JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Pengen Cucu!


__ADS_3

Antara menghela napasnya saat sudah sampai di dalam kantornya. "Kenapa lo, Bro!" sapa Malik saat melihat sahabatnya itu masuk dengan wajah tertekuk.


"Nggak ada!" ketus, Antara.


"Jangan bohong sama gue. Wajah cemberut plus ditekuk seperti itu, bohong kalau nggak terjadi apa-apa. Ceritain, masalahnya sama siapa? Istri tua apa istri muda!" Entah perkataannya adalah sebuah ejekan atau godaan.


"Cih, gayamu, Mal.. Mal, sudah seperti terapis konseling pernikahan saja," Cibir Antara.


"Sebenarnya ada apa sih, jujur deh. Muka lo tuh ya sumpah jelek banget." tanya, Malik penasaran.


Antara menghela napas, "Aku tuh bingung sama Melia, kenapa dia terus menerus membahas soal hubunganku dan Karin. Kan dia tahu kalau pernikahanku dengan Karin itu hanya sebuah keterpaksaan. Dia menjebakku saat itu, dan bundaku pun sakit karena dia, jadi bagaimana bisa aku ada rasa padanya, yang ada hanya kebencian saja," tandasnya.


"Elo jangan egois juga, An. Gue bisa ngerasain bagaimana rasanya jadi Melia. Disatu sisi dia ingin bersikap normal seperti dulu tapi disisi lain, ada hati wanita lain yang tersakiti. Menurut lo itu nggak buat beban di hati dia, huh! Terlebih lo bilang kalau Karin terus terusan menekan Melia buat kamu berbuat adil. Jadi menurutku, apa yang Melia minta itu sama lo itu wajar sih, bagaimana pun, Karin juga berhak atas tubuh loh itu!" Kata, Malik seraya menunjuk bagian inti Antara.


"Gila kamu, Mal! Mana bisa aku gituan sama, Karin. Aku cintanya sama Melia, jadi gak mungkin aku melakukannya sama, Karin." pungkas Antara.


"Ya kalau mau gituan juga walau gak cinta pasti berdiri tu junior lo," Malik tertawa terpingkal-pingkal membayangkannya. Sedang Antara memilih tak menanggapi perkataan sahabatnya itu, ia lebih memilih menyibukkan dirinya dari pada harus memikirkan apa yang dikatakan, Malik.


......................


Suara ketukan kamarnya membuyarkan lamunan, Melia di dalam sana. Ya, sejak pagi hingga siang ini, Melia tak kunjung keluar dari kamarnya, membuat Weni merasa ada yang salah pada menantunya itu. Tak biasanya, Melia mengurung diri di dalam kamar, biasanya setelah sarapan, Melia pasti mencari kesibukan entah ia akan menyiram bunga atau melakukan pekerjaan lainnya.


"Mel.. Melia! Ini Bunda. Bukain pintunya!" teriak, Weni dari luar.


Melia berjalan dengan gontai menuju pintu kamarnya. Dengan ragu ia membuka perlahan pintu kamarnya.

__ADS_1


Weni masuk begitu saja ke dalam kamar sang anak dan duduk di tepi ranjang besi tersebut. "Ayo, sini duduk. Ada yang ingin Bunda tanyakan!" Weni menepuk sisi lain kasur itu.


Melia menurut dan duduk tepat di sampingnya.


"Sebenarnya kalian berdua itu kenapa? Kalian bertengkar semalam!" Melia yang ditanya pun tak menjawab juga tak mengelak. Weni menghela napas ke udara. "Karena, Karin lagi!" tebak Weni, kali ini Melia mengangguk pelan.


"Apalagi yang dilakukan, Karin!" tanya Weni tak suka.


"Dia meminta haknya sebagai istri, Bun. Melia sudah bilang kalau Melia tak pernah melarang, Mas Antara menunaikan kewajibannya pada, Karin. Tapi memang, Mas Antara sendiri yang gak mau, bukan karena Melia yang melarang," jelas, Melia.


"Huh, Antara memang anaknya keras kepala. Dulu aja mau, Bunda jodohin sama anak teman, Bunda. Tapi dianya gak mau, katanya mau nyari sendiri, tiap diajak kencan buta juga banyak banget alasannya, bukan keras kepala itu namanya! Orang tua mau kasih yang terbaik malah nggak mau!" keluh Weni.


Melia menggeleng kepalanya pelan mendengar keluhan ibu mertuanya, "Kalau itu sih kepengenan bunda aja cari yang kaya!" Batin Melia.


"Biar nanti, Bunda yang bantu bicara soal ini ke Antara. Tapi.. kamu belum jawab pertanyaan, Bunda tadi. Kalian nggak nunda 'kan memiliki momongan!?"


"Iya, tapi sampai kapan nunggunya? Kalian sudah 2 tahun loh! Jangan terlalu santai soal momongan, nanti keterusan eh.. malah gak dapat."


Setelah kepergian Ibu mertuanya, Melia memikirkan apa yang dikatakan Weni tadi padanya. "Apa iya, ada masalah padaku atau mas Antara! Apa karena terlalu menikmati kebersamaan kami hingga tak memikirkan soal anak." Melia bermonolog sembari memikirkan semua kemungkinan yang ada.


......................


"Bunda dari mana?" tanya Karin saat melihat sang mertua keluar dari kamar, Melia.


"Astaga, Karin! Kamu ngagetin, Bunda tahu!"

__ADS_1


"Memangnya apa yang, Bunda lakuin disana? Jangan bilang kalian lagi ghibah-in aku ya!" tebak asal, Karin.


"Bukan! Bukan soal kamu, puas!" Weni berjalan meninggalkan, Karin yang tampak masih penasaran dengan apa yang dia bicarakan.


"Terus, kalau bukan soal, Karin, kenapa tadi aku dengar namaku disebut-sebut?! Oops." Karin menutup mulutnya sendiri saat sadar telah keceplosan kalau sudah menguping pembicaraannya dengan, Melia.


"Kamu nguping? Kamu sengaja mendengar pembicaraan kami!" tuding Weni.


"Eh, nggak Bun. Jangan salah paham dulu. Orang tadi aku nyariin, Bunda kok. Eh pas aku mau turun malah dengar namaku disebut-sebut. Karena penasaran, terpaksa deh mendengar sedikit pembicaraan kalian." jelas, Karin pada ibu mertuanya.


"Beneran!" selidik Weni seraya menatap wajah menantu keduanya intens.


"Iya, Bun. Buat apa coba aku mau nguping! Kayak penting aja buat aku," elak, Karin. Tak mungkin dia mengaku jika dia sebenarnya sengaja menguping pembicaraan Melia dan mertuanya itu. Walau sudah berusaha keras untuk bisa mendengar pembicaraan mereka, namun tetap saja hanya suara samar yang terdengar.


"Oh iya hampir lupa. Kamu itu bisa nggak sih nggak nuntut Melia soal Antara! Asal kamu tahu, Antara itu anaknya keras kepala, bahkan sama Bunda saja akhirnya mau menyetujui menikahiku itu harus dengan pura-pura hampir mati. Kamu cari cara sendiri agar dia mau melirikmu, jangan Melia terus kamu tuntut ini dan itu, bagaimana caranya dia bisa cepat hamil kalau kamu buat dia stres!"


"Stres?" ulang, Karin.


"Iya, Mungkin dia stres karena setelah pernikahan kalian, Melia dan Antara sering bertengkar karena Melia terus membujuk Antara untuk bisa menerima kamu sebagai istrinya. Dia juga bilang kalau sudah ikhlas dimadu, tapi setelah semalam mereka bertengkar, Melia akhirnya memilih menyerah untuk meminta Antara menerimamu."


Karin nampak berpikir, memang benar selama ini dia terus menuntut Melia agar bisa membujuk, Antara untuk menyentuhnya. Tapi itu dia lakukan karena Antara selalu saja menolaknya, hingga dia frustasi dan melampiaskan semuanya pada, Melia.


"Pikirkanlah sendiri cara agar, Antara mau melirikmu. Bunda sudah makin tua, semua teman arisan, Bunda juga selalu pamerin cucunya. Bunda 'kan juga pengen kayak mereka, nimang cucu!" lanjutnya dan berlalu menuju ruang keluarga dimana dia sering menghabiskan waktunya menonton sinetron kesukaannya.


Karin menatap punggung mertuanya yang semakin jauh dari pandangannya. "Baiklah, karena ibumu saja juga setuju, aku akan buat kamu jatuh dipelukanku dengan caraku," ucap, Karin dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2