JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Keyakinan Seorang Ibu


__ADS_3

Tok.


Tok.


Tok.


Mendengar ketukan pintu, Zahra bergegas menuju pintu depan. "Siapa yang bertamu malam-malam begini." Ia tak menyangka orang yang mengetuk pintu adalah Antara. Pemuda yang Zahra katakan adalah calon menantu idaman.


"Antara!" ucap Zahra kaget.


Antara tersenyum. "Iya, Bu. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Apa kabar Bu?" ucapnya lalu mengulurkan tangannya dan meraih tangan kanan Zahra lalu dicium dengan takzim.


Inilah yang disukai oleh Zahra, pembawaan Antara yang ramah dan jangan lupakan soal sopan santunnya setiap kali mereka bertemu.


"Ada apa, Nak. Kok malam banget kesini nya! Baru saja Melia berangkat, kamu ada perlu dengannya?" tanya Zahra basa-basi.


Antara terdiam,  tak tahu harus menjawab apa, ia masih merangkai kata demi kata agar tidak menyinggung perasaan Zahra.


"Ayo masuk, bicaranya di dalam saja," kata Zahra mempersilahkan.


"Terima kasih, Bu."


"Kamu baru pulang kerja!" tebaknya saat melihat guratan kelelahan yang menghiasi wajah tampannya.


"Iya, Bu."


"Mau minum apa, nanti Ibu buatkan."


"Nggak usah repot-repot, Bu. Antara kesini juga nggak lama kok," jawabnya.

__ADS_1


"Ah.. enggak repot kok, lagian ibu kan pernah janji buatkan minuman kalau kamu datang berkunjung."


Antara membalasnya dengan tersenyum. "Apa saja deh, Bu. Asal tidak merepotkan," sahut Antara.


Sementara Zahra membuatkan minuman untuknya. Antara bergegas mengeluarkan tiket yang disimpan di dalam saku celananya.


"Harus ikhlas, kamu bisa!" Antara bermonolog.


"Ini teh nya, semoga suka, soalnya Ibu belum tahu kamu suka manis atau enggak." Ucap Zahra saat datang dengan sebuah cangkir yang berisikan teh hangat.


"Enak Bu, rasanya Pas," katanya sambil menyesap teh yang masih tersisa separuh di cangkirnya. Rasa lelah yang dia rasakan seketika hilang berganti dengan rasa hangat yang menjalar di tubuhnya. Antara memulai obrolannya dengan Zahra. Mengungkapkan maksud kedatangannya kesini.


"Jadi maksud kedatangan saya kemari, ingin memberikan ini pada Melia, Bu." Antara menyerahkan dua lembar tiket pada Zahra.


"Loh, apa ini!" Zahra terlihat bingung karena tiba-tiba Antara memberikannya sebuah tiket.


"Ini tiket liburan, Bu. Mungkin kemarin malam Melia sudah memberitahukan Ibu soal tiket yang kami dapat karena memenangkan **D**oorPrize dipesta itu."


"Maaf ya kalau Ibu kiranya lancang. Ibu boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, Bu. Silahkan."


"Memang semalam ada kejadian apa? Jujur, Melia sampai hari ini belum cerita apa-apa tentang kejadian semalam. Saat Ibu tanya, dia bilangnya nggak ada apa-apa. Jadi, Ibu nggak tanya lagi. Biasanya kalau ada sesuatu pasti dia ceritakan, tapi entah apa yang terjadi semalam hingga ia belum mau menceritakannya sama Ibu."


Antara manggut-manggut mendengar penjelasan Zahra. 


"Jadi saat itu—setelah itu kami ternyata menang, dan mendapatkan tiket ini tapi—dan ternyata tiketnya tertinggal di mobil saya," terang Antara.


Maka dari itu saya kemari bermaksud untuk mengembalikan tiket ini pada Melia, dan sekalian memberikan tiket yang saya punya buat Ibu. Sepertinya Melia punya rencana lain terkait tiket ini jadi…"

__ADS_1


"Baiklah Ibu terima, tapi dengan satu syarat. Gimana!" sela Zahra. Kini ia sudah tahu permasalahan apa yang dihadapi dua anak manusia ini.


"Syaratnya apa, Bu?" sahut Antara karena merasa bingung dengan perkataan Zahra.


"Gampang, Ibu cuma minta tolong untuk diantar sampai masuk ke dalam kapal pesiar itu nanti, bagaimana, gampang 'kan!" seru Zahra.


Antara tergelak. "Ok, Bu. Siap pokoknya. Insya Allah lusa pagi Antara jemput."


Setelah menghabiskan teh buatan Zahra. Antara pamit pulang ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan, Antara terus menyemangati dirinya untuk bisa move on dari bayang-bayang Melia. Walau sulit dirasa, namun ia akan berusaha melupakannya. Dan dia percaya bahwa jodoh, maut dan rezeki adalah rahasia ilahi.


*


Dua hari kemudian


Matanya sejurus memandang keluar, dimana seorang wanita paruh baya sedang melambaikan tangan dengan tersenyum lebar. Seakan tak ada beban saat melihat sang anak yang berada di kapal bersama seorang pria. Ya, Melia menatap tajam sang Ibu karena sudah berhasil mempermainkannya. Bukan hanya dia , Antara pun dibuat panik olehnya. Kenapa tidak, karena rencana konyol Zahra, Antara harus mengurus cuti dadakannya di kantor. Beruntung ada Malik yang siap membantunya menghandle pekerjaan yang akan beberapa hari dia tinggalkan.


Melia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri tadi. Padahal sudah beberapa menit yang lalu kapal Symphony Of The Seas berlayar. Kapal pesiar ini termasuk kapal pesiar terbesar di dunia, kapal yang mengusung konsep yang super mewah ini memberikan fasilitas yang terdapat di dalam kapal pesiar tersebut. Tak tanggung-tanggung, diantaranya seperti hotel berbintang, memiliki setidaknya 18 lantai dengan berbagai fasilitas seperti restoran, pusat perbelanjaan, hingga perlengkapan olahraga hingga arena permainan untuk anak.


Disaat Melia masih terlihat bingung dan masih mencerna apa yang terjadi. Namun berbanding terbalik dengan Zahra yang tak lagi kuasa menahan tawanya sesaat setelah melihat kapal yang dinaiki Melia dan Antara semakin menjauh dari pandangannya. Ia masih ingat betul ekspresi wajahnya keduanya saat melihatnya melambaikan tangan setelah terdengar suara suling kapal yang menandakan bahwa kapal tersebut siap berlayar di lautan bebas.


Maafin Ibu, Mel. Ini semua demi masa depanmu, Ibu yakin jika Antara adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, Ibu yakin dia akan memperjuangkan mu hingga akhir.


Zahra meyakini apa yang dilihatnya selama ini, sosok Antara yang nilainya merupakan pria yang bertanggung jawab, baik, hormat pada orang tua, dan yang utamanya   , dia tetap mencintai putrinya padahal dia tahu betul kalau Melia bekerja di klub malam. Zahra berani mengambil keputusan untuk mendukung penuh niat Antara yang ingin melangkah lebih jauh bersama Melia, dan Zahra mengetahui semuanya disaat Antara mengungkapkan isi hatinya malam itu.


Zahra ingat betul malam itu dia bertanya pada Antara soal tujuannya mendekati Melia, hingga akhirnya Antara jujur mengungkapkan keinginannya yang terdalam untuk bisa melangkah lebih jauh bersama Melia, memiliki hubungan ke jenjang yang lebih serius, pernikahan inginnya. Dan Antara pun berjanji jika dirinya tak akan mempermasalahkan soal pekerjaan Melia.


Saya benar-benar mencintainya, Bu. Entah mengapa sejak kami bertemu, bayang wajah Melia tak bisa lepas dari pikiranku hingga membuatku semakin tersiksa karenanya. Aku sudah berusaha mendekati Melia dengan segala cara, namun tetap saja, dia seperti gunung di es yang walaupun aku daki, tetap saja tak akan sampai ke puncaknya. Hingga malam kemarin, kami bertemu kembali tanpa sengaja untuk kesekian kalinya. Dan hal itu pun yang membuatku semakin yakin jika Melia adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku.


Namun pikiranku berubah saat Melia mengatakan padaku jika dia merasa tak nyaman berada di dekatku. Sungguh  aneh 'kan, Bu. Dia lebih nyaman diantar taksi online ketimbang diantar olehku. Sejak saat itu, aku pun berpikir jika mungkin ini saatnya aku berhenti berjuang untuknya. Maka dari itu Antara kemari karena ingin memberikan tiket ini buat Melia semua, dan mungkin ini kali terakhir Antara ke sini.

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan Antara saat itu, akhirnya dengan cepat Zahra memikirkan ide untuk membuat hati anaknya itu luluh.


...****************...


__ADS_2