JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bab. 93


__ADS_3

"An.. kamu gak anterin istri kamu pulang!" seru Weni menatap anaknya.


Antara menatap sang ibu lalu menggelengkan lalu menghembuskan napasnya ke udara.


"Kenapa, Nak? Kamu jangan membiarkan masalahmu terus berlarut larut seperti ini. Bukannya masalahnya cepat selesai, malah nanti akan semakin besar," kata Weni menasehati sang anak.


"Antara lelah, Bun. Antara lelah terus berdebat dengan Melia setiap kali membicarakan soal Karin. Antara mau fokus dulu pada pemulihan Karin dan Karen saat ini, biarlah masalahku dengannya aku selesaikan setelah urusan ini selesai." Pungkas Antara mengusap wajahnya dengan kasar.


"Terserah kamu sajalah kalau begitu. Pesan Bunda hanya satu, jangan terlalu keras pada Melia. Dia juga menderita, Nak, jangan sampai kamu kehilangan dia hanya karena keegoisan mu," ujar Weni.


Weni tak ingin terlalu mendesak sang anak karena dia pun tahu jika permasalahan yang sedang dihadapi sang anak memang cukup pelik. Di satu sisi dia harus memperhatikan sang anak dan satu lagi harus mempertahankan perkawinannya.


Bukannya Antara tak memikirkan soal hal itu, namun Antara tak ingin terlalu terbebani dengan semua permasalahannya sekaligus, dia ingin menyelesaikannya satu persatu agar tidak ada pihak yang tersakiti, walau itu sesuatu hal yang tak mungkin.


***


Melia masih memikirkan apa yang menjadi permintaan Karin padanya.


Apakah ini memang jalannya…,


Apakah jalan ini yang sudah kau siapkan untuk kami bertiga, ya Robb!


Melia terus memikirkan segala resiko yang akan terjadi di setiap keputusan yang akan diambilnya hingga ia terlelap dalam tidurnya.


Pagi harinya Melia kembali ke rumah sakit, setelah semalaman memikirkan semua ya, akhirnya Melia sudah memutuskan keputusan yang akan diambilnya.


Melia kerumah sakit untuk bertemu dengan suaminya, Antara. Dia ingin menyakinkan dirinya sendiri dengan keputusan besar yang akan diambilnya nanti.


"Mas..," sapa Melia.


Antara setiap paginya pasti akan langsung ke ruang NICU untuk melihat putrinya kecilnya. Perkembangan sekecil apapun sangat berarti untuknya.


Antara menoleh ke sumber suara yang sangat dihafalnya.


"Sayang.. kamu disini! Ada apa? Kenapa kamu kesini?" tanya Antara beruntun.


Melia tersenyum getir mendengarkan perkataan suaminya. Paling tidak, Antara masih memanggilnya dengan panggilan sayang padanya seperti biasanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertemu denganmu, Mas. Apa tak boleh! Ada yang ingin aku bahas tentang permasalahan kita." ujar Melia meraih tangan sang suami lalu menggenggamnya dengan erat dan membawanya berjalan menuju kursi yang tak jauh dari ruang NICU.


Antara tahu apa yang akan dibicarakan istrinya itu, dan Antara belum siap jika disuruh memilih antara istri atau sang anak.


"Mel.. bisa kita bicarakan lain waktu? Mas rasa waktunya tidak tepat, Mas terlalu banyak pikiran saat ini. Kita jalani ini begini saja dulu sementara waktu, ya! Aku harap kamu bisa mengerti posisiku saat ini." kata Antara memegang kedua bahu Melia sembari menatap wajah cantik sang istri dengan lekat.


"Tapi sampai kapan, Mas? Aku butuh, Mas juga berada disisi ku. Bukannya aku tak mengerti posisimu tapi—"


"Aku tahu, Sayang. Aku tahu.. aku mohon, beri aku waktu, ya.. hem!" kata Antara memotong perkataan sang istri.


Saat Melia ingin menginterupsi perkataan Antara, disaat yang sama suster memanggil Antara yang memang berada tidak jauh dari ruangan tersebut.


"Pak Antara!" panggil salah satu suster jaga di ruangan NICU.


"Ya, Suster.. tunggu sebentar!" sahut Antara.


"Mel, aku masuk dulu ya. Nanti, Mas akan usahakan pulang kerumah lalu kita bicara. Oke!" seru Antara lalu berjalan meninggalkan Melia yang masih duduk di tempat yang sama mereka duduk tadi tanpa mendengarkan jawaban Melia terlebih dahulu.


Apakah Melia kecewa? Tentu saja, Melia kecewa dengan sikap acuh sang suami. Kini Melia tahu jika keputusan yang diambilnya sudah benar dengan meninggalkan Antara sesuai dengan apa yang diminta Karin padanya. Mungkin dengan berpisah sementara, keduanya bisa saling memahami apa yang sebenarnya yang mereka inginkan.


***


Ya, perkataan Melia waktu bertengkar dengan suaminya saat itu adalah benar. Melia memang sudah lelah dan ingin menyerah dengan pernikahannya, Melia memilih mundur karena sang suami tak bisa tegas dengan pendiriannya.


Melia tak bisa membina hubungan pernikahan yang hanya berefek toxic baginya. Melia ingin menikah karena ingin bahagia dan tidak menderita seperti beberapa bulan terakhir semenjak sang suami menikah dengan Karin.


Melia tak mengatakan keputusannya ini dengan ibunya, Zahra. Melia tak ingin membuat sang ibu sedih dengan apa yang dia rasakan selama ini.


Melia pergi dari rumah setelah membersihkan tempat tidurnya dengan menyelipkan sebuah surat yang ditujukan untuk suaminya jika nanti suaminya itu pulang dan mencarinya.


Melia kini berada di depan rumah sang ibu. Melia ingin melihat wajah sang ibu dan sahabatnya, Clara sebelum Melia pergi.


Melia rencananya akan pergi ke luar kota dan akan melanjutkan hidupnya dengan calon anaknya disana nanti. Walau belum menentukan dimana kota tersebut, namun satu yang pasti, jika Melia ingin segera mungkin pergi jauh dan melupakan segala permasalahan yang membuatnya menderita.


Dia tak ingin anaknya bernasib sama dengan anak Karin yang harus terlahir prematur. Melia tak ingin mengambil resiko yang besar dengan mempertaruhkan keselamatan kandungannya.


Melia ingin bahagia selama mengandung anaknya agar dia bisa lahir sesuai dengan waktu kelahirannya.

__ADS_1


"Mel..!" Pekik Clara saat melihat orang yang datang adalah sahabatnya.


Melia tersenyum menatap sang sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.


"Nggak usah teriak juga kali, Cla!" seru Melia saat mendengar pekikan Clara.


"Ibu mana? Aku lapar banget nih, belum makan dari pagi," adu Melia dengan memanyunkan bibirnya kedepan.


Clara tertawa melihat tingkah lucu Melia. Clara menggandeng lengan Melia dan membawanya masuk kedalam rumah lalu menghampiri wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai ibu.


"Bu.. Bu! Anaknya datang nih, kasian dia kelaparan," teriak Clara seraya berjalan ke arah dapur dimana Zahra berada.


"Sayang…," sapa Zahra saat melihat sang anak.


"Kemari lah, Nak. Ibu merindukanmu." Kata Zahra memeluk sang putri yang sudah lama tak dijumpainya.


"Miss you too, Bu." Jawab Melia yang ikut memeluk Zahra dengan erat dan lama. Ia ingin menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya tanpa harus berbicara.


Zahra yang sangat tahu dengan watak sang anak pun tak banyak bertanya. Ia menikmati pelukan yang diberikan sang putri padanya. Zahra hanya berharap dengan memeluknya seperti ini, sang anak tahu jika dirinya akan selalu ada untuknya dan berdiri di barisan paling terdepan untuknya.


Setelah makan siang bersama, ketiganya melanjutkan obrolannya di ruang tengah tempat biasa mereka bercengkrama.


Mereka tak membicarakan sesuatu hal yang spesifik. Tema cerita mereka pun random hingga saat Melia memberitahukan keduanya tentang Karin yang sudah melahirkan.


"Oh iya, aku mau kasih tahu kalau Karin sudah melahirkan dan anaknya perempuan," kata Melia dengan tenang.


Zahra dan Clara saling pandang lalu menatap ke arah Melia bersamaan.


"Aku baik-baik saja. Tenanglah, i'm fine!" ujar Melia saat mendapat tatapan dari ibu dan sahabatnya.


"Kapan, Karin melahirkan, Nak? Kok kamu baru kasih tahu Ibu?" tanya Zahra.


"Aku juga baru tahu, Bu 2 hari yang lalu. Dia melahirkan secara caesar dan anaknya sekarang lagi di ruang NICU karena lahir secara prematur," tutur Melia dengan jelas.


Zahra dan Clara yang mendengar pun hanya mengangguk menandakan mereka menyimak apa yang dikatakan Melia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2