JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Angan Yang Menjadi Nyata


__ADS_3

"Aku tahu! Dan aku berjanji akan tetap berada disampingmu." Antara dengan cepat menepis semua keraguan di hati Melia.


"Apa? Kamu tahu? Tahu apa kau tentangku, hah! Kamu orang yang baru datang dihidupku." Tampik Melia. Ia tak habis pikir pada Antara. Seakan dia tahu semua yang terjadi dalam hidupnya.


"Aku tahu semua tentangmu Melia. Jangan kira sebelum aku berusaha seperti ini aku tak mencari tahu tentangmu. Dengan usaha yang sebulan ini intens kulakukan, itu menandakan kalau masa lalu Ibumu tak menjadikan ku menyerah tentangmu. Walau aku tak begitu tahu detail yang sebenarnya terjadi pada Ibu dulu, tapi yang kutahu jika pasti bukan ibu yang memulai, dan aku yakin jika Ibu pun dulu adalah korban pria itu." Terangnya. ia tak ingin jika Melia menggapnya sama dengan pria yang diluaran sana, dia pun ingin membuktikan jika tak semua pria 'bejat' seperti pria yang merenggut kehormatan ibunya dulu.


"Kau—" belum selesai ia tercengang dengan penuturan Antara yang menerimanya tanpa melihat latar belakangnya. Ia kembali dikejutkan saat Antara tiba-tiba berlutut di hadapannya.


"A-apa ini! Kamu jangan bercanda, Mas! Ayo, berdirilah," ucap Melia, dia tak habis pikir dengan pria dihadapannya, baru saja tadi dia menyatakan perasaannya, namun entah surprise apa lagi yang akan diperbuatnya kali ini.


"Bangunlah." Kata Melia sembari membantu Antara berdiri. "Maaf, maafkan aku," ucapnya sendu.


Belum sempat Antara mengeluarkan cincin yang sudah dia siapkan sebelumnya, Melia sudah menyelanya terlebih dulu. Melia bukan wanita bodoh yang tak tahu maksud Antara yang akan berlutut.


"Maaf kenapa? Memang apa yang kau lakukan?" tanya Antara heran.


"Maaf karena aku tak bisa menerimanya jika itu soal pernikahan."


"Apa maksudmu? Dan kenapa jika itu memang soal pernikahan!" sambung Antara.


"Pernikahan bukan hanya soal kita berdua saja, namun juga tentang keluarga terdekat kita, aku bicara soal Bundamu. Dia pasti tak akan merestui hubungan kita," ucapnya dengan yakin.


"Kenapa, kenapa kamu bisa seyakin itu! Padahal kamu belum pernah bertemu Bunda sekalipun." Balasnya.


Melia mendesah. "Kami pernah bertemu, Mas. Ingat, saat kecelakaan di sekitar pasar waktu itu! Aku tahu betul bagaimana watak Bundamu dari sana," sahut Melia memberi penjelasan. Melia berbalik membelakangi Antara melihat laut lepas di hadapannya. "Aku takut, aku takut Mas, aku takut kecewa." ucapnya menatap Laut malam yang terlihat menakutkan saat ini.

__ADS_1


"Kamu tak percaya padaku? Apa kamu pikir aku takkan bereaksi dan membelamu di hadapan Bunda! Begitu?" balasnya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Melia.


"Bukan begitu, bukan itu maksudku, Mas. Kamu tahu apa yang aku maksud. Kamu pasti mengerti yang aku takutkan!" ucapnya berbalik dan menatap wajah Antara yang kini dipenuhi oleh tanda tanya.


"Aku tahu kamu akan menjadi suami yang baik," lanjut Melia. "Namun, walau bagaimanapun kamu takkan bisa menjadi imamku disaat bunda mu mengetahui latar belakang ku nanti, cepat atau lambat, dia pasti akan tahu!" Sambung Melia.


Antara terdiam, mencerna semua perkataan Melia padanya. "Jadi kamu takut jika bunda takkan menerima mu karena latar belakangmu! ucapnya.


Melia mengangguk pelan atas jawaban Antara. "Aku takut bundamu nanti tak bisa menerima kenyataan jika aku bekerja di sebuah klub dan tak bisa menerima masa lalu Ibu, terlebih latar belakangku yang lahir tanpa tahu siapa ayahnya!"


Antara menggenggam tangan Melia dan mensejajarkan dirinya. Mengangkat wajah Melia yang tertunduk. Terlihat jelas genangan air mata yang siap meluncur keluar dari kedua mata indahnya. "Aku mencintaimu karena pribadi mu bukan karena latar belakang terlebih masa lalu Ibu. Yang lalu biarlah berlalu, kita tak perlu melihat kebelakang. Aku akan bicarakan pada Bunda setelah kita berlabuh nanti, setelah itu aku akan membawamu dan memperkenalkanmu pada Bunda langsung." ucap Antara meyakinkan Melia. Dan untuk Ibu, biar aku yang bicara, aku akan memintamu secara langsung padanya, aku yakin Ibu pasti merestui kita." lanjut Antara.


Yang terpenting saat ini adalah keputusanmu, apakah kamu siap menemaniku berjalan beriringan menuju masa depan kita nanti!"


"Karena aku pria yang langka, maka dari itu terimalah hatiku karena aku tulus padamu!" Ucap Antara yang kembali berlutut sembari memberikan sebuah cincin bertahtakan berlian padanya.


"Tapi, Mas, aku—aku akan memakainya saat Bundamu merestui hubungan kita!" jawab Melia ragu. Ia takut jika Antara kembali kecewa.


Antara tak menggubris penolakan Melia padanya, ia berdiri lalu memasangkan cincin tersebut di jari manisnya. "Pakailah, ini bukti jika aku serius padamu, dan sudah aku katakan tadi jika kau masih ragu soal bunda—aku akan segera mempertemukanmu padanya, secepatnya, aku janji!"


"Baiklah, baiklah, aku takkan pernah menang jika berdebat dengan—


"Denganku?!" sela Antara yang mendapat anggukan kepala dari Melia. "Kau salah besar, selama kita berkenalan, akulah yang selalu kalah jika berdebat denganmu. Kamu lupa, jika setiap kali kita bertemu, pasti ujungnya aku yang selalu mengalah dan meminta maaf." ucap Antara mengenang saat-saat pertama kali dirinya bertemu dengan Melia.


Melia tergelak saat mengingat pertemuan kali pertamanya dengan Antara. "Baiklah, aku minta maaf jika selama ini aku selalu ketus padamu, aku hanya ingin melindungi diriku, itu saja!"

__ADS_1


"Aku tahu! Dan terima kasih untuk pertahananmu selama ini, dengan begitu kamu benar-benar menutup akses setiap orang yang akan berniat buruk padamu."


"Termasuk padamu juga 'kan?" ujar Melia menggoda.


"Tentu saja, tapi karena niatku baik. Allah memberikanku jalan, walau tak mulus namun beruntung karena ada Ibu yang selalu mensupportku jadinya aku kuat menghadapi sikapmu itu!"


"Oh ya! Wah, artinya Ibu nih penyelemat mu! Tapi aku salut padamu sekaligus ingin berterima kasih karena kau tak menyerah padaku." balasnya semangat.


"Tapi kau tak tahu Mel, aku hampir saja menyerah di saat-saat terakhir sebelum Ibu kembali memberikan ku semangat untuk berjuang." Batinnya. Ia tersenyum mengingat Zahra yang selalu menerimanya bahkan sejak awal ia datang ke rumahnya saat itu.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan! Sejak tadi kau terus tersenyum seperti itu." ucapnya penasaran.


"Enggak apa-apa, aku hanya teringat saat pertama kali aku kerumahmu waktu itu." Jawabnya kembali tergelak. Berawal dari ide Malik yang menyuruhnya menyewa jasa detektif, hingga ia memiliki ide untuk berpura-pura menjadi teman Melia kala itu dan memberikannya hadiah.


"Apa sih, sejak tadi kamu senyam senyum mulu, lagi mikir jorok ya!" tebak Melia. Ia sangat penasaran dengan


sikap Antara sejak tadi.


"Astaghfirullah! Jahat banget pikiranmu. Kok bisa kamu bisa mikir kalau aku lagi mikir yang jorok-jorok?"


"Ya habisnya, kamu sejak tadi senyum-senyum sendiri. Ya nggak salah dong aku mikirnya gitu!" jawab Melia tergelak.


Antara bahagia melihat wanitanya tertawa, menatap wajah cantik Melia secara langsung membuatnya seperti sedang bermimpi. Wajah yang selalu terbayang bayang di kepalanya setiap harinya kini ia bisa menggapainya secara langsung.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2