
Melia mengangguk pelan sambil terus mengucap maaf pada Zahra, "Maaf, Bu."
"Maksud kamu apa! Kalian sudah menikah?" Ucap Zahra tak percaya.
Melia! Antara!
"Jawab Ibu!!"
"Iya, Bu. Kami sudah menikah. Tepatnya menikah siri!" sahut Antara. Ia langsung berjalan dan berlutut tepat di hadapan Zahra. Ia mengakui jika keputusannya akan melukai hati kedua orang tua mereka nanti. Namun apa yang bisa ia lakukan, disisi lain jika dirinya dan Melia tidak cepat mengambil keputusan untuk menikah, akan ada masalah yang lebih besar yang menghampiri mereka ke depannya. Hingga pada akhirnya mereka berdua bersepakat untuk ijab qobul terlebih dahulu untuk menghindari dosa besar.
"Maksud kalian?" Zahra semakin penasaran alasan kenapa mereka menikah dengan cara mendadak hingga tak mempunyai kesempatan untuk memberitahu keluarga mereka masing-masing.
"Saat itu….
Flashback on
Aku tak tahu siapa yang memasukkan obat sialan itu ke dalam minumanku siang tadi. Aku pun tak curiga apa-apa hingga aku meneguknya hingga habis tak tersisa. Saat kau keluar dengan memakai baju renang, kau sempat bertanya padaku 'kan soal lantas tidaknya jika kamu yang pakai! Kamu tahu kenapa aku tak menjawab apa-apa! Saat itu aku tak menjawab pertanyaan mu bukan karena kamu tak cocok atau tak pantas memakainya, namun lebih kepada aku sedang mengontrol napsu ku sendiri saat melihatmu berpakaian seksi seperti itu.
Terlebih saat melihatmu bersama pria lain, hatiku makin panas, aku tak bisa mengontrol hati dan pikiran ku saat itu.
Dan sialnya lagi kita harus satu kamar karena kamu melupakan kunci kamarmu di loker Angel waktu itu. Akal sehatku tak bisa berpikir jernih, Mel. Antara tubuh dan akal ku tak sinkron hingga ingin rasanya aku segera memakanmu. Tapi aku bersyukur karena saat itu kamu masih bisa mengontrol tubuhmu hingga aku tak jadi melakukan 'itu" padamu.
Namun siksaan itu tak kunjung berhenti jika aku tak mengeluarkan benih ku saat itu juga. Tapi karena mengingat prinsip yang kamu sudah pegang sejak dulu, akhirnya aku meminta mu untuk menikah denganku saat itu juga.
Flashback off
Zahra membungkam mulutnya yang menganga. Dia tak percaya dengan kejadian yang dikatakan oleh Antara padanya.
"Benar begitu kejadiannya, Mel!" tanya Zahra mempertegas perkataannya. Melia pun mengangguk sebelum berkata benar.
"Jadi, kalian benar sudah menikah!" lagi dan lagi Zahra terus masih terus ingin menyakinkan dirinya bahwa apa yang didengarnya barusan benar adanya, dia tidak sedang bermimpi saat ini.
__ADS_1
"Bisa kita berdua? Ada yang ingin Ibu katakan padamu. Dan kamu, Melia. Pergilah ke kamarmu sekarang." Ucap Zahra, dia ingin bicara 4 mata dengan Antara. Dan Melia tahu maksud Ibunya itu. Melia segera berjalan masuk ke dalam kamarnya setelah Antara mengangguk memberikan izin.
Zahra menatap penuh selidik pada Antara hingga membuat Antara sedikit salah tingkah. "Nak, kamu tahu kalau keputusan yang kalian ambil adalah keputusan yang besar untuk kehidupan kalian berdua!" Antara mengangguk pelan, "Dan setelah kalian memutuskan untuk menikah, itu sama artinya kalau kalian akan menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan kalian masing-masing. Tak terkecuali dengan semua masa lalu atau latar belakangnya, kamu tahu 'kan!" Lagi, Antara mengangguk namun kini Antara lebih berani menatap Zahra. Wanita yang tidak jauh berbeda dari sang Bunda namun tetap cantik di usianya.
"Maaf, Bu sebelumnya. Tapi aku benar-benar serius padanya, aku benar-benar mencintai Melia. Apapun latar belakang dan masa lalunya, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku pun bukan manusia yang sempurna, mempunyai kelemahan dan kekurangan, dan aku yakin jika Melia wanita yang baik dan akan menjadi istri dan Ibu yang baik pula nanti.
Zahra terkesima akan perkataan Antara, kini dirinya makin yakin jika Antara mampu membimbing Melia dan menjaganya dengan baik.
"Bu! Antara mohon percaya padaku, aku akan selalu ada untuk Melia, dan mohon doa dan restunya untuk kami, aku yakin jika doa seorang Ibu akan dijabat Allah lebih cepat." Pungkas Antara.
Zahra menghela napasnya sebelum mengatakan, "Ibu percaya padamu, Ibu cuma berpesan untuk selalu menjaga, mencintai, menyayangi dan melindungi Melia."
"Baik, Bu. Insya Allah." Sahut Antara.
"Melia sebenarnya tidak sekuat apa yang dia tunjukkan selama ini. Dia cukup rapuh, terlebih soal cinta." Ungkap Zahra, "Karena masa lalu Ibu dulu membuat sedikit banyak trauma di benak Melia soal laki-laki." Sambung Zahra.
"Iya, Bu. Antara akan selalu ingat pesan, Ibu."
Zahra membuang napas panjang ke udara.
"Ibu bahagia mendengar kalian menikah. Jika kebahagiaan Melia adalah padamu, Ibu pun pasti akan bahagia. Tiada hal yang paling membahagiakan hati seorang Ibu di saat anak-anaknya bahagia!"
Hati Antara menghangat mendengar perkataan Ibu mertuanya itu. "Terima kasih, Bu. Terima kasih."
......................
Setelah mendapatkan restu Zahra, kini Antara dan Melia sudah berada di depan rumah Antara. Melia sangat gugup saat ini hingga di sepanjang perjalanan di mobil tadi dia diam tak bersuara, seakan sedang merangkai kata demi kata saat bertemu calon Ibu mertuanya sebentar. Antara yang melihat kegugupan sang istri langsung meraih tangannya, menggenggamnya erat, seakan ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ayo, masuk!" Ucap Antara membuyarkan lamunan Melia. Menarik tangannya dengan lembut menuju pintu rumahnya.
"Ah, Iya, Mas." Meskipun Antara berada di dekatnya, namun Melia masih tetap saja merasa takut dan nervous. Ia ingat betul saat pertama kali bertemu dengan Weni.
__ADS_1
"Jangan takut, Bunda wataknya memang keras, tak seperti Ibu Zahra. Jadi aku mohon kamu bisa memakluminya." Kata Antara mengusap lembut punggung istrinya.
Melia mengangguk dan tersenyum kecil menatap pintu rumah Antara. "Kamu bisa Melia! Kamu pasti bisa! Ingat selalu pesan Ibu tadi padamu." Melia bermonolog memberi semangat pada dirinya sendiri.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya yang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan olehnya.
Bun!
Antara menyalami sang Bunda dan disusul oleh Melia yang juga ikut menyalami punggung tangan mertuanya itu. Namun belum sempat diciumnya, Weni dengan cepat mengambil tangannya kembali dan menatapnya dengan penuh selidik.
Bun, anak datang kok nggak disuruh masuk! Membuat Weni sedikit canggung. "Ah, Iya. Ayo masuk, Nak!"
Mereka bertiga duduk saling berhadapan dengan Antara yang duduk berdampingan dengan Melia. Weni yang melihatnya pun bertanya-tanya tentang wanita cantik yang bersama Antara.
"Kamu kapan pulangnya? Kok nggak langsung pulang, kerumah!" tanya Weni sembari melirik Melia tajam.
"Bun, ada yang ingin Antara katakan, penting!" ucapan Antara semakin membuat kening Weni berkerut.
"Ada apa sih? Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya! Dan…." Weni sejenak menjeda ucapannya sembari menoleh ke arah Melia, wanita yang sejak tadi membuatnya bertanya-tanya.
"Wanita itu siapa!!"
"Dia, Melia, Bun. Menantu Bunda." Ucap Antara dengan lugas.
Weni membelalakkan matanya, seakan baru baru mendengar kabar buruk. Untung saja dia tak punya riwayat penyakit jantung.
MENANTU!!
MENANTU SIAPA??
...****************...
__ADS_1