
Sementara Clara dan Zahra sudah berjalan duluan menuju parkiran tempat mobil online mereka menunggu.
Melia tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rico padanya.
"Iya, Pak, benar, aku Melia. Apa kabar?" sapa Melia basa basi.
"Baik, kamu gimana, Mel, apa kabarnya? Lama kita tak bertemu, aku sempat ke klub mu beberapa bulan lalu dan pas aku tanya ke teman mu yang disana tapi mereka gak jawab seperti biasanya," ujar Rico tergelak mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, seluruh karyawan di klub itu kompak tak menjawab pertanyaannya.
Melia hanya tersenyum sekilas mendengar perkataan Rico, "Itu bagian dari peraturan klub tempatku bekerja, Pak Rico—"
"Panggil Rico saja biar akrab, nggak usah pakai Pak segala, lagian kita tidak lagi di klub bukan!" potong Rico.
Melia tersenyum, "Baiklah, Rico. Itu adalah bagian dari peraturan klub tempatku bekerja dulu, privasi karyawan sangat dijunjung tinggi di sana," kata Melia menjelaskan.
Rico mengangguk seiring dengan penjelasan Melia, "Jadi kamu sudah tidak bekerja lagi disana?"
"Iya, sudah 2 tahunan ini," jawab Melia mengulas senyum. Dan senyum Melia inilah yang disukai Rico sejak awal jumpa dengannya.
Dulu saat Melia masih bekerja disana, Melia lah yang selalu menghandle perusahaannya dalam menjamu klien klien penting mereka dan Rico sangat terkesan dengan pelayanan Melia yang dianggap ramah dan sangat profesional.
"Jadi kegiatanmu sekarang apa? Kamu bekerja dimana sekarang?" tanya Rico penasaran.
"Aku sudah—" untuk kedua kalinya ucapan Melia harus terpotong karena ponselnya tiba-tiba berdering.
"Maaf, Rico, aku harus mengangkat telepon ini." kata Melia lalu memunggungi Rico yang masih menatapnya dengan intens.
"Oh oke, aku kesana sekarang." Ucap Melia lalu mematikan sambungan teleponnya dan langsung berpamitan pada Rico karena ibu dan sahabatnya sudah menunggunya di mobil.
"Baiklah, kapan kapan kita bertemu lagi, masih banyak yang ingin ku ketahui tentangmu, Melia," kata Rico tersenyum.
Sedang Melia tak terlalu menanggapi dan hanya tersenyum tipis lalu berbalik dan meninggalkan Rico yang masih menatap punggungnya hingga Melia benar-benar menghilang dan barulah Rico masuk ke dalam mall tersebut.
__ADS_1
***
"Dia siapa Mel? Sepertinya wajahnya gak asing deh!" kata Clara saat Melia sudah duduk di dalam mobil.
"Oh, pria tadi! Dia Pak Rico, Cla. Dia yang dari perusahaan Pak Lucas itu loh," jawab Melia menoleh ke arah Clara.
"Oh.. pantas saja aku kok kayak pernah lihat gitu mukanya tapi lupa dimana," kekeh Clara.
Melia tergelak mendengar ucapan Clara. Melia menatap keluar jendela, ucapan Rico tadi membuat Melia kembali mengingat bagaimana pertemuannya dulu dengan suaminya Antara. Melia tersenyum tipis mengingat hal itu.
Melia menghembuskan napasnya pelan namun bisa didengar oleh Clara yang memang duduk bersebelahan dengannya. Clara menggenggam punggung tangan Melia.
"Kenapa? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Clara saat mendengar helaan napas Melia terlebih wajahnya yang terlihat sendu menatap keluar jendela.
Melia menggeleng, "Aku hanya rindu saat aku bekerja dulu di klub, dulu aku begitu bahagia, Cla," ujar Melia beralih menatap Clara yang sejak tadi menatapnya.
Clara menatap sendu sahabatnya itu, "Semua akan baik-baik saja, Mel. Aku yakin kamu dan Antara pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah memberitahukan soal kehamilan mu padanya, aku yakin setelah itu, hubungan kalian akan seperti dulu lagi." Pungkas Clara lalu memeluk erat tubuh Melia.
"Aku yakin kamu bisa melalui ini semua, kamu kuat, Mel. Kamu wanita yang kuat." Imbuh Clara seraya menepuk punggung Melia perlahan.
Sesampainya mereka di rumah Zahra, Melia, Clara dan Zahra terkejut dengan siluet seorang pria yang bersandar pada mobilnya.
"Siapa ya, Bu!" seru Clara, karena hari sudah gelap jadi mereka tak bisa melihat sosok pria itu dengan begitu jelas. Namun berbeda dengan Clara yang sangat hafal dengan bentuk suaminya bahkan dalam keadaan gelap sekalipun.
Melia menahan hatinya agar ia tak berlari memeluknya. Ya, Melia merindukan suaminya bahkan sangat amat merindukan sentuhan suaminya. Terlebih saat ini ia tengah hamil muda dan membuatnya ingin terus berdekatan dengan suaminya. Entah ini karena hormon kehamilannya atau memang karena bawaan jabang bayinya.
"Mel…." panggil Antara saat melihat Melia berjalan ke arahnya.
"Nak Antara!" seru Zahra saat menyadari pria itu adalah menantunya Antara.
"Ibu…." Antara lalu menghampiri ibu mertuanya itu lalu mencium tangannya dengan takzim.
__ADS_1
"Kamu sudah lama menunggu diluar, Nak?" tanya Zahra saat melihat gurat kelelahan di wajah menantunya itu.
Antara tersenyum tipis, "Belum terlalu lama, Bu," jawab Antara asal asal. Padahal sudah 2 jam lebih Antara menunggu diluar rumah mertuanya itu.
"Ya sudah ayo kita masuk, kamu pasti lelah karena menunggu, Melia," ujar Zahra yang mempersilahkan Antara masuk.
"Mel, ajak suamimu masuk, dia pasti kelelahan menunggumu tadi," bisik Zahra di telinga Melia.
Akhirnya mereka masuk bersama setelah Zahra menyuruhnya mengajak suaminya masuk ke dalam rumah.
Antara lalu duduk di ruang tamu sedang Clara dan Zahra sudah menuju dapur menyimpan barang belanjaan mereka tadi.
Saat Melia akan melangkah, Antara menahannya dengan menarik tangannya dengan lembut. "Sayang…." ucap Antara seraya menatap wajah istrinya.
Melia menghela napasnya, "Aku mau ke kamar dulu, badanku terasa lengket, aku ingin mandi," jelas Melia saat Antara tak kunjung melepaskan tangannya.
"Apa bisa aku ikut.. aku sangat lelah dan ingin berbaring sebentar." Ujar Antara berdiri lalu berjalan menuju kamar sang istri tanpa melepas genggaman tangannya pada Melia.
Setelah keduanya masuk, Melia segera menutup pintu kamarnya lalu saat akan berbalik, tiba-tiba Melia merasakan pelukan Antara yang membuatnya sedikit tersentak karena kaget.
"Mas…." Gumam Melia, dirinya tak menyangka jika Antara akan memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu, Sayang. Mas rindu aroma tubuhmu. Mas bahkan rindu senyummu yang mampu membuat hariku lebih bersemangat." Tutur Antara masih dengan posisi memeluk Melia.
Kini posisi mereka sangat intim hingga deru napas Antara pun sangat jelas terdengar bahkan membuat Melia meremang. Lagi, Melia tersentak sesaat saat merasakan hembusan napas hangat Antara yang tepat mengenai tengkuknya. Sontak hal itu membuat Melia menahan napasnya sesaat.
"Apa yang, Mas lakukan? Bukannya Mas tadi letih!" kata Melia tanpa menoleh ke arah Antara. Melia tak mungkin memperlihatkan wajahnya yang memerah karena malu.
Antara lalu membalikkan tubuh Melia tanpa melepas pelukannya, "Kita nginap dirumah ibu atau kita langsung ke hotel?"
Melia terkesiap lalu berbalik menatap sang suami saat mendengar ucapan absurdnya.
__ADS_1
"Maksud, Mas apa!" seru Melia kaget. Melia bahkan tak berani berasumsi macam-macam, Melia takut kecewa jika terlalu berharap pada suaminya.
...****************...