
"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Weni lega, bagaimana tidak cemas setelah 2 jam akhirnya Melia sadar dari pingsannya. "Bagaimana perasaan mu?" tanya Weni lagi. Melia tersenyum tipis menanggapi perhatian yang diberikan ibu mertuanya. "Lihat! Bunda bawa siapa," imbuhnya seraya menunjuk pintu kamarnya.
"Ibu!" kata Melia dengan suara lemah. Ia begitu terkejut melihat kedatangan sang ibu dirumah mertuanya. Pasalnya Weni tak pernah setuju jika Melia mengajak ibunya datang ke rumahnya, dia tak ingin sampai orang-orang tahu jika dirinya mempunyai besan yang tidak sederajat dengannya.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajahmu begitu pucat!" Zahra menghampiri sang anak yang tengah terbaring lemas di atas kasurnya. Terlihat wajahnya begitu pucat.
Melia mengulas senyum, ia bahagia akhirnya bisa bertemu langsung dengan ibunya sejak terakhir kali mereka bertemu di pesta pengangkatan suaminya kala itu. Setelahnya mereka hanya berkomunikasi melalui pesan chat dan video call saja. Bukannya Melia tak mau bertemu namun, dia takut jika bertemu, dia tak bisa menutupi kesedihannya yang akan menambah beban hati dan pikiran ibunya.
"Mel rindu, Ibu!" ucap Melia dengan lirih, ia tak menjawab pertanyaan Zahra, baginya saat ini ia butuh pelukan dari orang yang disayanginya, pelukan yang akan membuatnya kuat.
Zahra memeluk putri semata wayangnya dengan erat, tanpa Melia bicara pun, Zahra tahu apa yang dirasakan anaknya. Ia tahu betul sifat dan watak Melia, maka dari itu dirinya tak pernah menuntut pada Melia untuk bertemu, walau rasa rindu begitu menyiksa batinnya.
Weni memilih keluar dari kamar sang menantu dan memberikan mereka ruang untuk bisa berbicara dari hati ke hati. Setelah berpamitan dengan besannya, Zahra, Weni menyusul Antara ke rumah sakit. Hubungan kedua besan itu memang tidak terlalu baik, ralat, hanya Weni yang merasa demikian sebab selama ini, Zahra tak pernah menaruh rasa benci apalagi dendam pada mertua putrinya itu. Ia yakin jika semua yang terjadi di dalam hidup sang putri adalah salah satu bentuk rasa sayang Sang Khaliq kepada umatnya.
***
"Karin, aku mohon, makanlah walau hanya sesuap. Kamu jangan egois begini, ingat di dalam tubuhmu ada janin yang harus kamu beri makan!" Antara memijat pangkal hidungnya, ia begitu frustrasi menghadapi tingkah Karin yang keras kepala. Sejak semalam ia tak kunjung membuka mulutnya. Jika saja, Karin saat ini tidak sedang mengandung, tentunya Antara tak akan ambil pusing.
Antara menoleh ke arah pintu saat terdengar pintu terbuka. "Bunda!" seru Antara saat melihat orang yang masuk adalah sang bunda.
"Bagaimana, Karin? Apa yang dokter katakan!" tanya Weni penasaran.
__ADS_1
"Aku keluar dulu. Aku harap, saat aku masuk nanti, kamu sudah mau makan," ucapnya dengan datar, lalu menarik lengan sang bunda dengan lembut menuju pintu.
"Ada apa sih, An! Karin memangnya kenapa? Dan ya, kamu belum menjawab pertanyaan, Bunda." kata Weni sesaat setelah pintu kamar Karin tertutup.
"Ada yang ingin, Antara katakan sama bunda!" Antara mengajak sang bunda duduk tepat di samping kamar inap Karin.
"Sebenarnya ada apa sih? Karin kenapa?" tanya Weni ulang.
"Karin beneran hamil, Bun. Dan kemarin benar kata, Bunda kalau Karin mengalami pendarahan."
Terdengar suara helaan napas Weni sesaat setelah mendengar kabar pendarahan Karin. "Jadi dia keguguran!" seru Weni.
"Alhamdulillah, janinnya masih bisa diselamatkan. Tapi kata Dokter, kehamilan Karin itu berisiko, Bun. Kandungannya lemah jadi disuruh Dokter untuk bedrest total untuk menghindari keluarnya darah lagi." tutur Antara.
"Dokter bilang, kita harus bisa menjaga emosi, Karin karena hal itu bisa mempengaruhi kesehatan janinnya. Jadi Antara harap, Bunda bisa menahan diri untuk tidak terprovokasi oleh sikap Karin jika ia berulah."
"Huh! Sepertinya susah, An. Karin 'kan tukang cari masalah!" seru Weni mengingat bagaimana selama ini Karin yang selalu mencari-cari masalah baik dengan Melia maupun dirinya.
"Maka dari itu, Antara mohon Bunda bisa bersabar lagi. Ini demi janin yang dikandungnya, Bun. Akan beresiko untuk mental Karin jika sampai dirinya harus kehilangan janin dalam kandungannya," Weni mengangguk cepat mengiyakan apa yang diminta Antara padanya.
"Lalu, Melia bagaimana, An! Dia juga istrimu dan dia juga lagi sakit, mukanya pucat sekali. Bunda jadi gak tega kasih tahu soal ini padanya."
__ADS_1
"Antara menghela napasnya panjang. Karena itu, bunda bisa menemani Karin hari ini. Sementara aku pulang dan melihat kondisi, Melia dirumah." pungkas Antara.
Ya, sejak tadi pikirannya juga tak tenang di rumah sakit karena memikirkan Melia yang juga lagi sakit dirumah. Jika bisa memilih tentunya, Antara lebih memilih berada disamping, Melia namun, karena kondisi Karin saat itu lebih membutuhkannya maka mau tidak mau, di harus mau. Walau bagaimanapun juga, Karin sudah menjadi tanggung jawabnya.
Sebelum pulang, Antara berpamitan pada, Karin jika ia akan pulang sebentar untuk mengambil baju ganti dan perlengkapan mereka lainnya selama di rumah sakit. Awalnya, Karin tidak mau ditinggal oleh Antara, namun setelah dibujuk akhirnya ia menginginkan Antara pulang namun, dengan satu catatan bahwa ia akan kembali secepatnya. Walau kesal, namun ia tak bisa menolak permintaannya, terlebih tadi Karin kembali mengalami kontraksi pada otot rahimnya. Hingga mau tak mau, Antara harus bisa mengontrol suasana hati Karin agar bisa rileks.
"Cepat kembali, An. Anak kita mau di samping Papanya terus." kata Karin seraya menahan tangan Antara yang hendak melangkah dari sisinya.
Antara tak menjawab perkataan, Karin. Hingga saat melihat Karin meringis menahan rasa sakit pada perutnya, akhirnya ia mengiyakan dengan cepat permintaan Karin. "Tapi janji, kamu beneran hanya sebentar ya!" Lagi-lagi Antara harus menahan egonya saat melihat wajah Karin yang sedang menahan sakit.
***
"Sayang, makan dulu ya, ini Ibu buatin kamu bubur ayam kesukaanmu setelah itu kamu minum obat." Kata Zahra seraya menyuapkan bubur kesukaan Melia.
Melia seperti bayi yang memakan makanannya dengan begitu tenang hingga tandas tak bersisa. Bahkan untuk mengatakan jika dia sudah kenyang pun rasanya tak sanggup. Zahra begitu telaten mengurusi Melia yang lagi sakit. Ia ingat betul saat dirinya masuk rumah sakit, anaknya itupun begitu telaten mengurusinya hingga Melia memilih untuk cuti sementara waktu di klub kala itu hanya untuk mengurusnya.
Melia tertidur setelah dirinya minum obat. Zahra begitu lega saat memeriksa suhu tubuh sang putri yang akhirnya berangsur turun.
"Alhamdulillah, demamnya sudah turun, semoga besok sudah gak demam lagi," ucap Zahra yang meniatkannya sebagai doa untuk kesehatan putrinya.
Zahra membelai surai hitam Melia dengan lembut. "Kamu pasti bisa, Sayang melewati semua ini, Ibu yakin kamu pasti kuat!" ucap Zahra dalam batin.
__ADS_1
...****************...