
Malik tersenyum puas setelah keluar dari restoran mewah yang baru saja mereka datangi. Senyum itu bukan hanya karena ia puas akan rasanya yang enak, namun puas karena telah berhasil membalas keisengan sahabatnya itu. Ya, karena dirinya tadi, ia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit saat di mall tadi.
"Puas 'kan sekarang! Bisa-bisanya kamu ngerjain sahabat mu seperti tadi.
Pasalnya Malik memesan menu set Fine Dining yang berisi 12 hidangan utama sendiri dengan menyajikan menu berupa sajian ringan, hidangan utama, hingga makanan dan minuman penutup yang manis. Bukan hanya kaget dengan menu yang dipilihnya, harga makanan yang dipesannya pun tak kalah fantastik karena satu set menu Fine Dining, Antara harus merogoh kocek satu koma lima juta per setnya, hingga total yang ia bayarkan tadi sekitar tiga juta rupiah.
Dimulai dari menu makanan pembuka yakni roti panggang yang berukuran kecil dilengkapi dengan saos kacang diatasnya. Menu selanjutnya adalah sup kacang yang disajikan dalam cangkir espreso serta sup melon dengan tambahan basil. Selanjutnya adalah appetizer, brokoli dengan acar bawang, jamur dengan remah roti, dan manisan wortel madu yang menjadi menu selanjutnya.
Lalu masuk kembali ke menu pembuka lainnya yakni salad, kali ini menu yang disajikan adalah garden salad. Sebelum masuk ke hidangan utama, ikan salmon panggang menjadi menu lezat yang disajikan oleh pramusaji restoran tersebut. Setelah menu appetizer nya, kini giliran menu utama yang disajikan oleh dua orang pramusaji, seporsi ayam basil pedas menjadi pilihan mereka dan untuk menghilangkan sisa rasa makanan dari dalam mulut sebelum menyantap hidangan berikutnya adalah sorbet atau air lemon.
Di lanjutkan hidangan utama kedua adalah steak dengan pure kentang yang mana akan membuatnya merasa kenyang. Setelah hidangan utama, kini tibalah menu dessert yang akan menutup makan malam Antara dan Malik malam ini, lemon creme brule adalah menu dessert mereka sebelum akhirnya makanan penutup atau kue kering berukuran kecil yang biasa disajikan bersamaan dengan teh atau kopi sebagai menu terakhir dari menu set Fine Dining mereka malam ini.
-
-
-
"Sekarang Tuan Malik Ahmad yang terhormat sudah puas!" ucap Antara menekankan kata 'Tuan' dengan tatapan tajam.
"Perasaanku jadi tak enak, dari tatapan mu aku tahu jika lo pasti ingin sesuatu dariku!" terka Malik.
Antara menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya ia memberitahu rencana yang ingin dia lakukan malam ini.
“Ogah!” sahutnya setelah mendengar permintaan sahabatnya itu kalau ia ingin pergi ke rumah seseorang.
“Ayolah 'kan tadi sudah aku traktir makanan mahal, tadi saja aku bayar tiga jutaan loh!" terang Antara yang masih berusaha membujuk Malik.
"Memang kamu mau ke mana sih? Buru-buru amat, ini sudah cukup larut Antaraaa, mana ada orang bertamu malam-malam begini!" sambung Malik.
“Aku mau samperin rumah Melia!” sahut Antara yang masih fokus dengan kendaraan yang ada di depannya.
“Enggak, buat yang itu gua enggak mau ikutan. Nanti bunda lu bisa ngamuk sama gua Tar."
"Enggak bakalan, ayolah Mal, kali ini saja, bunda enggak bakal tahu deh!” bujuk Antara, namun berapa kali pun ia mencoba, tetap saja Malik tetap pada pendiriannya, dia tak ingin ikut campur dalam hal ini. Apalagi Bunda Weni adalah sahabat baik ibunya, jadi tak mungkin ia berbohong padanya.
Setelah mengantar Malik kembali ke kantor, Antara membulatkan tekadnya untuk tetap menyambangi rumah Melia walau sudah diberitahu Malik kalau sudah larut malam,dan Antara pun tahu kalau jam begini Melia sudah berangkat bekerja, dan itu memang rencananya sejak awal.
Tok.
Tok.
Tok
Antara mengetuk pintu rumah berwarna coklat, bernomor dua puluh satu. Alamat dan foto rumah yang sama dengan yang diberikan oleh detektif swasta yang disewanya.
“Assalamualaikum...."
Antara memberi salam tatkala ia sudah berada di depan pintu rumah Melia. Jujur saat ini dirinya begitu grogi, yang biasanya ia disambut dan selalu dirinya yang di sambangi terlebih dahulu, namun sekarang dirinya lah yang melakukan hal tersebut. Melakukan apa yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
“Wa alaikum salam, sebentar!”terdengar sahutan salam dari dalam.
__ADS_1
Ceklek’
Zahra membuka pintu rumahnya dengan kening yang berkerut, ia melihat Antara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zahra heran melihat pria muda yang ada di hadapannya saat ini. Seorang pria tampan, tinggi, putih serta senyumnya yang sangat manis. "Siapa dia?" ucap Zahra dalam hati.
"Cari siapa ya?" tanya Zahra.
“Maaf Tante, perkenalkan saya Antara. Saya teman Melia. Melia-nya ada, Tante!” ucap Antara basa-basi.
“Melia! Melia 'kan pergi bekerja. Kamu apanya Melia anak muda!" tanya Zahra, karena kebiasaan Melia yang selalu bercerita tentang apapun, termasuk jika ia punya teman baru.
“Saya temannya Tante, bisa saya masuk? Tidak enak dilihat orang-orang.” Ucap Antara sembari menggaruk tengkuknya.
“Astagfirullah, iya, ayo masuk Nak, maafkan Ibu ya, maklum sudah tua!” kekeh Zahra yang mempersilahkan Antara masuk.
“Enggak apa-apa Tante,” kekeh Antara.
“Panggil Ibu saja, teman-teman Melia juga biasa panggil Ibu, biar akrab.” ucap Zahra sembari mempersilahkan duduk.
“Mau minum apa Nak...”
“Antara Bu, nama saya Antara,” sahutnya.
“Baiklah, Antara dari mana? Kok datangnya malam begini, kan Melia sudah berangkat kerja!”
“Kebetulan lewat sini, Bu, makanya singgah. Tapi enggak apa-apa Bu, saya kesini cuma mau menitipkan ini buat Melia.” Ucap Antara sembari memberikan sebuah paper bag pada Zahra.
"Ini apa Nak," ucap Zahra setelah menerima titipan Antara.
"Wah jadi ngerepotin nih, terima kasih ya."
“Mau minum apa? Biar Ibu buatkan,” tawar Zahra.
“Enggak usah Bu, ini juga aku mau pamit, sudah malam. Enggak enak sama tetangga Ibu nanti.” Ucap Antara yang mulai beranjak dari duduknya.
“Padahal belum Ibu buatkan minum loh!”
“Enggak apa-apa kok, Bu. Lain kali saja kalau Antara mampir ke sini.” Ucapnya sembari meraih tangan Zahra lalu menghirupnya dengan takzim.
“Baiklah, tapi janji ya kamu akan ke sini lagi, Ibu tunggu loh!” ucapnya sembari tersenyum.
“Insya Allah Bu.” jawabnya sembari keluar dari rumah Zahra.
Setelah kepergian Antara, Zahra segera memberi kabar pada Melia kalau ada seorang pria yang datang ke rumah dan mencarinya.
-
-
Sedangkan di klub, Melia yang tengah mempersiapkan segala keperluan untuk menyambut tamu VVIP-nya dikejutkan oleh getaran ponselnya. Melia duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, dibukanya, ternyata ada pesan dari Zahra, ibunya.
[Mel, tadi ada orang yang datang ke rumah. Katanya temanmu, dia pria muda, namanya Antara.]
__ADS_1
Saat akan menyimpan kembali ponsel miliknya, kembali terdengar pesan masuk.
[Dan ya, dia menitipkan ini pada Ibu. Katanya untukmu.]
Setelah membacanya, Melia kembali memasukkannya ke dalam sakunya. Masih dalam keadaan duduk, Melia terus mengingat ingat, nama yang disebutkan Zahra padanya.
“Antara, Antara—siapa dia?! Perasaan aku enggak punya teman yang namanya Antara,” gumam Melia.
Jam 2 dini hari, Melia baru pulang dari bekerja. Lagi-lagi dirinya melihat Zahra yang tengah berbaring di sofa ruang keluarnya. “Dasar, Ibu!” ucap Melia tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Melia berjalan mendekati Zahra yang tengah tertidur pulas, “Bu, ayo bangun dulu, ibu lanjut tidurnya di kamar saja!” ajak Melia yang sedang membangunkan Zahra dengan suara lembut.
Setelah membersihkan dirinya, Melia keluar dari kamar mandi lalu beranjak menuju lemari pakaiannya. Setelah memakai baju, Melia hendak langsung naik ke atas tempat tidur, namun pandangannya teralihkan oleh bungkusan cantik berwarna hitam yang sempat di kirimkan Zahra padanya.
Melia mengambil bungkusan tersebut dan membawanya naik ke atas kasur.
"Siapa pria itu? Perasaan aku lagi tidak dekat dengan pria mana pun.” Ucapnya dalam hati sembari membuka bungkusan pertama.
kotak?
Sebenarnya ini apa?
Sepatu kah!
Tapi kok kecil ya?”gumam Melia yang merasa penasaran.
“Prada!” sebutnya saat membaca tulisan yang tertera di cover kotak tersebut. Melia sangat terkejut saat melihat isi dalam kotak itu, sebuah tas, tas berwarna hitam, tas dengan merek PRADA bentuk persegi yang dilengkapi dengan tali rantai pendek dan dilengkapi dengan rantai sling bag. Dan yang makin membuat Melia kaget adalah, tas tersebut adalah tas beberapa hari lalu yang dia lihat dan yang dia taksir saat berbelanja dengan Zahra tempo hari.
“Bukankah, ini....”
Seketika Melia kaget dengan mulut menganga.
"Bisakah ini yang di katakan dengan kebetulan!" pikirnya.
"Siapa pria itu? Dan apa maksud dari hadiah tas mahal ini!" Melia masih ingat betul harga tas itu. Harga tas yang tak terbilang murah.
Melia mencoba mencari tahu tentang siapa pengirimnya, dia mencarinya dengan teliti di dalam paper bag dan kotaknya, mungkin saja ada sebuah pesan yang dia tinggalkan untuk Melia, namun sayang hasilnya nihil, tak ada pesan atau barang apa pun yang bisa dia dapatkan sebagai petunjuk.
Keesokan harinya
“Bu, siapa pria yang ibu bilang di pesan semalam?” Melia tiba-tiba masuk ke dapur hingga membuat Zahra terlonjak kaget.
“Astagfirullah, Melia!! Pekik Zahra yang melihat Melia sudah ada di belakangnya, "Ish, kamu ini buat Ibu kaget saja. Ada apa sih? tumben kamu bangunnya cepat begini, biasa juga harus Ibu yang bangunin,” canda Zahra.
“Duh, Bu, Melia serius loh ini,” Rengek Melia.
Zahra tertawa melihat Sang anak dalam mode merajuk.
“Baiklah, ayo, tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan pada Ibu," ucap Zahra yang kini sudah selesai membuat sarapan untuk mereka.
“Bu, yang semalam datang itu siapa? Kata Ibu dia seorang pria!" tanya Melia.
__ADS_1
***