
Setelah masuk ke dalam kamar, Melia tak lantas mengistirahatkan tubuhnya seperti yang disarankan Antara padanya. Ia berjalan menuju bathroom, memandang pantulan dirinya di depan cermin. Menatap sebuah cincin berlian yang sudah melingkar di jari manisnya. "Apa keputusanku tuk menerima Mas Antara sudah benar! Pantaskah aku!" Melia berkata pada hatinya.
Selesai membersihkan diri, Melia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Empuk dan nyaman, kata yang tepat menggambarkan bagaimana rasanya tidur di atas kasur kapal pesiar yang jika dirinya harus membayar tentunya akan menguras isi tabungannya. Melia menatap langit kamarnya yang bertemakan kerajaan Romawi, terlihat jelas beberapa gambar dewa dewi Yunani kuno yang terlukis indah diatas sana. Melia mengerjap matanya yang kian terasa berat hingga tanpa sadar dirinya terlelap.
Sedang Antara setelah mengantar Melia ke kamar. Ia tak masuk ke dalam kamarnya seperti yang ia katakan sebelumnya, Antara kembali ketempat dimana dirinya dan Melia tadi berbincang. Antara memandang langit malam, menerawang pikirannya sembari meneguk sedikit demi sedikit kopi latte yang baru saja dibelinya. Memikirkan bagaimana cara dirinya mempertemukan sang bunda dengan Melia, dan cara yang tepat menjelaskan tentang seluk beluk Melia saat ditanya nanti.
*
Pukul 5 pagi
Antara tengah berada di pusat kebugaran yang merupakan salah satu dari sekian banyak fasilitas yang diberikan pihak kapal pesiar selama berada di dalam kapal. "Pantas saja harga tiketnya selangit, tempat gym nya saja lengkap dan mewah," kagum Antara setelah mencoba beberapa alat.
Setelah berolahraga dan membersihkan dirinya, Antara menuju kamar Melia yang letaknya tepat di sebelah kamarnya.
"Mel, Melia!" panggil Antara sembari mengetuk pintu kamarnya. Setelah menunggu 5 menit, Melia membukakan pintu untuk Antara.
"Maaf, Mas, lama. Aku baru selesai mandi. Mau masuk! Aku ambil tasku dulu." Kata Melia setelah membukakan pintu.
"Aku tunggu diluar saja," balasnya tersenyum. "Bisa bahaya kalau aku masuk kamar, kemarin saja berduaan di luar kamar setan sudah menggoda, gimana kalau di dalam kamar!" batinnya bermonolog.
__ADS_1
"Ayo, Mas." Melia membuyarkan lamunan Antara.
"Ah, iya, ayo kita pergi." Antara membawa Melia menuju restoran sembari menautkan jari-jarinya ke jari-jari Melia dengan erat. Sentuhan kecil yang Antara lakukan sangat menyentuh hati Melia, ia merasa begitu dicintai. Setelah mendapatkan meja dan makanan yang akan mereka santap. Mereka makan dengan tenang, menikmati sajian yang disuguhkan oleh Chef mereka. Sesekali Antara dan Melia saling menatap satu sama lain, menikmati waktu kebersamaan mereka yang sebentar lagi akan usai.
Pukul 5 sore rencananya kapal pesiar yang mereka tumpangi akan bersandar kembali setelah beberapa hari menikmati kemewahan kapal pesiar Symphony Of The Seas.
"Tak terasa sebentar lagi kapal ini sandar," Antara memecah keheningan diantara mereka. Ia dan Melia sedang menikmati laut lepas yang kini terlihat lebih indah dari sebelumnya. Wajahnya yang sendu tak lepas dari penglihatan Antara. Semilir angin menerpa wajah cantik Melia, Antara merapikan anak rambut yang menghalanginya menatap wajah wanita yang baru kemarin menerima pinangannya.
Melia tersentak akan sentuhan tangan Antara. "Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggumu!" tanya Antara. Melia berusaha tersenyum walau sangat terlihat gurat kesedihannya. Nampak Melia menatap lekat pahatan wajah yang nyaris sempurna di hadapannya saat ini. Ia menelisik setiap jengkal wajah Antara dengan seksama dan bermunajat.
"Ya Rabb, buatlah kami bersatu apapun caranya!" Bisik Melia dalam hati. Kembali berbalik menatap laut biru yang memberikannya ketenangan.
Antara mensejajarkan dirinya pada Melia. Menangkup kedua sisi wajah yang tengah tertunduk, ia mengusap pipi Melia dengan jarinya. "Jangan khawatir, ada aku di sampingmu." Ucap Antara sembari menggenggam tangan Melia, seakan ia tahu apa yang dipikirkan wanitanya.
"Percaya padaku! Aku akan segera menemui Ibumu dan juga aku akan sesegera mungkin memberitahukan soal kita pada Bundaku." ucap Antara, membuat Melia mengangguk dan pada akhirnya membalas pelukan Antara.
"Berapa lama pun aku harus berjuang untuk mempertahankan hubungan yang kita bangun ini, selama kau selalu ada disisi ku, aku akan terus semangat berjuang untuk cinta kita." Ungkap Antara, hingga membuat Melia semakin yakin akan ketulusan dan keseriusan Antara padanya serta disadarkan jika pria di hadapannya saat ini adalah pria yang bertanggung jawab, baik dalam segi perbuatan maupun perkataannya.
Mendengar perkataan Antara, membuat perasaan Melia yang sedang tumbuh semakin kuat saja, hatinya pun sudah plong rasanya. Tak ada lagi ketakutan-ketakutan yang menyelimuti relung hatinya. Kini ia benar-benar siap untuk apapun yang akan terjadi padanya nanti. Entah bagaimanapun caranya mereka meyakinkan orang tua mereka masing-masing, namun Melia percaya dan yakin selama mereka terus bersama mereka akan terus kuat.
__ADS_1
Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam kapal dan akan kembali ke kamar masing-masing. Namun saat akan masuk ke dalam kapal, Antara tak sengaja berpapasan dengan mantan klien yang dulu pernah bekerja sama dengan perusahaannya dulu.
"Pak Antara! Pak Antara dari Berlian Utama bukan!" Sapa seorang wanita dengan paras cantik, tinggi dan sexy. Tentu siapa saja yang melihatnya pasti akan terpana olehnya.
Sejenak Antara terdiam dan sepersekian detik senyumnya mengembang saat mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Ibu Angel 'kan!" jawab Antara. Membuat wanita cantik itu tersenyum lebar dan mengangguk.
"Kebetulan banget ya Pak kita bertemu disini! Sudah lumayan lama deh kayaknya kita terakhir ketemu." Ucap Angel dengan tersenyum, namun ekor matanya terus melirik ke arah wanita yang berada di samping Antara. "Siapa wanita itu!" Batin Angel.
"Ah iya, Bu, kebetulan sekali."
Angel masih terus menelisik Melia dari atas kepala hingga ke bawah kaki. Membuat Melia risih dan merasa sedang ditelanjangi oleh pikiran wanita itu. Tak hanya sampai disitu, Angel makin penasaran dan tak suka sama melihat tautan tangan keduanya. Membuat Angel begitu emosi, namun karena tak ingin membuat harga dirinya jatuh dengan bertengkar karena pria, sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang.
Tahu dengan arah pandangan wanita cantik itu. Melia dengan cepat melepas tautan tangannya yang masih dipegang kuat oleh Antara, membuat Antara menatap heran ke arah Melia.
"Sama siapa kesini? Sama Malik ya!" seru Angel, ia masih terus menepis pemikirannya tentang wanita yang disamping Antara.
"Nggak, Malik di kantor! Saya kesini bareng Melia, kami sedang liburan." Ungkapnya. "Oh iya, perkenalkan, Mel, ini Ibu Angel, mantan klien perusahaan kita dulu. Tutur Antara memperkenalkan Angel sebagai kliennya. "Dan ini calon istri saya, Bu." Sambung Antara hingga membuat keduanya kaget, bahkan keduanya memberikan tatapan mata yang sulit Antara artikan. Jika Melia kaget karena kejujurannya, Angel justru kaget karena ia tak menyangka jika wanita yang di nilainya tak berkelas dan hanya menang di bentuk tubuhnya saja bisa membuat Antara luluh, padahal dulu saat dirinya mengejar Antara jangankan dilirik, Antara dengan terang-terangan menolaknya secara halus.
"Ca-calon istri!" Ulang Angel.
__ADS_1
"Iya! Calon istri." Antara melingkarkan tangannya ke pinggang Melia dengan erat. Hingga membuat Angel tersenyum kecut melihat ke posesif-an Antara.
...****************...