
Hari berganti hari dan tak terasa sudah hampir sebulan mereka menempati rumah baru mereka. Ralat karena hanya Melia yang menempati rumah baru tersebut, sebab Antara terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan Antara pun kadang bekerja diluar kota untuk sekedar meeting.
"Mas.. kapan kamu pulang? Aku merindukanmu." ketik Melia lalu mengirimkannya pada suaminya.
Dalam seminggu, Antara hanya menyempatkan waktunya untuk Melia hanya 2 hingga 3 kali dalam seminggu, itupun tak full karena Antara harus pergi bekerja hingga larut malam. Bahkan sampai detik ini pun, Antara masih tak melihat perubahan pada perut istrinya yang mulai membuncit.
Melia terkadang merasa jika Antara sudah tak mencintainya lagi walau perlakuannya masih tetap sama seperti dulu. Melia mencoba menyakinkan diri dan hatinya jika Antara bekerja keras dari pagi hingga malam adalah untuk dirinya sendiri. Ya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghibur hatinya.
Melia baru keluar kamar mandi dan tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya. Melia dengan cepat menghampiri dan mengambil ponsel yang diletakkan di samping nakas tempat tidurnya.
"Mas Antar,!" gumam Melia saat melihat balasan chat suaminya.
"Maaf, Sayang. Sepertinya kita tak bisa makan siang bersama, mas akan ada meeting sebentar lagi. Tapi kalau pertemuanku cepat selesai, aku akan langsung menjemputmu. Ingat! Jangan keluar rumah. Tunggu aku dirumah saja, I love you." Itulah balasan chat dari Antara dan Melia sudah kebal dengan alasan seperti itu.
Melia membuang napasnya dengan kasar. Dan tak berapa lama, ponselnya kembali berdering dan kali sebuah panggilan telepon dari Zahra, Ibunya.
"Assalamualaikum, Sayang. Kamu lagi dimana? Apakah ibu mengganggu!" seru Zahra yang tak ingin mengganggu waktunya jika sang anak sedang bersama suaminya.
"Aku dirumah kok, Bu. Memangnya ada apa?" tanya Melia balik lagi.
"Kalau kamu nggak sibuk, apa kamu mau menemani Clara memeriksakan kandungannya?! Hari ini adalah jadwal kontrolnya, bukankah jadwal kontrol mu juga sama," kata Zahra.
"Astaghfirullah, iya, Bu. Melia benar-benar lupa karena sibuk menata rumah baru Melia. Aku izin dulu sama, Mas Antara lalu menjemput Clara. Suruh dia cepat bersiap, 30 menit lagi aku sampai." ucap Melia pada ibunya.
Setelah mendapatkan izin dari sang suami. Akhirnya Melia menjemput Clara dirumah ibunya. Setelah perjalanan kurang lebih hampir 1 jam karena jarak dari rumah Zahra ke rumah sakit tempat mereka kontrol memang lumayan jauh.
__ADS_1
Melia kini tengah berada di kantin rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika ayah dari bayi yang dikandung Karin yang akan menemaninya memeriksakan kandungannya. Melia sangat tahu jika kini hubungan diantara mereka mulai tumbuh perasaan cinta satu sama lain, maka dari itu Melia memilih menunggu di kantin sampai pemeriksaan Clara selesai.
Setelah 30 menit, akhirnya Melia kembali keruangan tempat Clara tadi karena mengatakan jika pria itu sudah kembali ke kantor. Namun langkah Melia terhenti saat melihat seorang ibu hamil dan suaminya yang terlihat bahagia sedang merengkuh pinggang istrinya dengan sangat hati-hati berjalan keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Mas.. gumam Melia pelan."
Langkah kedua orang yang ada di hadapan Melia seketika berhenti saat mendengar suara Melia yang tak asing di telinganya.
"Sayang…." kata Antara saat melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Melia, istrinya. Ya, orang yang dilihat Melia adalah Karin dan Antara yang baru keluar dari dalam ruang dokter.
"Jadi ini yang Mas bilang sedang berada diluar kota karena urusan bisnis?!" sindir Melia menatap Karin dengan tajam. Namun Karin tak terlalu memikirkan apa yang dikatakan Melia tadi. Pertengkaran keduanya sudah tak terlalu dipikirkan Karin saat ini karena baginya saat ini adalah perhatian Antara padanya cukup.
"Mas bisa jelaskan semuanya, Sayang," kata Antara yang masih memegang pinggang Karin.
"An.. apakah kamu tak memberitahunya jika sejak sebulan ini kamu selalu menemaniku di rumah?!" kata Karin dengan polosnya. Entah apa motif terselubungnya lagi kaki ini.
"Ups, sorry!" kata Karin dengan maksud mengejek, dan Melia tahu maksud Karin.
Saat Antara akan melepaskan rangkulan tangannya pada pinggang Karin, tiba-tiba Karin mengeluh kesakitan.
"An, pinggangku sakit, aku ingin segera pulang lalu berbaring." kata Karin dengan suara manja.
"Tunggu aku di rumah, oke! Aku akan jelaskan semuanya, aku harus mengantar Karin pulang dulu." pinta Antara sedikit memelas. Antara tak ingin Melia salah paham lagi padanya dan akan semakin membuat Melia menjauh darinya.
"Kamu sama siapa kemari? Dan untuk apa ke rumah sakit? Apa kamu sakit!" tanya Antara khawatir.
__ADS_1
"Aku menemani sahabatku memeriksakan kandungannya disini," jawab Melia datar dan segera berlalu dari hadapan Antara namun, Melia menghentikan langkahnya saat tangannya ditahan oleh Antara.
"Kamu pulang bersamaku sekarang. Nanti biar sopir yang mengambil mobilmu dan mengantarkan sahabat mu pulang kerumah ibu," kata Antara lagi. Dirinya begitu takut jika Melia tak akan pulang setelah mengetahui kebohongannya selama sebulan ini.
"Tidak, biar aku yang mengantarnya," jawab Melia dingin tanpa melihat ke arah sang suami.
"Jangan keras kepala dan dengarkan aku sekarang, Mel," balas Antara yang tak ingin dibantah.
"Aku akan pulang setelah selesai mengantarkan, Clara pulang. Aku tak percaya pada orang lain." jawab Melia tetap kekeh tidak mau ikut bersama suami dan madunya pulang.
"Kau benar-benar keras kepala, Melia!" Seru Antara mendengus kesal.
Antara lalu melepaskan tangan Melia lalu melanjutkan langkahnya kembali dengan masih memeluk pinggang Karin dengan erat. Dan hal itu semakin membuat Melia sakit.
"Mas.. apakah jika aku menyuruhmu memilih antara aku dan Karin, siapakah yang kamu pilih! Apakah aku, atau Karin?" kata Melia pelan namun masih bisa didengar Antara dengan begitu jelasnya.
Antara menghentikan langkahnya kembali dan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Antara tentu tak dapat memilih diantara Melia dan anak yang dikandung Karin. Di satu sisi adalah belahan jiwanya dan disisi lain nya adalah darah dagingnya sendiri. Pilihan yang sangat sulit dan menjebak 'kan bukan!
"Kau tahu jawabanku, Sayang. Setelah selesai, cepatlah pulang. Aku akan menunggumu di rumah!" sambung Antara.
Akhirnya Antara meninggalkan Melia disana seorang diri yang masih terpaku berdiri di tempatnya berdiri sejak tadi.
Melia berbalik lalu menatap punggung suaminya yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan matanya. Ia meneteskan air matanya saat menyadari pernikahannya yang tak akan mungkin bisa bahagia selama ada 2 rumah yang harus disinggahinya.
"Jika begitu berat, aku yang akan membantumu memilihnya, Mas," gumam Melia dalam hati menerawang jauh kedepan.
__ADS_1
...****************...