
Antara yang baru sampai di rumahnya segera naik ke lantai 2, tujuannya hanya satu, yakni ingin menemui sang istri. Namun langkahnya terhenti saat melihat Zahra, ibu mertuanya keluar dari kamarnya.
"Ibu.. " gumam Antara namun masih bisa didengar oleh Zahra.
Mendengar seseorang memanggilnya, Zahra seketika menoleh, dan mendapati menantunya sudah berdiri tepat di hadapannya. Melia menatap Antara lekat hingga membuat Antara menundukkan pandangannya. Ia takut jika mertuanya itu akan marah padanya karena mengetahui anaknya sakit sedang suaminya tidak berada di dekat istrinya malah bersama dengan madu anaknya.
Namun apa yang dipikirkan Antara ternyata tidak sejalan dengan kenyataan yang ada. Zahra justru tersenyum padanya bahkan menanyakan keadaan Karin. Hal itu membuat Antara terperangah sejenak hingga kesadarannya kembali saat Zahra menepuk punggungnya dengan lembut dan berulang.
"Kamu pasti ingin melihat, Melia. Masuklah, dia sudah lama menunggu, tapi sekarang dia sudah tidur, ada baiknya kamu juga istirahat sekarang. Keadaan Karin dan Melia sedang tidak baik jadi kamu harus tetap sehat agar bisa mengurus mereka berdua," ucapan ibu mertuanya itu membuat Antara seketika malu.
Betapa picik pikirannya hingga bisa memikirkan jika mertuanya itu akan marah dan memakinya, padahal kenyataannya adalah mertuanya itu begitu mempunyai hati yang besar karena bisa menerima semuanya.
Antara masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Melia yang tengah tertidur dengan damai. Walau terlihat dengan jelas wajah sang istri yang masih sedikit pucat. Ia berjalan menghampiri Melia lalu duduk di bibir tempat tidurnya. Menatap wajah istrinya dengan lekat, berulang kata maaf terus ia lontarkan walau dengan gumaman saja karena tak ingin membangunkan istri yang tertidur lelap.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Antara naik ke atas tempat tidur dan memeriksa suhu tubuh sang istri dengan menyentuh keningnya. Hanya ucapan Alhamdulillah yang terus terlontar dari bibirnya. Ia langsung berbaring tepat di samping sang istri dan membawanya masuk ke dalam dekapannya. Sedang Melia merasa ia sedang bermimpi, mimpi yang sangat indah karena kembali merasakan kehangatan pelukan sang suami yang sudah cukup lama tak dirasakannya.
***
Pukul 3 pagi, Antara sudah bersiap untuk kembali ke rumah sakit, karena sejak semalam Bunda Weni sudah berulang kali meneleponnya. Ia mengatakan Karin tak berhenti mencarinya hingga dengan terpaksa ia memanggil suster dan setelah mendapat persetujuan dari Dokter Obgyn, akhirnya Karin diberikan suntikan penenang karena sampai tengah malam, ia tak kunjung tenang hingga membuat Weni kewalahan menghadapinya.
__ADS_1
"Antara.. kamu mau kemana sepagi ini?" tanya Zahra saat melihat Antara berjalan menuju pintu depan. Antara terlonjak kaget saat mendengar panggilan Zahra. Ya, Zahra tak sengaja berpapasan dengan anak mantunya itu saat dirinya akan mengambil air minum di dapur.
"I-ibu.. em.. Antara mau ke rumah sakit, tadi bunda telepon katanya, Karin kembali histeris dan bunda kewalahan menjaganya," ucap Antara dengan jujur.
"Pergilah, biar Melia, ibu yang jaga. Karin lebih membutuhkanmu sekarang. Biar besok, ibu yang menjelaskan pada Melia kalau kamu datang semalam tapi harus kembali lagi ke rumah sakit karena hal yang mendesak," ucap Zahra, "pergilah, sebelum Karin bangun dan kembali mengamuk disana!" Imbuhnya seraya menepuk bahu Antara.
Setelah berpamitan pada ibu mertuanya, Antara kini sudah berada di lorong rumah sakit. Ia berjalan menuju kamar rawat inap Karin. Ia masih terus mengingat perkataan yang disampaikan oleh Zahra padanya semalam.
Berusahalah untuk berlaku adil pada istri-istrimu untuk semua hal, tentunya yang mampu kamu lakukan, jangan pernah meremehkan masalah ini, sampai dalam hal terkecil pun tak boleh kamu kesampingkan.
Karena iri dan dengki adalah awal mula dari sebuah pertengkaran diantara para istri.
Antara menarik napasnya panjang lalu menghembuskan dengan pelan. Ia bertekad akan memperbaiki semua dari awal, mulai dari sikapnya pada Karin, ia akan mulai menerima Karin di hidupnya, walau tetap saja cintanya hanya untuk Melia seorang dan akan berlaku adil pada Melia tentang waktunya.
***
Selalu ada jalan dan selalu ada harapan di saat matahari terbit berikutnya, di detik berikutnya, dan di menit berikutnya." - Ziggy Marley
Antara menyambut paginya dengan niatan yang baik. Ia ingin memulai paginya dengan harapan baru. Harapan yang tentunya yang akan membawa dampak yang baik untuk kehidupannya, rumah tangganya dan pekerjaannya.
__ADS_1
Sejak pagi Antara sudah disibukkan oleh rengekan Karin yang terus meminta ini dan itu padanya. Awalnya ia ingin disuapi oleh Antara, dan tentu saja langsung di iyakan olehnya. Belum lagi saat jadwal minum obatnya, Karin begitu rewel karena merasa mual setiap kali mencium aroma obat. Dan tentu saja lagi-lagi Antara berusaha dengan lembut dan sabar membujuk agar Karin mau meminum obatnya.
Belum lagi saat tiba-tiba Karin memintanya untuk mengelus dan menciumi perutnya yang masih rata. Katanya ini adalah keinginan dari anak yang ada di dalam perutnya, awalnya Antara menolak, untuk permintaan lainnya yang tanpa sentuhan fisik secara langsung mungkin akan langsung dia iyakan, namun untuk satu hal ini, jawabannya adalah tidak. Dia tak ingin membuat Karin semakin mencintainya. Antara sudah mengatakannya jika ia akan bertanggung jawab 100 persen selama dia mengandung, apapun yang dia inginkan, selama dirinya bisa.. pasti dia akan melakukannya, kecuali jika itu sudah diluar dari prinsip hidupnya.
"Sayang, ayolah, anak kita merindukan mu, dia ingin merasakan sentuhan papanya secara langsung. Lagi pula ini hal sangat lumrah dilakukan seorang calon Papa pada calon anaknya," Karin mencebikkan bibirnya mendengar penolakan suaminya itu.
Antara masih bergeming dari kursinya dengan beberapa kali sibuk dengan gawai di tangannya.
"Bun, bujuk Antara, Bunda gak mau 'kan punya cucu ngeces-an!" seru Karin menakut-nakuti sang ibu mertua. Tentu saja Weni tak ingin, mau ditaruh dimana mukanya jika teman-teman arisannya melihat cucunya yang ngeces-an setiap saat.
Dengan cepat Weni menghampiri Antara yang tengah sibuk dengan gawai di tangannya. Entah apa yang sedang dia kerjakan sejak tadi.
"Sayang.." ucap Weni seraya memangku kedua tangan Antara di atas pahanya.
Antara yang tahu kemana arahnya pun mendahului sang bunda saat akan melanjutkan perkataannya.
"Maaf, Bun. Ada hal-hal yang memang boleh dan tidak boleh dia minta, aku sudah berusaha menuruti semua keinginannya, namun untuk kontak fisik.. jawabannya adalah TIDAK!" ucapnya dengan tegas.
Weni melirik ke arah Karin yang nampak kesal mendengar perkataan Antara. Jarak dari brankar Karin dengan ruang tamu kamar tersebut memang tak terlalu jauh hingga apa yang dikatakan Antara tadi begitu jelas terdengar, apalagi saat bicara tadi, Antara dengan sengaja bicara dengan lantang agar Karin mendengarnya.
__ADS_1
"Bujuk terus, Buuunnn!" kata Karin namun hanya diucapkan tanpa mengeluarkan suara. Ia mengarahkan mertuanya itu untuk terus membujuk Antara melalui isyarat tangannya.
...****************...