
Antara masih melongo melihat wajah, Melia yang terlihat sumringah setelah dari kamar mandi.
"Mas Antara, kenapa?" tanya, Melia saat melihat Antara dengan wajah herannya.
"Kamu kemana saja tadi, dan kenapa pulang terlambat? Dan juga … kenapa tak memberi kabar terlebih dahulu sebelum pergi!"
Antara mencecar Melia dengan banyak pertanyaan sehingga membuatnya bingung harus menjawab mulai dari mana.
"Maaf, Mas, maaf! Sesal, Melia saat melihat wajah cemas sang suami. "Tadi siang aku pergi bersama, Clara sahabatku. Kami ke mall, cuci mata dan terakhir makan siang bersama, setelah itu, aku langsung mengantarnya sampai ke kosannya. Dan kenapa bisa pulang selama ini, itu semua karena hujan turun sehingga membuat jalan nya semakin macet. Antara mengangguk pelan mendengar penjelasan, sang istri.
Kemacetan menjadi momok yang dihadapi penduduk di hampir sebagian mayoritas kota besar, tidak terkecuali di kotanya, dapat timbul pada jam-jam sibuk dan bisa bertambah parah ketika hujan.
"Lalu, kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya jika kamu ingin pergi?" ulang Antara saat Melia tak menjawab pertanyaan.
Melia menatap sang suami dengan alis terangkat heran. Melia heran bercampur bingung dengan pertanyaan sang suami. "Apa maksudmu? Sebelum aku pergi, aku sudah telpon, Mas, loh! Entah 2 apa 3 kali aku telpon tapi nggak, Mas angkat-angkat. Makanya aku kirim pesan, takut kalau aku ganggu waktu kerja, Mas!" Jelas Melia panjang lebar.
"Benarkah!" seru Antara.
"Eng … jangan bilang, Mas belum baca pesanku!" imbuhnya.
Antara berjalan menuju meja disamping tempat tidurnya, dimana ia biasa meletakkan barang-barang pribadinya, seperti, dompet dan ponsel. Antara mengambil ponselnya lalu mengecek aplikasi WhatsApp, dan benar saja, ada beberapa pesan yang belum dia buka serta panggilan tak terjawab baik di aplikasi WhatsApp maupun di nomor pribadinya.
Melia yang melihat ekspresi sang suami pun hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawanya. Jika bersama sang ibu atau Clara, dia pasti langsung menertawakannya.
"Ternyata, Melia benar." Antara menghembuskan napasnya ke udara. "Untung saja tadi aku nggak langsung marah, ternyata memang aku yang sudah salah paham!" Gumam, Antara dalam hati.
__ADS_1
Melihat sang suami tak bergeming, Melia berinisiatif menyusul sang suami dan duduk di bibir ranjang. Tangannya meraih kedua tangan kekar milik sang suami dengan lembut dan berkata padanya. "Maafkan aku ya, Mas … harusnya aku pergi setelah ada persetujuan dari, Mas langsung!" Melia mengulas senyumnya sambil menggoyangkan tangan sang suami berulang kali, 'maaf ya, Sayang'"
Antara tersenyum lebar melihat tingkah lucu sang istri. Antara ikut duduk di sisi ranjang disebelah sang istri duduk, memberi usapan hangat pada punggung tangan istrinya. Antara terenyuh akan sikap, Melia yang begitu lemah lembut. Sungguh sangat berbanding terbalik ketika pertama kali bertemu dengannya dulu di supermarket kala itu. Penuturan dan sikap yang Melia tunjukkan tadi ialah jika dirinya begitu sangat menghargainya sebagai seorang suami.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah karena tak mengecek ponselku terlebih dahulu sebelum bertanya padamu,” kata, Antara menerbitkan senyum lega pada paras cantik sang istri. Kini hatinya sudah sangat lega karena istri tercintanya sudah kembali berada dalam dekapannya.
Antara mendekap sang istri begitu posesif. Menciumi seluruh wajah, Melia tanpa terkecuali hingga membuatnya kegelian.
"Mas, geli, ah, Mas! Ha-ha-ha geli, Mas!" tawa, Melia pecah dan terdengar hingga keluar kamar, dan siapa saja yang melewati kamarnya pasti akan mendengar interaksi suami istri itu.
Keduanya masih larut dalam dunia mereka hingga terdengar suara decapan dari kegiatan bibir mereka menggema di dalam kamar.
"Aku sangat mengkhawatirkan mu, sungguh, aku takut jika terjadi apa-apa denganmu tadi," ucap Antara, mengusap lembut permukaan punggung istrinya. "Aku tak mau kehilanganmu, Sayang!" Imbuhnya.
Dengan berani Melia memulai kembali ciuman yang sempat terhenti saat, Antara mengutarakan perasaannya. Awalnya Antara tidak langsung ******* bibir sang istri, yang ia lakukan hanya mengecup dan bermain-main di bibirnya istrinya itu. Antara Ingin melihat reaksi apa yang ditunjukkan Melia padanya.
Melia tak melakukan apapun. Ia tahu jika saat ini Antara sedang menggodanya saja. Terlintas di pikirannya untuk menggoda sang suami juga. Untuk itu sedari tadi dia berusaha keras agar tidak terhanyut dengan apa yang dilakukan Antara padanya. Terus terang saja, libidonya sudah meningkat sangat tajam. Ia hanya bisa mengepalkan telapak tangannya sembari menikmati setiap sentuhan di bibirnya berharap agar libidonya bisa menurun.
Antara mengerti jika Melia saat ini sedang menahan gairahnya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, dia menyudahi acara menggoda sang istri. Dia memilih langsung menghisap bibir atas dan bawah Melia bergantian.
"Engh”
Melia melenguh mendapatkan bibirnya dihisap kuat oleh suaminya. Dia yakin, setelah ini pasti bibirnya akan membengkak. Antara menghentikan sejenak aktivitasnya.
“Sudah cukup bercandanya, ayo kita mulai!”
__ADS_1
Kali ini Antara sudah tidak bermain-main lagi seperti tadi. Dia ******* lembut bibir Melia. Ciumannya memang lebih lembut daripada tadi. Mungkin dia ingin menunjukkan ciuman sesungguhnya atau mungkin ia ingin menikmati secara perlahan-lahan membiarkan waktu sedikit berhenti untuk meresapi betapa menakjubkannya kegiatan mencumbu istrinya itu.
Merasa nyaman dengan perlakuan sang suami, Melia mulai membalas ciuman Antara dengan ******* bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Sekarang mereka saling ******* dan bertukar saliva. Antara tersenyum dalam ciumannya. Mereka terus berciuman panas ala French Kiss, ciuman yang lebih intim lagi karena ciuman lidah atau ciuman Perancis adalah ciuman di mana salah satu atau kedua lidah pasangan menyentuh bibir atau lidah pasangan lain, dan biasanya masuk ke mulutnya.
Sangat lama mereka bertahan dengan ciuman mereka bahkan Antara memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk sang istri. Melia yang terbuai pun mengalungkan kedua tangannya pada leher Antara. Suara decapan ciuman mereka menggema dalam kamar itu membuat iri para nyamuk, amuba atau makhluk hidup lain penghuni kamar itu atas keintiman kedua pasangan suami-istri itu.
Antara merengkuh rahang Melia dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih digunakannya untuk memenjarakan kedua tangan istrinya itu.
Melia yang merasa sesak, langsung memukul dada sang suami untuk memberikannya kesempatan mengambil pasokan oksigen. Akhirnya, Antara melepaskan tautan bibir mereka. Ia tidak ingin menjadi duda sekarang. Sangat tidak lucu bila istrinya meninggal akibat mereka berciuman dalam waktu yang sangat lama. Dia juga tidak menginginkan wanita di depannya ini menghilang dari jarak pandangnya. Dia menginginkan Melia selalu berada di disampingnya, menemaninya sampai maut memisahkan mereka dan bertemu kembali di akhirat kelak.
Satu yang pasti, jika di dalam seluruh hembusan nafasnya, hanya ada nama ‘Melia Putri’, seorang.
"Hah ... hah ... hah ... kau benar-benar menginginkan aku sesak nafas?”ucapnya terengah-engah.
Hanya senyuman yang didapatkan Melia dan bukan jawaban dari suaminya. Antara membersihkan bibir Melia dengan kedua ibu jarinya karena bibir Aini dipenuhi dengan saliva mereka yang bercampur menjadi satu.
Melia tersipu malu mendapatkan perlakukan manis dari sang suami, begitu romantis pikirnya. Antara tergelak melihat wajah sang istri yang kini sudah semerah tomat.
"Ada apa dengan wajahmu ini, Sayang!" Antara membelai lembut pipi sang istri. "Apa kau malu padaku!" Antara menggoda sang istri yang semakin membuat wajahnya memerah hingga suara aneh terdengar dan merusak momen romantisme mereka berdua.
KRUCUK!!
Suara perut Melia terdengar, wanita cantik itu sangat lapar karena terakhir kali ia makan saat bersama, Clara sahabatnya di mall. Saat Antara menertawakan suara perut sang istri, tiba-tiba terdengar, krucuk, krucuk … terdengar suara perut milik, Antara. Hingga pada akhirnya, keduanya pun saling menertawakan dirinya masing-masing.
...****************...
__ADS_1