JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Rencana Licik Karin


__ADS_3

Sepeninggal suami dan mertuanya, Karin menatap Melia dengan tatapan menelisik. Melia yakin jika ada yang ingin Karin katakan padanya.


"Ada apa? Aku yakin saat ini kau pasti penasaran dengan apa yang terjadi antara aku dan suamiku semalam bukan!" ucap Melia menatap balik tatapan tajam Karin padanya.


Karin tergelak mendengar perkataan melia.


"Em.. aku nggak nyangka kalau kalian akan bisa begitu cepat berbaikan. Padahal kamu melihat dengan jelas apa yang aku lakukan dengan Antara malam itu. Benar bukan!" ucap Karin dengan satu sudut bibir yang terangkat.


"Kamu tahu, Karin! Itulah bedanya jika seseorang menikah karena cinta dan yang menikah karena paksaan," ujar Melia membuat Karin menatap dengan tidak suka.


Sungguh ia merasa muak pada tingkah Karin selama ini. Rasanya dirinya sudah cukup sabar memaklumi segala perbuatan yang dilakukan Karin pada rumah tangganya.


"Apa maksudmu, huh? Itulah yang namanya cinta, karena kita akan memperjuangkan rasa itu hingga tetes darah terakhir, dan hal itu yang aku lakukan bukan! Dan tidak seperti dirimu yang tak pernah memperjuangkan cintamu," balas Karin tak kalah tajam.


"Kau tak tahu apa-apa soal cintaku pada suamiku, sudah banyak perjalanan yang kami lalui bersama dan itu cukup membuat cinta kami bertahan dan kuat seperti saat ini. Walau.. ada kerikil kecil yang selalu datang mengusik kami, tapi bersyukurnya suamiku selalu kembali padaku, pada cinta sejatinya." tutur Melia menatap lekat wajah Karin seraya memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Ya.. mungkin saja saat ini seperti itu tapi aku yakin setelah kelahiran anakku, hubungan kami akan seperti pasangan suami istri lainnya, dan saat itu terjadi, aku harap kau tak akan menangis dan meratapi hidupmu itu!" ucap Karin dengan sombong, ia menyombongkan kehamilannya pada Melia yang sampai detik ini belum juga hamil, pikirnya.


"Benarkah! Jangan terlalu percaya diri Karin. Coba bayangkan bagaimana jadinya dirimu dan bayimu jika aku hamil saat ini?!" pungkas Melia membungkam mulut Karin.


Seketika dahinya berkerut setelah mendengar perkataan Melia. "Hamil..! Maksudmu? Bagaimana jika kamu hamil.. begitu!" tawa Karin seketika pecah melihat ucapan sombong Melia.


"Sadarlah, Melia.. jangan terlalu berharap banyak jika nantinya kamu akan kecewa. Nikmatilah hidupmu seperti ini dan cukup lihat kebahagiaan kami saat ini dan beberapa bulan kedepannya, suamiku dan mertuaku pasti akan lebih menyayangi ku dan anakku. Percayalah." ejek Karin pada Melia.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tak ingin lebih menyakitimu, Karin. Tapi.. apa boleh buat, kamu yang mengusikku duluan," Imbuh Melia menatap Karin.


Kening Karin semakin mengerut mendengar perkataan mengambang dari rivalnya.


"Apa kau tak ingin mengucapkan selamat untukku?! seru Melia dengan kening yang naik turun bergantian dengan cepat.


"Selamat! Selamat untuk apa? Apa kau mendapatkan kabar yang lebih baik dari kabar kehamilanku, huh!" ucap Karin sarkas.


"Benar sekali, jangankan kehamilan mu.. anakmu pun bisa terancam dengan kabar yang sebentar lagi akan aku sampaikan pada, mas Antara dan bunda saat mereka pulang nanti." ucap Melia yang semakin membuat Karin begitu penasaran hingga menerka-nerka dengan kabar yang dibawa oleh Melia.


"Sepertinya kau begitu penasaran dengan apa yang akan aku katakan pada suami dan mertua kita nanti!" seru Melia. Sejak tadi, Karin begitu serius mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Melia.


"Tidak! Ya Tuhan.. jangan sampai dia.." tiba-tiba kata itu terlintas begitu saja dipikirannya, namun dengan cepat Karin menghalau semua pemikiran tersebut.


"Sepertinya kamu sudah tahu tanpa aku beritahu, benar 'kan!" tanya Melia.


"Tidak mungkin, kau pasti bohong! Tak mungkin bisa secepat ini," elak Karin, ia masih memungkiri apa yang sedang dia pikirkan.


"Apanya yang tidak mungkin, Karin.. jika Allah sudah berkehendak, semua hal yang mustahil sekalipun bisa jadi terjadi dengan cepat seperti membalikkan telapak tangan." tutur Melia seraya bangkit dari duduknya.


Melia berjalan meninggal Karin yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Tunggu!" pekik Karin saat Melia sudah melewati anak tangga yang pertama.

__ADS_1


Melia berbalik, "Ada apa? Apa kisi-kisi ku masih kurang jelas?" ucap Melia.


"Benarkah? Jadi kamu hamil juga? Sudah berapa bulan?" tanya Karin lagi.


Melia mengulas senyum terbaiknya lalu menjawab rasa penasaran Karin padanya. Tanpa mengetahui imbas yang akan terjadi padanya nanti saat ia memberitahu perihal kehamilannya pada Karin.


"8 minggu." jawab Melia lalu kembali mengayuh langkahnya dengan hati- hati naik menuju kamarnya. Meninggalkan Karin dengan segala keterkejutan di bawah sana.


"8 minggu..!" beo Karin.


Tanpa disadarinya tangannya mengepal kuat hingga kuku jarinya memutih saat membayangkan kehamilan Melia benar adanya. Karin takut jika kehamilan Melia nanti akan menyingkirkan rasa kasih sayang dan perhatian suaminya pada anak yang dikandungnya saat ini.


"Tidak.. tidak akan kubiarkan anakku memiliki saingan, dia harus menjadi anak yang selalu di prioritaskan di atas segalanya oleh Daddy nya nanti." Batin Karin memegang perutnya yang semakin membuncit.


Setelah perdebatan Karin dengan Melia. Karin masuk kedalam kamarnya, hatinya merasa tak tenang setelah mengetahui kabar kehamilan Melia. Tidak, Antara tak boleh sampai tahu jika Melia sedang hamil, jika dia tahu.. aku pasti akan semakin disingkirkan, tapi.. aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menjauhkan Melia dari Antara." Gumam Karin seraya memikirkan cara yang tepat untuk bisa menyingkirkan Melia dari hidup Antara.


Waktu berlalu begitu cepatnya, kini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, biasanya Antara akan pulang di jam 6 sore jika tidak banyak pekerjaan yang mendesak. Tadi pun Karin sudah menelepon sekretaris suaminya, dan katanya pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak bahkan kini suaminya tengah bersiap untuk pulang.


Karin berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, ia masih bingung memikirkan rencana apa yang harus diperbuat agar Antara bisa murka pada Melia dan pada akhirnya bisa menyingkirkan Melia dari kehidupannya. Setelah menguras otaknya, akhirnya Karin mendapatkan ide gila yang akan membuat Antara marah besar pada Melia. Ya, rencana licik yang bahkan akan membuat Melia dan Antara bisa berpisah.


Senyum seringai tampak menghias wajahnya Karin.


"Sayang.. kamu harus kuat, kamu harus bantu mommy untuk bisa mendapatkan perhatian Daddy mu sepenuhnya. Ya, Daddy mu harus menjadi milikmu seutuhnya, Sayang." Ucap Karin. Tangannya sedikit bergetar, ada rasa takut yang bergejolak di hatinya namun demi bisa melancarkan aksinya, ia harus melakukannya dengan semaksimal mungkin. Tekadnya sudah bulat untuk memisahkan Melia dari Antara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2