JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Ketika Cinta Tak Memakai Logika


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu bersama, Antara dan Melia kembali ke rumah mereka saat hari sudah gelap setelah siang tadi, Antara menghabiskan energinya untuk menghadapi tingkah gila Karin. Mereka bersama -sama jalan memasuki teras rumah setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


"Assalamualaikum." Ucap mereka bersamaan saat sudah sampai di depan pintu rumah hingga tiba-tiba Weni keluar dengan wajah pucat. "Kalian itu dari mana sih! Dari tadi juga Bunda telpon, nggak ada yang angkat, kalian sebenarnya kemana sih sejak tadi!?" Tanya Weni beruntun dengan suara yang sangat kecil, seperti sedang berbisik namun cepat.


"Jalan, Bun. Sekalian makan malam diluar. Ponsel kami tadi habis baterai dan lupa bawa charger, memang kenapa Bun? Ada yang penting!"


"Iya penting! Tuh, kamu nggak lihat di dalam ada orang yang berpakaian seragam polisi! Mereka nyariin kamu sejak tadi, Antara. Nyariin kamu, Nak!!" terlihat raut wajah Weni gusar, antara kesal dan takut menjadi satu membuat Antara dan Melia saling berpandangan satu sama lain.


"Polisi!!" Gumam keduanya bersamaan.


"Ya sudah, ayo kita temui. Kita tanyakan maksud tujuannya kesini mencari, Mas itu apa!" Ucap Antara dengan santai, namun dalam hatinya sudah getar getir saat kembali mengingat ucapan Karin saat mengancamnya tadi siang.


Kalau aku tak bisa mendapatkan mu, tak seorang pun juga bisa memilikimu, termasuk Melia, istrimu!!


Antara menggelengkan kepalanya untuk mengusir segala pikiran negatif dibenaknya.


"Dengan, Pak Antara!" Ucap salah satu pria berseragam cokelat lengkap dengan topinya.


"Benar, saya Antara." Jawabnya sambil mengangguk pelan, "Maaf, Pak ada keperluan apa ya, Bapak mencari saya!"


"Selamat malam, Pak Antara. Kami dari kepolisian, ingin meminta Anda untuk ikut bersama kami ke kantor sekarang!" Salah satu polisi tersebut memperlihatkan surat tugas pada Melia serta surat perintah penangkapan sebagai bukti jika memang mereka datang secara resmi dari kepolisian pusat.

__ADS_1


Antara mengambil dengan cepat surat perintah penangkapan dirinya. Ia membaca surat penangkapan tersebut secara teliti. Antara terus menampik segala pikiran negatifnya. Ia masih terus berharap bahwa mungkin saja ada kesalahan yang dilakukan dari kepolisian. Matanya terbelalak melihat alasan penangkapannya serta uraian singkat kejahatan yang disangkakan olehnya.


"Maksudnya apa ini, Pak! Saya tidak melakukan seperti apa yang tertulis di laporan ini." Tampik Antara, namun karena mereka sudah mengantongi izin resmi dari kepolisian pusat, mau tidak mau mereka harus menjalankannya dengan baik.


"Mohon maaf, Pak. Bapak bisa jelaskan lebih lanjut di kantor polisi, mari, Pak, silahkan ikut kami!" Seru salah satu aparat kepolisian disana.


"Jangan, Pak! Jangan bawa anak saya. Antara, Antara! Dia anak baik, Pak. Anakku tidak bersalah." Ucap Weni histeris dan tak terima saat anak kesayangannya dibawa oleh pihak yang berwajib.


"Mel, Melia, katakan pada mereka untuk tidak membawa Antara. Dia anak yang baik, dia tak mungkin melakukan kesalahan." Pinta Weni berbalik dan menatap Melia dengan berurai air mata.


"Bun, tenang, Bun. Melia akan ikut bersama Mas Antara ke kantor polisi. Bunda tenang dan doakan, Mas Antara, semoga ini hanya kesalahpahaman belaka." Ujar Melia yang ikut serta bersama sang suami.


Melia hanya bisa menatap punggung sang suami dari jauh di sebuah ruangan yang hanya disekat oleh kaca tebal. Dalam hati ia terus berdoa agar semuanya baik-baik saja dan Antara tak harus ditahan. Sesekali Antara berbalik dan menatap sang istri yang setia menunggu pemeriksaan dirinya.


Tanpa berkata pun mereka berdua saling berbicara dari hati ke hati. Mata kerap kali diidentikan dengan jendela jiwa. Mata tidak bisa berbohong, menunjukkan kebenaran, tidak peduli ekspresi wajah apa yang kita pasang. Seperti bahasa tubuh, mata kita mengatakan lebih dari sekadar kata-kata biasa. Mata bisa memberi tahu kita banyak hal tentang keadaan emosional orang lain. Saat kita bertemu seseorang untuk pertama kalinya, cara terbaik untuk mengenalnya adalah dengan menatap matanya dan mengamati perasaan apa yang mereka sampaikan.


Kita bisa mengetahui apakah seseorang sedang sedih atau bahagia hanya dengan menatap matanya. Mata juga dapat mengungkapkan apakah senyuman itu asli atau palsu. Seperti itulah yang mereka lakukan saat ini, hanya dengan tatapan mata saja merek berkomunikasi. Melia menangkap ada rasa takut dan kegelisahan yang terpancar dari mata sang suami. Sampai detik ini, Melia masih belum mengetahui inti dari alasan penangkapan sang suami. Dia hanya mengetahui jika seseorang telah melaporkannya.


"Ya, Robb…Cobaan apa lagi ini!


Mengapa di saat usia pernikahanku baru seumur jagung sudah diterpa oleh cobaan yang luar biasa datang silih berganti, belum masalah soal Karin tadi siang. Dan sekarang—

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Apakah ini soal yang tadi siang! Apakah yang melaporkan, Mas Antara adalah Karin!" Seketika jantungnya berdetak kencang saat menyadari tentang kejadian tadi siang, kejadian dimana dirinya sempat salah paham atas kejadian di kantor sang suami.


Kurang lebih hampir 2 jam lamanya Antara diperiksa oleh bagian penyidik. Dan hal yang ditakutkan Melia akhirnya terjadi. Antara masih harus berada di kantor polisi karena diduga akan kembali melakukan kekerasan. Hal itu dilakukan oleh pihak penyidik karena permintaan dari pelapor bahwa dirinya tak bisa tenang dan ketakutan jika terlapor masih berada diluar (tidak ditahan).


Dan benar dugaan Melia, jika yang melaporkan suaminya adalah Karin, wanita yang tergila-gila pada suaminya dengan pelaporan tindak kekerasan dan pelecehan seksual.


"Mas!" Lirih Melia, dia tak menyangka sikap tegas yang dilakukan oleh suaminya itu berbuntut panjang hingga ke kepolisian. Peribahasa 'cinta ditolak, dukun bertindak' tak terjadi pada Antara. Kini orang-orang yang tak bermental sehat akan lebih nekat dengan cara memberikan tubuhnya secara paksa sampai menyakiti dirinya sendiri dan setelahnya menuduh orang lain bahwa dirinya telah dilecehkan.


Namun mereka harus berbesar hati karena harus berpisah sementara waktu karena keadaan yang bukan mereka inginkan. Antara menyeka air mata yang jatuh di pipi mulus sang istri. Dirinya pun rasanya tak siap merasakan pengalaman seperti ini, namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa, ia harus tampak kuat di hadapan sang istri. Dia harus bisa memperlihatkan jika dirinya tabah dan sabar menghadapi cobaannya saat ini.


"Pulanglah terlebih dahulu, jika pemeriksaannya bisa selesai dengan cepat. Aku akan langsung pulang kerumah. Jangan tunggu aku, aku akan berada di sampingmu saat kamu membuka matamu saat terbangun.


"Mungkin kata-kata ini terdengar bodoh, tapi aku sangat bersyukur ketika kamu masih berada di sampingku saat ini. Aku memang tak bisa terus berada di sampingmu, tapi hati ini akan selalu dekat di hatimu." Tutur Antara, membuat tangis Melia makin menjadi-jadi.


"Berulang kali aku katakan, Mas. Aku akan selalu di sampingmu, aku akan menunggumu sampai kapan pun!" Ungkap Melia, sendu.


Antara tak kuasa menahan sesak di dadanya. Ia mendekap Melia dengan erat, rasanya tak ingin dipisahkan walau oleh jarak atau waktu sekalipun, ingin rasanya terus bisa memeluknya secara langsung, namun takdir cinta mereka berkata lain. Mereka harus terpisah oleh jarak dan waktu.


Antara mengutuk perbuatan Karin terhadapnya, karena tak ingin menduakan sang istri. Antara harus rela dipisahkan dari orang yang dicintainya. Terkadang cinta memang membutakan mata hingga logika tak lagi berarti.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2