JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Bab. 74


__ADS_3

Sementara Melia bersenda gurau bersama ibu dan sahabatnya. Antara tengah dipusingkan oleh rengekan Malik sejak tadi, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Malik menjadi berantakan karena permasalahan yang dihadapinya. Namun saat Antara menanyakan apa masalahnya, Malik tak menjawab dan memilih keluar dari kantornya.


"Ada masalah apa sih itu anak, membuat pekerjaanku semakin banyak saja," keluh Antara yang harus mengerjakan sendiri pekerjaan yang ditinggalkan Malik.


Antara berusaha profesional saat sedang bekerja, ia tetap berusaha berkonsentrasi pada segala pekerjaannya di kantor. Dia tak ingin membuat pekerjaannya terbengkalai karena permasalahan rumah tangganya.


"Apakah semua yang menikah akan mengalami hal seperti ini juga!" batinnya bermonolog.


Sesekali sekelebat bayangan Melia muncul di kepalanya. Membayangkan wajah sedih Melia membuatnya semakin merasa bersalah.


***


"Kamu yakin sudah merasa lebih baik, hem?" tanya Clara saat melihat Melia ikut duduk bersamanya diruang tamu.


Zahra sedang bercerita tentang dirinya saat mengandung Melia. Nasib Zahra dan Clara kurang lebih sama, mereka harus bertahan hidup untuk anak yang dikandungnya seorang diri tanpa seorang suami, walau saat ini Clara tidak sendiri, karena ada Melia dan Zahra yang begitu menyayanginya.


Melia mengutak-atik ponselnya, meng scroll keatas dan kebawah bergantian dengan cepat hingga saat melihat gambar manisan buah mangga membuatnya tiba-tiba menginginkan saat itu juga.


"Ngg, seperti makan manisan mangga enak, Bu," celetukan Melia membuat keduanya menatap heran. Pasalnya Melia sangat anti dengan makanan yang berbau yang kecut atau asam seperti, mangga dan sejenisnya.


Mereka sangat tahu jika Melia tidak suka dengan makanan yang asam, maka tak heran jika mereka berpikiran jika Melia sedang hamil.


"Mel, kamu gak sadar dengan ucapan mu?!" tanya Clara.


"Maksudnya?"


"Bukannya kau tak suka buah mangga, lalu kenapa sekarang malah minta manisan mangga?" tanya Clara lagi.


Melia hanya nyengir dan tampak acuh dengan pertanyaan sahabatnya itu. Zahra hanya menyimak obrolan keduanya.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan…."


Clara memicingkan matanya menatap Melia yang cuek seolah tak mendengar perkataannya.

__ADS_1


"Jangan-jangan apa? Hamil maksudmu!" ucap Melia cuek, dia masih setia memandangi layar ponselnya tanpa berkedip.


"Bu, sepertinya anakmu ini beneran hamil deh, tuh.. lihat saja wajahnya, dia menatap gambar manisan mangga itu seperti menatap wajah suaminya," kata Clara mengadu.


"Hem, sepertinya kamu benar, Sayang," balas Zahra, kini Zahra membenarkan duduknya dan menyimpan benang sulam nya di sisi sampingnya.


"Mel, kamu beneran hamil, Nak?" tanya Zahra dengan mata berbinar.


Melia membenarkan duduknya lalu menatap kedua orang yang sangat disayanginya. "Baiklah karena kalian begitu penasaran, aku akan mengatakannya sekarang," bukannya menjelaskan, Melia malah tertawa melihat betapa serius wajah sang ibu dan sahabatnya saat ini. "Apa kalian sungguh ingin mengetahuinya?" goda Melia.


"Kau menggoda kami, huh! Baiklah rasakan ini, ini dan ini," gelitikan Clara membuat Melia tertawa terpingkal-pingkal, "Ampun.. sudah Cla, aku menyerah.. jangan menggelitik ku lagi, aku katakan dengan serius." Ucap Melia menghapus air mata di sudut matanya.


"Ibu Zahra yang cantik.. selamat karena sebentar lagi Ibu akan menjadi Oma muda! Dan kau Ibu muda.. sebentar lagi akan menjadi Tante muda," terang Melia, membuat keduanya saling berpandangan satu sama lain lalu kembali menatap Melia dengan tanda tanya.


"Serius! Benarkah, Sayang?" ucap Clara dan Zahra bersamaan.


Melia mengangguk, "Kata dokter, dia sudah berusia 2 bulan," jawabnya tersenyum lebar.


"2 bulan? Dan kau baru mengatakannya padaku! Kamu jahat!" rengek Clara dengan manja.


"Bu.. tuh lihatlah Melia. Dia mengejekku," adu Clara dengan manja pada Zahra.


"Huh.. bisanya mengadu saja, dasar anak kecil yang sebentar lagi akan mendapatkan anak kecil," ejek Melia membuat Zahra tergelak.


"Kalian ini," Zahra menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol keduanya.


"Apakah suamimu sudah tahu tentang kehamilan mu?!" Senyum Melia seketika pudar. Melia terkesiap dengan pertanyaan sang ibu. Melia masih belum siap menceritakan semuanya, apalagi harus menceritakan tentang dirinya memergoki suaminya bercinta dengan madunya di kamar mandi.


"Hem.. em.." Melia nampak berpikir keras apa alasan yang harus dia katakan agar tak mengetahui jika rumah tangga anaknya sedang bermasalah.


"Kalian pasti sedang bertengkar, benar 'kan tebakanku!" tebak Clara.


"Sudahlah, namanya juga rumah tangga, mana ada sih yang mulus mulus saja. Terlebih dengan posisi ku yang punya madu," jujur Melia, namun ia tak ingin menceritakan lebih detail.

__ADS_1


Huft'..


Terdengar helaan napas berat Clara.


"Aku gak bisa berbuat apa-apa soal itu, aku cuma bisa bilang kalau kamu selalu ada di sampingmu, kamu tak sendiri, Mel.. ada kami, ingat itu." kata Clara seraya menyikut bahu Melia membuatnya tersenyum lebar, ya.. dia harus tetap semangat karena ada mereka yang selalu berdiri di belakangnya.


"Sudah, sudah.. ini hari yang bahagia untuk kita. Ibu sangat bahagia karena sebentar lagi ibu akan mendapatkan 2 cucu sekaligus!" ucap Zahra dengan semangat.


***


Saat ini Melia sudah berada di dalam mobil menuju jalan pulang kerumah suaminya. Ada rasa enggan yang dirasakan olehnya, awalnya Melia ingin menginap di rumah ibunya namun, Zahra menghentikan niatnya karena selain belum meminta izin, ibunya pun mengatakan jika dirinya harus menyelesaikan permasalahannya dengan suaminya dengan segera dan memberitahukan perihal kehamilannya secepat mungkin.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Melia sampai dirumah mertuanya. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah, Melia membawa kunci rumahnya sendiri jadi tak akan mengganggu anggota keluarga lainnya hanya untuk membukakan pintu untuknya.


"Astaghfirullah, Bik Nani! Bibi mengagetkanku." Pekik Melia seraya memegang dadanya.


"Hehe.. maaf, Nyonya," ucap Bik Nani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yang lain pada kemana?" tanya Melia.


"Mereka sudah masuk kamar semua, Nya. Nona Karin setelah makan malam langsung masuk kamar, kalau Nyonya besar setelah makan malam sempat nonton sinetronnya setelah itu langsung masuk kamar juga." Tandasnya.


Melia mengangguk pelan mendengar penjelasan Bik Nani.


"Kalau.. Mas Antara? Apa dia juga ada di kamar?!"


"Oh, kalau Den Antara belum pulang, Nya. Kata, non Karin akan pulang larut malam karena lembur di kantor," ujarnya Bik Nani.


"Bibi bilang, Karin yang kasih tahu?" tanya Melia ulang. Bik Nani mengangguk setelah itu pamit kebelakang karena akan beristirahat.


"Mas Antara masih sempat menelepon Karin disaat dia sibuk? Sedang aku.. sampai detik ini saja tidak ditelepon. Apa dia sudah benar-benar marah dan sudah tak mencintaiku lagi!" ucap Melia dengan lirih.


Melia Menaiki anak tangga dengan pikiran yang entah kemana hingga membuatnya terpeleset hingga hampir saja terjatuh jika saja ia tidak sigap mencengkeram kuat pegangan tangga.

__ADS_1


"Astaghfirullah, hampir saja." Gumam Melia seraya menyentuh perutnya. Lalu kembali melanjutkan langkahnya namun kini dengan penuh kehati-hatian.


...****************...


__ADS_2