JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
RENCANA KARIN


__ADS_3

Saat ini mereka berdua sudah berada di meja makan, setelah Melia memanaskan kembali sisa makan malam yang disimpan bik Nani di dalam kulkas.


"Mas, mau makan juga?" tanya, Melia pada sang suami, karena tadi perut Antara pun berbunyi.


"Iya, aku sangat lapar hingga ingin memakanmu saat ini juga."


Melia tertawa mendengar jawaban sang suami. "Ada-ada saja kamu, Mas, Mas." Melia menggeleng kepalanya pelan sembari memberikan sendok demi sendok nasi, sayur dan lauk pauk lainnya di dalam piring sang suami.


Mereka makan dengan lahap. Melia begitu heran pada suaminya itu, hingga membuatnya iseng bertanya. "Mas, makan begitu lahap seperti baru makan saja!"


"Emang baru makan!" Sahut Antara, membuat Melia menatap penuh tanya. Antara tahu saat ini istrinya itu pasti penasaran alasan kenapa dia tidak makan malam sejak tadi.


"Kenapa, Mas? Kenapa tadi nggak makan sekalian bareng bunda dan Karin! Bukannya tadi kalian makan malam bersama!"


"Iya, kami sempat makan malam bersama, tapi cuma bunda juga Karin saja yang makan. Dan karena tak berselera, aku langsung masuk kamar!" Jelas, Antara.


Kenapa nggak berselera, Mas? Gimana, nanti kalau maag nya kambuh karena telat makan 'kan, Mas sendiri yang ngerasain sakitnya nanti!" cerocos, Melia di sela-sela kunyahan makanannya. Dan berhenti saat tangan Antara menggenggam tangannya erat.


"Bagaimana mungkin aku makan saat kegundahan hati melandaku? Saat aku tak tahu apakah istriku baik-baik saja atau tidak diluar sana! Dan bagaimana bisa aku makan disaat istriku sendiri belum tentu sudah makan atau belum!


Semua perkataan, Antara barusan membuat Melia meleleh.


OMG adakah pria seperti, Antara di dunia nyataku! Begitu mencintai istrinya dengan sepenuh hati. (Suara hati author)


Melia menatap sang suami penuh cinta.


"Terima kasih, Sayangku, karena selalu membuatku merasa seperti wanita paling dicintai di dunia."

__ADS_1


Mengapresiasi pasangan bisa dilakukan dalam berbagai cara dan hal. Entah itu dengan hadiah, mempersiapkan momen spesial, atau dengan memberikan ungkapan cinta kepada pasangan. Meski terdengar mudah namun, mengutarakan perasaan terkadang menjadi hal yang rumit juga untuk dilakukan. Namun hal itu tak berlaku bagi, Antara. Selama mengenal Melia, apalagi setelah mereka menikah. Tak terhitung sudah banyak kata cinta dan pujian yang diucapkan olehnya.


Antara melakukan semua itu sebagai wujud cintanya dan rasa syukurnya pada sang istri karena sudah bersedia menerimanya menjadi suaminya.


"I love you, Melia." Ucap Antara tulus.


"I love you, more, more than more, suamiku." Jawabnya dengan tersipu malu.


Melia tak hanya kenyang dengan makanan yang masuk ke dalam perutnya, namun juga kenyang karena kata-kata romantis, Antara padanya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Karin menatapnya dengan penuh rasa iri menggelayut di dalam hatinya. Ada rasa sesak di dadanya saat pria yang sejak dulu dipujanya tak menggubrisnya sampai detik ini. Bahkan di usia perkawinannya yang sudah berjalan hampir 1 tahun itu pun masih belum dapat dia rasakan bagaimana nikmatnya bercinta dengan suaminya sendiri.


"Apa kurangku, An? Apa yang Melia punya dan yang tak ku punya!!" Pekik Karin namun dalam hati.


Dia masih ingat betul kata sang ibu mertua dan papanya, Sudarma untuk bisa lebih menahan emosi dan egonya saat berhadapan dengan Antara, suaminya. Diam ingin bisa memenangkan hati Antara. Karin masuk kembali dalam kamarnya dalam diam. Terlalu sakit melihat pemandangan di depan matanya saat ini.


"Mau aku bantuin, Sayang?"


Melia tersenyum melihat sang suami yang berjalan mendekat ke arahnya, "Gak perlu. Aku bisa sendiri." Melia mengambil piring kotor dari tangan suaminya.


"Biar aku saja, toh piring kotornya cuma 2 ini, kamu duduk saja disana, sebentar lagi pasti selesai." Imbuhnya sembari menunjuk sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Baiklah, aku tunggu di sana ya," jawab Antara lalu berjalan meninggalkan, Melia yang tengah bersiap mencuci piring sisa makan mereka tadi.


"Eh, Karin! Kenapa keluar? Ada yang kamu inginkan!" tegur Melia saat melihat Karin yang keluar dari kamarnya dan berjalan ke arahnya.


"Memang kenapa? Apa sekarang aku pun dilarang keluar kamar!" Ucap, Karin ketus.

__ADS_1


Karin masih sangat kesal setiap mengingat apa yang dilihatnya tadi ketika ia ingin mengambil air minum di dapur. Mengingat kemesraan Melia dan Antara tadi seketika membuat hatinya kembali panas.


"Maaf, tapi aku tak bermaksud seperti itu. Aku tulus ingin membantumu," tutur, Melia. Ia tak ingin membuat, Karin salah paham hingga membuat hubungan mereka berdua semakin buruk.


Sebenarnya Antara melihat Karin keluar dari kamarnya namun, dia memilih berpura-pura tak melihatnya. Hingga saat mendengar kegaduhan dari arah dapur.


"Ada apa ini!" ucap Antara menengahi adu mulut kedua istrinya itu.


"Kenapa? Kamu takut, aku apa-apain istri tercinta kamu ini!" Ucap Karin emosi. Ia benar-benar tak sanggup melihat pria yang dia cintai namun tak sedetik saja bisa menatapnya dengan penuh cinta.


"Sudahlah, Karin. Kamu jangan suka cari-cari masalah. Aku tahu, Melia seperti apa, dia tak mungkin sengaja mencari gara-gara denganmu. Ini sudah malam, kembalilah ke kamarmu sekarang atau—"


"Atau apa! Kalau aku tak mau, kamu mau apa?" Karin memotong ucapan, Antara.


Antara yang hendak melangkah seketika berhenti saat merasakan elusan lembut di lengannya. "Sudahlah, Mas. Lebih baik kamu tunggu aku di kamar saja, sebentar lagi aku akan menyusulmu." Melia menahan emosi, Antara yang siap meledak.


Kini tinggallah mereka berdua berada di dapur. Melia tak ingin jika, Karin terus menganggapnya sebagai musuh. Walau bagaimanapun juga, kini mereka sama-sama berstatus sebagai istri, Antara, yang artinya mereka sama-sama memiliki hak yang sama atas diri suaminya.


"Karin, bisakah kau tak menganggapku sebagai musuhmu! Kita tinggal seatap, maka akan lebih baik jika kita bisa hidup dengan nyaman dan tenang di rumah ini." Tutur Melia.


"Nyaman? Tenang katamu! Iya jika kamu tak begitu rakus menguasai hidup, Antara! Kamu terlalu mendominasinya, hingga tak ada celah bagiku walau sedikit untuk bisa masuk atau sekedar mengambil hatinya. Kamu bilang apa tadi, jangan menganggapmu musuh! Jika begitu, bisakah kau juga memberikanku sebagian waktu, Antara untukku! Bisakah itu terjadi?" Ucap Karin dengan nyalang.


Lagi-lagi alasan yang sama yang membuat, Karin membencinya. Ya, semua karena, Antara. Dari awal, Antara memang tak menyukai, Karin, terlebih saat dia memfitnah dan memaksanya untuk menikahinya. Antara semakin membencinya, Antara selalu menjaga jarak darinya.


"Bukankah sudah aku katakan padamu, Karin, jika itu bukan mauku! Aku sudah berusaha mengingatkan, mas Antara soal itu, namun kamu tahu dia bukan! mas Antara bukan anak kecil yang bisa aku suruh ini dan itu, dia punya akal dan pikirannya sendiri, jadi aku tak bisa berbuat apa-apa untuk hal itu." Balas Melia tak kalah sengit.


"Baiklah, mungkin ini kali terakhir aku bicara baik-baik padamu. Setelah hari ini, aku harap kamu bisa siapkan hatimu melihatku nanti bersama, Antara. Seperti yang selama ini aku lakukan!" Karin mengucapkannya penuh dengan penekanan setiap katanya sembari menatap punggung Melia yang semakin menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2