
Melia menghampiri Karin yang hendak bangun dari tidurnya.
"Kau membutuhkan sesuatu? Ayo sini, aku bantu," kata Melia menawarkan bantuan.
Karin menepis tangan Melia saat menyentuh lengannya, "Aku bisa sendiri." Ucap Karin ketus.
Melia menghembuskan napasnya dengan berat, "Baiklah." Melia melepaskan tangannya yang masih memegang lengan Karin, dia tak ingin berdebat lagi yang akan membuat Karin kembali emosi.
"Sekarang kau sudah puas, huh? Kini aku tak akan lagi bisa punya anak karena rahimku kini bermasalah." Perkataan Karin membuat kedua alis Melia saling bertaut bingung dengan apa yang dibicarakan Karin padanya.
"Kau tak usah berpura-pura baik padaku, setelah apa yang kau lakukan tadi!"
"Apa maksudmu?!" Melia tampak bingung dengan penuturan Karin.
"Kamu sengaja 'kan mendorongku dari tangga! Kamu pasti iri melihat perhatian Antara padaku dan berniat melenyapkan anakku!" tuding Karin, kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Kau jangan bercanda, Karin. Aku tidak seburuk itu dan kau tahu pasti tentang itu!" ucap Melia membela diri. "Karena kau mulai membahasnya maka baiklah, mari kita perjelas semuanya."
"Kau yang menarik tanganku dan kau pula yang membawa dan mendorongku ke arah tangga. Saat itu aku hanya mencoba menyelamatkan diri ku dari perbuatan gilamu," imbuh Melia.
"Aku hanya ingin menakutimu saja tapi kau malah melepaskan tanganku hingga membuatku terhuyung ke belakang, apa kau lupa, Mel!"
"Aku tahu, tapi aku tak sengaja, harus berapa kali lagi aku harus menjelaskannya padamu.. itu adalah reaksi alami seseorang saat merasa dirinya terancam!" seru Melia membela diri.
BRUKK!!
Suara pintu kamar terbuka dengan sangat keras hingga membuat keduanya, Melia dan Karin menatap ke arah pintu secara bersamaan.
"Mas.. Antara..!" gumam keduanya bersamaan.
Antara melihat ke arah Karin yang terlihat meneteskan air matanya, kemudian beralih menatap Melia yang kini wajahnya mendadak berubah pias. Ya, Melia takut jika suaminya itu akan salah paham padanya. Namun semua sudah terlambat, sepertinya Antara mendengar semua pembicaraannya dengan Karin tadi. Terbukti dengan tatapan matanya yang tajam saat menatapnya.
__ADS_1
"Mas.. apa kamu mendengar semuanya?" tanya Melia dengan hati-hati.
"Ya," jawab Antara singkat.
Terlihat sangat jelas gurat kekecewaannya pada sang istri, dan Melia menyadari itu. Melia pun merasa hancur saat suaminya sendiri tak mempercayainya.
"Mas.. bisa aku jelaskan semuanya. Ini tak seperti yang kau pikirkan!" seru Melia berharap suaminya bisa mendengar penjelasannya.
"Jelaskan apa lagi! Apa masih kurang lengkap pembicaraan kalian tadi, huh? Jujur Mel, Mas sangat kecewa padamu, Mas merasa dibohongi olehmu!" berang Antara.
"Mas.. dengarkan dulu penjelasanku!"
"Penjelasan apa lagi, Mel! Apa lagi, huh!"
"Mas jangan egois seperti ini.. mas tidak berada di tempatku tadi, aku hanya ingin melindungi diriku," ucap Melia lirih.
"Melindungi dirimu dengan membahayakan keselamatan anakku? Begitu!" kata Antara dengan tajam.
"Bukan itu maksudku. Kau jangan kekanak-kanakan seperti ini, kau tahu jika Karin sedang mengandung dan itu akan membahayakan anak yang dia kandung. Dan tadi, Mas sudah meminta penjelasan padamu, tapi apa.. kamu bilang kamu tak tahu apa-apa bukan! Apa sekarang aku tak boleh marah padamu? Begitu!"
Melia tak lagi menjawab atau membela dirinya, ia tak sanggup lagi membela diri disaat sang suami sudah tak percaya lagi padanya. Bahkan Antara seakan tak sudi melihat Melia yang kini luruh di atas lantai.
"Pulanglah kerumah, temani bunda. Dia sudah menunggu di parkiran!" seru Antara lalu membuka pintu kamar Karin dengan lebar. Hati Melia kian sakit saat melihat Antara yang enggan menatapnya.
Saat sudah berada diambang pintu, Melia berhenti saat Antara kembali bersuara.
"Aku sudah minta, bik Nani mengambil barang-barangku dan keperluan Karin, setelah itu berikan pada sopir untuk mengantarkannya kemari," kata Antara dengan datar.
Melia keluar dari ruang perawatan Karin dengan hati yang remuk. Kini suaminya tak lagi mempercayainya. Di sepanjang koridor rumah sakit, tangis Melia tak kunjung berhenti, ia menggigit bibirnya agar suara tangisnya tak terdengar oleh orang lain walau suasananya tampak sepi karena sudah masuk dini hari.
Melia sudah sampai di parkiran rumah sakit tempat mertuanya menunggu.
__ADS_1
"Loh Mel, kok kamu yang keluar! Mana Antara?" tanya Weni saat Melia masuk kedalam mobil..
"Mas Antara yang akan menjaga, Karin, Bun. Melia yang minta kok, lagian.. Karin dan Melia kan gak terlalu akrab jadi Karin pasti sungkan meminta bantuanku." Jelas Melia yang langsung menutup pintu mobil lalu melajukan mobilnya menuju pulang.
Di sepanjang perjalanan pulang, Melia tampak lebih diam dari sebelumnya. Namun Weni tak ingin terlalu banyak mencampuri urusan anak dan menantunya itu. Weni memilih diam dan akan ikut campur jika mereka meminta sarannya dalam permasalahan rumah tangganya.
Sesampainya dirumah, Melia memarkirkan mobil sedan berwarna merah miliknya ke dalam garasi.
"Melia langsung naik ya, Bun."
Melia langsung naik dan memasuki kamarnya. Ia pun lalu menutup pintu dengan buru-buru dan luruh di baliknya.
Ya, Melia sudah tak tahan menahan tangisnya sejak di dalam mobil. Setelah menutup pintu kamarnya, tangis Melia seketika pecah, dia luruh diatas lantai. Sakit ... sangat sakit, sungguh membuat hatinya sakit dengan apa yang dikatakan suaminya.
Antara tak lagi mempercayainya dan seakan menuduhnya dengan sengaja ingin mencelakai Karin dan kandungannya.
Sementara itu di rumah sakit, tepatnya di ruang perawatan Karin. Terlihat Antara begitu memperhatikan Karin, Antara merasa bersalah karena tindakan Melia hingga membuat Karin nyaris saja kehilangan anak yang dikandungnya, terlebih perasaan bersalahnya semakin besar tatkala mengingat bagaimana Karin merelakan nyawanya demi bisa mempertahankan kandungannya yang mungkin bisa mengambil nyawanya cepat atau lambat.
"Ada lagi yang kau butuhkan?" tanya Antara setelah membantu Karin memperbaiki posisi tidurnya.
"Tidak, aku akan langsung tidur," sahut Karin mengulas senyum. "Istirahatlah juga, kamu pasti sangat lelah setelah bekerja seharian. Aku akan tidur nyenyak disini karena ada kamu yang membuatku merasa aman." Imbuh Karin menatap Antara.
Antara mengangguk pelan. Dirinya memang sangat lelah setelah seharian bekerja dan setelah pulang harus langsung ke rumah sakit.
"Baiklah, bangunkan aku jika kau butuh sesuatu." Tukas Antara lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang tidak jauh dari ranjang Karin.
Antara menggerakkan kepalanya ke berbagai arah untuk mencari posisi yang nyaman menurutnya, setelah itu matanya langsung terpejam tak lama setelah kepalanya menyandar pada sebuah bantal yang ada di atas sofa itu.
Karin tersenyum melihat suaminya yang tertidur dengan sangat lelap. Dirinya sangat bahagia karena Antara lebih mempercayainya ketimbang Melia. Karin memindai setiap inci wajah Antara yang terlihat begitu sempurna di matanya. Ingin rasanya Karin mencium bibir merah milik Antara yang terlihat sangat menggoda.
...****************...
__ADS_1