
Antara dan Weni terus saja berdebat karena keinginan Weni yang ingin ikut pulang bersamanya dan kedua menantunya itu. Weni meyakinkan anaknya jika kondisinya sudah membaik.
"Biarin aja deh, bunda ikut pulang. Toh kamu lihat sendiri 'kan jika bunda sudah terlihat lebih sehat!" Cetus Karin.
Rencananya sore ini, Antara dan Melia akan pulang ke rumah guna mengambil pakaian ganti sebelum nantinya kembali lagi ke rumah sakit, namun karena sang bunda yang ngotot ingin pulang, pada akhirnya Antara pun pasrah dengan keinginan sang bunda, dia tak ingin membuat kondisi kesehatannya kembali drop. Dan akhirnya mereka pun pulang berempat dengan menggunakan 1 mobil yang sama.
Awalnya Melia yang akan duduk di kursi depan menemani sang suami namun, tiba-tiba Karin menyerobot masuk dan duduk didepan. Melia hanya bisa mendesah pelan melihat kelakuan Karin di hari pertamanya sebagai madu. Sedang Antara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri keduanya itu. Setelah memapah Weni masuk ke dalam mobil, akhirnya mobil yang mereka naiki melaju kencang membelah jalan raya menuju rumahnya.
...……...
Sesampainya di rumah, Melia dan Karin masih termangu menatap sebuah pintu kamar. Mereka bingung apakah harus masuk atau tidak. Terlebih Melia saat melihat Karin yang ikut menyusulnya dan Antara naik ke lantai 2. Seingat Melia di lantai 2 hanya ada 2 kamar, kamar miliknya dengan Antara serta kamar milik Weni. Sedang kamar tamu berada di lantai 1.
"Awas, minggir!"
Karin menyenggol tubuh Melia agar segera menjauh dari pintu yang menghalanginya masuk ke dalam kamar. Karin segera masuk dan meletakkan koper yang sudah diangkatnya dengan susah payah karena Antara tak ingin mengangkat koper miliknya. Masih teringat jelas kata-kata suaminya itu saat dirinya meminta kopernya dibawakan ke atas.
An, itu koperku. Tolong angkatin ya ke kamar!
Angkat sendiri!!
Tampak Antara yang sedang mandi membuka pintu kamar mandi dan berteriak pada sang istri meminta tolong diambilkan handuk.
"Sayang, tolong ambilin handuk ya, aku lupa bawa tadi."
Melia yang baru masuk ke dalam kamar pun mendengar teriakan sang suami meminta handuk. Melia lantas bergegas mengambilkan handuk dan menyerahkannya pada sang suami yang sedang mandi.
Tak disangka saat Melia mengulurkan tangannya sambil memberikan handuk, Antara yang telanjang di dalam kamar mandi tak hanya meraih handuk tapi juga tangan sang istri serta segera menarik dan mengajak sang istri untuk masuk ke bilik kaca tempat ia mandi. Melia yang berusaha menolak pun akhirnya kalah dan pasrah masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"An, ini handuknya!" Panggil Karin.
Karena masih belum mengetahui letak penyimpanan barang-barang milik suaminya, Karin mengambilkan handuk bersih miliknya lalu membawa handuk tersebut menuju kamar mandi. Namun tak disangka saat akan mengetuk pintu kamar mandi, Karin mendengar suara tawa serta cekikikan dari dalam sana, belum lagi saat mendengar suara lenguhan Melia yang entah apa yang dilakukan antara hingga membuat Melia mengadu nikmat.
"Sayang, buka mulutmu," ucap Antara saat tak menerima balasan ciuman dari sang istri.
"Aah, Mas!"
Melia mendesah saat Antara yang berhasil membuka pengait gunung kembarnya dan mengecup pucuknya dengan rakus. Antara semakin melancarkan aksinya saat melihat tubuh sang istri yang sudah naked tanpa sehelai benang pun. Antara menciumi setiap inci leher Melia yang berada dalam kungkungannya.
"Kita belum pernah bukan olahraga di kamar mandi!" Bisik Antara namun masih jelas terdengar di telinga Karin.
"Apa kamu sudah lupa saat kita berada di kapal pesiar dan hotel saat itu!" jawab Melia dengan tersenyum kecut saat mengingat bagaimana dirinya saat itu yang hampir tak bisa berjalan karenanya.
Antara tergelak. "Kan itu di bathtub, Sayang! Kita belum pernah mencoba gaya standing. Bagaimana!" Goda Antara menaikkannya kedua alisnya bersamaan hingga membuat Melia pada akhirnya mengangguk pelan dengan tersipu malu.
Sialan, awas kamu Mel!!
Karin mengepalkan kedua tangannya membayangkan adegan yang akan terjadi setelahnya serta mengutuk Melia yang sudah pasti dirinyalah yang sudah menggoda Antara. Karin segera pergi dari sana, membawa rasa panas di hatinya.
Setelah satu jam, mereka akhirnya keluar dari kamar mandi setelah melakukan olahraga suami-istri. Wajah sumringah keduanya membuat Karin yang sejak tadi menunggunya pun menjadi emosi.
"Enak-enakan ya kalian di dalam sana! Apa kalian nggak mikirin perasaanku!" ucap Karin dengan emosi, " Dan kamu, Mel. Bukannya kamu tahu kalau ini hari pertama aku dan Antara sebagai pasangan suami-istri, kenapa sih kamu enggak bisa sedikit saja memberikanku riang untuk berduaan!" Sambung Karin berkacak pinggang.
Antara pun kaget saat melihat Karin yang berada di dalam kamarnya.
"Harusnya aku yang bilang kenapa kamu masuk kedalam kamar kami! Kamu bukan anak kecil yang tak tahu jika suami-istri butuh privacy."
__ADS_1
"Lalu aku harus tidur dimana? Bukankah kita sudah suami-istri! Jadi wajar dong aku tidur dimana suamiku berada!" Karin tak terima dengan perkataan suaminya itu.
"Terserah, kamu mau tidur di mana saja! Asal bukan di kamarku, camkan itu baik-baik."
Antara menarik tangan Melia menuju ruang wardrobe miliknya dan meninggalkan Karin yang masih termangu menatap punggung suaminya yang pergi membawa istri pertamanya.
Perkataan pedas suaminya itu sangat membekas hatinya.
"Baiklah kalau itu maumu, ternyata kamu masih begitu sombong dan jual mahal padaku. Kalau dengan cara yang lembut kamu tak mempan, mungkin dengan menjebakmu lagi bisa membuat kesombonganmu itu runtuh."
"Tunggu saja tanggal mainnya." Karin menyeret kembali kopernya dan mengangkatnya turun ke lantai bawah. Koper yang sangat berat itupun tak lagi dirasakan saat hatinya sedang panas membara.
Karin yang akan masuk ke kamar, menghentikan langkahnya saat mendengar ejekan Weni.
"Apa aku bilang! Kamu sih nggak percaya perkataan Bunda tadi. Aku sudah bilang jika Antara hanya terpaksa menikah denganmu tanpa menganggapmu sebagai istrinya. Harusnya kamu cukup bersabar menunggu Antara luluh padamu! Dia tipe pria yang tak suka dikejar. Lihatlah Melia, tanpa bekerja keras pun meraih perhatian Antara, dia dengan mudahnya mendapatkan perhatiannya. Malah Antara yang mengejarnya bak orang gila."
Perkataan ibu mertuanya itu membuat Karin semakin mendidih.
"Bunda lihat saja sendiri nanti bagaimana caraku membuat anakmu yang sombong itu jatuh dipelukanku. Dan ingat! Aku bukan Melia, wanita bodoh yang dengan suka rela memberikan suaminya pada wanita lain!" Karin yang akan membuka pintu kamarnya pun kembali mengurungkan niatnya lalu menoleh ke arah Weni yang masih menatapnya dengan pandangan yang entah.
"Dan ya, bunda sampai disini harus memilih sedang berdiri di kubu mana, karena bukan tak mungkin jika aku akan menyingkirkan orang-orang yang membuatku marah."
Karin masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat Weni terperanjat karena kaget.
"Dasar! Menantu setan!" pekik Weni saat pintu kamar Karin tertutup.
...****************...
__ADS_1