beliau tak henti menyunggingkan senyumnya ketika melihat tingkah lucu Alana dan Ezar. Anak dan Ayah itu terlihat sangat menikmati waktu kebersamaannya.
"Maaf Nyonya ... di ruang tamu ada yang mencari Tuan dan Nyonya." tiba-tiba seorang ART datang ke ruang keluarga.
Ezar mengernyitkan keningnya dengan pandangan yang tertuju kepada Bella, membuat sang empu hanya mengedikkan kedua bahunya tanda tak mengerti.
"Ma, titip Alana dulu ya," ucap Bella sebelum meninggalkan ruang keluarga. Ia mengekor di belakang Ezar.
Ezar menghentikan langkahnya tiba-tiba ketika melihat siapa yang sedang duduk di ruang tamu. Ia terkejut melihat kehadiran wanita cantik yang selama beberapa bulan ini mengisi sudut hatinya.
"Ada apa Baby?" tanya Bella yang ikut berhenti di belakang Ezar. Lalu ia mengikuti arah pandang Ezar yang terpaku pada sosok wanita yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Bella tertegun melihat kehadiran Jessica disana, ia tak pernah menyangka wanita itu akan hadir di dalam rumahnya, detik berikutnya ia menepuk bahu Ezar agar tersadar dalam lamunannya.
Ezar mengerjapkan matanya, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu, dimana Jessica sedang duduk bersama seorang pria yang tak lain adalah Jerry.
Keheningan terasa di ruang tamu itu, tidak ada yang membuka suaranya, Ezar hanya diam dengan kedua manik hitam yang terpaku pada sosok di hadapannya.
"Berani sekali kamu datang ke rumahku!" ucap Bella dengan nada yang tegas.
"Kenapa aku tidak berani untuk datang kesini? merebut suami saja aku tidak pernah takut," sarkas Jessica yang berhasil membuat wajah Bella memerah karena menahan emosi.
Ezar menepuk paha Bella pelan, memberikan sebuah kode agar dirinya tetap diam. Ezar mencoba menerka apa sebenarnya tujuan Jessica datang kerumah ini tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Ada apa Je kamu menemui ku disini? kenapa tidak memberiku kabar terlebih dahulu?" tanya Ezar dengan pandangan yang tak beralih dari wajah Jessica.
Jerry mengangkat box yang ada di lantai setelah Jessica memberikan sebuah kode. Jerry sama sekali tak mengeluarkan suaranya disana.
"Aku hanya ingin mengembalikan semua ini," ucap Jessica sembari membuka box yang ada di atas Meja.
Ezar menaikkan satu alisnya ketika melihat barang-barang yang pernah ia berikan kepada Jessica. Beberapa tas, sepatu, kotak perhiasan dan sebuah map berwarna biru.
Jessica mengeluarkan sebuah kunci dari tasnya. Ia meletakkan kunci itu di atas meja. "Tujuanku datang ke rumah ini hanya untuk mengembalikan semua barang yang pernah kamu berikan untukku," ucap Jessica.
Bella menelan salivanya mendengar ucapan yang keluar dari bibir Jessica. Ia menatap wanita yang sedang berdiri dari tempatnya itu, lalu pandangannya beralih ke dalam box yang di penuhi barang-barang brand terkenal. Tentu saja ia juga memiliki semua itu di walk in closet nya.
"Ini adalah surat-surat kepemilikan Apartemen dan mobil, aku sudah merubahnya menjadi namamu lagi, tinggal kamu tanda tangani saja." Jessica membuka map biru itu dan memberikannya kepada Ezar.
Rasa penasaran semakin melanda hati dan pikiran Ezar, ia belum bisa menerka apa maksud Jessica dengan membawa semua barang-barang ini kepadanya.
"Jelaskan padaku apa maksud semua ini, Je?" tanya Ezar.
Jessica menarik nafasnya dalam, kedua matanya terpejam sebelum mengucapkan sebuah keputusan besar yang akan merubah kehidupannya setelah ini.
__ADS_1
Bella benar-benar penasaran saat ini, ia sedang menunggu kalimat yang belum juga terucap dari bibir Jessica. Perasaannya pun menjadi tak karuan ketika melihat wajah serius yang terpancar di wajah rivalnya itu.
"Ezar ... tolong katakan yang sejujurnya, bagaimana perasaanmu kepadaku?" tanya Jessica tanpa perduli jika Bella tengah menatapnya tajam.
Pertanyaan Jessica berhasil membuat Bella terhenyak dari tempatnya, emosi kembali melanda dirinya karena kalimat panjang yang lolos dari bibir berwarna merah itu.
"Apa kamu tidak punya perasaan hmm, hingga kamu berani bertanya seperti itu di hadapanku?" cecar Bella dengan jari telunjuk yang mengarah ke wajah Jessica.
"Bisakah kamu diam, Nyonya! aku tidak bertanya kepadamu, jadi tolong diamlah di tempatmu!" tatapan menakutkan tersorot dari wajah Jessica, ia benar-benar tidak suka ketika Bella bersuara.
Ezar kembali memberikan sebuah kode agar Bella kembali duduk di tempatnya, kini ia kembali menatap wajah yang sedang menahan sesuatu itu.
"Bukankah kamu sudah tau Je bagaimana perasaanku? apa kamu ragu?" Ezar melemparkan sebuah pertanyaan kepada Jessica.
"Tidak, aku tidak ragu sedikitpun," ucap Jessica.
"Kalau begitu katakan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu membawa semua barang ini? tolong, jangan membuatku semakin penasaran, Je ...." ucap Ezar yang kini beranjak dari tempat duduknya.
Sekali lagi Jessica mencoba mengatur nafasnya, ia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sebuah kalimat yang akan mengejutkan Ezar setelah ini.
"Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Zar ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Othor usahakan up satu bab lagi hari ini, tapi gatau kapan waktunya, yang pasti gak sampai malam yah Zheyenk😂
Othor sangat berterima kasih jika ada yang memberi Vote di hari senin ini😍 apalagi ada yang berkenan memberi Mawar, kopi atau pun koin😝 sungguh othor sangat-sangat berterima kasih♥️♥️♥️
__ADS_1
...Ig: @ti_tik || FB: Titik Pujiningdyah...
🌷🌷🌷🌷🌷