JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Pagi Yang Panas


__ADS_3

******* keluar dari bibir Melia tatkala Antara dengan rakusnya melahap 2 bukit kecil milik Melia bergantian dengan rakus. Tak hanya menghisap, Antara pun tak segan-segan memberikan tanda biru keunguan di dada sang istri. Sebagai bentuk kepemilikannya. Layaknya seorang bayi, Antara menghisapnya seperti orang yang kehausan. Hingga sesuatu yang keras dibawah sana sudah meronta-ronta ingin segera dikeluarkan.


Antara ingin memberikan malam yang terindah yang pernah dia berikan pada Melia malam ini, sebelum akhirnya nanti kebenaran yang disembunyikan akan terbongkar.


Antara melepas kain segitiga yang masih melekat di tubuh sang istri. Antara mulai menjilati bagian intim Melia dengan lembut dan sesekali jarinya bermain di dalam goa milik sang istri. Hingga membuat Melia menegang seketika. Kedua tangannya meremas rambut milik Antara yang sedang sibuk di bawah sana, Melia bergelinjang tak karuan saat sesuatu mendesak keluar dari daerah intimnya. Satu, dua hingga tiga kali Melia orgasme. Begitu nikmat yang dirasakan Melia malam ini, hingga malam-malam panas mereka sebelumnya tak berarti dibandingkan malam panas mereka malam ini.


"Mas … ah! Ayo Mas, masukin sekarang," racau Melia tak karuan.


"Dengan senang hati, Sayangku." Sambut Antara dengan senang hati.


Dengan mata yang berkabut, Antara dengan cepat memasukkan miliknya ke dalam goa milik sang istri. Antara menyentak dengan kuat, bak sedang menunggang kuda. Mereka terus melakukannya dengan berbagai gaya hingga keduanya sama-sama terkulai lemas tak berdaya di atas kasur. Entah berapa kali erangan keduanya terdengar di penjuru kamar hingga mereka terlelap dengan posisi saling berpelukan dibawah selimut.


...……...


Keesokan pagi


Melia bangun lebih pagi dari pagi sebelumnya, setelah membersihkan diri dari sisa malam panas mereka. Melia turun ke bawah terlebih dahulu meninggalkan sang suami yang tertidur dengan lelap setelah kelelahan bercinta dengannya.


Dengan semangat Melia turun dan menuju dapur, hari ini dia berencana masak menu makanan yang disukai sang suami, selain menyiapkan menu sarapan, Melia juga ingin membuatkan bekal makan siang untuk sang suami nanti. Dari semalam Melia sudah kepikiran akan memberikan surprise untuk sang suami dengan membawakannya makan siang, sekalian siang ini Melia juga ingin mengunjungi Zahra yang tengah sakit.


Setelah membuat sarapan, Melia kembali ke atas dan bergegas menuju kamarnya. Saat akan membuka kamar, terdengar nada tinggi saat menerima telepon.


Jangan coba-coba menemuinya, atau aku takkan bertanggung jawab!!


Melia mendekati sang suami lalu bertanya padanya, "Ada apa, Mas?" Antara terperanjat melihat Melia sudah berada di belakangnya, "Siapa yang telepon!" Lanjut Melia bertanya.

__ADS_1


"Ah … bukan, bukan siapa-siapa kok. Kamu kemana saja! Saat aku bangun kamu sudah tak ada disampingku." Antara memeluk pinggang sang istri dan mengalihkan pembicaraannya.


Melia tersenyum, "Aku buatkan sarapan yang spesial buat, Mas. Biar kerjanya semangat!" Melia membalas pelukan sang suami.


"Benarkah! Padahal ada loh yang bisa buat aku semangat berkali-kali lipat dalam bekerja." Senyum seringai yang ditunjukkan Antara padanya membuat Melia tahu arti dari senyum tersebut.


"Mas, jangan macam-macam ih, aku 'kan baru selesai keramas." Melia mulai memundurkan langkahnya namun sayang gerakan Antara lebih cepat darinya hingga kini tubuhnya sudah terangkat dan dibawahnya kembali ke atas tempat tidur. Membuat pagi yang dingin menjadi pagi yang menggairahkan dan panas.


Setelah melakukan olahraga paginya, mereka berdua turun ke bawah dan bergabung dengan Weni yang sejak tadi memakan sarapannya. Bukan tanpa alasan dirinya sarapan duluan, hampir 1 jam lamanya dia menunggu anak dan menantunya turun namun sampai saat terakhir pun mereka belum juga keluar dari kamarnya hingga membuatnya makan terlebih dahulu. Terlebih saat melihat menu sarapan pagi ini, membuat cacing di perutnya semakin berontak.


"Kalian ngapain aja sih di kamar! Sejak tadi Bunda nungguin kalian." Weni yang kesal karena harus lama menunggu akhirnya meluapkan kekesalannya pada Melia. "Kamu juga, Mel. Sudah tahu suamimu ngantor pagi, malah telat banguninnya!" Melia hanya bisa menundukkan kepalanya menatap piring makan diatas meja.


"Bun, ngapain sih ribut pagi-pagi begini. Melia itu sudah sejak tadi bangunin, tapi Antara sendiri yang masih mau manja manjaan sama Melia di atas kasur. Lagian belum telat juga, Bun!" sahut Antara yang tak enak hati mendengar Melia di omelin bundanya. Karena bukan kesalahan Melia hingga mereka telat sarapan namun, karena dirinya yang terus meminta tambahan suplemen, bukan hanya diatas kasur melainkan juga meminta mandi bersama yang ujungnya kembali mengulang olahraga paginya.


Sayangku, istriku tercinta, satu ronde lagi ya biar Mas bekerjanya lebih semangat lagi sampai malam.


Melia mencoba menelpon sang suami untuk meminta izin keluar rumah hari ini. Rencananya Melia akan menjenguk Zahra setelah itu akan mengantarkan makan siang ke kantor suaminya.


Tut,


Tut,


Tut,


Hingga panggilan ketiga pun Antara belum menjawabnya. Hingga Melia berinisiatif untuk mengirim pesan singkat ke suaminya.

__ADS_1


Mas, aku izin ke rumah ibu ya pagi ini, katanya ibu sakit. Aku gak lama kok di sana, setelah dari sana aku langsung.


Begitulah isi chat yang dikirimkan Melia pada Antara.


"Dia pasti kaget dan senang saat melihatku ada disana membawakannya makan siang." Batin Melia, ia begitu semangat ingin melihat ekspresi wajah sang suami saat melihatnya ada di kantor.


"Bu, Melia pulang ya. Mau bawain makan siang buat Mas Antara." ucap Melia sambil menenteng sebuah paper bag.


"Iya, hati-hati dijalan, Sayang." Salam buat suamimu dan Ibu Weni." Tukas Zahra mengulas senyum.


Iya, Bu. Nanti aku Melia sampaikan ya. Dan ya, Ibu jaga kesehatan ya, jangan capek-capek lah Bu. Melia jadi kepikiran kalau Ibu sakit begini," Melia terkadang dilema antara ingin mengurus sang Ibu namun dia tak bisa meninggalkan sang suami juga rumah suaminya setiap hari. Karena kini dirinya sudah menjadi seorang istri dan menantu di rumah Weni. Ia mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengurus rumah dan mertuanya serta melayani sang suami.


"Iya, iya, sana gih pergi, nanti kena macet. Kasian mantu Ibu kalau makan siangnya telat," balas Zahra sembari menggerakkan tangannya.


Jalanan hari ini begitu macet, hingga Melia sampai ke kantor Antara 1 jam lebih lama dari biasanya. Melia menghela napasnya panjang, "Semoga Mas Antara belum makan siang." Batin Melia sembari berjalan dengan cepat memasuki lobi kantor Antara.


Sedang di dalam ruangan Antara terjadi keributan antara dirinya dan Karin.


"Aku sudah berulang kali katakan jika saat tak terjadi sesuatu diantara kita. Kamu jangan mengada-ada dengan menyebarkan berita bohong pada orang-orang diluar sana." Pekik Antara. Ia teriak dengan keras hingga suaranya sampai keluar ruangan.


"Aku cinta sama kamu, An. Aku cinta kamu!"


"Tapi aku tak mencintaimu, Karin. Kamu harus mengerti itu, aku cuma menganggapmu teman, tak lebih dari itu." tegas Antara.


"Enggak! Aku nggak rela kamu sama wanita itu, apa kurangku darinya, hah? Kita lebih sederajat ketimbang wanita malam itu!" Karin semakin tak terkontrol karena lagi lagi Antara menolak dirinya mentah-mentah. Dengan brutal Karin menyobek dress yang dipakai hingga bagian dadanya sudah terpampang jelas sedang Antara terbelalak melihat kelakuan tak waras Karin dihadapannya saat ini.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan! Sadar, sadar Karin!!" Antara terus melepas pelukan Karin padanya. Sedang Karin terus berteriak hingga satu persatu orang-orang berdatangan masuk ke dalam ruangan Antara. Bukan hanya teman kantor yang selantai dengan Antara yang melihat kegaduhan tersebut, di tengah keramaian orang-orang di sana, ada sosok wanita cantik, tinggi yang tercengang melihat adegan pria dan wanita di depan matanya saat ini.


...****************...


__ADS_2