JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Kejujuran Nikah Siri (PART 1)


__ADS_3

Melia mengerjapkan matanya perlahan menyesuaikan cahaya matahari yang masuk menembus kaca kamar mereka. "Eum ...." Terdengar suara lenguhan khas orang bangun tidur, Melia menggeliat, perlahan membuka matanya. Ia merasakan ada yang aneh di atas perutnya, sesuatu yang berat melingkar di perutnya. Melia tersenyum melihat tangan sang suami sedang memeluknya. Melia memandang wajah Antara lekat. Ia tak menyangka dalam waktu yang singkat statusnya kini sudah berubah menjadi istri, kini ia sudah mempunyai seorang suami, padahal kemarin pagi statusnya masih singel.


Detik berikutnya pipinya tiba-tiba memerah mengingat kembali malam panas yang mereka lakukan semalam. "Kenapa senyum-senyum!" ucap Antara membuyarkan lamunan Melia hingga membuatnya terperanjat kaget.


"Mas, sudah bangun!"


"Hem, baru saja." sahut Antara dengan suara serak. Antara lalu menarik pinggang Melia hingga membuat keduanya kembali bersentuhan. "Mas…!!" protes Melia. Pasalnya  tubuh mereka masih sama-sama naked, tanpa sehelai benang pun di bawah selimut.


Melia kembali merasakan sesuatu yang keras dibawah sana. "Kita baru selesai jam 3 pagi loh, biarkan aku istirahat sebentar ya, Mas." Rengek Melia, "lagian punyaku masih sedikit perih." Sambungnya.


"Masih sakit ya, kasihan istriku." Antara yang  gemas dengan suara manja sang istri makin mendekapnya erat, "Aku tahu obat yang bisa buat 'gua' mu enggak perih lagi!" Kata Antara dengan kedua alis yang dinaikkan turun bergantian dan disusul senyum menyeringai.


Melia memicingkan matanya, curiga dengan senyuman sang suami, dan jangan lupakan kata 'obat' yang dikatakannya tadi."


Antara dan Melia kini sedang menunggu mobil yang diambilkan oleh petugas valet hotel tersebut. Ya, mereka check-out hari ini karena permintaan dari Melia setelah selesai mandi. Antara sempat menanyakan alasan dirinya ingin cepat-cepat pergi check-out padahal mereka masih punya banyak waktu untuk menjelaskan tentang pernikahan mereka pada Ibu dan Bunda mereka masing-masing. Namun karena Melia mengatakan bahwa lebih cepat mereka berkata jujur maka kekecewaan yang dirasakan kedua Ibu mereka nanti tak 'kan terlalu besar.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Antara yang masih dalam mode merajuk karena merasa belum puas menghabiskan waktu bersama Melia, membuat Melia terkekeh. "Ayo dong, Mas. Jangan cemberut begitu! Bukannya kita akan memberitahukan kabar bahagia ini sama Ibu dan Bunda! Harusnya kamu itu semangat." Bujuk Melia.


Antara menoleh dan menatap sang istri yang tersenyum lebar menatapnya. "Aku belum puas memelukmu, menciumi mu dan—


"Dan …kita belum mengurus surat-surat pernikahan kita, benar bukan!" sela Melia. Dia sangat tahu apa yang akan dikatakan sang suami tadi. Sejujurnya bukan hanya soal memberitahukan soal pernikahan mereka, tapi juga dia ingin beristirahat sejenak. Melia tahu jika mereka masih stay di hotel, bisa dipastikan dirinya akan terus di bawah kungkungan tubuh sang suami. Yang akan dikerjakan olehnya hanyalah antara makan atau dimakan.


...……...


Mereka sudah sampai di depan rumah Melia. Yang biasanya ia akan langsung nyelonong masuk kedalam rumahnya, namun entah mengapa langkah kakinya begitu berat untuk melangkah masuk. "Kenapa?" Tanya Antara saat melihat sang istri tak bergeming.


Melia menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mas. Ayo, masuk kita masuk." jawabnya.


Tok,


Tok,

__ADS_1


Tok,


"Assalamualaikum," ucap Melia dan Antara bersamaan.


"Wa alaikum salam." Sahut Zahra dari dalam rumah. "Seperti suara Melia!" Gumam Zahra sembari berjalan menuju pintu depan. "Eh, kalian sudah pulang!" ucap Zahra saat melihat sang anak dan Antara di depan pintu.


"Ayo masuk, Sayang. Nak Antara mau masuk dulu atau langsung pulang!" Pertanyaan yang dilontarkan Zahra padanya membuat Antara terbatuk-batuk.


"Kamu nggak apa-apa, Mas!" ucap Melia membantu menepuk punggung suaminya. Karena panik melihat sang suami yang tiba-tiba terbatuk hingga melupakan kalau perkataannya barusan menimbulkan pertanyaan yang besar di benak Zahra.


Kening Zahra mengerut.


Mas?


"Sejak kapan Melia memanggil Antara dengan sebutan Mas? Bukannya selama ini hubungannya nggak baik!" Zahra membatin.


Setelah masuk, mereka bertiga duduk saling berhadapan. Lagi-lagi Zahra dibuat bertanya-tanya saat melihat Melia bukan duduk di sampingnya namun langsung duduk di samping Antara.


"Enggak apa-apa Bu, Melia baik-baik saja." jawab melia mengulas senyum.


Zahra mengangguk pelan. "Mungkin perasaan ku saja kali ya. Pasti mereka sudah baikan setelah berlibur bersama kemarin." Zahra bermonolog.


"Jadi bagaimana liburan kalian di sana?"


"Alhamdulillah baik bu, menyenangkan." Sahut Antara. Kini ia sudah siap untuk berkata jujur pada Ibu mertuanya itu.


"Syukurlah, kalian nggak bertengkar 'kan disana!" Zahra tergelak saat membayangkan sepanjang liburan mereka hanya diisi dengan pertengkaran keduanya.


"Alhamdulillah nggak, Bu." Lagi-lagi Antara yang menjawab hingga timbul pertanyaan menggelitik dari mulut Zahra.


"Oh ya! Syukurlah. Atau, jangan-jangan kalian sudah resmi...." Celetukan  Zahra membuat Melia menunduk meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Maafin Melia. Keadaannya saat itu darurat, jadi kami harus memutuskan, dan saat itu juga kami tak punya waktu banyak untuk minta restu Ibu." ucap Melia cepat. Membuat Zahra semakin bingung.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu minta maaf? Kamu salah apa memangnya? Dan …Tadi kamu bilang apa! Restu?" tanya Zahra beruntun.


Mendengar pertanyaan sang Ibu, membuat Melia tersadar. Rupanya dia sudah terlalu banyak bicara. Ia bahkan lupa pesan sang suami saat di atas mobil.


"Sampai dirumah Ibu, biar aku yang bicara. Kamu diam saja, aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Walau bagaimanapun juga itu semua karena aku yang tak hati-hati."


Melia terlihat menunduk dengan tangan yang menutup mulutnya. Sedang Antara menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang istri.


"Mel!!" Panggil Zahra. Namun Melia masih tak bergeming dari posisinya.


"Hem, Hem." terdengar suara deheman Antara membuat perhatian Zahra kini beralih menatap Antara. Dengan tatapan mata yang meminta sebuah penjelasan.


"Baiklah, sekarang ceritakan pada Ibu! Apa yang terjadi, karena Ibu yakin kalau sebenarnya  kalian menyembunyikan sesuatu padaku." Ucap Zahra tegas sembari menyilang kan kedua tangannya ke dada.


"Pertama-tama saya secara pribadi ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Ibu. Mungkin apa yang akan saya sampaikan akan membuat Ibu kecewa pada kami, khususnya pada Melia. Tapi jujur Bu, ini semua diluar kendali kami. Dan aku mohon nanti jangan marah sama Melia karena semua kejadian ini adalah kesalahan saya, keteledoran saya." Ujar Antara panjang lebar.


Kening Zahra semakin mengerut mendengar penjelasan Antara, bukannya mengerti, ia bahkan semakin bingung.


"Langsung ke intinya saja, kalian membuat Ibu pusing. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian berdua? Jawablah dengan jujur, kalian tak melakukan hal 'itu' bukan!!" Zahra melotot menatap Antara.


"Tidak, Bu! Tidak, kami tidak melakukannya sebelum kami menikah!" Sahut Melia cepat.


APA!!


MENIKAH!!


KAPAN?


DIMANA!!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2