JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Menjadikanmu Milik


__ADS_3

Malam harinya..


Melia yang baru selesai berdandan, kini di sibukkan dengan mencari baju yang akan dikenakan malam ini, namun tak ada satu pun yang cocok dengan tema pesta yang akan dihadirinya malam ini.


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar suara ketukan pintu, membuat konsentrasi Melia teralihkan. "Masuk, Bu. Enggak di kunci kok!" seru Melia.


"Astaga!!"


"Melia!!"


"Lihatlah, kamarmu sudah mirip kapal pecah," ucap Zahra saat melihat kamar Melia yang berantakan. Terlihat dari beberapa baju yang berserakan di atas kasur ataupun sofa di kamarnya. "Dan... apa ini! Kamu belum juga bersiap, mau pergi jam berapa Mel, kamu bisa-bisa terlambat pas sampai disana," sambungnya.


“Duh Bu, Melia enggak punya baju yang cocok sama tema pestanya 'kan tamu yang di undang harus datang menggunakan dress code yang sudah ditentukan penyelenggara acara,” ucapnya dengan lemas.


“Hem, memang warna dress code Nya itu apa?”


“Hitam Bu, tapi harus long dress," jawab Melia.


“Hitam ya!” ucap ulang Zahra sambil berpikir, “kayaknya ibu punya satu deh, tapi enggak tahu apa ukurannya pas di badan kamu atau enggak!” ucap Zahra dengan ragu.


“Aku kira Ibu paling enggak suka ke pesta, kok punya gaun!”


“Itu gaun yang diberikan Roki pada Ibu, hadiah ulang tahun ibu waktu itu, tapi ya.. ternyata enggak pernah di pakai walau sekali,” jawab Zahra sembari tertawa kecil.


“Ihh, ibu kenapa? Kok ketawa begitu? Ada hal lucu ya!” goda Melia.


“Enggak ada apa-apa kok, ibu cuma ingat masa lalu saja,” balas Zahra sembari tersenyum lebar.


Melia menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ayo buruan, ikut Ibu!" ajak Zahra menuju kamarnya.


“Wah, wah, wah... anak Ibu cantik banget, ukurannya juga pas di badan kamu.” Puji Zahra sembari membantu Melia merapikan gaun yang di cobanya.


-


“Melia berangkat ya Bu.” Ucapnya sembari mencium tangan Zahra takzim.


“Hati-hati sayang,” balasnya. Zahra masih setia berdiri memandang mobil yang membawa putrinya.


Air matanya menetes tatkala melihat Melia yang begitu cantik malam ini. "Wajahmu mirip dengannya. Andai saja waktu itu Ibu tidak egois, pasti kamu bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah, paling tidak dia tahu bahwa kamu ada di dunia ini," terdengar suara helaan nafas panjang Zahra saat sekelebat bayangan masa lalu hadir di pikirannya setiap kali ia melihat wajah Melia, wajah yang sangat mirip dengan pria yang sudah merebut kehormatannya malam itu.


Roki yang harusnya pergi bersama Melia ke pesta, terpaksa harus membatalkan dan membiarkan Melia pergi seorang diri sebab ia harus menyelesaikan masalah yang tiba-tiba terjadi di klubnya.


Di lain tempat, terlihat Antara dengan gagahnya turun dari lantai dua kamarnya memakai pakaian formal lengkap dengan jas hitam serta dasi kupu-kupu yang makin membuat tampilannya semakin sempurna.


Bunda Weni yang melihatnya pun begitu terpesona karenanya.


“Wah, anak Bunda tampan sekali malam ini, mau ke mana sih?”


“Mau ke pesta ulang tahun salah satu klien besar perusahaan Antara Bun,” jawabnya sembari duduk di sofa depan.


“Mal—” belum sempat ia menjawab pertanyaan Weni, ponsel Antara tiba-tiba berdering. Tertera nama Malik di sana.


“Di mana kamu? Sudah jalan belum? Sudah jam berapa ini!” cecar Antara yang kesal karena sampai sekarang Malik belum juga datang menjemputnya.


“Duh, lu sabar napa. Gua belum ucap salam juga, sudah ditodong pertanyaan begitu!” gerutu Malik dari seberang telepon.


“Ya kamu juga sih, ini sudah jam berapa? Nanti kita telat loh!” sahut Antara.


“Ya maaf deh, kayaknya elu harus pergi sendiri. Perut gua mules banget, ini saja ada kali, 10 kali gua keluar masuk kamar mandi,”keluh Malik.


“Ya... pakai acara diare lagi, masa iya sih aku pergi sendiri, kayak kambing conge’ aku nanti di sana!!” protes Antara.


“Ya kali Tar, gua bisa minta berhenti, elu kira gua suka bolak balik gini.”

__ADS_1


Terdengar suara aneh namun sangat di kenal Antara.


Prett, preeeeeett!! (Suara)


“Aduh! Duh!” keluh Malik yang perutnya terasa di kobok-kobok.


Antara menghembuskan napasnya lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak, dia tahu kalau saat ini Malik pasti sibuk dengan kegiatan barunya setoran di kamar mandi.


“Kenapa?” tanya Weni saat mendengar embusan napas Antara.


“### Enggak apa-apa Bun, aku jalan sekarang kalau begitu, takut nanti telat.” Pamit Antara yang langsung meraih tangan kanan sang Bunda dan menciumnya dengan takzim.


-


Melia terlebih dahulu sampai di lokasi pesta, tepatnya di salah satu hotel ternama di kotanya . Saat akan masuk, Melia dengan santai memberikan undangan yang ditunjukkan pada panitia pesta tersebut, namun sayang, saat dirinya akan melangkah masuk, langkahnya terhenti saat salah satu panitia acara yang berjaga di depan pintu aula acara tersebut menghentikannya.


“Loh, ada apa ini!” tanya Melia yang terkejut karena dirinya di larang masuk ke dalam Aula pesta.


“Maaf mbak, kami tak bermaksud lain, tapi ini memang sudah prosedur yang setiap tamu harus sesuaikan dengan tema pesta malam ini,” ucap petugas tersebut sembari menunjukkan tema pesta yang bertuliskan ‘COUPLE GOALS’.


Mata Melia membulat sempurna saat membacanya dalam hati. Melia pun merutuki dirinya yang tidak memperhatikan dengan jelas poin penting yang tertera di dalam undangan tersebut.


“Dia datang bersamaku,” ucap seorang pria dari arah belakang dengan suara bariton.


Para panitia dan khususnya Melia, tak luput dari rasa keterkejutannya.”


“Ah, dia lagi!!” gumam Melia. Ia sangat terkejut melihat Antara yang berada di hadapannya saat ini terlebih kini merangkul pinggangnya dengan erat.


Antara tersenyum saat melihat reaksi wanita yang ada di hadapannya saat ini, “Ini sudah ke empat kalinya kita bertemu, dan saat pertemuan kelima nanti, akan ku pastikan kau akan menjadi milikku,” bisik Antara di sela-sela rambut Melia yang menutupi telinganya. Hingga membuat bulu kuduknya bergidik.


"Apa!!” lirik Melia dengan tajam. Ia ingin memprotes perkataan aneh Antara, namun tiba-tiba saja Antara mengedipkan matanya. Awalnya Melia tak sadar maksud dari kedipan tersebut, namun karena Antara semakin memeluk pinggangnya dengan posesif, akhirnya Melia mengerti setelah Antara memberikan kembali sebuah kode, namun sedikit berbeda, kali ini menggunakan kedua netranya, seakan sedang berbicara kalau mereka harus berakting agar mereka berdua di izinkan masuk oleh panitia acara tersebut. Dengan terpaksa Melia melakoni akting tersebut dengan baik dan penuh penghayatan agar terlihat alami bak sepasang kekasih.


“Ah iya, kamu ke mana saja? Aku cariin juga!' Ucap Melia sembari mencubit pinggang Antara dengan cukup keras hingga membuat si empunya pinggang mengadu kesakitan.


Bukannya kesal dengan perbuatan Melia, Antara malah semakin mendalami perannya sebagai seorang kekasih. Entah karena terlalu mendalami atau mencari kesempatan dalam kesempitan, Antara dengan berani mengecup pipi Melia dengan singkat hingga membuat Melia melotot melihat tingkah Antara yang semakin berani padanya.

__ADS_1


Andai bukan karena menghormati Roki yang memintanya secara langsung, Melia pasti sudah pulang sejak tadi, namun karena tidak ada yang bisa menggantikan beliau, akhirnya dengan terpaksa Melia tak lagi mempermasalahkan setiap perlakuan Antara padanya, walau ia harus berjuang menahan kekesalannya pada Antara yang sudah berani mengecup pipinya, walau singkat namun hal itu sudah melanggar prinsip yang selama ini dipegangnya, kalau hanya suaminya lah yang akan merasakan setiap inci tubuhnya pertama kali.


...****************...


__ADS_2