JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Kekhawatiran Antara


__ADS_3

Antara yang baru saja kembali dari ruang rapat segera meraih ponsel miliknya yang tertinggal di meja kerjanya.


Saat mengecek ponselnya, Antara dikejutkan dengan panggilan masuk, Karin. Sejujurnya Antara sangat enggan berbicara pada, Karin sebab ia yakin jika ujungnya pasti mereka akan bertengkar dan itu akan makin membuatnya membenci, Karin.


Akhirnya dengan malas antara menjawabnya setelah bosan mendengar dering ponselnya yang terus berbunyi.


"Ada apa!" tanyanya cepat. Membuat, Karin mendengus pelan mendengar ucapan ketus Antara.


"Ish, santai dong, An, ketus amat." Protesnya.


Antara menghembuskan napasnya sebelum kembali bersuara. "Iya, ada apa kamu menelepon, Karin?" 


"Kamu tahu kalau Melia pergi!"


"Pergi!" ulang Antara.


"Iya, dia pergi setelah pamit sama, Bunda. Katanya sih mau jalan sama temannya, tapi nggak tahu kalau bener. Katanya tadi mau jalan sama em … siapa ya namanya tadi, aku lupa bentar," ucapnya menjeda, "Ah iya, Clara, Clara namanya, An. Kamu kenal nggak?"


"Clara …." gumam Antara.


"Sepertinya Antara tidak kenal teman, Melia yang bernama, Clara itu!" Batinnya.


Senyumnya pun seketika terbit saat sebuah ide muncul dibenaknya, lebih tepatnya ide liciknya.


"Kamu beneran nggak kenal, An! Masa iya sih kamu enggak kenal?" Karin terus memojokkannya, "Atau jangan-jangan Melia belum izin lagi sama kamu!" Karin sengaja memanas manasi, Antara yang masih terdiam diseberang telepon.


"An … An … panggil, Karin."


"Sudahlah, Karin. Aku sibuk, aku tutup teleponnya," Kata Antara yang langsung mematikan sambungan teleponnya. "Melia pergi! Tanpa pamit padaku sebelumnya! Tapi siapa, Clara? Perasaanku, Melia tak memiliki teman yang bernama, Clara! Hm … aku harus meneleponnya. Namun saat akan mengecek ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama Malik disana.


"Maaf, Pak, 5 menit lagi rapat akan kembali dilanjutkan." terdengar suara Malik di seberang telepon mengingatkan. Pasalnya Antara tadi izin ke toilet namun, entah mengapa sampai 5 menit, Antara tak kunjung kembali.


"Ya, baiklah aku kesana sekarang." Jawabnya cepat. Antara langsung menyimpan kembali ponsel miliknya ke saku jasnya tanpa melihat isi ponselnya.


"Biar nanti aku tanyakan saat aku pulang!" batinnya.

__ADS_1


......................


Sedang di lain tempat, tampak Melia dan Clara menghabiskan waktunya bersama dengan suka cita, pasalnya sudah lama mereka tak bertemu sejak Melia menikah.  Bertukar cerita, jalan-jalan, makan bersama hingga shopping bersama, itu semua sering mereka lakukan sebelum Melia menikah.


Clara memang sahabatnya namun, jika sudah urusan rumah tangga, Clara tidak akan mencampurinya. Bagi Clara, hubungannya dengan Melia hanya mencakup diri Melia pribadi, dan jika sudah mengenai rumah tangga sahabatnya itu, Clara tak pernah mencari tahu atau mengorek-ngorek apapun masalah Melia. Kecuali jika sahabatnya itu sendiri yang cerita padanya.


"Udah sore, Cla. " Kata Melia menatap langit yang mulai berwarna kelabu.


"Iya, Mel, sepertinya akan turun hujan juga, tuh awalnya gelap banget. Sepertinya akan deras, Mel. Anginnya juga makin kencang lagi!"


"Ya udah deh kita balik sekarang, Mas Antara juga sebentar lagi akan pulang!" Seru Melia sembari melirik jam tangan miliknya.


"Ya udah, yuk kita pulang, keburu laki lo pulang!" Clara menimpali perkataan Melia.


Setelah menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan dari mall ke kost-an Clara, akhirnya mereka berdua pun sampai.


"Nggak masuk dulu, Mel!" Ucap Clara menawarkan.


"Langsung aja ya, takut macet, jam gini 'kan jamnya orang-orang pulang kantor!!" Jelas Melia dan Clara mengangguk membenarkan perkataan, Melia.


"Aku jalan ya, next time kita jalan lebih lama lagi, sekalian aku ajak Ibu,"


Melia hanya berdehem mendengar ucapan sahabatnya itu. Setelah berpamitan pada, Clara, Melia melajukan mobil merah miliknya yang dibelikan oleh Antara. Dan benar saja, sesuai dengan perkiraan nya jika jam-jam riskan seperti ini memang sangat rawan macet, terlebih saat hujan begini.


Sementara itu, Antara yang sudah sampai terlebih dahulu di rumahnya tengah menunggu sang istri dengan gelisah karena sampai jam 8 malam begini, Melia tak kunjung pulang. "Melia kemana sih?" ucapnya membatin.


"An, masuk! Dipanggil Bunda, makan malam sudah siap." Karin menghampiri, Antara yang sejak tadi menunggu istri tercintanya pulang.


"Belum pulang juga tuh, Melia, An?!" Antara menoleh ke arah, Karin sesaat lalu kembali menatap ke depan rumah saat mendengar deru mesin kendaraan, namun sayang, itu bukan mobil yang dikendarai oleh Melia dan hanya mobil lewat, membuat Antara menghela napasnya panjang lalu ikut masuk ke dalam rumah karena mendengar suara sang bunda memanggilnya.


Makan malam terasa hening tak seperti biasanya. "An, ayo dimakan makanannya," perintah, Weni karena sejak tadi, Antara hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa memakannya.


"Iya, An, makan dulu, entar kamu sakit lagi! Melia nggak usah kamu pikirin, kalau sudah mau pulang juga pasti pulang sendiri," ucap Karin menimpali ucapan sang ibu mertua.


Antara tak menggubris perkataan, Karin. "Aku sudah kenyang. Bun, aku duluan ke kamar." Antara meninggalkan meja makan dengan beralasan kenyang, jelas-jelas makanan yang dipiringnya saja belum tersentuh sama sekali.

__ADS_1


Karin berdecak saat melihat Antara naik ke atas kamarnya.


"Eh, mau kemana kamu!" tanya Weni saat melihat Karin menyudahi makan malamnya. Namun sayang, itu tak membuat, Karin berhenti dan tetap pergi melenggang pergi dari meja makan tanpa mau menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.


"Dasar, mantu kurang ajar! Mertua ngomong malah pergi begitu saja. Coba aku tak mengingat jika bukan karenamu, Antara ada di posisinya sekarang ini, sudah aku usir kamu dari rumahku!" ucapnya dengan kesal.


"An, Antara! Bukain pintunya, please, aku mau ngomong."


Sudah 10 menit lamanya, Karin mengetuk pintu kamar, Antara namun sampai detik ini orang yang dipanggil-panggil  pun tak membukakan pintunya.


"Huh! Keras kepala banget ini laki, kepalanya dari batu kali ya." Setelah lama menunggu dan tak membuahkan hasil, akhirnya Karin menyerah dan memilih untuk turun kebawah. Dan saat akan masuk ke dalam kamarnya, Ternyata Weni sudah menunggunya sejak tadi.


"Gimana? Bisa gak kamu membujuknya?" Karin menyapa malas sang ibu mertua, "Huuh, kalah kamu sama, Melia! Dia, kalau ngebujuk, Antara  tuh gampaaaaang banget. Seperti anak kecil yang dikasih permen, langsung luluh tanpa perlawanan. Nah, kamu! Ish … ish." Ejeknya. Entah kenapa dia sangat suka mengejek menantu keduanya itu.


Karin mendengus kesal, "Ish, benar-benar nih mertua edan. Awas saja kamu nanti!" Karin menatap punggung sang mertua yang sudah hilang masuk ke dalam kamarnya.


......................


"Kamu kemana, Sayang!"


Antara benar-benar dibuat khawatir oleh istrinya itu. Betapa tidak, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam namun tanda-tanda keberadaan, Melia pun tak kunjung datang. Bahkan ponselnya pun tak aktif hingga membuatnya semakin mencemaskan keadaan istrinya, terlebih keadaan diluar sedang hujan  lebat.


Melia yang baru saja sampai setelah 3 jam lamanya berkutat dengan macet. Lelah yang dirasakannya bercampur dengan rasa lapar membuat moodnya turun drastis. Hingga istilah kata, 'Senggol, Bacok!!' 


Antara yang baru saja keluar dari kamar mandi, dikejutkan oleh kemunculan sang istri dibalik pintu kamarnya. Sangat terlihat gurat lelah di wajah cantiknya.


"Melia!"


Antara seketika memeluknya dengan erat, hingga membuatnya sesak sakit. Beruntung, Antara cepat melerai pelukannya. Dilihatnya wajah sang istri dari ujung rambut hingga ke bawah dengan lekat.


"Kamu nggak apa-apa 'kan! Kamu dari saja? Kenapa nggak kabarin aku sih, kamu enggak tahu aku dirumah sangat khawatir. Mana ponselmu nggak aktif lagi. Pertanyaan beruntun yang dilontarkan, Antara membuat Melia mengulum senyumnya.


"Bisa aku ke kamar mandi dulu, Mas! Aku udah nggak tahan, kebelet!" Tanpa menunggu jawaban sang suami, Melia berlari cepat menuju kamar mandi hingga membuat Antara keheranan.


"Huh! Leganya …." batin Melia setelah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Awalnya Antara marah namun entah mengapa rasa khawatirnya lebih besar hingga mengalahkan rasa marah yang sempat timbul di hatinya saat mengetahui Melia tak kunjung pulang, terlebih Melia tak memberitahunya sejak awal jika ia akan keluar rumah.


...****************...


__ADS_2