
"Kalau benar apa yang dikatakan, bik Nani jika tadi pagi Antara keluar dari kamar Karin dalam keadaan rapi dan rambut yang basah, itu artinya Antara dan Karin pasti sudah melakukannya.. em, benar gak apa yang, Bunda pikirkan!" tanya Weni dengan hati-hati, ia bukan ingin menjadi kompor namun, Melia harus tahu jika suami dan madunya sudah berbaikan agar menantunya itu bisa menjalani rumah tangganya dengan tenang dan damai karena Karin takkan lagi menyudutkan dirinya karena sikap Antara pada Karin.
Mendengar perkataan sang ibu mertua, membuatnya terdiam cukup lama hingga ia tersadar saat tangan Weni menggenggam tangannya, menepuknya sembari berkata maaf berulang kali karena ada andil besar yang dia lakukan hingga membuat rumah tangga Melia seperti sekarang ini. "Maafkan, Bunda ya, Mel. Karena permintaanku dulu, Antara sampai menyetujui menikahi, wanita gila itu," ucapnya dengan sendu. Selama 2 tahun Melia menjadi menantunya, ia bisa menilai jika Melia benar-benar mencintai anaknya dengan tulus, terlebih melihat sang anak begitu bahagia selama menikah dengan Melia. Namun karena keegoisannya, kini rumah tangga anaknya terancam tidak baik-baik saja, terlebih saat ini Antara mulai membuka hatinya untuk Karin.
Melia mengulas senyumnya sembari menatap wajah mertuanya. Ia menghembuskan napasnya ke udara lalu menangkup tangan Weni dengan lembut, "Bun, aku tak apa-apa. Aku tahu jika mereka bersama semalam, aku sempat melihatnya kemarin malam," pungkas Melia membuat Weni terbelalak. Ia pun kembali tersenyum, melihat reaksi dari ibu mertuanya membuatnya tergelak, "Kamu tahu dan kamu tak bereaksi apapun!" seru Weni dengan kaget.
"Memang, Melia harus bereaksi apa, Bun? Bukannya ini, yang selama ini aku minta pada, mas Antara. Bukankah sekarang aku harusnya bahagia, karena keinginanku selama beberapa bulan ini bisa terwujud," Weni tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa tersenyum, tersenyum getir melihat senyum yang masih berusaha ditampilkan menantunya itu. Sepintar pintarnya ia menutupi kesedihannya dengan tersenyum, namun tetap saja orang akan dengan cepat melihat kegetiran di senyumannya itu.
"Menikah dan memiliki rumah tangga yang harmonis adalah impian semua pasangan. Meski tidak mudah, bukan berarti tidak mungkin. Tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin. Baik suami maupun istri harus sama-sama berusaha mewujudkannya. Kebahagiaan harus diciptakan, bukan ditunggu," tutur Melia. Weni terkesiap mendengar ucapan anak menantunya itu. Wanita yang dulu sangat dibencinya hanya karena asal usul dan latar belakangnya yang tidak setara dengannya, ternyata begitu berhati besar. "Dan Melia mau mempertahankan pernikahan Melia dengan mas Antara, Bun. Aku tak mau melepaskan pria yang hangat dan baik sepertinya," Pungkas Melia menatap mertuanya lalu mengalihkan pandangannya menatap langit yang tiba-tiba menjadi mendung, semendung hatinya saat ini.
***
Kini setiap harinya, Karin dan Antara akan pergi dan pulang bersama ke kantor setiap harinya berdua. Ya, kini Karin bekerja di perusahaan suaminya, lebih tepatnya, meminta sang papa untuk meminta pada Antara agar Karin bisa mengisi posisi manajer yang kosong di perusahaannya. Dan hal itu semakin membuat keduanya semakin dekat, sedang hubungan antara Melia dan Antara kembali mesra walau tak semesra dulu karena harus menjaga perasaan Karin.
__ADS_1
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita bersenang-senang bersama orang yang kita cintai, waktu yang kita habiskan terasa begitu cepat berlalu. Kita merasa sebelum kesenangan dimulai, waktunya telah berakhir. Sebaliknya, saat kita menunggu sesuatu yang istimewa atau dalam kondisi sulit, waktu terasa berjalan sangat lambat.
Itulah yang dialami Karin, setelah malam panasnya bersama Antara malam itu, Antara tak lagi pernah menyentuhnya. Kedekatannya selama sebulan ini hanya pada pekerjaan saja di kantor, dan saat mereka di rumah, waktu Antara full dia berikan pada istri pertamanya, Melia. Karin tak lagi banyak menuntut pada Melia, ia sudah berjanji pada Antara saat itu jika ia takkan lagi mengganggu Melia jika Antara mau membagi waktu untuknya.
"Aku akan berikan waktuku secara penuh saat kita berada diluar rumah, sedang dirumah, kamu harus menerima jika waktuku kuberikan penuh untuk Melia."
Karin menghela napasnya setiap kali mengingat perkataan Antara. Saat dimana dirinya mengatakan bahwa dia akan ikut bekerja di kantor mulai hari ini.
"Benarkah, kamu beneran hamil!" ucapnya tak percaya saat mendengar pernyataan Karin," entah Antara harus bahagia atau bersedih ketika mengetahui jika Karin hamil anaknya.
Melia mengerutkan keningnya ketika melihat pembicaraan serius antara suami dan madunya di ruang kerja Antara dari sela pintu. Samar-samar terdengar perdebatan keduanya. Hingga saat Melia mendengar berita jika Karin saat ini tengah berbadan dua.
"Apa maksudmu? Memang kamu kira ini anak siapa, hah!!" pekik Karin, ia tak terima saat Antara mempertanyakan kebenaran tentang kehamilannya.
__ADS_1
"Bukan, bukan itu maksudku, Karin. Kamu jangan salah paham begini!" Antara mencoba menenangkan Karin yang terlihat emosi mendengar perkataannya. "Aku hanya bertanya karena bukankah kita hanya melakukannya waktu itu! Kenapa bisa secepat itu kamu hamil?" Lagi lagi perkataan Antara membuatnya emosi, ia tak terima jika Antara menyangsikan anak yang sedang dikandungnya.
"Iya, memang hanya waktu 'itu' tapi, apa kamu lupa.. jika kita melakukannya berkali-kali sepanjang malam hingga subuh dan setelah itu, kita melakukannya lagi sampai menjelang pagi!" Tandasnya.
"Iya, aku tahu. Tapi itu aku lakukan tanpa sadar, Karin, dan kamu tahu itu bukan!" sahut Antara cepat.
"Mau kamu melakukannya dengan sadar atau tidak pun jika kita melakukannya dengan membuang benih mu di dalam rahimku, itu bisa saja membuatku bisa hamil, terlebih saat kita melakukannya itu adalah waktu masa suburku, jadi tak menutup kemungkinan saat itu kita melakukannya dan saat itu pula janin ini tumbuh di rahimku." Pungkas Karin menatap tajam sang suami yang terperangah mendengar penjelasan Karin. Dan tanpa mereka sadari, ada hati yang terluka bahkan terasa tersayat sayat mendengar penjelasan Karin barusan.
Ada rasa tidak adil berkecamuk di hatinya saat ini, saat mengetahui jika Karin hamil hanya dalam waktu sebulan saja. Sedang dirinya hingga 2 tahun perkawinannya, ia belum juga hamil. Saat akan beranjak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa sakit, pandangannya seketika mengabur dan nyaris jatuh jika saja Antara tidak cepat menangkap tubuh Melia.
"Mel, Melia! Kamu tak apa? Kamu kenapa? Mel sadar, Sayang, ayo sadar!" Melia hanya mendengar samar teriakan Antara hingga ia benar-benar menutup matanya dan tak mendengar apapun setelahnya. Antara dengan cepat mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam ruang kerjanya dan membaringkan tubuhnya tepat di atas sofa yang memang tersedia di dalam ruang kerjanya.
...****************...
__ADS_1