
"Apa aku tak salah dengar! Kamu tak salah makan 'kan tadi pagi? Kamu sadar yang kamu ucapkan barusan itu!"
Melia berkata dengan datar namun penuh dengan penekanan. Benar ucapan sang suami, jika Karin adalah wanita gila yang sudah terobsesi pada suaminya.
Karin mendengus kesal.
"Apa kamu pikir aku bercanda! Kamu tak melihat, suami tercinta mu itu saat ini berada di mana sekarang, hah!" Karin tergelak menatap Melia dengan satu alisnya terangkat keatas, "Aku tak pernah main-main dengan ucapanku!" Lanjut Karin.
Melia menelan salivanya berat. Melia tak memungkiri jika Karin memang tak pernah bermain-main dengan perkataannya. Terbukti dengan kenekatan nya menyerang suaminya duluan, belum lagi semua trik kotor yang dilakukan Karin sehingga sang suami harus mendekap di kantor polisi. Karin sudah gila, dia suda tergila-gila dengan Antara, suaminya. Obsesi gilanya itu sudah menutup mata Karin.
"Baiklah, aku setuju." Tiba-tiba suara lantang Weni menyadarkan Melia dari lamunannya.
"Bun! Apa maksud, Bunda!"
"Tinggalkan Antara agar dia bisa bebas segera!" Seru Weni, melihat menggeleng dengan cepat permintaan mertuanya itu.
"Tidak, Bun. Melia tidak bisa." Perkataan mertuanya itu seketika menghujam jantungnya. Belum selesai keterkejutannya pada permintaan gila Karin padanya, kini malah ibu mertuanya sendiri yang menyuruh meninggalkan suaminya.
"Kenapa? Kenapa tidak, Melia. Dengan kamu meninggalkan Antara, dia bisa bebas dengan segera. Bukankah itu yang kamu inginkan juga!" Cecar Weni menatap anak mantunya.
"Iya, Bun. Tapi tidak dengan meninggalkan, Mas Antara. Lagian, aku juga yakin jika, Mas Antara tak akan pernah mau melepaskanku." Jawab Melia dengan yakin.
Tampak Weni berpikir. Sedang kedua pengacara tersebut hanya bisa menjadi penonton saat melihat 3 wanita di hadapannya itu sedang berkompromi satu sama lain.
"Tentu saja itu sudah aku pikirkan!" Karin tersenyum smirk.
Melia yang melihatnya menjadi takut, bukan takut pada Karin melainkan takut dengan kenekatan nya. "Apa yang sedang direncanakan wanita gila ini!" Batin Melia.
__ADS_1
"Tidak! Apapun yang kamu rencanakan, aku tak akan melakukannya. Jika dari awal niat kita buruk, hasilnya pun akan buruk, Karin! Jadi tolonglah cabut laporan mu, walau aku meninggalkan suamiku, dia tak mungkin mau menerimamu, terlebih saat dia tahu bahwa kamu memintaku meninggalkannya sebagai syarat dia bebas!"
"Aku 'kan sudah bilang tadi, aku sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Dari a sampai z, kamu tinggal bilang iya dan dengan segera aku akan mencabut laporan ku semudah membalikkan telapak tanganku ini!" Seru Karin dengan memperlihatkan tangannya yang begitu mudah dia balikkan.
"Tanda tangani surat ini!"
Karin melemparkan sebuah map diatas meja, "Dan tanda tangani, disitu tertulis jika kamu bersedia meninggalkan Antara tanpa paksaan dari siapapun. Dan kamu akan tunduk dengan apa yang aku perintahkan." Lanjutnya.
Melia berdecak. "Kamu kira aku bodoh!"
"Melia! Bunda, mohon padamu, Nak! Kalau kamu benar-benar ingin Bunda merestui pernikahanmu dengan Antara, Bunda berjanji akan merestuinya. Asal kamu mau meninggalkan Antara atau kalau memang kalian sama-sama mencinta Antara, kalian bisa memilikinya bersama-sama."
"Bunda!" Pekik Melia, tak terima.
Perkataan Weni membuat Melia terkaget-kaget. Bukan mendengar saran yang bijak sebagaimana mestinya orang tua. Ini malah memberikan saran yang bahkan di luar pemikiran Melia. Namun tidak dengan Karin yang matanya seketika berbinar mendengar ide cemerlang dari calon mertuanya itu.
Rasanya sungguh berat ketika dirinya sekedar ingin mengambil napas. Namun Melia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Belum lagi dengan desakan ibu mertuanya serta janjinya bahwa akan merestui pernikahan mereka dan akan berbuat baik padanya.
Tangannya begitu berat padahal hanya harus membubuhkan tandatangan saja. Belum lagi saat mengingat perkataan sang mertua saat dirinya bertanya, bagaimana caranya Antara mau menikahi Karin, yang jelas-jelas Antara sangat membencinya. Namun lagi-lagi perkataan sang mertua membungkam mulutnya hingga tak bisa lagi mengelak.
Aku yang akan memintanya secara langsung. Untuk caranya, kau tidak perlu tahu. Kamu cukup mengikuti alur yang akan aku buat nanti!
Setelah menandatangani perjanjian antara dirinya dan Karin. Seketika itu juga air matanya menetes. Dia tak habis pikir jika dirinya sebentar lagi akan di madu. Sebuah keputusan yang tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya.
...……...
Saat ini Melia berada di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari kantor polisi tempat Antara ditahan. Terdengar suara pintu terbuka dan terlihat sosok pria yang tinggi dan tampan dengan raut wajah cemas masuk kedalam ruangan yang dimana saat ini Weni sedang terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
Ya, setelah menyelesaikan perjanjian diantara mereka. Weni dan Karin segera menyusun rencana guna mempermulus rencana mereka. Sedang Melia hanya bisa menatap dari kejauhan bagaimana semangatnya mereka merencanakan semuanya.
"Bun, Bunda!! Antara histeris sembari memanggil Weni yang pucat, belum lagi dengan semua alat yang ada pada tubuhnya saat ini.
"Bunda, bangun Bunda. Antara sudah ada disini sekarang! Aku mohon Bunda bangun! Antara terus mencoba membangunkan Weni dengan mengguncang tubuhnya, namun sekeras apapun dia memanggilnya, Weni tak juga membuka matanya.
Tiba-tiba sekelompok rombongan yang memakai jas putih menghampiri mereka. Salah satu dokter mengatakan pada Antara jika Weni mengalami serangan jantung. Dan setelah itu menjelaskan apa itu serangan jantung mendadak.
Begini, Pak Antara . Serangan jantung mendadak adalah gangguan jantung yang membuat organ vital ini berhenti berfungsi secara tiba-tiba. Kondisi ini ditandai dengan gejala pingsan secara tiba-tiba, denyut nadi tidak teraba, dan penderita mendadak tidak bernapas. Penyebab serangan jantung mendadak tidak sama dengan serangan jantung biasa yang jamak dipicu gaya hidup tidak sehat.
Perlu, Pak Antara ketahui, masalah kesehatan ini bisa menyebabkan kematian apabila penderitanya tidak segera diberikan pertolongan medis yang tepat dan cepat. Beruntung Nyonya Weni segera mendapat penanganan yang cepat, hingga nyawanya berhasil tertolong, hanya saja—"
Ucapan dokter tersebut menggantung di udara membuat Antara penasaran.
Hanya apa, Dok?
"Saya hanya berpesan jika, Pak Antara sekeluarga harus menjaga emosi dari pasien, sebisa mungkin jantungnya tidak bekerja terlalu keras. Saya tidak bisa menjamin jika Nyonya Weni kembali terkena serangan jantung beliau bisa tertolong untuk kedua kalinya." Sambung dokter tersebut dengan jelas.
Antara menghela napasnya panjang sebelum kembali bertanya pada sang dokter.
"Jadi apa yang harus saya lakukan, Dok agar bunda saya tidak lagi mengalami serangan jantung!" Seru Antara.
"Jadi begini, Pak. Secara pasti kami tak bisa mengetahui jelas pastinya, tapi secara garis besar jika ada yang menjadi permintaan dari pasien, sebisa mungkin bahkan wajib merealisasikan keinginannya tersebut, "Itu juga demi kesembuhan pasien tersebut." Lanjutnya.
"Baiklah, Dok. Terima kasih atas sarannya, dan terima kasih karena sudah menyelamatkan Bunda saya." Antara mengucap ucapan terima kasih dengan tulus tanpa mengetahui bahwa dokter yang menyampaikan semua informasi tadi adalah dokter gadungan. Talent profesional yang disewa Karin untuk memerankan karakter sebagai dokter.
...****************...
__ADS_1