JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bab.83


__ADS_3

"Ayo!" Ajak Antara lalu menggenggam tangan Melia keluar dari kamarnya, tujuannya satu yakni segera sampai ke tujuannya.


"Loh, kalian mau kemana?" tanya Clara saat melihat Antara menarik tangan Melia menuju pintu depan.


Antara menghentikan langkahnya lalu disusul Melia yang berada tepat di belakangnya, "Aku mau membawa Melia pulang," sahut Antara dengan cepat.


Clara menatapnya dengan heran, pasalnya tadi mereka bilang akan beristirahat dulu namun entah mengapa mereka memutuskan untuk pulang saat ini juga.


"Oh iya, tolong sampaikan sama ibu kalau kami akan langsung pulang," imbuh Antara namun, Clara tak langsung mengangguk atau mengiyakan, Clara menatap Melia yang berdiri di belakang suaminya. Melia lalu tersenyum dan mengangguk pelan bahwa dia akan ikut bersama suaminya pulang.


Clara hanya ingin memastikan jika keputusan Melia ikut pulang bersama suaminya adalah keinginannya sendiri tanpa ada paksaan dari suaminya.


"Baiklah, nanti aku sampaikan sama ibu, sepertinya ibu sedang sholat. Hati-hati dijalan."


Setelah berpamitan, kini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hei, kamu gak apa-apa?" tanya Antara karena sejak mereka masuk ke dalam mobil, Melia tak bicara sedikitpun. Tatapan Melia fokus melihat jalanan di luar jendela, bahkan Melia pun tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan padanya hingga saat Antara menggenggam tangannya barulah Melia tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Sejak tadi, Mas perhatikan kamu diam saja. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu!" seru Antara saat melihat Melia sedang melamun.


Melia yang kesadaran nya sudah kembali pun dibuat bingung saat mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah hotel.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Melia saat Antara membuka seatbeltnya lalu keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaan Melia.


Antara berlari kecil menghampiri sang istri yang masih berada didalam mobil. "Ayo!"


Walau bingung namun Melia tetap mengikuti kemana sang suami melangkah, sampai tiba mereka di depan meja front office. Setelah memesan kamar, Antara dan Melia menuju kamar yang dipesannya dengan menaiki lift.


"Sebenarnya apa yang mau, Mas Antara lakukan disini?!" ucapnya dalam hati.


Antara keluar dari lift dan diikuti oleh Melia menyusuri koridor panjang lalu berhenti tepat di sebuah kamar bernomor 324.


Melia menghentikan langkahnya dan sontak membuat Antara menghentikan langkahnya juga, Antara lantas berbalik dan menatap sang istri.


"Ada apa, Sayang? Ayo, masuk!" pinta Antara saat melihat Melia bergeming.

__ADS_1


"Kita mau apa, Mas kesini? Bukannya kita akan pulang kerumah!" Melia masih bingung karena sejak tadi Antara belum menjawab pertanyaannya.


"Masuk dulu, entar aku jawab." Tukas Antara lalu menarik tangan Melia.


Setelah masuk dan menutup pintu kamar, Antara lalu memegang kedua bahu Melia seraya menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan entah. Melia yang melihatnya pun dibuat salah tingkah karena tatapan mata Antara.


"Kenapa, Mas? Apa ada yang salah di wajahku!" tanyanya penasaran. "Bukannya tadi, Mas mau jelasin kenapa kita nginap di hotel dan bukannya dirumah!" imbuhnya saat tak mendapat jawaban dari sang suami.


"Kenapa, hem.. apa kamu tak suka bersama, Mas disini?!"


Melia menggeleng pelan, "Bukan, bukannya gak suka tapi aku cum mau tahu apa alasan, Mas membawaku kesini. Kan kita jadi menghambur hamburkan uang, padahal 'kan tadi kita bisa nginap dirumah ibu kalau mas nggak mau pulang kerumah!"


"Mas rindu sama kamu dan Mas takut kalau mereka akan terganggu mendengar suara ******* kita nanti," kata Antara dengan berbisik.


Melia yang mendengarnya pun seketika meremang dan wajahnya memerah mendengar kata-kata absurd sang suami.


"Apaan sih, Mas." kata Melia seraya menunduk. Membuat Antara justru semakin ingin menggodanya.


"Tapi bener 'kan yang, Mas katakan kalau kamu sering mendesah kenikmatan saat kita bercinta," ucap Antara dengan gamblang.


Melia memukul lengan sang suami sedikit keras karena ucapannya yang tanpa filter.


Antara yang mendengarnya pun tergelak lalu dengan cepat membawanya masuk kedalam pelukannya.


"Wangi ini yang selalu aku rindukan setiap harinya," batin Antara. Antara menghirup aroma tubuh Melia yang sudah menjadi candu baginya.


"Mas.. lepaskan, biarkan aku mandi dulu, tubuhku sangat lengket, pasti bau!" seru Melia yang merasa dengan aroma tubuhnya saat ini.


"Biarkan seperti ini dulu. Mas sangat merindukan aroma tubuhmu." sahut Antara yang semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh sang istri.


"Tapi aku belum mandi, Mas, pasti badanku bau!" Ulang Melia tak percaya diri. Melia takut jika suaminya nanti akan ilfil padanya dan menjauhinya karena aroma tubuhnya yang tak sedap.


"Nggak, Sayang.. justru aku lebih suka aroma tubuhmu saat berkeringat, itu lebih membuatku tertarik pada tubuhmu," ucap Antara dengan jujur. Melia tersipu malu mendengar pujian sang suami yang dianggapnya sangat konyol.


"Mana ada bau keringat yang wangi, Mas. Kamu gombal banget, ish." Melia memanyunkan bibirnya kedepan saat mendengar kata pujian sang suami yang terdengar seperti sebuah gombalan.

__ADS_1


"Loh, beneran, Sayang.. Mas nggak bohong! Suerr!" kata Antara seraya mengangkat 2 jarinya membentuk huruf V.


"Kamu masih pakai parfum, sabun dan shampo yang samakah seperti saat kita di kapal pesiar waktu itu!" seru Antara mengingat wangi tubuh sang istri yang  sama saat pertama kali mereka jadian.


"Masih sama, Mas. Aku tuh tipenya nggak suka gonta ganti kalau sudah cocok sama satu produk tertentu ya.. bakalan pasti pakai terus! Lagian bukannya, Mas juga pakai ya!? Kan aku selalu stok di kamar mandi kita!" tutur Melia dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya.


Melia benar-benar wanita yang mampu memporak porandakan hatinya kapan saja, terlebih saat ia tersenyum. Membuat Antara semakin ingin memakannya.


Hasrat yang sejak tadi ditahannya pun kini tak terbendung lagi. Antara membelai wajah sang istri lalu mengecup bibirnya dengan singkat dan bermain-main di daerah leher putih sang istri. Kecupan yang awalnya biasa, lama kelamaan semakin dalam hingga memberikan beberapa tanda kepemilikannya disana.


Melia menggigit bibirnya agar suara laknat itu tak sampai keluar. Tangan Antara sudah menjelajah menyusup masuk ke dalam gaun yang dikenakan Melia.


Tangan nakal Antara kini tengah berada di dada Melia yang membuatnya menggelinjang hebat tatkala Antara memainkan bulatan bulatan kecil di pucuk dadanya.


Antara menggendong Melia ala bridal dan membawanya ke atas ranjang. Entah sejak kapan gaun yang dikenakan Melia sudah tertanggal dari tubuhnya, kini yang tersisa hanyalah tinggal kain segitiga yang menutupi daerah intimnya.


Kabut gairah sudah dirasakan Melia. Antara tak ingin langsung masuk ke inti permainannya, ia ingin membuat istrinya merasa puas akan permainannya.


AAAHHH..


Satu ******* lolos dari bibir seksi sang istri, membuat Antara semakin bersemangat dengan aksinya.


Melia pun semakin menggeliat dibawa sana seakan ingin meminta lebih dengan aksi yang dilakukan suaminya. Mungkin karena hormon kehamilannya hingga membuatnya juga begitu menginginkan Antara memasukinya sekarang juga.


Antara menyentuh dan sesekali menjilati perut rata Melia tanpa tahu jika didalam sana sudah tumbuh benih cintanya. Melia semakin menggeliat saat Antara semakin turun menyusuri setiap lekuk bawah tubuhnya hingga sampai dimana hutan rimbanya berada.


Melia menarik dengan keras rambut Antara tatkala lidahnya semakin menerobos masuk ke intinya. Hingga membuat Melia tak bisa lagi menahan desahannya agar tak keluar.


"Aaahhh.. Mas…."


Suara lenguhan percintaan yang khas menggema di seluruh bagian kamar tersebut. Itu mengapa Antara memaksa ingin menginap di hotel daripada harus menginap di rumah mertuanya.


"Maa-aass-aaa-kuuu.. maa-uuu-ke-luarrrrrrr," racau Melia saat merasakan pelepasan pertamanya.


Antara tersenyum dengan puas melihat wajah lemas sang istri.

__ADS_1


"Itu baru permulaan, Sayang. Aku akan membuatmu tak melupakan malam ini," kata Antara menatap istrinya dengan napas memburu.


...****************...


__ADS_2