
“Ada apa lagi? Bukannya semua sudah selesai? Biarkan kami pulang sekarang, kami sudah tak punya urusan di sini lagi,” ketus Melia.
“Aku ingin meminta maaf atas nama bundaku, mohon maafkan beliau,” ucap Antara tulus sembari melihat ke arah Zahra dan Melia bergantian.
“Kami sudah memaafkannya, jadi kamu tidak perlu risau karenanya, semua sudah diselesaikan dengan baik-baik bukan!” ucapan Zahra membuat Antara merasa lega, berbeda dengan Zahra, Melia terlihat datar saja mendengar permintaan maaf darinya.
Antara melirik ke arah Melia, berharap Melia mau meresponnya, namun harapan hanya tinggal harapan saja. Zahra tahu dengan tatapan mata Antara kalau ia tertarik pada anaknya, karena sedari tadi ia melihat Antara yang terus berusaha mencuri pandang dan perhatian Melia, namun yang dituju sama sekali tak menanggapinya.
“Hem, bukankah kamu yang semalam ke rumah! Kamu teman Melia bukan? Tapi kok kalian tidak saling menyapa! Malah diam-diaman begini,” ucap Zahra tersenyum, ia mencoba mencairkan suasana di antara keduanya. Melia begitu dingin pada lelaki, bukan hanya pada Antara saja, namun pada semua lelaki yang mendekatinya pun demikian.
Antara terlihat kikuk karenanya, karena memang dirinya sengaja mengatakan kalau mereka berteman agar di terima masuk di rumahnya waktu itu. Sedang Melia seketika membulatkan matanya saat mendengar Zahra menyebutkan kalau mereka berteman.
"Berteman?"
"Siapa Bu?"
"Aku!"
Pertanyaan Melia pada Zahra membuat Antara terlihat semakin gugup, ia takut ketahuan oleh Zahra bahwa ia telah berbohong padanya semalam.
“Iyalah kamu, masa teman Ibu," Zahra mengulum bibirnya melihat interaksi keduanya.
"Benar begitu 'kan, Nak Antara!” ucap Zahra pada Antara yang terlihat makin gugup. Zahra tersenyum melihat tingkah konyol Antara. Ya, dirinya memang sudah tahu dari semalam kalau Antara bukanlah teman Melia, sebab ia tahu betul semua teman yang di miliki Melia, sebab anaknya termasuk yang introver. Jadi tak mungkin ia bisa dengan cepat memiliki teman baru sedangkan ia sangat sudah dekat dengan orang baru.
Antara hanya bisa tersenyum tipis sembari menunduk mendengar perkataan Zahra. Sedang Melia menaikkan satu alisnya menandakan dirinya tak mengerti dengan ucapan Zahra.
“Bagaimana kalau aku antar Ibu dan Melia pulang? Kebetulan tujuan saya searah dengan rumah Ibu, jadi bisa sekalian,” tawar Antara.
Terlihat Zahra tersenyum tipis, saking tipisnya, bahkan tak terlihat. “Ibu sih mau saja, tapi enggak tahu kalau Melia, apa dia mau atau tidak. Tapi karena kalian berteman, sepertinya dia mau, iyakan, Mel!!” seru Zahra yang langsung merangkul tangannya. Mau tidak mau Melia pun akhirnya ikut dan pasrah kemauan Sang Ibu. Apa lagi dengan nada bicara Zahra seperti itu, yang artinya adalah harga mati dan pantang di tolak.
Antara membukakan pintu depan untuk Zahra, sebagai tanda hormatnya, namun entah Zahra sengaja atau tidak, Zahra lebih memilih duduk di bangku belakang, yang membuat Antara dan Melia bingung dengan sikap Zahra.
__ADS_1
“Loh, Ibu, kok di belakang?” tanya Melia.
“Iya, Bu. Di depan saja Bu,” timpal Antara.
“Duh, kalian, Ibu enggak apa-apa kok, malah lebih nyaman di belakang, lebih luas, lagian juga Ibu pusing kalau duduk di kursi depan, lihat banyak kendaraan begitu,” ucap Zahra asal, ia memang sengaja agar Melia duduk di depan dan menemani Antara yang menyetir.
Melia menghela nafasnya pelan lalu segera masuk dan duduk di kursi depan, menemani Antara yang duduk sebagai sopir pribadi mereka. Melia tak banyak bicara, ia sibuk bertukar pesan dengan temannya di klub, rencananya mereka akan menghadiri pesta ulang tahun dari tamu VVIP dari klub tempatnya bekerja, tidak semua memang pengunjung klub ditempat dia bekerja adalah pria hidung belang, banyak pula pebisnis yang memang real ke sana hanya untuk bersenang-senang tanpa meminta pelayanan lebih atau bertindak di luar batas.
Antara sesekali melirik, mencuri pandang ke arah Melia yang tampak senyum-senyum sendiri sembari mengetik pesan, yang membuat Antara penasaran.
Gerak gerik Antara pun tak luput dari perhatian Zahra, dia mengerti arti tatapan itu, walau dirinya belum pernah merasakannya namun dari bahasa tubuh dan tatapan Antara sangat kentara.
“Siapa Mel,” tanya Zahra membuat Melia berbalik dan menjawab pertanyaan Zahra.
"Teman kerja Bu, katanya besok ada undangan pesta, dan Melia yang diminta Paman Roki untuk datang menemaninya," terang Melia.
“Oh,” ucapnya singkat, karena sebenarnya, Zahra hanya ingin membantu Antara untuk menghilangkan rasa penasarannya pada Melia.
Di sepanjang perjalanan, hanya Zahra dan Antara yang terlibat obrolan, sedang Melia diam membisu, hanya sesekali menjawab jika didesak Zahra. Bahkan saat di tanya pun dirinya hanya berdehem ria saja sebagai jawabannya, entah artinya iya atau tidak, hanya Melia dan Tuhan yang tahu.
-
-
-
Setelah sampai di depan rumahnya, Zahra sebagai tuan rumah yang baik mengajak dan menawarkan masuk pada Antara.
“Enggak masuk dulu, Nak!” ucap Zahra menawarkan.
“Mungkin lain kali, Bu!” tolak Antara halus sembari tersenyum, “baiklah kalau begitu saya pamit dulu,” sambungnya yang memang akan kembali ke kantor untuk mempersiapkan rapat dengan para petinggi perusahaan tempanya bekerja.
__ADS_1
Sepeninggal Antara, Melia dan Zahra masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantong belanjaan yang dibelinya tadi sebelum bertemu dengan Antara.
Zahra yang sedang membereskan barang belanjaannya, sedang Melia duduk tengah duduk didepan meja makan sembari memakan Batagor yang dibelinya tadi.
Melia menelan batagornya setelah mengunyahnya hingga halus. Proses mengunyah serta air liur dapat memecah dan mencampurkan makanan di mulut hingga risiko tersedak, dehidrasi, sampai kekurangan gizi. Sedang orang-orang yang tidak mengunyah makanan dengan tepat atau terbiasa buru-buru menelan makanan berisiko mengalami masalah pencernaan.
“Bu, Ibu kok akrab banget sama dia!” ucap Melia dengan mulut penuh potongan batagor.
“Akrab dengan siapa Mel,” jawab Zahra yang tengah sibuk membersihkan sayur mayur sebelum dia masukkan ke dalam kulkas.
"Ya... pria sombong dan songong itu, Bu. Siapa lagi memangnya!” maki Melia.
“Jangan ngadi-ngadi deh, kelihatannya dia itu baik, sopan dan hormat lagi sama orang tua. Ciri-ciri mantu idaman Ibu-ibu itu!” goda Zahra sembari melihat ekspresi wajah Melia.
“Dari segi mananya Ibu bilang dia sopan, baik dan hormat orang tua?" timpal Melia.
“Ya.. ibu tahu saja, toh buktinya saat dia ke rumah pun dia sopan banget dan itu juga kita bisa rasakan, orang yang beneran tulus dan orang yang pura-pura,” jelas Zahra.
“Eits, tunggu dulu, tadi ibu bilang kalau dia ke rumah!” tanya Melia yang diangguki oleh Zahra.
"Apa jangan-jangan—apa dia yang berikan hadiah mahal itu!!” ucap Melia yang baru tersadar kalau sedari tadi yang Zahra bahas itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang kemarin malam datang ke rumahnya.
"Loh, memangnya kamu baru sadar!” tanya Zahra dengan ekspresi bingung.
"Lagian ya Mel, dia itu kelihatannya sangat sayang sama bundanya, buktinya saja dia datang ke kantor polisi dengan cepat setelah tahu bundanya terkena masalah, padahal kan tadi Ibu dengar dia sedang ada rapat! Baik banget ya dia," sambung Zahra.
Melia menghela napasnya, “Terserah Ibu saja deh, Melia mau siap-siap dulu, entar malam aku harus pergi ke pesta ulang tahun perusahaan klien VVIP klub kami,” ucapnya sembari beranjak dari meja makan menuju kamarnya.
“Kamu perginya sama siapa Mel??” teriak Zahra.
“Kayaknya sama Paman Roki deh, tapi lihat entahlah Bu,” sahut Melia.
__ADS_1
...****************...