JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Permintaan Sudarma (PAPA MERTUA)


__ADS_3

Pagi harinya


"Sayang, kita jadikan hari ini makan malam dirumah papa!" Ucap Karin di sela kegiatan makannya.


Antara hanya menatap Karin tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ish, kamu keterlaluan banget sih, An. Istri lagi ngomong tuh didengerin, kamu nggak dengar atau pura-pura nggak denger hah!"


Karin sungguh kesal pada Antara, belum hilang kekesalannya semalam dan pagi ini Antara kembali acuh padanya.


Antara menyentak sendok yang digunakannya untuk makan dengan keras hingga membuat Karin, Melia dan Weni terlonjak kaget.


Mas! Antara! Ucap mereka bersamaan.


"Kamu kenapa sih, An. Aku hanya bertanya padamu tentang ajakan makan malam papa sebentar. Kenapa kamu malah marah seperti ini!" Karin berucap dengan nada tinggi.


Antara menatap tajam karin.


"Kamu masih bertanya kenapa aku marah? Begitu!"


"Iyaa! Aku bertanya karena aku memang tak tahu alasan kamu tuh marah karena apa!" balas Karin tak kalah keras.


"Aku paling tidak suka wanita yang suka memaksa, dan aku paling tidak suka pada wanita egois dan mau menang sendiri. Kamu selalu meminta hakmu sedang kamu sendiri berbicara pada suamimu dengan nada yang kasar seperti tadi, begitu!"


Antara membungkam mulut Karin dengan perkataannya barusan. Karin tak bisa berkutik lagi, mulutnya terasa dibungkam oleh perkataan suaminya. Benar kata Antara, belum 24 jam statusnya berubah menjadi istri namun sikapnya pada Antara masih seenaknya serta nada bicaranya pun masih ketus dan mau menang sendiri.


Karin menghela napasnya dengan pelan sembari menundukkan kepalanya dan mengucapkan kata maaf pada Antara. Entah karena dia menyadari kesalahannya atau hanya ingin merebut hati Antara. Membuat Melia dan Weni saling berpandangan, berbanding terbalik dengan Antara yang cuek dan bahkan meninggalkan meja makan sebelum berpamitan pada sang istri dengan mencium pucuk kepalanya. Baginya Karin tak mungkin bisa berubah dengan cepat, sifat dan tabiatnya sangat diketahui setelah insiden di ruangannya itu. Dia sudah tak percaya lagi dengan semua perkataan yang terlontar dari mulut Karin. Baginya apapun yang keluar dari mulut Karin adalah bohong dan dusta belaka.


"Makanya, jadi istri itu yang lemah lembut. Apa kamu masih tidak bisa melihat Antara itu sukanya apa dan yang tidak disukainya itu apa! Istri macam apa kamu, heh!" ejek Weni.


Weni beranjak dari kursinya setelah mengatakan kata-kata tajam pada Karin. Dan sesuai dengan janjinya dulu jika dia akan berusaha menerima Melia menjadi menantunya.

__ADS_1


Antara yang baru sampai di kantor begitu kaget saat melihat ekspresi orang-orang saat melihatnya, belum lagi saat mereka menunduk hormat padanya.


"Hhh, ada apa dengan mereka semua? Apa ada yang salah dengan wajahku!"


Antara meraba wajahnya untuk melihat apakah ada yang salah pada wajahnya atau tidak.


Antara makin terlihat bingung saat melihat orang-orang yang akan menaiki lift tiba-tiba keluar saat melihat Antara yang berada di dalam lift. Hingga membuat Antara semakin kurang nyaman.


"Huh, sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka seperti ketakutan saat melihatku!" Batin Antara.


Setelah sampai di ruangannya, Antara masuk ke dalam, namun dirinya begitu kaget saat melihat Pak Sudarma sudah berada di dalam sana sedang duduk di atas sofa dengan koran ditangannya.


"Eh, Kamu sudah datang!"


Sudarma menyapa Antara saat menyadari kehadiran Antara.


"Ii-iyya, Pak Sudarma."


"Loh! Kok masih panggil, Pak? Panggil papa dong, kan kamu suami Karin, berarti kamu juga sudah menjadi anakku."


Ucapan Sudarma membuat Antara tersadar jika dirinya sudah menikah dengan Karin. Padahal sejak kemarin dia masih terus berusaha merapalkan dalam hati jika pernikahannya saat itu bersama Karin hanyalah mimpi semata, mimpi buruk yang jika dirinya bangun, mimpi tersebut akan menghilang dengan sendirinya.


"Panggil, papa saja, Antara." Ucapnya sembari menepuk punggungnya, "Ayo, duduk dulu. Ada yang ingin papa katakan padamu. Ini soal pekerjaan." Lanjutnya.


......................


A-apa!!


Antara sangat kaget saat mendengar ucapan bapak mertuanya yang mengatakan jika dirinya sudah menjadi CEO dari perusahaan. Dan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan sudah diurus semua olehnya, tinggal dirinya membubuhkan tanda tangannya saja. Serta rapat pemegang saham pun aka segera dilaksanakan sesegera mungkin.


"Pak Sudarma, eh maksudku, Pah. Sepertinya ini tidak perlu dilakukan, saya tak ingin mendapatkan ini semua tanpa kerja kerasku sendiri."

__ADS_1


Antara menolak secara halus. Dia tak ingin dicap sebagai pria yang sengaja memanfaatkan kondisinya saat ini.


"Tenanglah, An. Papa tahu seluk belukmu dan sepak terjang mu dalam dunia bisnis, apa kamu tak tahu jika aku pun sudah mencari tahu semua tentangmu jauh-jauh hari! Aku tak mungkin menyerahkan putriku satu-satunya pada pria yang tidak bertanggung jawab." Tutur Sudarma.


Antara yang mendengarnya pun tertunduk cukup lama sebelum dirinya mengangkat kepalanya dan menatap Sudarma dengan lekat.


"Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Sudarma saat melihat gelagat aneh Antara.


"Sebenarnya …Sebenarnya ada yang ingin aku katakan, Pah," Antara mencoba jujur pada sang mertua, dia yakin jika dia bisa lebih memahami perasaannya karena mereka sama-sama seorang pria.


"Aku tak tahu apakah papa tahu atau tidak, tapi aku harus jujur tentang pernikahanku dengan Karin." Antara sudah bertekad untuk jujur pada Sudarma.


"Sebenarnya pernikahanku dengan Karin itu terpaksa karena—sebab itulah aku bersedia menikahinya dan aku minta maaf jika aku tak bisa mencintai putri papa karena aku—"


Antara sudah sangat lega setelah berbicara jujur pada mertuanya, dia tak ingin ada kepura-puraan dalam hidupnya.


Sudarma menarik napas dan membuangnya dengan pelan.


"Papa tahu semuanya, dan papa juga minta maaf karena mungkin papa ada andil dalam masalah kalian. Papa minta maaf karena tak bisa mendidik Karin dengan baik, karena kecintaan dan kasih sayang papa hingga membuat papa lupa jika sebagai orang tua, juga dibutuhkan sikap tegas dalam mendidiknya.


Papa cuma berfokus pada peran papa sebagai pengganti mama Karin, papa pikir jika seorang ibu pasti akan selalu memberikan cinta, kasih dan kadang sayang jadi papa terus berfokus pada itu dan terus memberikan apapun yang dia inginkan tanpa mengerem keinginannya jika itu diluar batas. Papa lupa berperan sebagai seorang ayah yang tegas dan disiplin." Ucap Sudarma lirih.


Papa minta maaf jika mungkin keputusan papa kamu anggap egois. Tapi papa mohon padamu, papa mohon kamu bisa menuntun dan membimbing Karin menjadi istri yang baik. Papa rasa jika kamu bisa mengubah Karin menjadi lebih baik. Papa yakin itu!"


Sudarma sangat yakin jika Antara adalah pria yang ideal untuk putrinya. Karena Karin begitu mencintainya dan dia yakin jika dia bisa belajar menjadi lebih baik karena punya motivasi agar dapat dicintai oleh Antara.


"Tapi, Pah. Aku tak bisa menjamin jika bisa mencintai putri papa. Cintaku hanya untuk istriku, Melia. Hanya dia yang aku cintai, pah!"


Antara tak ingin membohongi atau membodohi mertuanya dengan bersikap baik pada Karin di depannya karena itu akan membuatnya menjadi pria yang brengsek.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Sudarma saat ini mendengar suami putrinya mencinta wanita lain walaupun itu adalah istrinya juga. Sebagai orang tua ingin rasanya mereka hidup bahagia namun, dia menyadari betul jika putrinya lah yang sudah mengganggu kehidupan rumah tangga Antara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2