JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Sakit tapi Tak Berdarah


__ADS_3

"Mas!" Panggil Melia dengan berlari kecil karena mengejar suaminya yang entah mengapa berjalan begitu terburu-buru. Entah Antara mendengar atau tidak, namun yang Melia rasakan jika suaminya itu seakan sedang menghindarinya. Padahal Melia hanya ingin menanyakan kabar dan juga meminta maaf padanya.


"Mas, tunggu!" ulang Melia saat panggilan pertamanya tak digubris suaminya, hingga saat ia tersandung kakinya sendiri dan nyaris terjatuh jika saja Antara tak sigap menangkap tubuhnya.


"Astaga, Melia, kamu tak apa-apa! Hati-hati kalau jalan, kenapa harus berlari begitu, bagaimana kalau kamu jatuh dan terluka!" Ia terus menggerutu seraya membantu sang istri untuk berdiri.


Bukannya merasa menyesal, Melia justru tergelak lalu tersenyum lebar tatkala melihat sang suami yang tak hentinya menggerutu. Hingga membuat Antara terheran.


"Kamu, kenapa? Apa ada yang lucu dengan perkataan ku tadi!" Bukannya menjawab, Melia malah langsung memeluk Antara dengan erat. "Aku bersedia jatuh kalau itu bisa membuatmu memperhatikanku lagi, terluka pun aku mau asal kamu selalu ada di sampingku dan membantuku bangkit setiap kali ku terjatuh," pungkas Melia dengan lirih. Ungkapan hati Melia bagai tamparan keras yang menghujam hatinya. "Apa maksudnya?" batin Antara. Apakah istrinya itu tahu jika dia dan Karin sudah melakukannya! Itulah yang ada dipikirannya saat ini.


Antara tak bisa menutupi kegugupannya, ia lantas membantu istrinya berdiri lalu ketika akan berpamitan, Melia seketika menahannya. "Bisakah seperti ini dulu! Sudah lama, Mas tak memelukku seperti ini, biarkan aku yang memelukmu," ucapan Melia lagi lagi membuat hatinya tersayat sayat. Ia menatap nanar wanita yang sudah 2 tahun ini menjadi istrinya, ia akui jika beberapa waktu ini memang dirinya terus menghindari Melia, ia bahkan sengaja meminta Malik menambahkan pekerjaannya agar dirinya bisa pulang disaat sang istri sudah tertidur, dan yang terakhir ia pun tak pernah memberi kabar padanya, bahkan ia pergi ke klub malam pun tanpa sepengetahuan sang istri. Kini ia merasa sedang mendapatkan ganjaran dari perlakuannya terhadap istrinya.


......................


Antara menghela napasnya pelan. "Maaf, maafkan aku, Sayang. Aku merasa kotor dan dan merasa tak pantas berada di dekatmu, aku sudah mengkhianati pernikahan kita," ungkap Antara namun, hanya bisa diucapkannya dalam hati saja. Ia tak memiliki keberanian untuk berterus terang pada Melia.

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf atas perkataan ku tempo hari. Aku sudah menyakitimu tanpa sadar. Aku berjanji setelah ini, takkan lagi memintamu menerima, Karin. Aku akan menerima segala keputusanmu tentang rumah tangga kita, kamu mau 'kan memaafkan ku!" tutur Melia, terlihat jelas rasa penyesalan di matanya.


Antara membuang nafas yang sempat tertahan. Kedua matanya menatap kosong ke langit. "Maafkan aku, Mel," Antara lagi lagi bermonolog dalam hatinya. Jari-jari tangannya bergerak menangkup tubuh punggung sang istri, dielusnya dengan lembut, Antara berharap jika permintaan maafnya itu tersampaikan dengan sentuhannya saat ini.


"Baiklah, sekarang lihat aku, "Kamu tak salah, Sayang. Harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Aku akui disini kamu pun terbebani oleh masalah Karin. Untuk itu, aku mohon maaf padamu karena terlalu egois dan merasa hanya aku disini yang tersakiti, aku hanya melihat dari sudut pandang ku dan tanpa aku sadari jika bukan hanya aku yang terluka disini, kamu pun sama terlukanya sepertiku, mungkin bahkan lebih tersakiti diantara kita bertiga." Tutur Antara sembari membelai wajah Melia dengan lembut. "Setelah ini, aku harap rumah tangga kita akan bisa seperti dulu lagi, saat awal kita menikah," ucap Antara dengan penuh harap.


......................


"Mengapa hatiku rasanya tak rela ya saat melihat Karin berdekatan dengan, mas Antara. Terlebih saat melihatnya kini bisa lebih menerima Karin, walau masih terlihat dingin."


Melia masih menatap mobil yang membawa suaminya dan Karin. Ya, Karin tiba-tiba saja datang dan meminta ikut saat mobil yang ditumpangi Antara akan berangkat, katanya ingin bertemu dengan papanya, Sudarma.


"Iya, Bun!" sahut Melia cepat saat menyadari ibu mertuanya sudah berada di hadapannya.


"Kamu ngapain sih disini, dari tadi bunda panggil-panggil tapi kamu enggak dengar, katanya bik Nani kamu di taman belakang!" kesal Weni.

__ADS_1


Melia tertawa kecil seraya meminta maaf pada sang ibu mertua. "Memangnya ada apa, Bunda manggil Melia?!" kali ini Melia yang balik bertanya. Ayo, sini duduk disamping, Bunda. Ada yang ingin, Bunda sampaikan sama kamu," kata Weni dengan wajah serius.


Melia duduk tepat di samping Weni. Terlihat raut wajah serius dari ibu mertuanya itu, membuatnya heran dan akhirnya membuka obrolan pertama kali. "Sebenarnya ada apa, Bun? Sepertinya serius! Apa ini ada hubungannya dengan, Karin!"


Nampak Weni terperanjat, bagaimana mungkin Melia bisa menebak apa yang akan ia katakan padanya. "Kamu juga tahu soal itu!" bukannya menjawab, Weni malah balik bertanya pada Melia. "Loh, bukannya, Bunda yang akan mengatakan sesuatu padaku!" Membuat Weni mengangguk tanpa sadar.


"Sebenarnya ada apa, Bun? Apa ada penting yang ingin, Bunda katakan!" ulang Melia. Karena sejak tadi baik Melia maupun Weni tak seorang pun dari mereka yang menjawab pertanyaan lawan bicaranya.


"Bunda mau tanya, tapi kamu jangan kaget, apa lagi marah!" ucap Weni yang membuat Melia makin penasaran. Melia pun mengangguk yang menandakan ia tak akan kaget dengan apapun yang akan dikatakan ibu mertuanya nanti. Sebenarnya bukan, Bunda yang lihat tapi bik Nani yang lihat langsung kalau Antara keluar dari dalam kamar, Karin jam 6 tadi pagi!" tutur Weni. Namun bukannya terkejut, Melia malah tersenyum tipis menanggapi ucapan mertuanya hingga membuat kening wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu berkerut.


Melia bahkan tergelak saat melihat ekspresi wajah sang ibu mertua yang terlihat sangat lucu. "Kamu sehat, Mel!" tanya Weni yang heran melihat tanggapan menantu pertamanya itu.


Lagi-lagi Melia mengulum senyumnya, perkataan sang mertua begitu lucu terdengar di telinganya hingga ingin rasanya ia tertawa, namun dirinya masih sadar diri jika di depannya saat ini adalah orang tua yang harus dihormati.


"Ada yang lucu!" ucap Weni mendengus kesal. Hingga membuat Melia menunduk dan meminta maaf karena sudah menyinggung perasaan ibu mertuanya. "Maaf, Bun, maafkan, Melia. Aku tidak bermaksud kurang ajar pada Bunda dengan tertawa," sesal Melia.

__ADS_1


"Huh! Yasudah gak apa-apa, Bunda maafkan tapi kamu harus janji jika setelah bunda mengatakannya, kamu gak akan ribut sama Karin ataupun menyalahkan Antara." Weni berkata dengan tegas.


...****************...


__ADS_2