
"Mel…." panggil Clara saat melihat Melia melamun. "Ada apa? Apa yang kamu lihat?" imbuh Clara yang juga menatap ke arah pintu keluar.
"Tadi aku bertemu Mas Antara dan Karin, Cla. Mereka sepertinya dari kontrol kandungan, Karin," jawab Melia.
"Are you okay?" kata Clara dan Melia mengangguk cepat.
"Lalu apa yang dikatakan wanita ular itu padamu? Apa dia memaki mu lagi?!" Lagi-lagi Melia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Clara.
"Mas Antara menyuruhku pulang cepat, Cla. Bahkan dia tak mampu memilih diantara kami. Apakah aku egois jika mengharap dia lebih memilihku dari Karin!" Melia menghembuskan napasnya ke udara menatap langit-langit koridor rumah sakit.
"Kalau begitu kamu harus pulang sekarang, bukankah Antara paling tak suka jika perintahnya tidak didengar!" kata Clara lagi.
"Aku akan pulang setelah memeriksakan kandunganku dan mengantarkanmu pulang ke rumah. Aku akan meminta dia memilihku hari ini, Cla. Aku akan menyerah jika nyatanya dia memilih Karin," ujar Melia panjang lebar.
"Tapi bagaimana jika dia memilih wanita itu? Apalagi dia sedang hamil anak Antara. Terlebih sampai sekarang kamu belum memberitahu dia tentang kehamilan mu." balas Clara.
"Aku sudah menyiapkan mental ku untuk kemungkinan terburuknya, Cla. Bahkan dari jauh jauh hari, aku sudah ikhlas. Dan aku terlalu kecewa dengan Mas Antara yang bahkan tak memperhatikan perutku yang terlihat membuncit, Cla. Lucu bukan!" jawab Melia dengan tertawa miris. Melia menertawakan kehidupannya yang seolah mempermainkannya.
Clara memeluk Melia dan memberikan kekuatan agar dirinya bisa kuat menghadapi masalah rumah tangganya. Clara tak bisa banyak memberikan banyak nasehat karena dirinya pun masih menghadapi masalah yang terbilang pelik. Clara bingung karena ayah bayinya ingin bertanggung jawab namun tanpa adanya pernikahan karena sebentar lagi pria itu akan menikahi tunangannya.
***
Setelah memeriksakan kandungannya dan mengantar Clara pulang. Akhirnya Melia sampai di rumahnya dan tentu saja sudah ada suaminya disana. Terlihat dari mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya.
Melia tak langsung turun menemui suaminya. Ia masih mencerna perkataan dokter padanya tadi.
"Sebaiknya ibu Melia bisa lebih rileks dan tidak stress. Nyeri diperut ibu adalah sebuah reaksi dari tubuh ibu dan ini sangat tidak baik untuk perkembangan kandungan ibu sendiri, apalagi ibu Melia mengatakan jika nyeri perut bagian bawah yang ibu rasakan terus berulang-ulang. Itu bisa sebagai awal terjadinya keguguran," kata dokter Rani.
"Jadi saran saya, ibu Melia bisa mengontrol emosi ibu dengan baik atau bisa merilekskan pikiran ibu dengan pergi berlibur ketempat yang jauh dari sumber masalah ibu Melia," sambungnya memberikan saran.
__ADS_1
Melia menghembuskan napasnya sebelum turun dari mobil. Dia tak melihat keberadaan suaminya.
Melia akhirnya masuk ke dalam kamar yang semalam ditempatinya tidur. Setelah berganti pakaian, Melia keluar dari kamar dan ternyata sudah ada Antara berdiri di depan kamarnya.
Antara meraih tangan Melia dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Aku ingin kamu memilih, Mas. Kamu pilih aku atau Karin, aku sudah tak sanggup menjalani pernikahan seperti ini. Terlalu banyak masalah jika hubungan ini diteruskan!" seru Melia saat Antara tak mengucap sepatah katapun.
Antara melihat Melia dengan kening yang berkerut. Dia tak suka dengan perkataan istrinya itu.
"Itu bukan sebuah pilihan, Sayang. Dan berapa kali, Mas sudah bilang kalau Mas pasti akan memilihmu. Mas cinta sama kamu tapi kamu juga harus mengerti kalau Mas harus bertanggung jawab atas anak yang dikandung Karin. Biar bagaimanapun juga, anak itu adalah anaknya, Mas dan darah daging, Mas. Dia tak berdosa, Sayang," tutur Antara dengan lembut dan perlahan. Dia tak ingin membuat emosi sang istri terpancing. Dan nantinya akan membuatnya juga ikut emosi.
"Baiklah, biar aku yang memutuskannya jika Mas tak sanggup memilih diantara kami." Melia melepaskan genggaman tangan suaminya perlahan.
"Aku yang akan mundur, Mas. Aku tak bisa menahan rasa ini terus menerus. Itu membuatku sakit dan aku tak ingin terus menderita karenanya. Aku harap, Mas mengerti dengan keputusanku ini." Kata Melia dengan lembut namun penuh dengan ketegasan di setiap katanya.
"Kamu jangan kekanak-kanakan seperti ini, Sayang. Aku cinta sama kamu dan kamu tahu itu bukan! Aku tak akan membiarkanmu pergi dari hidupku, kamu milikku dan akan selamanya menjadi milikku seorang. Kamu tak boleh pergi dari hidupku, tak boleh meninggalkanku!" kata Antara yang mulai meninggikan suaranya.
"Ya, aku masih kekanak-kanakan, Mas. Maka dari itu biarkan aku pergi, lepaskan aku agar aku bisa bahagia."
"Apa kau akan bahagia tanpa aku?! Apa hidupmu semenderita itu sampai kamu tega mau meninggalkanku!!"
"Ya, aku menderita, sangat menderita, Mas. Hatiku tak sanggup lagi jika harus membagimu dengan, Karin."
"Tapi aku tak mencintainya, Sayang. Aku hanya akan bertanggung jawab pada anaknya saja,"
"Aku tak hanya butuh cintamu, mas. Aku butuh kamu sepenuhnya, perhatian hingga cintamu. Aku butuh keduanya dan aku tak ingin berbagi dengan siapapun juga,"
"Kamu jangan egois begitu, Mel. Aku melakukannya juga terpaksa, aku melakukannya hanya untuk anak yang dikandung Karin, tak lebih."
__ADS_1
"Apakah bercinta dengannya juga termasuk dalam pertanggung jawabanmu, Mas? Begitu!" Akhirnya Melia mengungkapkan isi hati yang selama ini dipendamnya.
"Aku tak yakin saat kamu bercinta dengan Karin benar-benar tak ada rasa sedikitpun yang kamu rasakan, Mas. Aku melihat dengan jelas kamu menikmatinya dan aku yakin sudah ada rasa itu tumbuh dihatimu."
"Sudahlah, Mel. Aku tak ingin membahasnya. Aku akan kembali malam nanti setelah dari kantor. Kamu tetap dirumah dan jangan kemana-mana," kata Antara dengan tegas.
"Pergilah pada, Karin dan tak usah memberikanku alasan ke kantor yang sama selama ini kamu lakukan. Hatiku terlalu sakit atas kebohonganmu selama ini, Mas. Aku lelah dan aku ingin mengakhiri ini semua," Melia terduduk setelah mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya.
"Aku tak akan membiarkanmu meninggalkanku. Kamu hanya untukku dan kamu harus selalu berada disisiku. Aku hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawabku sebagai seorang suami pada, Karin. Tak ada cinta saat kami bersama, yang ada hanya rasa tanggung jawab saja," kata Antara menegaskan.
"Karin sedang sakit dan kata dokter hidupnya tak lama lagi, dia harus tetap kuat dan bertahan paling tidak sampai dia melahirkan bayinya," akhirnya Antara jujur dengan apa yang selama ini disimpannya.
"Kamu masih ingat bukan soal kondisi Karin terakhir saat dia jatuh! Rahimnya rusak saat itu terjadi dan dia tak ingin melepaskan anaknya yang berakibat kondisinya semakin memburuk setiap harinya. Aku terpaksa berbohong padamu karena tak ingin melukai perasaanmu, posisiku sangat dilema saat ini. Bukan hanya hatimu yang terluka, hatiku pun sama terlukanya denganmu." kata Antara tertunduk.
"Jadi kamu ikut menyalahkanku atas penyakit yang menimpa Karin? Dan kamu pun merasa aku egois karena hanya memikirkan penderitaanku saja, begitu?!"
"Kamu yang egois, Mas. Kamu tak pernah tahu apa yang selama ini aku rasakan, kamu yang terlalu memikirkan penderitaanmu sendiri disini. Kamu tak pernah jujur selama ini padaku dan begitupun denganku yang selalu berpura-pura kuat menjalani kehidupannya rumah tangga kita, pernikahan kita tak sehat," imbuhnya.
Saat Antara ingin menghampiri sang istri, tiba-tiba suara teleponnya berdering. Ternyata dari Weni sang bunda yang memberikan kabar jika Karin tiba-tiba pingsan.
"APAAA!! Baik, Antara kesana sekarang." sahut Antara lalu pergi meninggalkan Melia begitu saja.
Detik berikutnya Antara berhenti lalu menoleh ke arah Melia.
"Karin pingsan, aku harus ke rumah sakit sekarang," tanpa mendengar jawaban Melia, Antara
"Mas, ada bunda dan papanya yang bisa menjaganya. Kalau Mas tetap pergi.. artinya Mas lebih memilih Karin. Jadi sekarang pilihlah, aku atau Karin!" ucap Melia yang membuat Antara berhenti dan menatap sang istri dengan tatapan kecewanya lalu kembali berlari dan meninggalkan Melia begitu saja tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
...****************...
__ADS_1