
"Ya pergilah.. pergilah bersama Karin, aku sudah terbiasa membagi mu padanya, bahkan aku pernah melihatmu bercinta dengan begitu liar di atasnya," kata Melia dengan lirih mengingat percintaan panas suaminya dengan Karin kala itu.
Tubuhnya luruh di atas marmer dingin yang membuatnya semakin memeluk tubuhnya erat. Saat ini Melia membutuhkan pelukan dan sandaran yang bisa membuatnya kuat menghadapi kenyataan hidupnya.
Melia lalu mengusapnya perutnya yang masih rata dengan lembut, "Kamu sehat-sehat ya, Nak di dalam sana, Bunda akan selalu kuat untukmu."
Pagi harinya, Antara tampak bangun dengan tergesa-gesa lalu turun ke bawah dimana istrinya tidur. Dia sudah berniat sejak kemarin malam untuk meminta maaf, Melia. Antara yakin jika emosi istrinya itu pasti sudah redah.
Saat Antara akan membuka pintu kamar yang ditempati Melia semalam, terdengar suara bising dari arah dapur.
"Nggg' siapa yang di dapur? Perasaan asisten rumah tangga yang aku minta baru datang lusa nanti!" batin Antara, namun saat akan kembali masuk ke dalam kamar sang istri, tiba-tiba Melia datang membawa 2 piring lauk pauk dari arah dapur dengan senyum yang tersungging di kedua sudut bibirnya.
"Selamat pagi, Mas," sapa Melia pada sang suami.
Antara terlihat terperangah melihat ekspresi sang istri yang terlihat biasa-biasa saja, padahal semalam Melia sangat emosional dimatanya.
"Kamu baik-baik saja!" seru Antara saat merasakan keanehan pada sang istri.
Melia tergelak mendengar pertanyaan Antara padanya. "Aku baik-baik saja, Mas." Pungkas Melia seraya menghampiri sang suami dan meletakkan lauk pauk yang sudah dimasaknya sejak pagi.
"Ayo, duduk. Kita sarapan dulu, bukankah kamu harus ke kantor pagi ini!" seru Melia mengajak sang suami duduk.
Setelah sarapan, Melia kembali sibuk di dapur membersihkan dapur juga peralatan masak dan makan mereka tadi. Sedang Antara kembali ke atas kamarnya mengambil ponsel serta jas nya.
Antara turun dan tak mendapati sang istri di dalam kamarnya lalu ia mendengar suara air mengalir dari arah dapur.
Antara memeluk Melia dari belakang dengan sangat erat. "Maafkan, Mas soal yang semalam, Sayang. Itu diluar kendaliku." Bisik Antara tepat di belakang telinganya.
Melia menghentikan kegiatan cuci piringnya lalu mengambil napas dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya ia berbalik dan menjawab permintaan maaf suaminya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku juga ingin meminta maaf soal sikapku yang sangat kekanak-kanakan semalam. Maafkan aku!" Balas Melia menatap mata sang suami.
Apakah aku akan sanggup hidup tanpamu, Mas! Batin Melia masih menatap wajah sang suami dengan lekat.
"Baiklah, Mas ke kantor dulu ya! Mas janji akan pulang lebih cepat dari biasanya," kata Antara mencium pucuk kepala sang istri.
Melia menutup matanya sesaat menikmati sentuhan suaminya yang mungkin saja nanti ia tak akan lagi bisa merasakan sentuhan ini.
Setelah itu Antara pamit ke kantor dengan mencium kening Melia lalu sedikit ******* bibir merah istrinya.
"Mas!" panggil Melia saat sang suami belum jauh dari pandangannya. Kamu akan bekerja dengan pakaian itu!" tanya Melia saat melihat sang suami masih memakai pakaian yang sama yang dia pakai.
"Nanti aku suruh sopir membawakan pakaianku ke kantor," jawab Antara mengulas senyum.
Sepeninggal suaminya, Melia kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur setelah itu masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap ke rumah mertuanya.
Sesampainya di rumah mertuanya, Melia membereskan semua barang-barang yang akan dibawa ke rumah barunya, dibantu oleh Bik Nani yang membantu mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam lemari.
"Nya, apa gak sebaiknya Nyonya simpan sedikit pakaian nyonya disini, jadi kalau nyonya menginap 'kan tidak perlu bawa pakaian lagi!" seru Bik Nani.
"Nggak usah, Bik. Kayaknya aku gak akan pernah lagi tinggal dirumah ini!" kata Melia dengan pelan dan wajah yang sendu.
Bik Nani berbalik lalu menatap sang majikan dengan wajah prihatin. "Sabar, Nyonya.. semua akan indah pada waktunya." tutur Bik Nani menguatkan.
Melia tersenyum seraya mengangguk dengan perhatian yang diberikan Bik Nani padanya.
"Saya titip Bunda ya, Bik. Ingatkan bunda untuk istirahat dan setiap kali bibi masak, tolong garam dan bumbunya diperhatikan ya, makanan termasuk pencetus awal berbagai penyakit soalnya," kata Melia mengingatkan.
"Iya, Nya. Bibi doakan Nyonya bisa bahagia setelah tinggal dirumah Nyonya sendiri sama den Antara." Tutur Bik Nani yang merasa kehilangan.
__ADS_1
Pasalnya sejak Melia menjadi bagian dari keluarga ini, suasana rumah semakin meriah dan berwarna, apalagi dirinya sudah tidak pernah lagi dikomplain oleh Nyonya besarnya soal rasa masakannya yang hanya begitu begitu saja karena Melia sudah memberikan trik dan tips dalam memasak.
"Ayo, Bi. Aku harus cepat kembali ke rumah sebelum makan siang," kata Melia.
Bik Nani sudah turun terlebih dahulu dengan membawa 2 koper besar milik Melia. Melia menatap kamar yang sudah lebih dari 2 tahun ditempatinya. Begitu banyak kenangan yang sudah terjadi disana, termasuk menjadi saksi bisu saat dirinya menangis terpuruk.
Melia turun dari tangga dan melihat Karin yang sedang bersantai di meja makan dengan memakan buah apel.
"Hei, Mel. Kapan kamu datang? Bukannya kamu sudah tak tinggal disini!" seru Karin saat melihat Melia turun dari lantai 2 kamarnya.
"Aku hanya ingin mengambil barang barang ku saja," jawab Melia datar. Melia tak mau ambil pusing dengan perkataan Karin padanya. Dia tak ingin lagi masuk ke dalam perangkapnya.
"Baguslah, aku harap kau tak akan lagi kemari. Aku ingin hidup dengan damai dan tenang bersama keluarga kecilku!" kata Karin yang sengaja ingin memanas-manasi Melia.
"Hem.. sayangnya aku pasti akan tetap kembali kemari karena mertuaku tinggal disini, Karin. Ku ingatkan jika kau sudah lupa." Balas Melia dengan tersenyum manis. Melihat senyuman Melia, membuat Karin menjadi kesal.
"Wah, Mel. Kamu sudah datang, Nak!" seru Weni saat keluar dari kamar. Rencananya Weni akan bertemu dengan Zahra, ibunya Melia hari ini.
"Iya, Bun. Aku mau ambil beberapa barang dan pakaianku di kamar," jawab Melia seraya menghampiri sang ibu mertua lalu mencium tangan serta kedua pipi Weni seraya berpamitan.
"Bunda jaga kesehatan ya, kalau ada waktu, bunda nginap dirumah Melia. Nanti bunda aku masakin makanan yang enak lagi," kata Melia dan mendapat anggukan oleh ibu mertuanya.
"Bunda berharap setelah ini kamu bahagia, Sayang. Kamu bisa menata rumah tanggamu lagi kedepannya dengan lebih baik dan bahagia tentunya. Biar Karin bunda yang urus agar tidak selalu mengganggu kalian." Imbuh Weni melepas pelukannya.
Melia tergelak mendengar perkataan ibu mertuanya. Tak disangka mertua yang dulunya sangat menentang pernikahan mereka kini malah mendukungnya 100 persen.
"Iya, Bun. Terima kasih, Melia pamit ya.. Assalamualaikum." kata Melia meninggalkan Weni, Karin dan Bik Nani dibelakangnya lalu menaiki mobilnya.
...****************...
__ADS_1