
Melia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini, jangankan melangkah, menelan salivanya saja begitu berat. Melia masih menetralkan hatinya yang bergemuruh oleh pertanyaan suaminya.
Benarkah ini yang dia inginkan?
Benarkah setelah ini hidupnya akan tentram dan damai?
Akankah hatinya tak terluka karena hati sesama wanita yang dia bela akan mendapatkan haknya sebagai seorang istri!
Apakah hatinya benar-benar ikhlas disaat nanti sang suami menerima, Karin sebagai istrinya!
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya. Namun, satu hal yang dipercayai oleh Melia, jika perbuatan baik pasti akan kembali pada diri kita sendiri. Melia sudah memikirkan semuanya, ia yakin pada Antara jika dirinya pasti bisa berbuat adil untuk kedua istrinya.
__ADS_1
"Aku yakin, Mas. Aku yakin pada keputusanku, karena apa? Karena aku yakin, jika kamu pasti bisa berbuat adil pada kami, aku yakin kamu bisa membagi waktumu untuk kami!" Imbuhnya, dan tanpa terasa bulir bening menetes bebas membasahi pipi mulusnya.
Cekalan tangan yang tadinya digenggam begitu erat oleh Antara perlahan merenggang dan terlepas begitu saja. Melia tahu jika pasti saat ini sang suami sangat kecewa pada keputusan yang diambilnya. Namun entah mengapa ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang hatinya. Dadanya bergemuruh, entah rasa apa yang sedang dirasakan, Melia saat ini. Hatinya terasa kosong, nyawanya seakan tertarik dari raganya. Apakah definisi rasa yang dirasakannya saat ini adalah patah hati?!
Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalami yang namanya patah hati. Mendengar kata “patah hati” saja mungkin bisa terbayang sedihnya ketika harus berpisah dengan orang yang kita cintai dan kasihi. Begitu pedih sehingga dada terasa sesak dan sulit bernapas. Mungkin inilah yang saat ini sedang dialami, Melia, yakni 'sindrom patah hati'. Ya, meski namanya agak aneh, namun ternyata sindrom patah hati itu nyata.
Sindrom patah hati adalah kondisi medis yang benar terjadi. Penderitanya mengalami sesak dada yang intens-persis seperti serangan jantung. Itu terjadi saat mereka mengalami tekanan emosional yang mendalam seperti, kehilangan orang terkasih, putus cinta, dikhianati pasangan, perceraian, kehilangan pekerjaan atau masalah besar lainnya yang menyebabkan stres berlebihan.
Melia yang tadinya ingin keluar untuk menenangkan hatinya namun dicegah oleh, Antara, suaminya. "Tetap di kamar dan istirahatlah." Antara bersuara setelah lama membisu.
Terdengar hembusan napas Antara sebelum ia menoleh ke arah sang istri. "Bukankah kau ingin aku berbuat adil pada, Karin?! Jadi malam ini dan beberapa hari kedepannya, mungkin aku akan menghabiskan malamku bersamanya!" sahut Antara dengan wajah sendu.
__ADS_1
Melia yang mendengarnya pun seakan tercekat. Ia tak lagi bertanya atas jawaban suaminya. Entah sudah berapa kali ia mengerjap matanya.
"Aku tak boleh seperti ini! Bukankah aku yang memintanya untuk berbuat adil! Tapi … aah—" ucapannya terjeda sesaat saat rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. "Huh, tapi kenapa rasanya sesakit ini!" ucapnya sembari meremas dadanya kuat-kuat, berharap rasa sakit itu bisa menghilang.
Antara sudah lama meninggalkan Melia sendirian di dalam kamarnya. Melia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, namun entah kenapa sampai tengah malam tiba, namun ia tetap tak bisa tertidur. Melia terus berguling kesana kemari dengan gelisah. Pikirannya terus tertuju pada Antara.
Apa yang sedang ia lakukan?
Apakah suaminya itu dan Karin sudah melakukannya atau tidak!
Pertanyaan demi pertanyaan semakin lama semakin banyak hingga memenuhi isi kepalanya. Belum lagi saat ia mencoba menutup matanya, bayangan Antara dan Karin yang terlihat jelas saat mereka sedang memadu kasih dengan panasnya di atas ranjang mereka. Dengan cepat, Melia menggelengkan kepalanya, berharap apa yang dibayangkannya tidak pernah terjadi.
__ADS_1
"Ayo, Mel, kamu pasti bisa! Lapangkan hatimu dan bersiaplah dengan segala konsekuensi dari apa yang kamu putuskan." Melia bermonolog.
......................