
Antara masih tak menyangka jika ia akan bertemu dengan wanita yang selalu mengganggu tidurnya tiap malam, wanita yang selalu terbayang di pelupuk matanya setiap malam. Layaknya sebuah pelangi yang datang setelah hujan, andai Malik tak diare malam ini, belum tentu ia bisa sedekat ini dengan pujaan hatinya.
"Aku harus berterima kasih pada Malik nanti" ucapnya dalam hati.
Melia dan Antara berjalan memasuki ruangan pesta. Terlihat begitu mewah, sepadan dengan empunya pesta hari ini.
Ini kali pertama Melia menghadiri undangan pesta dari kaum kelas atas seperti ini.
Antara masih setia melingkarkan tangannya pada pinggang ramping milik Melia, entah mengapa malam ini Antara melihat sisi lain dari Melia, sisi lembut dan kalemnya, apakah karena pakaian yang dipakainya malam ini, entah! Namun yang pasti, Antara begitu ingin melindungi Melia di sana, melindunginya dari tatapan mata para pria yang tak henti memandangnya.
Melia dengan gaun hitamnya tampil dengan glamor berbalut gaun satin ala siluet klasik yang seduktif berkat belahan dada rendah dan aksen high-slit memamerkan kaki jenjangnya. Menjadikannya pusat perhatian, membuat semua mata tertuju padanya.
“Bisa enggak kamu lepasin tanganmu ini, bukankah kita sudah masuk! Jadi sepertinya sudah aman,” ucap Melia sembari melihat ke arah pinggangnya.
“Hust, kita ini datang bersama, jadi enggak mungkin kan kita jalannya sendiri-sendiri. Lagian juga kenapa sih, biar kita bisa total jadi pasangan, kamu tak lihat orang yang di sana itu," tunjuk Antara, membuat Melia mengalihkan pandangannya menuju orang yang di tunjuk Antara.
"Dia itu panitia juga, mereka akan memilih satu pasangan yang menurut mereka sesuai dengan kriteria tema pesta malam ini, pasangan yang mereka pilih nanti, bisa memenangkan hadiah DOORPRIZE malam ini," ucapnya mengalihkan perhatian Melia.
"Doorprize!" kening Melia terangkat ke atas. memikirkan akan mendapatkan doorprize membuatnya bersemangat.
Antara mengangguk dengan cepat.
"Doorprizenya adalah dua tiket liburan ke sebuah pulau yang cantik dan semua itu GRATIS tanpa di pungut biaya apapun, dan semua sudah tersedia disana," jelas Antara.
Antara dan Melia mempunyai rencana masing-masing yang mereka rancang jika mereka yang mendapatkan tiket liburan tersebut. Namun berbeda dengan isi kepala Antara, Melia justru berencana akan berlibur bersama Ibunya, Zahra jika memenangkan hadiah doorprize tersebut. Sedang Antara memikirkan akan menghabiskan waktunya dengan Melia, waktu yang akan ia pergunakan untuk bisa lebih dekat dengannya.
"Jadi bagaimana?"
"Baiklah, aku setuju, tapi hanya sebatas pegangan saja, tidak lebih, mengerti!!" ucap Melia tegas.
“Baiklah, tapi sebelum itu. Kau harus menolongku."
Seketika Melia berbalik, “Menolong mu? Tolong untuk apa?” tanya Melia balik.
“Apa kamu lihat wanita di sana itu!” tunjuk Antara pada wanita cantik yang memakai gaun pendek berwarna merah yang sedang menuju ke arah mereka.
"Iya, terus? Apa hubungannya denganmu?"
__ADS_1
"Wanita terus saja mengganggu ku, dan aku tak suka."
"Ish katanya enggak suka diganggu tapi malah dia sendiri yang suka ganggu orang, dasar egois!!" umpatnya dalam hati
“Ogah, sepertinya dia suka deh sama kamu,” ucap Melia sembari memperhatikan dengan teliti wanita yang makin mendekat ke arahnya.
“Bukannya tadi aku sudah menolong mu masuk ke sini! Jadi tolonglah, bantu aku kali ini saja, bagaimana!” pinta Antara dengan wajah memelas.
Melia menghela nafasnya kasar.
“Baiklah, baiklah, hanya kali ini saja, dan aku berharap setelah ini, kita tak lagi bertemu, baik itu di supermarket, pasar, klub, pesta mau pun di pos polisi,” omelnya.
Antara hanya bisa tersenyum melihat wajah Melia yang sedang mengomel bak seorang ibu yang sedang memarahi anaknya, dan hal itulah yang disukai Antara, dia lebih suka diomeli ketimbang dirinya di puja terus menerus.
Seketika sikap Melia berbalik 180 derajat dari sebelumnya, yang membuat Antara sedikit terkejut, namun keterkejutannya itu malah membuat wajahnya kini semerah kepiting yang habis di rebus, sangat merah.
Jantung Antara pun serasa ingin melompat keluar, tatkala sikap Melia berbeda dari sebelumnya, kini Melia bahkan sudah merangkul lengan Antara dengan erat, dengan posisi kepala yang dia sandarkan di bahu Antara yang lebar.
“Hai, Antara,” sapa Karin dengan senyum lebar.
Ya, wanita yang di maksud Antara tadi adalah Karin, wanita yang selalu mengejarnya yang juga anak dari bos Antara di kantor.
“Sama Papa,” ucap Karin singkat, matanya tertuju pada wanita yang sedang menggandeng mesra lengan Antara.
“Dia siapa Mas?” tanya Melia dengan suara mendayu-dayu, sebenarnya Melia sangat geli dengan suaranya sendiri, namun ia sudah berjanji akan membuat wanita yang bernama Karin ini menjauhi Antara dengan sendirinya.
"Mas!" gumam Antara pelan, Melia bukan hanya cantik, namun juga bisa membolak-balikkan hati Antara. begitu indah terdengar ditelinga Antara.
“Dia teman Mas, namanya Karin. Dia anak bos Mas di kantor,” jawab Antara dengan menahan tawanya.
Sejujurnya Antara juga geli saat mendengar suara manja Melia, sebab sejak pertama bertemu hingga pertemuan ke empatnya kali ini pun Melia tetap judes kepadanya. Namun Antara juga bahagia karena akhirnya ia bisa berdekatan lebih lama lagi dengan Melia, walau karena terpaksa.
“Hai Karin, aku Melia,” ucapnya sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Hai, aku Karin, senang bertemu denganmu.” Karin tersenyum kecut saat menerima uluran tangan Melia, walau terpaksa, dia tetap berusaha tersenyum. Dia tak ingin terlihat cemburu di hadapan wanita yang bernama Melia itu.
“Kalian pergi bersama?” selidik Karin, karena ia baru pertama kali melihat Antara bersama seorang wanita. Padahal setiap kali ada acara pesta atau peresmian, Weni Sang bunda lah yang selalu menemaninya atau terkadang Antara pergi bersama Malik, sahabatnya.
__ADS_1
“Oh ini, dia—” ucap Antara namun perkataannya di potong oleh Melia.
“Calon istrinya,” ucap Melia dengan singkat. Entah mengapa di pikirannya adalah kata ‘calon istri’ yang terlintas.
Mata Karin terbelalak mendengar perkataan Melia. Karena sepengetahuannya, ia tak pernah mendengar kabar berseliweran di kantor tentang Antara. Semua aman dan damai serta sejahtera saja, tak ada gosip apa pun yang di dengarnya selama ini.
“Benar An!” seru Karin yang di angguki oleh Antara sembari mencuri kecupan yang kali ini bertengger di kening Melia.
Hal itupun sontak membuat hati Karin semakin panas. Tanpa pamit, Karin melenggang pergi dari hadapan Melia dan Antara. Karin sangat kecewa mengetahui bahwa pria yang dia sukai sudah memiliki seorang calon istri, cantik pula.
“Huh, akhirnya,” ucap Antara dengan lega.
“Sudah kan!” ucap Melia sembari menarik tangannya kembali yang sedari tadi memeluk lengan Antara.
“Ah, iya, terima kasih. Dan... maaf soal kecupan tadi, itu biar Karin makin percaya kalau kamu memang calon istriku."
“### Aku mau makan, habis itu pulang, jadi urusan kita sudah selesai sampai di sini. Aku sudah tak mempunyai hutang padamu, begitu pun denganmu, kamu juga tak mempunyai hutang padaku lagi, kita anggap tadi itu adalah simbiosis mutualisme, jadi malam ini tak ada pihak mana pun yang dirugikan.
-
Sesuai yang di katakan Melia tadi, setelah dirinya makan, Melia sudah berencana keluar dari pesta tersebut, namun diurungkan saat Antara menarik tangan Melia saat ia akan melangkah menuju pintu keluar.
“Astaga, kamu lagi!! Pekik Melia, “ada apa lagi denganmu? Bukankah tadi perkataan ku sudah jelas!” ucapnya.
“Maaf, ini yang terakhir,” bujuk Antara.
“Ya Tuhan, ada apa lagi dengan pria ini!!” teriak Melia dalam hati, “Huftt, oke, ada apa lagi denganmu. Kau begitu banyak masalah rupanya.
“Bukan aku yang bermasalah, tapi entah mengapa kita berdua selalu saja dibuat terus bersama, mungkin saja kita jodoh!!”
Melia memutar bola matanya dengan malas, “Katakan, ada apa lagi!” ucap Melia.
“Kita terpilih menjadi pasangan ‘COUPLE GOALS’” kita di minta naik ke panggung untuk menerima hadiahnya,” ucap Antara yang menarik tangan Melia menuju ke atas panggung.
Melia masih menatap sebuah tiket liburan khusus pasangan yang diberikan sebagai hadiah tema pesta malam ini. Jangan tanyakan mengapa ia bisa berada di dalam mobil Antara, sebab lagi-lagi ini adalah permintaan Antara yang tidak bisa dia tolak, Antara sangat gigih hingga pada akhirnya Melia mengalah karena tak ingin berdebat lebih lama lagi dengannya.
Terlebih saat Antara mengatakan kalau ada yang ingin dia katakan terkait dengan tiket yang mereka menangkan malam ini.
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan dengan tiket ini?” tanya Melia sembari menatap Antara.
...****************...