
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD.
"Maaf, bisa bicara dengan suami pasien?" tanya salah seorang dokter yang bernama dr. Ridwan, dokter Ridwan inilah yang menangani Karin selaku dokter obgyn.
"Saya dokter, saya suaminya!" seru Antara mendekat ke arah dokter Ridwan.
"Silahkan ikut saya, ada yang ingin saya sampaikan perihal istri bapak." Tukas dokter Ridwan yang mengarahkannya masuk ke dalam sebuah ruangan dokter.
Sedang Melia, Weni dan Pak Sudarma masuk melihat keadaan Karin yang sudah dipindahkan ke dalam kamar rawatnya.
Cukup lama Antara berbicara dengan dokter Ridwan hingga pintu terbuka dan memperlihatkan wajah bingung Antara.
"Mas.. Antara!" panggil mereka bersamaan.
Antara menghembuskan napasnya dengan panjang ke udara sebelum akhirnya ia menceritakan perihal kondisi Karin pada semuanya.
"Semua baik-baik saja. Alhamdulillah janinnya masih bisa diselamatkan," ucap Antara saat melihat tatapan penuh tanda tanya dari tiga orang di hadapannya. "Tapi…." imbuh Antara namun dipotong dengan cepat oleh pertanyaan Melia.
"Tapi apa, Mas?" tanya Melia penasaran.
"Janin dikandungnya baik-baik saja tapi karena benturan yang cukup keras pada rahimnya jadi.. rahim Karin saat ini tak baik-baik saja, Sayang." tutur Antara membuat ketiganya seketika lemas. Melia menutup mulutnya seketika saat mendengar berita tentang kondisi Karin.
"Ya Tuhan, anakku Karin!" tangis papa Sudarma pecah saat mengetahui kondisi dari putri tercintanya. "Apa yang harus kita lakukan, Antara.. apa!" seru papa Sudarma histeris.
"Jadi apa solusi yang diberikan dokter?" tanya Bunda Weni kemudian.
"Hanya ada 1 pilihan saja, menggugurkan kandungan Karin," jawab Antara lirih.
"Tidak, Mas. Itu bukan solusi, anak itu tak bersalah, itu sama saja membuat kita menjadi pembunuh, Mas!" seru Melia tak terima.
__ADS_1
"Lalu apakah ada opsi lainnya?" tanya Sudarma lagi. Dan kali ini dijawab Antara dengan gelengan kepala pelan.
Seketika ruang rawat Karin sunyi senyap tanpa ada suara sedikitpun saat mendengar lenguhan Karin. Ya, akhirnya setelah beberapa 3 jam lamanya, Karin akhirnya sadar juga.
"Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanya Sudarma menghampiri sang putri yang masih terlihat pucat.
Karin mengerjap matanya secara perlahan menyesuaikan dengan cahaya di ruangan tersebut.
"Papa.. Karin dimana sekarang? Apa yang terjadi?" tanya Karin dengan suara lemah.
"Kamu dirumah sakit, Sayang, apa kamu lupa? Kau jatuh dari tangga!" balas Sudarma mengingatkan.
"Ahh.. iya, Karin lupa. Namun di detik berikutnya, Karin tiba-tiba teriak histeris.
"Anakku, Pa, anakku.. bagaimana dengan anakku!!" kata Karin yang berusaha bangun dari tidurnya namun dengan cepat Antara menahannya karena tubuh Karin masih lemah dan kata dokter untuk sementara waktu Karin harus bedrest total di rumah sakit.
"Tenang, Karin, tenanglah. Anak kita baik-baik saja, dia selamat. Kata dokter dia anak yang kuat dan dia mampu bertahan. Sekarang giliranmu, kamu harus kuat dan kembali pulih agar bisa menjaga kandunganmu." ucap Antara dengan pelan seraya memeluk tubuh Karin yang tampak bergetar. Ia harus bisa menyampingkan egonya sementara waktu. Antara masih ingat dengan apa yang dikatakan dokter padanya tentang kesehatan mental Karin.
"Apa dok?"
"Tentang kesehatan mentalnya. Keputusan yang kalian ambil nantinya akan sangat mempengaruhi kesehatan Karin, tidak hanya tentang tubuhnya namun juga kejiwaannya." tukas dokter Ridwan.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, dok?" tanya Antara kemudian.
"Keputusan soal menggugurkan kandungannya harus dengan persetujuan dari ibu Karin sendiri. Saya takut jika kalian mengambil keputusan itu, hal itu bisa membuat kejiwaannya terganggu karena bagaimanapun, anak merupakan segalanya bagi seorang ibu. Terlebih saat ini janin Ibu Karin sudah berbentuk janin yang sempurna. Jadi akan sulit jika kita mengatakan bahwa beliau keguguran, karena istri bapak sudah merasakan bonding antara ibu dan anak sejak dia hadir di kandungannya," pungkas dokter Ridwan panjang lebar.
***
Setelah perdebatan panjang yang menguras emosi dan air mata. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungannya dan akan mengobati rahimnya setelah dirinya melahirkan nanti. Walau keputusan itu sangat berisiko dengan kesehatan Karin sendiri hingga bisa mengancam nyawanya. Namun Karin tetap pada pendiriannya dari awal untuk mempertahankan kandungannya.
__ADS_1
"Tapi, Sayang.. bisakah kamu mempertimbangkannya lagi! Bagi Papa kamu adalah prioritas utamaku. Kamu bisa hamil lagi untuk kedua kalinya, Nak. Perjalananmu masih panjang," bujuk Sudarma, karena sejak tadi Karin terus saya menolak opsi untuk menggugurkan kandungannya.
"Terima kasih untuk cintamu, Pa. Tapi sama seperti Papa yang akan menomor satukan anak Papa. Begitu pun Karin, prioritas utama Karin saat ini adalah anak Karin yang sedang ku kandung, Pa!" tutur Karin dengan terisak.
"Karin bicara bukan sebagai seorang anak, melainkan sebagai seorang ibu, Pa." Imbuh karin. Ayah dan anak itu saling memeluk satu sama lain menyalurkan rasa sayang dan kesedihan yang mereka rasakan.
Akhirnya dengan terpaksa mereka menyetujui keinginan Karin untuk tetap mempertahankan anak yang ada didalam kandungannya. Walau berat, namun Karin juga berhak menentukan hidupnya.
"Kalau begitu, Papa pulang dulu, kamu nggak apa-apa 'kan Papa tinggal pulang?!" Karin mengangguk lalu tersenyum menatap sang papa.
"Aku bukan anak kecil lagi, Papa.. tenanglah, disini ada Antara yang menjagaku, benar kan!" Karin menatap Antara, kemudian Antara membalasnya tersenyum.
Sudarma kini lega setelah melihat putrinya sudah lebih baik, tidak pucat seperti beberapa jam lalu. "Papa titip, anak papa An.. jaga Karin untuk Papa." Titah Sudarma setelah itu dia keluar dari ruang rawat anaknya dengan perasaan yang tak menentu.
"Bunda juga pulang ya.. Bunda sangat lelah setelah perjalanan jauh dari Villa ke ke rumah sakit. Besok bunda akan kemari lagi melihatmu," Tukas Weni yang memang terlihat gurat kelelahan di wajahnya.
"Biar Antara yang antar, Bun. Sekalian Antara juga ingin mengambil pakaian ganti."
"Baiklah, ayo!"
"Sayang, titip Karin ya, aku pulang dulu mengambil pakaian untukmu," Melia mengangguk sebagai jawaban.
"Karin, aku pulang dulu sama Bunda. Jika butuh sesuatu, kamu bisa minta tolong pada Melia." ucap Antara menghampiri Karin yang tengah berbaring.
Karin mengangguk pelan, "Hati-hati dan cepatlah kembali." jawab Karin.
Antara mengusap lembut perut Karin sebelum dirinya meninggalkan ruang rawat Karin.
Melia menyaksikan pemandangan hangat itu dari jauh. Ada rasa sakit yang dia rasakan saat melihat Antara mengusap perut Karin tadi. Seketika perutnya terasa keram, Melia duduk di sofa yang tak jauh dari bed Karin.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Sayang.. ayah juga pasti sangat menyayangimu." Batin Melia seraya mengusap perutnya yang terasa sakit.
...****************...