
"Mas.." panggil Melia.
Melia memecah keheningan diantara mereka. Sejak keluar dari ruangan dokter, Antara tak banyak bicara dan di sepanjang koridor menuju pintu keluar klinik itu, Antara tetap diam. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini, bahkan Melia tak tahu apa yang dipikirkan suaminya itu.
"Hem.. " sahut Antara tanpa menoleh menoleh ke arah Melia. Tangannya terus menggenggam tangan Melia dengan sangat erat, bahkan terlalu erat hingga ia sedikit meringis kesakitan.
Melia menghentikan langkahnya dan itu sukses membuat Antara berhenti dan akhirnya menatap wajah cantik istrinya. "Kenapa? Kenapa berhenti!" seru Antara penasaran.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, sebenarnya ada apa denganmu? Sejak keluar dari ruangan Dokter, kamu terus diam. Apakah kandungan Karin baik-baik saja?!" tanya Melia menatap lekat wajah sang suami.
"Karin dan kandungannya semua baik, tak ada yang perlu kita khawatirkan sekarang. Kata dokter masa rawannya sudah lewat tapi tetap harus menjaga emosi Karin," tutur Antara menjelaskan.
Kalau semuanya baik-baik saja, lantas kenapa wajahmu seperti itu? Sejak tadi pun kamu diam terus, aku kira…."
"Semuanya baik-baik saja tenanglah. Jangan terlalu pikirkan soal Karin dan kandungannya, pikirkanlah tentang kita, mengerti!" ucap Antara mengulas senyum, mengelus pucuk kepala sang istri dan kembali menggenggam tangannya.
Lagi-lagi Melia menghentikan langkahnya, membuat Antara menghela napasnya panjang. "Kamu kenapa? Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?"
Melia tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya.. hanya mau minta izin padamu," ucap Melia ragu-ragu.
"Izin? Izin kemana, kamu mau kemana?"
"Aku hanya ingin mengunjungi, Ibu saja. Sejak ibu pulang, aku belum melihatnya, aku rindu padanya!" kata Melia dengan dengan jujur.
"Jadi kau ingin meninggalkanku!" seru Antara, kini posisi mereka sangat intim saat Antara menyandarkan tubuh sang istri di tembok koridor.
__ADS_1
"Mas.. apa yang kau lakukan? Lepaskan, orang-orang sedang melihat kita sekarang!" seru Melia, ia sangat malu karena sejak tadi orang- orang tak berhenti menatap mereka dengan berbagai tatapan yang berbeda.
"Kenapa memangnya? Kamu adalah istriku, jadi tak masalah jika aku memelukmu seperti ini, atau saat aku mencium mu seperti ini." Melia mendelik saat Antara mencium bibirnya dengan cepat.
"Astaga mas, kamu gila! Kamu bisa kena pasal pornografi dan pornoaksi tahu!" seru Melia menatap tajam suaminya. Bukannya takut, Antara justru tertawa melihat wajah panik sang istri yang di nilainya sangat lucu dan menggemaskan.
"Enggak apa-apa, nanti aku akan bilang jika aku tak bisa menahan hasrat ku untuk tidak menyentuh bibirmu.. bibirmu maupun seluruh tubuhmu sudah menjadi candu ku. Aku rasa mereka akan mengerti karena mereka juga seorang laki-laki." Elak Antara seraya menarik tubuh Melia masuk kedalam pelukannya. Sangat erat hingga Melia bisa merasakan dengan jelas hembusan napas Antara di telinganya hingga membuatnya meremang.
Melia hanya tersenyum melihat tingkah konyol suaminya. "Yuk buruan keluar, Karin dan Bunda pasti sudah menunggu kita diluar!" kata Melia lalu keduanya kembali berjalan dan menyusul Karin dan Weni yang sudah menunggu mereka di parkiran.
"Eh.. Melia mana, An?" tanya Weni saat Antara keluar seorang diri.
"Dia mau kerumah ibu Zahra, Bun. Katanya kangen. Pulang kantor nanti Antara jemput!" imbuh Antara.
"Loh, kok nggak bareng sih, kan kita bisa anterin dulu ke rumah besan, kan Bunda juga pengen ketemu!" kata Weni mendesah.
***
"Kalian tadi didalam lama begitu lama, memang sedang apa?" tanya Karin, ia kesal karena sejak tadi menunggu Antara dan Melia keluar, karena harus menunggu mereka berdua, Karin harus merasakan teriknya matahari.
"Nggak ada, nggak usah mikir sembarangan, fokus saja sama saja kandungan mu," tandas Antara yang tak mau memperpanjang masalah. Karena dia yakin jika Karin tahu apa yang dia lakukan, Karin pasti tak berhenti mengomelinya.
Sementara diluar klinik, Melia kembali masuk kedalam klinik kandungan yang sudah dia tinggalkan tadi. Ya, setelah Antara mengantar Melia naik taksi, ia meminta sopir taksi tersebut untuk putar balik, dengan alasan ada yang ketinggalan.
"Maaf ya, Pak. Ini ongkosnya, ambil saja semua sebagai permintaan maaf saya," tukas Melia seraya membuka pintu taksi lalu segera keluar dan masuk ke dalam klinik.
__ADS_1
"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah seorang suster yang berada di meja depan.
"Aku mau konsultasi dengan dokter kandungan," jawab Melia mengulas senyum.
"Baik, silahkan isi data-data ini ya, Bu, setelah itu Ibu bisa menunggu didalam." kata wanita yang berseragam putih seraya menyerahkan beberapa lembar formulir yang harus diisinya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya namanya dipanggil. Melia masuk kedalam ruangan dokter, ia begitu tegang, entah apa yang harus dirinya katakan.
"Selamat siang, Ibu Melia. Saya Dokter Lili. Ada yang bisa saya bantu?" senyum mengembang ditunjukkan oleh dokter Lili membuat Melia yang tadinya gugup kini perlahan mulai rileks.
"I-iya, Dok. Begini Dok, aku kesini karena.. um.. karenaaaa—" seketika Melia menjadi gugup, ia tak tahu harus mulai dari mana, ia sendiri bingung kenapa tiba-tiba dia ingin memeriksakan dirinya ke dokter kandungan.
"Dokter Lili yang tahu jika pasiennya gugup, seketika menggenggam tangan Melia dengan erat seraya menatap wajah Melia. "Ibu Melia lihat saya, Ibu bisa percaya pada saya, saya akan berusaha dengan keras membantu permasalahan Ibu! Sekarang coba Ibu katakan dengan perlahan keluhan yang Ibu rasakan saat ini. Setelah itu, saya bisa memberikan solusi dari permasalahan yang Ibu rasakan.
Melia menghela napasnya dengan panjang. "Begini, Dok. Aku sudah menikah 2 tahun namun sampai hari ini aku belum juga hamil. Apakah ada masalah dengan rahimku, Dok!" tutur Melia menatap Dokter Lili dengan penuh pengharapan.
Dokter Lili tersenyum tipis mendengar penuturan pasiennya. "Baiklah, kalau begitu biar saya tanyakan beberapa hal. Setelah itu kita lanjutkan pemeriksaan lanjutan yakni USG. Dan setelah itu, saya akan menjelaskan dengan jelas kondisi tubuh Ibu Melia," imbuh Dokter Lili.
Dokter Lili mulai mengoleskan gel pada perut Melia membuatnya sedikit tersentak karena merasakan dingin pada perutnya. Dengan cekatan, Dokter Lili dengan tangan kanannya sibuk dengan alat USG di atas perut Melia dengan tatapannya fokus pada layar monitor di depannya, sesekali terlihat keningnya berkerut.
"Apa, Ibu Melia yakin saat ini Ibu sedang datang bulan?!" tanya Dokter Lili dengan serius.
Melia yang mendapat pertanyaan seperti itu pun terlihat bingung. "Maksud dokter?"
Dokter Lili tak menjawab, ia kembali fokus menatap layar di depannya saat ini. "Baiklah pemeriksaannya yang sudah selesai, sepertinya saya punya kabar baik untuk Ibu Melia tapi untuk lebih akuratnya lagi, Ibu Melia bisa ikut bersama suster Ani dulu, setelah itu akan saya jelaskan.
__ADS_1
Melia semakin mengerutkan keningnya saat dirinya digiring masuk ke dalam toilet. "Ini gelasnya, Ibu Melia tolong isi gelas ini dengan air seni, Ibu dan setelah itu tolong simpan diatas meja sana!" tunjuk Suster Ani pada sebuah meja kecil disamping toilet.
...****************...