
"Jadi bagaimana keadaan anak Karin sekarang?" tanya Zahra.
"Terakhir yang aku tahu, anak itu kuning karena kadar bilirubin yang tinggi di dalam darahnya," ujar Melia menjelaskan.
"Karena lahir prematur, fungsi organ di dalam tubuhnya pun belum berfungsi dengan baik karena lahir sebelum waktunya," imbuhnya.
"Jadi sekarang, suamimu itu lagi sibuk menjaga dan mengurus Karin dan anaknya!" ucap Clara mendengus dengan kesal.
Melia dan Zahra tertawa kecil melihat Clara yang kesal setiap kali membahas Karin.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya? Apa kamu masih nggak mau kasih tahu Antara soal kehamilan mu!" seru Clara seraya menatap Melia yang hanya mengedikkan kedua bahunya keatas.
Zahra menghembuskan napas panjang melihat anaknya yang begitu keras kepala.
"Aku ingin berlibur dan mengunjungi kota kota yang belum pernah Melia kunjungi. Pasti sangat menyenangkan, iya 'kan, Bu!" kata Melia menerawang.
Zahra memegang tangannya dan mengusapnya lembut untuk memberinya kekuatan pada sang anak.
"Ikuti kata hatimu, jika orang lain tak mampu membahagiakanmu.. maka carilah kebahagiaan sendiri, Nak jika itu yang terbaik. Satu yang perlu kamu selalu ingat, jika Ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu!" kata Zahra menyemangati sang putri tercinta.
Melia mengangguk cepat lalu memeluk Zahra.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih untuk kepercayaan mu selama ini. I love you," kata Melia semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalian melupakanku," protes Clara memanyunkan bibirnya.
Akhirnya mereka pun tertawa bersama dan berpelukan.
***
Satu minggu kemudian..
Setelah kesehatan Karin berangsur-angsur membaik dan Karen pun beberapa hari lagi akan pulang kerumah. Akhirnya Antara kembali ke rumahnya, rumah yang hampir sebulan tidak ditinggali karena sibuk mengurus Karin dan anaknya, Karen.
Setibanya disana, Antara masuk ke dalam rumahnya dengan menggunakan kunci cadangan yang selalu dibawanya. Rumah tersebut nampak rapi seperti awal mereka tempati.
"Assalamualaikum..," kata Antara memberi salam saat memasuki rumahnya.
Antara memindai rumahnya yang nampak sepi dan seperti tak berpenghuni.
"Kok sepi banget, kemana Melia? Apa dia di kamar ya!" pikirnya lalu mencari ke kamar yang pernah ditempati Melia kala mereka bertengkar dulu namun hasilnya nihil. Melia tak berada di dalam kamar tersebut.
Lalu Antara bergegas naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya. Namun hasil yang didapatkannya pun sama, nihil, Melia tidak ada disana, bahkan kamarnya begitu rapi seakan tak pernah ditiduri sama sekali.
__ADS_1
Antara masih berpikiran positif.
"Mungkin dia lagi di kamar mandi," batinnya.
Namun Melia tak berada dimana pun, baik di kamar mandi maupun di ruang wardrobe nya. Lalu Antara memencet nomor telepon sang istri namun hasilnya pun nihil, hanya suara operator seluler yang menjawab jika nomornya sedang tidak aktif.
Antara tak kehilangan akal. Antara lalu menelepon ibu mertuanya, Zahra dan menanyakan keberadaan istrinya.
"Assalamualaikum, Bu..," kata Antara saat Zahra mengangkat teleponnya.
"Wa alaikum salam, Nak. Tumben kamu nelpon! Ada apa?" tanya Zahra dari seberang telepon.
Antara dilanda kebingungan, dirinya bingung apa yang harus dia katakan pada mertuanya.
Apakah pantas dirinya bertanya pada sang ibu mertua yang tidak tinggal bersama mereka sedangkan dirinya adalah seorang suami yang harus tahu keberadaan istrinya sendiri.
"Nak.. Nak Antara..!" panggil Zahra saat menantunya itu tak menjawab pertanyaannya.
"Hem.. begini, Bu. Apa.. Melia ada di rumah Ibu?" tanya Antara pada akhirnya.
"Melia..!" kata Zahra membeo.
"Iya, Bu." jawab Antara mengangguk.
"Oh gitu ya, Bu. Kalau begitu, Antara tutup ya, secepatnya kami akan mengunjungi ibu di rumah," tutup Antara, ia mematikan sambungan teleponnya setelah memberi salam pada sang ibu mertua.
Antara semakin gelisah dengan keberadaan sang istri yang pergi entah kemana.
Disaat Antara ingin mengganti bajunya. Antara tak melihat pakaian sang istri yang biasanya berada disamping pakaiannya.
Antara dengan cepat membuka lemari di sebelahnya yang mereka biasa tempati barang-barang besar seperti tas dan koper. Dan betapa terkejutnya saat tak melihat koper milik Melia disana.
"Tidak.. tidak.. Melia tak mungkin pergi meninggalkanku," batin Antara menolak.
Antara tak jadi mengganti bajunya dan langsung menuju ke arah tempat tidur tempat dia menyimpan ponselnya tadi.
Disaat akan mengambil ponselnya, sudut matanya melihat secarik kertas yang diatasnya terdapat sebuah cincin yang pernah dia berikan pada Melia saat menikahinya 2 tahun yang lalu di kapal pesiar.
Antara mengambil kertas tersebut dengan ragu. Di dalam hatinya terus merapal kan berulang jika kertas ini bukanlah apa yang dia pikirkan saat ini.
Setelah mengambil secarik kertas tersebut. Antara lalu duduk di pinggir ranjangnya dengan perasaan yang tidak tenang dan gelisah.
Tangannya bergetar saat akan membuka kertas tersebut.
__ADS_1
Matanya membulat dengan sempurna dan hatinya mencelos saat melihat kertas yang dipegangnya adalah sebuah surat. Surat yang ditulis oleh istrinya, Melia. Antara tahu betul tulisan tangan sang istri.
Teruntuk suamiku tercinta..
Maafkan aku, Mas..
Maafkan aku yang tak mampu mendampingi mu hingga akhir, seperti janji yang pernah aku ucapkan kala itu.
Aku tak ingin membuatmu kesulitan dengan memilih siapa yang akan kamu prioritaskan.
Aku tak ingin menjadi istri yang egois dan kekanak-kanakan seperti apa yang kamu katakan padaku.
Namun.. aku pun tak sanggup jika harus bertahan dengan hubungan yang sudah tidak sehat seperti hubungan kita saat ini.
Maafkan aku, Mas jika aku egois karena tak bisa bisa lagi membagi mu dengan wanita lain. Walaupun aku tahu jika cintamu memang hanya untukku seorang.
Maafkan aku, Mas jika mungkin keputusanku saat ini membuat mu kecewa namun, sungguh aku tak mampu lagi menguatkan hatiku disaat hanya diriku sendiri yang menguatkan ku.
Aku butuh seseorang yang menguatkan ku disaat aku akan menyerah agar aku kembali kuat namun.. aku tak memiliki pegangan itu, Mas.. aku tak memiliki mu yang dulu selalu ada disisi ku.
Mungkin keputusanku salah di matamu namun hal ini harus aku lakukan agar mental ku tetap waras dan tidak mempengaruhi kesehatanku.
Aku doakan kamu bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki saat ini, jaga mereka yang berada disisimu saat ini.
Jangan terlalu merindukanku..
Aku percaya dan yakin, kamu pasti bisa hidup tanpamu.
Dan aku pun akan berusaha untuk bisa bahagia tanpa ada kamu disisi ku sama seperti beberapa bulan ini.
Aku akan menjaga cintaku untukmu dan jika kita memang berjodoh.. maka takdir pasti akan mempertemukan kita kembali.
Aku akan menyimpan cintamu jauh di dalam lubuk hatiku, Mas.
Doakan aku agar bisa menjaga bagian dari dirimu di dalam rahimku hingga dia bisa merasakan indahnya dunia.
Istrimu, Melia.
Tangisnya pecah dengan tangan yang bergetar dengan hebat saat membaca kalimat terakhir dari surat yang ditulis istrinya.
Antara tak menyangka jika istrinya sedang hamil saat ini. Bagaimana bisa dirinya sampai tak tahu hal besar seperti ini.
...****************...
__ADS_1