JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Hidupku (mu) Tak Tenang


__ADS_3

Melia masih terus memandangi tiket yang dipegangnya. “Apa aku jual saja!” gumamnya namun masih bisa didengar oleh Antara.


Dengan cepat Antara mengambil tiket yang dipegang Melia, “BIG NO!!” ucapnya.


Melia menatap tak percaya pria di hadapannya ini, “Woi, santai Mas.”


“Ya kamu juga, masa iya tiket kita kamu mau jual, kamu itu punya side job juga sebagai calo tiket!!" protes Antara, ia tak terima jika rencananya harus gagal karena rencana konyol Melia yang ingin menjual tiket liburan tersebut.


“Cih,” cibir Melia.


“Kenapa memangnya? Bukannya tiket liburan bersama ini memang khusus untuk kita berdua, jadi kenapa harus dijual!!” ucap Antara saat Melia mencibir.


“Hei Mas!! Aku bukannya mau menjual tiket mu, yang aku bicarakan itu adalah tiketku sendiri, jadi suka-suka sayalah!” ucap Melia ketus.


“Melia Putri, wanita cantik yang akan menjadi bunda dari anak-anakku. Tiket ini hanya berlaku jika tiket ini ditukar oleh pasangan yang terdaftar di dalamnya, jadi saat mereka mau mengklaimnya, harus ditukarkan saat kita akan menaiki kapal pesiar tersebut," jelas Antara.


"Hati-hati sama omongan mu, kata-kata mu itu bisa jadi bumerang buatmu juga," ucap Melia yang merasa risih pada perkataan Antara barusan. "Kalau begitu, kamu beli saja tiket ku, terserah berapa harganya, asal tiket itu tak sia-sia begitu saja," tukas Melia yang mendapat tatapan dari Antara. Tatapan yang menelisik, bahkan Melia tak tahu maksud tatapan tersebut.


"Ada apa? Kenapa lihat-lihat! Ada yang salah dengan ucapanku!" cecar Melia.


"Bukan tiket yang kuinginkan Melia, tapi kau!!" pekik Antara dalam hati. Ingin rasanya ia mengungkapkan perasaannya pada Melia namun dengan sikap Melia yang masih dingin padanya, sudah barang tentu ia pasti akan di tolaknya.


Setelah beberapa detik menatap Melia, Antara mengalihkan pandangannya kembali ke depan, menatap tetesan hujan yang turun satu persatu dari kaca mobil sebelum dirinya benar-benar menjalankan mobilnya. Menerjang lebatnya hujan yang tiba-tiba saja turun dengan deras. Seakan alam ikut bersedih dengan apa yang dirasakannya malam ini. Penolakan Melia secara halus membuat hatinya bersedih.


"Eh, kok jalan!" ucap Melia saat menyadari kalau mobil yang dinaikinya bergerak.


"Memang kamu masih mau tinggal di sana!" jawab Antara datar tanpa menoleh ke arah Melia. Rasanya ia sudah tak bersemangat lagi malam ini.


"Ya enggak lah, tapi nggak pulang bareng kamu juga 'kan!" jawab Melia. Sontak Antara yang mendengarnya pun tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya jika aku yang mengantarmu pulang!" tanya Antara dengan menatap tajam kearah Melia.


"Enggak apa-apa, hanya saja aku kurang nyaman. Dan maaf jika itu membuatmu tersinggung," jawab Melia gugup karena kali pertama dia melihat Antara menatapnya seperti itu, tatapan tajam namun tersirat kesedihan di matanya hingga membuat Melia salah tingkah. Melia cepat-cepat membuang pandangannya, menatap kaca yang kini telah berembun.


Antara menghela nafas panjang sebelum berbicara pada Melia.


"Maaf jika membuatmu tak nyaman, hanya saja…aku yang tak akan tenang jika kamu pulang dengan orang lain. Jadi biarkan aku yang mengantarmu, lagi pula tak baik juga jika seorang wanita pulang larut malam begini, terlebih dengan pakaianmu seperti itu," tukas Antara.


Melia tak lagi menjawabnya, dia tak tahu mengapa ia begitu tak nyaman berada didekat orang yang baru dikenalnya, terlebih seorang pria.


Di sepanjang perjalanan, tak ada diantara mereka yang bersuara, hanya suara mesin kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya yang terdengar, serta bunyi air hujan yang mengguyur atap mobil.


Saat sampai di rumah Melia pun Antara masih diam tanpa kata saat Melia mengucapkan terima kasih karena sudah memberikannya tumpangan. Hingga membuat Melia makin tak enak hati.


"Ada apa dengannya!" gumam Melia sembari menatap mobil yang dikendarai Antara yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Ya, Bu."


"Kamu kenapa?" tanya Zahra heran.


"Gak apa-apa kok, yuk masuk!" ucap Melia sembari menuntun Zahra masuk ke dalam rumah.


"Ada apa sih? Kok mukanya gitu amat! Bukannya senang habis pulang dari pesta. Dan, tadi pulang kok nggak langsung masuk rumah, malah melamun dulu di depan!"


Melia menghela nafasnya.


"Enggak apa-apa Bu, kalau begitu Melia langsung masuk kamar ya. Mau bersih-bersih dulu habis itu langsung tidur, capek banget malam ini," kata Melia pada Zahra, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.


Melia terlihat kembali segar setelah ia mandi. Kini ia duduk di depan meja rias, menatap wajahnya sembari menghembuskan nafas panjang. Seakan ada beban berat yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


"Apa tadi dia tersinggung dengan ucapan ku! Tapi kenapa juga dia harus marah! Kan yang aku bilang memang seperti itu kenyataannya. Memang aku tak nyaman berada di dekatnya. Apa salah aku jujur!!" Melia terus bermonolog melontarkan pertanyaan pada pantulan dirinya.


Keesokan harinya


Matahari tiada henti menyinari bumi, menyapa setiap makhluk ciptaannya. Membuka awal dari kehidupan Antara hari ini. Seperti pagi ini, Antara yang memulai paginya dengan berolahraga, lari pagi menjadi pilihannya untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Udara di pagi hari sangat segar dan sejuk, membuatnya kembali bersemangat menjalani harinya.


Setelah sarapan, Antara pamit pada Weni dan tak lupa memberitahukan kalau malam ini ia akan kembali pulang malam karena beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.


Sudah lima belas menit Antara duduk terdiam di atas kursi kemudi. Menatap kaca mobil dihadapannya, sekelebat bayangan Melia terpampang jelas disana, sangat nyata hingga ucapan Melia pun masih jelas terngiang di telinganya.


"Apa aku menyerah saja!" ucapnya lirih.


Antara menghembuskan nafasnya panjang, berharap angin bisa membawa sebagian beban dihatinya. Hari yang panjang akan dilakoni Antara hari ini. Antara yang akan menjalankan mobilnya seketika terdiam saat perhatiannya teralihkan pada sebuah sebuah lembaran kertas yang bergerak tak tentu arah karena terpaan angin yang entah masuk dari mana.


"Kertas apa ini," gumamnya, meraih sebuah lembaran kertas.


"Ini...." Antara terdiam mengingat kejadian kemarin malam saat dirinya tak menggubris ucapan terima kasih Melia padanya.


"Apa aku terlalu kasar padanya," ucapnya dalam hati.


Di tempat berbeda, Melia bangun lebih awal dari biasanya, setelah sholat subuh ia tak lagi melanjutkan tidurnya seperti biasa. Entah mengapa hatinya tak tenang, sejak diantar Antara semalam, hatinya terus saja dihantui perasaan bersalah.


Melia menuju dapur berharap jika rasa itu bisa teralihkan jika dirinya memasak. Nasi goreng merah kini telah tersaji diatas meja makan. Sembari menunggu Zahra keluar dari kamar, Melia kembali ke kamarnya, dengan mandi mungkin bisa merilekskan pikirannya yang sejak semalam mengganggunya.


Dibawah guyuran air, Melia terus terngiang dengan dengan ucapannya pada Antara semalam.


"Ah, sial. Karena pria itu, hidupku jadi tak tenang begini."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2