
"Biarkan dia, Karin! Weni menahan lengan Karin yang hendak menyusul antara ke lantai atas. "Apa kau tak takut melihat wajah Antara tadi! Asal kamu tahu dan kamu harus tandai jika wajahnya sudah seperti itu, maka sebentar lagi dia akan mengamuk, lebih baik kita menjauh darinya sementara waktu. Sekarang, lebih baik kita istirahat saja, biarkan Melia yang merasakan kemarahan suaminya itu! tandasnya.
"Bun! Suami Melia itu suami Karin juga tahu!" protes, Karin pada sang mertua.
Weni menghela napasnya kasar mendengar protes-an mantunya itu, "Suka-suka kamulah, Karin." Ucap Weni melenggang pergi meninggalkan Karin yang terlihat kesal setelah berbicara pada mertuanya itu.
Sementara di dalam kamar, terlihat Antara terlihat duduk termenung di balkon kamarnya menatap langit malam yang gelap.
Sentuhan Melia di bahunya menyadarkannya lalu berbalik menatap sang istri dengan tatapan sayu.
Melia menghela napasnya panjang, melihat sang suami yang terlihat begitu lelah, bukan hanya lelah fisik namun juga lelah secara batin. Melia kemudian memegang kedua bahu sang suami lalu dipijat nya dengan lembut hingga membuat Antara rileks dan pada akhirnya, bahu yang berdiri kokoh itu seketika lemas merasakan pijatan yang membuatnya nyaman.
"Apa aku salah!" ucapnya dengan lirih.
Antara memang marah tapi bukan pada Weni ataupun Karin, istrinya. Ia marah pada dirinya sendiri, tapi apa yang dia lakukan hanya semata-mata ingin berbuat adil, antara pekerjaannya juga Melia sebagai istrinya.
Melia tak menjawab suaminya, ia yakin ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban. Sebenarnya tanpa kita sadari, pertanyaan yang kita tanyakan adalah bukan pertanyaan namun sebuah pernyataan yang memang tak membutuhkan sebuah jawaban.
Antara tahu rasa sakit yang dirasakan istrinya itu, walau Melia sendiri terlihat biasa-biasa saja dan tetap tersenyum dihadapan semua orang namun, setelah dirinya melihat dan mendengar sendiri jerit hati sang istri di toilet tadi, Antara semakin merasa bersalah dan pada akhirnya memilih meninggalkan pesta yang belum usai itu padahal, sebenarnya pesta tersebut belum usai, dan dia pergi dari pesta tersebut dengan alasan ingin ke toilet, namun sampai 30 menit, Antara tak kunjung kembali hingga membuat beberapa orang kecewa.
Untunglah saat itu ada Sudarma yang bisa meredam kekecewaan rekan bisnisnya. Sedang Karin masih terus menggerutu dalam hatinya dan mengutuk Melia yang menjadi biang kerok perginya Antara.
"Pasti karena Melia, dia pasti pergi bersamanya." Batin Karin.
......................
Setiap paginya selama ada Karin, Melia sudah sangat jarang menyambangi dapur, baik saat pagi, siang maupun malam hari. Bukan karena Melia sudah malas dan sebagainya, namun semua karena Antara yang selalu melarangnya melakukan pekerjaan rumah. Alasannya sangat simpel, karena Melia adalah menantu bukan seorang pembantu.
Hal itu membuat Weni protes pada Melia karena sudah lama dirinya tak lagi menikmati masakan lezat sang menantu.
Seperti biasanya mereka berempat makan dengan tenang, tak ada lagi suara rengekan atau keluhan saat sarapan, membuat suasana pagi ini terasa begitu damai.
Antara kembali mengecup kening Melia sebelum dirinya berangkat ke kantor. Melia mengantar Antara sampai di depan pintu sembari membawakan tas jinjing milik suaminya dan memberikannya pada Pak Sapto, supir pribadi suaminya. Ya, kini Antara memang sudah diantar jemput oleh supir pribadi.
__ADS_1
Sementara di meja makan, Karin menghela napasnya panjang setelah melihat Antara dan Melia beranjak dari meja makan.
"Nah, begitu. Lihat 'kan suamimu itu pergi dengan wajah yang damai. Kamu harus belajar bersabar dan tenang jika ingin mengambil hati, Antara." Cetus Weni saat mendengar helaan napas, Karin.
"Tapi sampai kapan, Bun? Kesabaran ku juga ada batasnya!"
Weni mengedikkan bahunya ke atas. Dia pun tak tahu akan berapa lama Antara akan menerima Karin sebagai istrinya.
Waktu bergulir semakin cepat, hingga tak terasa, hari berganti minggu lalu kini tak terasa sudah 6 bulan lamanya Karin dan Antara menikah, namun sampai detik ini pula, Antara belum memberikan nafkah batin pada istrinya, karin. Hingga Karin yang sudah beberapa Minggu ini selalu mengeluh dan protes pada Melia.
Karin bukannya tak pernah membicarakan soal ini pada suaminya, Antara. Namun seberapa banyak pun kata yang Karin lontarkan padanya namun, tetap tak membuat Antara bersuara. Hingga pada akhirnya Melia lah yang harus terus mendapat serangan hingga ancaman dari, Karin.
Salah satu ancaman Karin adalah bahwa ia akan memberitahukan pada Antara jika sudah mengetahui rencananya untuk mendesak Antara menikahinya dengan bersekongkol dengannya dan ibu mertuanya.
"Karin, hal seperti itu tidak bisa aku paksakan padanya. Bukankah kamu yang harus membuat, Mas Antara luluh!"
"Tapi sampai kapan, Melia, sampai kapan?!Jangankan ingin menyentuhku, menatapku saja dia seperti jijik padaku, lantas bagaimana caranya aku bisa membuatnya meniduri ku, hah!" Ucap, Karin berapi-api.
"Jangan tanyakan soal itu padaku, Karin!" Melia sudah kesal karena selama 2 minggu ini, Karin terus menerus merongrongnya hingga menyindir sikap Antara padanya secara langsung.
Kepala Melia sungguh sakit. Dia tak mungkin membicarakan tentang hal itu pada Antara. Bukannya Melia tak pernah memberitahukan soal itu padanya, namun baru saat akan menjurus kesana, Antara sudah mulai emosi duluan hingga berujung Antara marah padanya.
Huft'
Helaan panjang terdengar jelas di telinga, seakan ada beban berat yang sedang dipikulnya. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering. Melia segera berjalan menuju meja riasnya. Terlihat nama, Clara sahabatnya disana.
"Iya, Cla. Tumben kamu nelpon, ada apaan!" Ucap Melia saat menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
"Buset dah, Mel. Belum juga ucap salam gue, udah main tembak aja!"
Melia tergelak mendengar protes-an sahabatnya itu. Maaf, maaf. Aku lagi badmood.
"Badmood kenapa lagi, memang!"
__ADS_1
"Biasa, soal Karin." Ucap dengan suara malas.
"Ya udah gimana kalau kita jalan! Sudah lama juga 'kan sejak lo nikah, kita nggak pernah jalan bareng lagi."
"Boleh, tapi aku izin sama, Mas Antara dulu ya."
"Oke, kabarin ya jadi tidaknya."
"Iya, siap!" Jawabnya setelah itu, Melia langsung menekan nomor sang suami. Namun sampai di panggilan ketiganya, Antara masih belum juga menjawab panggilannya. "Apa aku kirim pesan saja, ya! Melia membatin. "Mas, aku izin ya jalan sebentar sama Clara, tadi dia telepon. Tadinya aku mau pamit langsung tapi kamu enggak jawab, jadi aku izin via chat aja ya, Mas."
Setelah menelepon suaminya, Melia kembali mengirim pesan pada sahabatnya, Clara.
Mau ketemuan dimana, Cla?
Di Mall aja deh langsung, aku susul naik motor.
Nggak usah naik motor, biar aku yang jemput. Kamu masih di kostan 'kan!
"Yoi'," balasnya singkat namun mampu membuat Melia tertawa kecil.
"Aku jalan sekarang, tungguin." Ucapnya sembari turun dari tangga.
"Siap, Bu bos!" Goda, Clara membuat Melia tergelak saat membacanya.
Setelah berpamitan pada mertuanya, Weni. Melia yang hendak melangkah kembali langsung dihentikan oleh Karin yang bertanya padanya.
"Mau kemana kamu?" Selidik Karin.
"Aku mau ketemuan sama teman, cewek namanya, Clara." Jawabnya singkat, jelas dan padat hingga, Karin tak bisa lagi mendiktenya dengan pertanyaan lain. Melia sengaja menjawabnya dengan detail sebab ia yakin jika Karin sedang mencurigai ya, sebab tak biasanya Karin mau tahu urusannya.
"Biasa dong! Ketus amat jawabnya." Ucap Karin kesal karena ternyata apa yang dipikirkannya tak benar. Lalu berjalan menghampiri sang mertua yang sedang bersantai di ruang keluarga sembari menonton saluran gosip favoritnya.
Melia yang mendengarnya hanya menggeleng kepalanya lalu kembali berjalan menuju halaman depan dimana mobilnya terparkir dan segera melesatkan mobilnya menuju kost-an milik Clara.
__ADS_1
"Bunda kenal siapa, Clara itu?!" tanya, Karin pada sang mertua. Weni yang ditanya pun menggelengkan kepalanya karena dirinya pun baru mendengar nama itu.
...****************...