JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bab. 80


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Selamat pagi," sapa Karin dengan mengulas senyum saat melihat Antara membuka matanya.


Antara menghembuskan napasnya ke udara saat menyadari orang yang menyapa adalah Karin dan bukan istrinya, Melia.


"Pagi, Karin." Sahut Antara, ia langsung bangkit dari tidurnya lalu duduk sebentar seraya mengumpulkan nyawanya.


Antara menghela napasnya kembali saat menyadari pertengkarannya dengan Melia semalam. Ia menyadari jika perkataannya pada Melia sedikit keras dan pasti sudah menyinggung perasaannya.


Antara tampak lebih segar setelah keluar dari dalam kamar mandi. Antara sudah rapi dan tampak gagah dengan setelan jas yang dibawakan oleh sopirnya semalam.


"Apa kau akan pergi bekerja?" tanya Karin saat melihat Antara keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkapnya.


"Ya, aku hanya sebentar saja. Ada meeting penting pagi ini. Kamu tak apa-apa 'kan aku tinggal sebentar!" seru Antara.


Karin mengangguk pelan, "Iya gak apa-apa, nanti aku akan memanggil suster via interkom kalau aku butuh sesuatu," tandasnya.


"Baiklah, makan sarapan dulu, setelah itu aku akan ke kantor."


Antara mengambil makanan yang tadi dibawakan oleh suster, semangkuk bubur ayam menjadi menu sarapan pagi Karin pagi ini.


Antara menyuapi Karin dengan perlahan. Sesekali ia membersihkan sudut bibir Karin saat ada sisa makanan yang menempel. Karin benar-benar bahagia saat ini, Karin merasa sakitnya membawa berkah untuknya karena bisa berdekatan lebih dengan Antara, dan yang lebih penting lagi adalah.. tak ada Melia diantara mereka berdua hingga membuat fokus Antara hanya tertuju padanya saja.


Setelah menyuapi Karin makan, Antara bergegas ke kantor. Selama dalam perjalanan menuju kantor, Antara lebih banyak diam dan terus menatap keluar jendela, Antara mendesah pelan menghembuskan napasnya ke udara tatkala mengingat kembali bagaimana pertengkarannya dengan Melia semalam.


"Apa aku terlalu keras padanya semalam?" batin Antara.


***


Sesampainya di kantor, Antara berjalan memasuki lobi dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi. Moodnya hari ini sangat buruk, biasanya saat dirinya bangun, ia dapat melihat wajah istrinya Melia dengan senyum khasnya, senyum yang mampu membuatnya semangat menjalani harinya. Namun tadi pagi saat bangun, tak ada Melia disampingnya, hanya Karin yang menyapanya yang membuatnya tak bersemangat seperti sebelumnya.

__ADS_1


Semua karyawan yang berada di lobi menunduk hormat padanya. Saat memasuki ruangannya, tampak sekretarisnya, Malik sudah menunggu di dalam ruangannya.


"Wah, ada angin apa ini, Mal. Senyummu merekah seperti ini!" seru Antara saat melihat Malik yang dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.


"Hatiku sudah plong, Tar. Aku bertekad akan mengejar wanita itu," terang Malik tersenyum lebar pada Antara.


Ya, setelah Malik bungkam setiap kali ditanya soal masalah yang dihadapinya, akhirnya Malik dengan sendirinya menceritakan masalah yang dihadapinya beberapa bulan terakhir yang membuatnya kalut dan sering tak fokus dalam bekerja.


"Jadi, Hera tunangan mu gimana? Bukannya kedua orang tuamu dan dia bersahabat! Memang mereka setuju akan keputusanmu ini!" kata Antara yang mencoba berbicara sebagai seorang sahabat.


"Aku sudah mengatakannya pada Hera soal wanita itu, Tar."


Antara akhirnya mengalihkan perhatiannya lalu menatap Malik dengan intens. "Serius! Wah emang parah kamu Mal. Kasihan anak orang."


"Terus, apa yang dia katakan setelah mengetahui kalau kamu punya anak dari wanita lain?" imbuh Antara.


Malik menghembuskan napas panjang.


"Hera keren juga, Mal. Hatinya sungguh besar," puji Antara dengan sikap calon tunangan Malik. "Jadi setelah ini kamu akan menikahinya!" lanjut Antara.


"Hem.. kalau sesuai dengan rencana sih kami akan menikah bulan depan," jawab Malik namun dengan wajah yang tiba-tiba berubah setelah mendengar kata pernikahan, dan hal itu tak luput dari penglihatan Antara.


"Kenapa bro, bukannya kamu harusnya bahagia.. pernikahanmu tetap bisa kalian lanjutkan dan Hera pun menerima masa lalu mu dan anakmu nanti, lalu apa lagi yang membuatku ragu!?"


"Entahlah, Tar. Harusnya iya aku bahagia tapi entah kenapa hatiku tak merasakan itu."


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi semuanya, jangan menjalani sesuatu hal yang dimulai dengan keraguan dan keterpaksaan, sebab hasilnya tak 'kan baik kedepannya," kata Antara memberi nasehat.


"Seperti pernikahanmu dan Karin, bukan!" ujar Malik menahan tawanya dan segera berlari keluar dari ruangan Antara saat melihat wajah sahabatnya mulai kesal.


"Ck' dasar menyebalkan," Antara mendecak dengan kesal mendengar ejekan Malik yang sialnya memang benar adanya.

__ADS_1


***


Setelah pertengkarannya dengan Antara semalam. Keesokan harinya, Melia pergi dari rumah, tujuannya sekarang adalah rumah ibunya, Zahra. Setelah kejadian kemarin malam, Melia berpikir ulang untuk memberikan kabar kehamilannya pada suaminya.


"Loh, kalian mau kemana?" tanya Melia saat melihat Clara dan ibunya berpakaian rapi.


"Loh, kamu dari mana, Sayang?" bukannya menjawab pertanyaan Melia, Zahra justru bertanya saat melihat Melia yang tiba-tiba datang tanpa menelepon sebelumnya.


"Ish, Ibu.. anaknya lagi nanya bukannya dijawab malah ditanya balik, gimana sih!" kata Melia seraya menghembuskan napasnya pelan. Sedang Clara dan Zahra tergelak melihat wajah Melia yang memberengut.


"Ibu mau menemani Clara memeriksakan kandungannya ke dokter. Kamu mau sekalian periksa gak, Sayang? Ibu 'kan belum pernah lihat calon cucu Ibu!"


"Bulan depan aja, Bu. Lagian jadwal kontrol Melia juga baru bulan depan, kan baru beberapa hari yang lalu Melia periksa Nya," sahut Melia, Zahra mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Untuk sekarang, kita lihat cucu ibu yang satunya lagi, aku juga penasaran baby nya itu sudah berapa bulan dan apa sudah bisa melihat jenis kelaminnya." Sambung Melia seraya memegang perut Clara yang terlihat membuncit.


"Ayo!" Seru Melia menggandeng lengan Clara dan Zahra bersamaan dengan posisi Melia berada di tengah-tengah.


"Loh, kamu kesini naik apa?" tanya Clara penasaran, karena biasanya mobil milik Melia terparkir di depan lahan kosong tidak jauh dari rumah Zahra.


"Aku naik taksi online, Cla. Malas nyetirnya hehe," jawab Melia asal.


Clara dan Zahra saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap Melia lalu tersenyum padanya.


"Ya sudah, ayo kita keluar, sepertinya mobilnya sudah sampai." kata Clara.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir 1 jam, akhirnya mereka sampai di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Setelah mendaftar, Melia, Clara serta Zahra tengah menunggu di depan ruangan dokter kandungan.


"Wah banyak juga ya yang memeriksakan kandungannya," celetuk Zahra saat melihat ada beberapa ibu hamil yang juga tengah menunggu nama mereka dipanggil.


Berbeda dengan Zahra yang terlihat sumringah menatap satu baris kursi yang diduduki oleh ibu hamil dan para suaminya yang tengah menunggu giliran mereka untuk melihat perkembangan anak mereka. Ditempat yang sama namun terlihat berbeda dengan Melia dan Clara yang terlihat sendu menatap orang-orang yang ada di hadapannya itu seraya mengelus perut mereka masing-masing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2