JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Kegalauan Antara


__ADS_3

Begitu berbekas di hati Antara, bahkan setiap kali Antara yang sengaja datang mengantarkan teman atau kliennya untuk merayakan kemenangan tender mereka seperti saat ini, namun entah mengapa ia tak pernah sekalipun bertemu dengannya.


Bukannya Antara tidak pernah mencoba mencarinya. Terkadang ia bertanya pada sesama pekerja malam di sana, namun hasilnya nihil, mereka kompak untuk tidak menjawab pertanyaan seputar identitas Melia.


Antara baru tahu kalau ternyata, identitas asli dari para pekerja di sana begitu dirahasiakan oleh pemilik klub malam di sini, demi menjaga keselamatan dari para pekerjanya. Hingga akhirnya, Antara pun menyerah mencarinya.


Satu bulan kemudian


"Tar, elo kenapa sih, sudah sebulan ini gua perhatikan elo jadi nggak semangat kerja begitu, kenapa sih loh!" tanya Malik, sahabat baik Antara.


"Engga tahu gua, semenjak bertemu wanita itu... Hidupku jadi enggak tenang!”terang Antara.


"Wanita? Wanita yang mana sih? Perasaan sebulan ini kita enggak ke mana-mana deh! Atau jangan jangan..." ucap Malik terputus saat Antara melemparkan buku kecilnya ke arah Malik.


"Auw!" adu Malik saat mengenai kepalanya.


"Jangan-jangan apa? Yang aku maksud itu, wanita yang kita temui di klub waktu itu," ujar Antara yang kembali terdiam saat memikirkan Melia.


"Oh, wanita malam itu! Gila loh ya, masa iya elu tertarik sama wanita ‘begituan’ sih." Ucap Malik sembari mengangkat kedua jarinya seakan mempertegas kata sakral itu dengan kedua jarinya.


"Enggak tahu juga, lagian kan, kita tak tahu juga dia itu wanita seperti ‘itu’ atau bukan! Perasaan aku sih, dia itu berbeda, tidak seperti wanita malam lainnya," ucap Antara yang seakan membela Melia di depan sahabatnya baiknya itu.


"Halah! Wanita malam sih tetap wanita malam! Masih banyak kok wanita yang di luaran sana rela mengantri demi dapat cinta lu, masih perawan lagi!!" ucap Malik terang-terangan.


Terlihat Antara menghembuskan nafasnya berat. "Iya, benar yang kamu bilang! Tapi kok aku tetap penasaran ya sama wanita itu!!" ucap Antara sembari membayangkan wajah cantik Melia saat sedang marah.


Malik memperhatikan wajah Antara saat membicarakan wanita malam itu. "Jangan bilang lo jatuh cinta sama dia!" celetuk Malik yang membuat Antara menatap horor padanya, "santai Tar, gua kan cuma bergurau!" ucap Malik sembari tertawa cengengesan.


"Gurauan mu nggak lucu!" ucap Antara kesal. Namun di dalam hatinya juga mengatakan seperti itu, "apa iya ya, aku sudah jatuh cinta padanya," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Dari pada lu penasaran terus, bagaimana kalau lu 'pakai' wanita malam itu. Biar rasa penasaran lu hilang dan otak lu itu bisa normal lagi." celetuk Malik yang kali ini bukan hanya buku kecil, tapi semua yang ada di mejanya semua dilemparkan ke arah Malik tanpa ampun.


"Parah lu Tar, wajah tampan gua bisa hancur lama-lama di sini! Gua cabut deh, ngeri gua sama orang yang sedang jatuh cinta kayak lo!" ucap Malik yang langsung kabur keluar dari ruangan Antara sebelum terkena lemparan untuk ketiga kalinya.


Sepeninggal Malik, Antara mencoba kembali fokus pada berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. "Gara-gara si curug itu, pekerjaanku jadi menumpuk begini!" gerutu Antara.


Di tempat berbeda, tepatnya di Klub malam. Melia pergi bekerja seperti biasanya setelah seminggu dirinya izin cuti karena menemani Zahra yang sakit. Ya, saat Antara datang di Klub malam tempat Melia bekerja saat itu, Melia memang sedang cuti karena menemani Zahra yang tengah dirawat inap di sebuah rumah sakit. Mereka hanya memiliki satu sama lainnya, jadi tak heran jika Melia rela tidak mendapatkan uang tambahan selama seminggu demi menemani dan merawat ibunya.


"Hai, Mel. Bagaimana kabar Zahra?" tanya sekuriti klub malam tempatnya bekerja yang juga mengenal Zahra saat masih bekerja di klub ini.


"Alhamdulillah, baik Bang, makanya sekarang Melia sudah masuk kerja lagi," jawab Melia sembari tersenyum.


Bukan satu, tapi hampir semua orang yang bekerja di klub malam ini menanyakan kabar Zahra padanya. Salah satu alasan kenapa Melia tetap mempertahankan pekerjaannya di klub malam ini karena ikatan kekeluargaan yang begitu kental satu sama lainnya, bukan sebagai pekerja saja namun mereka menganggap yang bekerja di klub ini adalah keluarga mereka.


Saat Melia berganti pakaian, tiba-tiba Clara mengagetkan dirinya. "Dor!!" ucap Clara hingga membuat Melia terlonjak kaget.


"Ya gampang, tinggal gua suruh Bang Romi gotong lu ke rumah sakit!" sahut Clara dengan gelak tawanya.


Melia melempar blazer yang dikenakan ke wajah Clara. "Sudah sana kerja, jangan makan gaji buta woy!!" ucap Melia yang kembali merias wajahnya.


"Eh Mel, lu masih ingat nggak tamu VVIP yang sebulan lalu datang?" tanya Clara yang kali ini terlihat serius berbicara.


"Yang mana sih, kan banyak pelanggan VVIP yang aku pegang." Jawabnya singkat sembari merapikan rambutnya yang berantakan.


"Ya, gua juga lupa lagi tanya namanya," ujar Clara yang menggaruk tengkuknya.


"Memangnya ada apa sih? Ada hubungannya sama aku?!" tanya Melia.


"Iyalah jelas ada, dia itu seminggu penuh datang ke sini, khusus mencari seorang wanita yang bernama M-E-L-I-A,” dikte Clara yang membuat dahi Melia berkerut, "dia itu cari kamu kayak orang gila tahu! Dia bertanya pada seluruh pekerja yang dia temui disini.

__ADS_1


"Kamu memang ada salah sama dia! Sampai begitu-nya loh dia cari kamu. Tapi sudah sebulan ini sih dia tidak pernah datang lagi, mungkin sudah menyerah kali ya!" ucap Clara sembari tertawa.


"Iya kali, nggak aku kenal juga," ucap Melia sambil menaikkan kedua bahunya. "Aku naik dulu ya. Mau ketemu sama Bos!” ucap Melia yang diangguki oleh Clara.


Tok.


Tok.


Tok.


"Malam, Paman Roki!” ucap Rena saat memasuki ruangan Roki.


"Eh, Mel. Kamu sudah masuk? Bagaimana kabar Zahra? Sudah sehat dia? Kok kamu sudah pergi kerja!” Ucap Roki yang kini beranjak dari kursi kebesarannya dan menyusul Melia yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa panjang miliknya.


"Sehat Paman, ini juga Ibu kok yang menyuruh Melia pergi kerja, katanya nggak enak kalau cuti lama,” sahut Melia.


"Hah, syukurlah. Bilang sama Zahra, kalau kerja jangan terlalu diforsir, nikmati saja masa tuanya, nikmati uang yang dia sudah kumpulkan selama ini. Toh kamu juga masih kuat bekerja kan, Mel!" Ucap Roki sembari membuka laci kecil yang ada di sampingNya, "ini Mel, ambil!”


Sebuah amplop coklat yang cukup tebal diambilnya dari tangan Roki. "Ini apa Paman?" tanya Melia yang bingung saat diberi amplop," bukannya gajian masih lama ya!" sambung Melia.


"Buat kamu dan Zahra, ambil saja. Paman minta maaf karena belum bisa menjenguk Zahra di rumah sakit waktu itu,” ujar Roki dengan senyum simpulnya.


"Nggak usah Paman, toh Ibu juga sehat. Dia titip salam, katanya, "'terima kasih kiriman bunganya.'"


"Nggak apa-apa, ini rezeki kalian."


"Hem, baiklah, Melia terima ya Paman, terima kasih!” ujar Melia dengan tersenyum. Roki memang sangat baik pada Zahra dan Melia. Rasa bersalahnya dulu membuatnya tidak bisa bertemu Zahra secara langsung. Dirinya merasa ikut andil dalam musibah yang dialami oleh Zahra, pekerjanya dulu, wanita yang diam-diam disukainya, bahkan sampai sekarang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2