
Mas!!
Antara seketika tersadar bahwa dirinya sudah menjadi tontonan teman sekantornya. Terlebih saat mendengar suara yang sangat dihafalnya.
"Melia!" Antara menelan salivanya dengan susah payah saat melihat sang istri berdiri di hadapannya saat ini. Berdiri bak seorang patung memandangi dirinya.
Seketika tangannya lemas tak bertenaga hingga paper bag yang dibawanya jatuh begitu saja. Dengan sisa tenaga yang dia punya, Melia pergi begitu saja dari ruangan Antara dan berlari keluar menuju lift. Tujuannya saat ini hanyalah ingin menjauh dari Antara sementara. Ia ingin menenangkan hatinya yang panas setelah melihat suaminya berduaan dengan wanita lain dengan kondisi pakaiannya yang robek di beberapa bagian bajunya. Belum lagi teriakan yang didengarnya sampai sekarang masih terngiang di telinganya.
"Mel, Melia, Sayang, tunggu aku!!" teriak Antara saat melihat sang istri berlari keluar. Dengan kasar Antara mendorong tubuh Karin hingga ia terjatuh di lantai. Saat akan melangkah, salah satu kaki Antara ditahan oleh Karin m, dengan sekuat tenaga yang dimilikinya, ia berusaha dengan keras menahan Antara mengejar istrinya.
"Biarkan dia, An! Biarkan dia pergi, ada aku, ada aku disini!!" Ucap Karin dengan histeris.
"Kamu gila, Karin. Kamu sudah tidak waras!" Antara menatap Karin dengan nyalang.
"Iya, aku gila dan aku gila karenamu. Kau harus jadi milikku atau tak seorang pun yang akan mendapatkanmu juga!!" Ancam Karin.
"Lepas, Karin lepaskan!!" Sentak Antara lalu segera menyusul Melia yang sudah terlebih dahulu turun menggunakan lift. Tanpa berpikir panjang, Antara turun menggunakan tangga darurat untuk bisa menyusul Melia ke bawah. Ia berharap Melia masih berada di dalam kantornya.
"Dengan napas tersengal-sengal, Antara akhirnya melihat Melia yang tengah berlari kecil menuju pintu lobby.
"Melia!" Teriak Antara, hingga membuat orang-orang disekelilingnya menatap dengan heran, termasuk Melia yang kaget saat mendengar sang suami memanggil namanya. "Tunggu, Sayang, tunggu aku!" Lagi, Antara terus berteriak sambil berlari saat melihat langkah sang istri yang semakin cepat.
Akhirnya Antara bisa menyusul sang istri saat sudah berada didalam sebuah taksi, "Tunggu, Sayang." Cegat Antara saat Melia akan menutup pintu mobil.
"Lepas, Mas. Lepaskan aku! Aku mau pergi!" Pekik Melia saat Antara menahan pintu mobil dengan satu tangannya dan tangan satunya menarik tangan Melia untuk turun dari taksi.
"Tidak, Mel. Kamu jangan tinggalkan aku. Ini hanya salah paham. Yang kamu lihat tadi tidak seperti apa yang kamu lihat, Sayang." Antara terus menjelaskan pada Melia jika dirinya sudah salah paham. Namun tetap saja saat ini hatinya sudah hancur, saat ini tujuannya adalah pergi yang jauh dan tak ingin melihat sang suami.
__ADS_1
Perdebatan ini membuat sang sopir taksi pusing dan akhirnya menyela pembicaraan mereka. "STOPP!!" Baik Melia ataupun Antara seketika terdiam menatap sopir taksi itu.
"Sebenarnya kalian mau masuk atau enggak sih? Kalau enggak, tolong keluar, saya mau jalan." gerutu sopir taksi.
"Tidak, Pak. Maaf, ini uang ganti ruginya." Antara segera menarik Melia keluar dari taksi dan membawanya pergi jauh dari keramaian.
"Lepas, Mas. Lepasin aku!" Tangis Melia pecah, saat Antara memeluk tubuhnya dengan erat.
"Maaf, maafkan, Mas. Aku bisa jelaskan semuanya, Sayang." Antara tak melepas sedikit pun dekapannya, bahkan kini semakin erat.
"Kamu jahat! Kamu jahat, Mas. Aku benci kamu." Melia menangis semakin kencang saat mendengar kata sayang yang keluar dari mulut sang suami. Melia memukul-mukul dada sang suami. ia tak menyangka bagaimana bisa kata sayang masih dilontarkannya sedang tadi saja dirinya baru selesai berciuman dengan wanita lain.
"Aku takkan melepaskanmu, tidak sampai kamu mau mendengar penjelasanku!" Lirih Antara dengan napas memburu, dia sangat takut, takut jika Melia meninggalkannya.
"Penjelasan apa lagi yang ingin kamu jelaskan, Mas. Semuanya sudah cukup jelas. Kedua mataku sudah melihat semuanya, kamu berciuman dengan wanita itu, kamu memeluknya bahkan pakaian wanita itu tak berbentuk lagi karena sobekan di sana sini." Ucap Melia, saat ini dirinya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Ayo, kita duduk disana!" tunjuk Antara menggunakan kepalanya, "Biar aku jelaskan semuanya. Mungkin sudah saatnya aku jujur padamu," perkataan Antara barusan membuat Melia terdiam, kedua alisnya saling bertautan.
Dia membuat rencana ini untuk bisa memfitnah ku di depan orang-orang jika aku sudah melecehkannya. Kamu harus percaya padaku, Sayang. Kamu tahu betul orang yang aku cinta, itu hanya kamu, hanya kamu." ucap Antara, tegas.
Melia termangu mendengar penjelasan sang suami.
Sebenarnya siapa Karin?
Apa maksudnya dia berbuat seperti itu!
Apa dia gila!?
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan terbersit dalam pikirannya. Bagaimana bisa seorang wanita dengan tanpa rasa malunya melakukan perbuatan yang memalukan seperti itu.
"Kamu nggak bohong 'kan, Mas!' selidik Melia, setelah Antara menjelaskan semua yang terjadi tadi siang dan beberapa Minggu belakangan ini yang membuatnya sering pulang malam karena perbuatan Karin yang memakai pengaruhnya di kantor untuk menekan Antara.
"Tidak, Sayang. Bagaimana mungkin aku bohong tentang hal besar seperti ini!" Melia menatap lekat sang suami, mencari kebohongan yang mungkin nampak di wajahnya.
"Kamu tahu, Karin 'kan! Tanya Antara, "Wanita yang kita temui di pesta ulang tahun klien mu saat itu, yang waktu aku bilang ingin menghindar dari seorang wanita!" Ia mencoba mengingatkannya soal Karin.
"Aku ingat, Mas. Dia itu, Karin!" Antara mengangguk lalu menjelaskan soal Karin yang selalu saja merecoki pekerjaannya hingga menyebarluaskan berita yang tidak benar.
Seminggu yang lalu dia tahu bahwa aku sudah menikah, dan karena hal itu sontak membuatnya marah dan kecewa. Memang sudah sejak dulu dia mengejarku namun, aku hanya menganggapnya sebagai anak dari bos ku yang aku aku hormati, hanya itu.
"Lantas, kita harus bagaimana, Mas. Aku yakin Karin tak akan tinggal diam saja setelah apa yang terjadi tadi." Antara menghela napasnya panjang.
"Entahlah, paling buruknya adalah pekerjaanku akan hilang." Jawabnya enteng.
"Mas! Jangan katakan itu, bisa saja itu menjadi doa untuk, Mas sendiri. Ucap yang baik-baik saja. Aku yakin jika mereka mendengar penjelasan, Mas, mereka akan percaya padamu." Melia terus memberi semangat pada sang suami.
"Tapi …seandainya aku dipecat, apakah kamu tetap akan disampingku!" ucap Antara, ia ingin mengetes cinta sang istri.
Melia tergelak, "Tentu saja aku akan selalu ada disampingmu. Mau susah maupun duka, aku akan selalu berada di sisimu." Tegas Melia.
Antara tertawa kecil, "Mau senang ataupun duka, Sayang." Antara membetulkan ucapan Melia. Tangan kecil Melia mengelus rahang tegas sang suami dengan lembut dan berkata, "Itu peribahasa orang pada umumnya, sedang aku berbeda. Aku akan selalu menemanimu saat kamu susah, sedih ataupun terpuruk! Aku akan selalu berada disisimu, Mas. Aku tak peduli saat kamu senang kamu menghabiskannya bersama siapa, namun ingatlah bahwa aku akan selalu ada untukmu di segala kondisi mu." Terang Melia panjang lebar.
Rasa haru memenuhi ruang hati Antara, dia sangat bersyukur memiliki Melia. Dia bertekad akan selalu membuat Melia bahagia dan tak 'kan pernah melepaskannya, apapun yang terjadi. Itulah janji yang diucapkan dalam hati.
"Terima kasih, Sayangku. Terima kasih, aku mencintaimu!" Antara mendekap tubuh sang istri dan sesekali mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata menatapnya tajam, pandangan penuh kemarahan dengan hati yang terus mengutuk kebersamaan mereka.
__ADS_1
Ini langkah terakhir ku, kali ini, ku jamin kau takkan lolos. Dan aku akan meyakini istri yang kau cintai itu sendiri yang akan memohon dan pada akhirnya akan melepaskan mu dengan sendirinya.
...****************...