JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Kabar Bahagia atau Kabar Duka


__ADS_3

Ada apa sih ribut-ribut — astaga Melia!" Weni terperanjat saat melihat Melia terbaring tak sadarkan diri di atas sofa panjang di ruang kerja Antara.


"Ini, Melia, kenapa, An!" tanya Weni dengan panik, "Kalian apain dia huh!" ucapnya seraya menatap Antara dan Karin bergantian. Ia kaget melihat Melia berada di antara anak dan menantu keduanya. Saat dirinya berada di ruang keluarga, ia tak sengaja mendengar teriakan anaknya dari arah ruang kerja Antara. Weni beranggapan jika mereka berdua khususnya Karin yang telah membuat Melia sampai tak sadarkan diri.


"Ish, Bunda apa apaan sih, asal nuduh aja!" protes, Karin mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Kami saja kaget saat mendengar pintu terbuka, untung ada Antara cepat menahan tubuhnya hingga tak jatuh ke lantai," imbuhnya.


"Lalu, Melia pingsan begini karena apa dong?!"


Antara menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak tahu, dia sendiri masih bingung kenapa sang istri tiba-tiba pingsan, terlebih dia pingsan tepat didepan ruang kerjanya. Sedangkan, Karin mengangkat kedua bahunya keatas, tanda dia tak tahu menahu alasan Melia pingsan.


"Kenapa gak nanya nanti saja, Bun saat dia sadar!" ucap Karin acuh. "Bisa-bisanya dia pingsan disaat aku dan Antara membicarakan tentang kehamilanku!" ucapnya dalam hati, namun seketika matanya membulat sempurna saat menyadari perkataannya sendiri.


"An! Panggil Karin dengan ekspresi serius. Membuat Antara dan Weni menatap Karin bersamaan. "Ada apa, Karin!" sahut Antara dengan malas. Ia tak bisa meneruskan percakapan mereka sekarang karena baginya saat ini yang paling terpenting adalah Melia, istrinya.


Karena kesal tak digubris, Karin menarik Antara menjauh dari sofa dimana Melia terbaring. "Karin, bukan saatnya kita melanjutkan bicarakan kita tadi, kamu gak lihat kondisi Melia saat ini! Tunggu sampai Melia sadar, kita cari waktu yang tepat membicarakannya lagi, oke!" Antara berlalu dan meninggalkan Karin yang terlihat kesal karena merasa diacuhkan.


An!

__ADS_1


Kembali, Karin memanggil Antara, namun kali ini bukan Antara yang menjawab, namun Weni, ia kesal dengan Karin yang selalu minta diperhatikan Antara. "Kamu itu gak bisa tenang! Kamu gak lihat, Melia sedang pingsan begitu." Weni menunjuk ke arah Melia berada.


"Bun, aku cuma mau bilang, kalau aku tahu kenapa Melia bisa pingsan begini!" Karin menghela napasnya sebelum kembali bersuara. "Aku rasa dia kaget saat tahu kalau aku sedang hamil sekarang!" ucapan Karin barusan membuat Weni ternganga.


"Apa! Kamu bilang apa tadi? Kamu bilang kalau kamu hamil!" ulang, Weni. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Iya, Bun. Aku hamil, dan aku juga tadi baru tahu jika aku hamil. Aku iseng coba testpack, dan pas lihat hasilnya ternyata.. dan ternyata aku beneran hamil, Bun!" jelas Karin dengan sungguh-sungguh. Ia begitu bersemangat menjelaskan pada ibu mertuanya itu jika kini ia telah hamil, bahwa ia mengandung buah hatinya bersama Antara, pria yang dia cintai, pria yang sudah resmi menjadi suaminya seutuhnya. Walau Karin melakukannya dengan cara menjebak kala itu.


Entah Weni harus bahagia atau bersedih mendengar kehamilan Karin. Padahal dia sudah menunggu kabar kehamilan ini dari Melia, namun sampai 2 tahun mereka menikah, Melia tak kunjung hamil. Dan saat dia mendengar kalau istri kedua putranya hamil, dia seperti bingung harus bereaksi bagaimana. Padahal mereka baru menikah selama 7 bulan, ralat, mereka memang baru menikah 7 bulan, tapi mereka baru melakukannya sebulan yang lalu, itu artinya proses kehamilan Karin hanya terjadi dalam kurun waktu sebulan, secepat itu Karin hamil, hanya dalam 1 kali semburan saja dia sudah langsung hamil.


Mendengar asumsi Karin, membuat Antara beralih menatap sang istri yang terlihat pucat dengan raut wajah sendu. "Apa benar yang dikatakan, Karin, jika kamu mendengar pembicaraan kami tentang kehamilannya!" tanya Antara dalam hati. Tak bisa dipungkirinya jika ada sedikit rasa bahagia saat mengetahui ia akan menjadi seorang papa. Namun, ia pun sedih karena ia mendapatkan anak bukan dari wanita yang dia cintai, anak yang dia dambakan akan menjadi penerusnya bersama Melia.


***


Mas, aku ingin sendiri dulu saat ini, bisa 'kan!


Ia masih terus membayangkan wajah sendu Melia, dengan mata yang berkaca-kaca. Apa yang dikatakan Karin ternyata benar, Melia pasti mendengar pembicaraannya bersama Karin tadi.

__ADS_1


"Nak, kamu gak apa-apa?" Weni memegang kedua bahu anaknya, ia ingin memberikan kekuatan pada Antara, ia tahu jika kini putranya itu sedang dilanda dilema. Seketika tubuh Antara luruh kedalam pelukan sang bunda saat mendengar ucapan sang bunda. "An, Antara, kamu harus kuat. Kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan bijak, bunda yakin kamu pasti bisa!" Weni menepuk punggung anaknya pelan, memberikan semangat untuk sang anak. Walau bagaimanapun juga, ada hati yang tersakiti disaat hatinya berbahagia.


"Bun, apa yang harus Antara lakukan! Aku bingung cara menyelesaikan semua masalah ini." Antara menjambak rambutnya, "Aku tak bisa berbahagia diatas penderitaan, Melia!" Ia begitu frustasi melihat wajah pucat dan sedih istrinya, hingga membuatnya menangis.


Tangisan adalah respons manusia terhadap rasa sakit, sedih atau frustrasi yang dirasakannya. Menangis adalah cara alami untuk mengurangi stres emosional yang jika tak dikeluarkan akan memberi efek negatif pada tubuh seperti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit lain yang diakibatkan oleh stres.


Selain itu, ternyata menangis juga membantu proses penyembuhan penyakit. Sama seperti membersihkan papan tulis yang kotor menggunakan air, kita juga bisa melepaskan rasa sedih, frustrasi dan sakit lewat air mata. Tangisan membantu kita melepaskan diri dari rasa sedih. Dengan keluarnya air mata, depresi bisa dihindarkan. Lebih daripada itu, tangisan ternyata juga bisa meningkatkan daya pikir. Sudah terbukti bahwa ketika detak jantung kita meningkat, atau tekanan darah bertambah, daya pikir rasional kita berantakan. Dengan menangis, kita bisa melepaskan diri dari situasi yang menghambat pemikiran rasional.


***


"An.. " gumam Karin saat melihat Antara turun bersama ibu mertuanya. Setelah lama membujuk, akhirnya Weni berhasil meyakinkan Antara untuk memberikan waktu untuk Melia berpikir dan mencerna semuanya. Kini mereka telah duduk bertiga di ruang keluarga, Weni sebagai orang tua harus bisa menjadi penengah dari permasalahan rumah tangga anaknya.


"Jadi yang kamu katakan tadi soal kamu hamil itu, benar!" Weni mengkonfirmasi ulang pada Karin perihal kabar kehamilannya. Kabar kehamilan yang membuat mereka tak percaya.


Sejujurnya Karin merasa sakit hati saat kabar kehamilannya menjadi kabar duka untuk semuanya, padahal tadinya dia mengira baik Antara ataupun mertuanya akan bahagia mendengar jika sebentar lagi mereka akan mendapatkan anak dan cucu namun, ternyata ekspektasinya tak sesuai apa yang dia lihat saat ini. Padahal sepengetahuannya jika sang mertua begitu mendambakan seorang cucu secepatnya. Ia pernah mendengar mertuanya itu menyinggung perihal momongan pada Melia.


Melia, Melia dan Melia.. sebenarnya apa yang membuatmu begitu spesial sampai mengalahkan kabar bahagia yang mereka tunggu-tunggu selama ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2