JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
Suara Kerinduan sepasang Suami Istri


__ADS_3

"Ya, Allah.. kuatkan hamba!" ucapnya dalam hati.


"Enggak apa-apa, Mas, aku gak apa-apa kok!" katanya seraya mengulas senyum. "Selamat ya, Karin. Semoga sehat dan dilancarkan kehamilannya." ucap Melia dengan tulus.


Karin tersenyum kecut mendengar ucapan selamat yang diberikan Melia padanya. Tak seperti apa yang Karin harapkan, senyum Melia tak pernah lepas dari wajahnya, seakan ia ikut berbahagia dengan kabar kehamilannya. Padahal yang Karin harapkan adalah Melia menangis dan merutuki kehidupannya karena sampai 2 tahun pernikahannya, ia tak kunjung hamil.


"Oh iya, bagaimana kabarmu? Apa kepalamu masih pusing!" tanya Antara yang sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin Karin terus menerus membicarakan soal kehamilannya yang akan membuat istrinya pertamanya itu bersedih.


Melia mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan suaminya, "Baik, aku baik, seperti yang kamu bisa lihat!" jawab Melia dengan mengangguk pelan dengan senyum yang tak lepas dari sudut bibirnya.


"Sayang, aku capek.. anterin aku istirahat di kamar ya.." ucap Karin dengan suara manja.


Sementara Antara menatap wajah cantik istri ya dengan sejuta pertanyaan. "Terbuat dari apa hatimu hingga disaat seperti ini pun kamu tetap bisa tersenyum dengan manisnya."


Antara terkesiap saat Karin menyentak bahunya. Ya, sejak tadi ia terus menatap istrinya dengan lekat. "Kamu lamunin apa sih!" Seru Karin dengan wajah kesal. Bagaimana tidak, sejak tadi Karin memperhatikan dimana arah mata Antara berada yang terus memperhatikan Melia dengan tatapan menelisik.


"Ah, i-iya, ada apa, Karin?" tanya Antara terbata saat kesadarannya kembali. Seperti seorang pencuri yang ketahuan sedang mencuri.


"Makanya kalau orang bicara itu didengerin, diperhatikan, jangan malah lihat yang lain!" seru Karin menyindir Antara yang ketahuan olehnya sedang menatap istri pertamanya.


"Sudahlah, Karin, sekarang kamu mau apa lagi!" ucap Antara tak kalah seru.


Karin mencebik kesal mendengar perkataan Antara. "Aku mau istirahat di kamar sekarang!"

__ADS_1


Antara menghela napas, "Baiklah, ayo!" Antara menggendong tubuh Karin masuk ke dalam dekapannya dan sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar Karin, Antara meminta Melia untuk menunggunya karena ada yang ingin dibicarakan padanya.


Melia hanya mengangguk pelan mengiyakan permintaan suaminya itu, sedang Karin begitu kesal mengetahui jika Antara dan Melia akan menghabiskan waktunya bersama. Walau suaminya mengatakan ingin membicarakan sesuatu, namun tetap saja ia tak suka jika Melia dekat-dekat dengan Antara. Setelahnya pintu kamar tersebut benar-benar tertutup dengan sempurna.


Antara membaringkan tubuh Karin di atas kasur dan setelahnya berpamitan kepadanya, namun Karin lagi-lagi menahannya dengan berbagai alasan, namun Antara tak punya pilihan selain menuruti kemauan istri keduanya itu.


"Sayang.. perutku nyeri, tolong katakan pada anakmu untuk menjadi anak yang baik dan tidak menyakiti mamanya," ucap Karin dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Karin, apa kau tak ada alasan yang lebih masuk akal dari ini? Apa kau tak merasa bersalah pada anakmu itu, janin mu saja masih segumpal darah, dia belum terbentuk dengan sempurna, bagaimana bisa kamu menyalahkannya seperti itu!" bentak Antara dengan marah, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Karin.


Karin yang memang hanya ingin menahan Antara agar tidak bertemu dengan Melia, memang tak memikirkan alasan lain selain mengandalkan anak yang dikandungnya saat ini. Karena seperti yang sudah-sudah, Antara pasti tak punya pilihan lain selain menuruti semua keinginannya.


"Ma-maaf," ucap Karin pelan. "Aku hanya ingin kamu menemaniku sebentar saja, tapi perutku memang nyeri, mungkin karena terlalu banyak duduk tadi." ungkapnya jujur.


Terdengar helaan napas panjang dan kasar Antara. "Baiklah, apa perlu aku panggilkan dokter!" ucap Antara dengan suara lebih pelan namun masih datar.


"Dan, dan apa!" seru Antara, dia tahu jika Karin ingin mengatakan sesuatu padanya namun takut padanya.


"Dan.. hanya perlu kamu mengusapnya seperti biasanya sampai aku tertidur," tutur Karin dengan suara pelan.


"Sabar, sabar," gumam Antara dalam hati. Ia terus menyemangati dirinya sendiri untuk tetap bisa mengontrol emosinya agar tak sampai membuat suasana hati Karin memburuk.


"Berbaringlah dan berbalik, aku akan mengelus perutmu." Antara beranjak naik ke atas kasur dan segera melakukan apa yang biasa dia lakukan saat perutnya nyeri. Entah itu akal-akalan Karin atau memang adalah kemauan anak yang ada di dalam perutnya namun, percaya atau tidak, perlahan rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya.

__ADS_1


Sementara di luar kamar, Melia masih menunggu Antara keluar dari dalam kamar Karin, namun sampai setengah jam dia menunggu, Antara tak kunjung keluar hingga ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Selama Antara sibuk mengurus Karin di rumah sakit, balkon kamar menjadi tempat favoritnya saat ini. Menghirup udara dan menatap langit menjadi jurus yang mampu membuat perasaannya menjadi jauh lebih baik.


Ia menghirup udara dengan sangat panjang lalu menghembuskan perlahan seraya membuka matanya dengan pelan mampu membuat sesak yang dirasakannya menguar seketika seiring dengan napasnya yang kembali normal.


"Apa yang membuat helaan napas mu begitu berat?"


Deg'


Seketika Melia mematung saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ya, saat ini Antara sudah berada disamping, atau lebih tepatnya lagi sudah sejak tadi ia berada disana sembari melihat apa yang dilakukan istrinya itu.


"Mas.. apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau tadi di—"


Antara tak menjawab, ia menarik tubuh Melia dan merengkuh tubuh itu masuk kedalam pelukannya. Melia yang masih kaget pun bergeming dan masih dalam posisi yang sama tanpa membalas pelukan suaminya. Hingga setelah Antara mengungkapkan perasaannya, barulah Melia membalas pelukan suaminya itu.


"Mas, sangat sangat merindukanmu," ucapnya dengan lirih.


"Aku pun merindukanmu, Mas. Sangat merindukanmu," ucap Melia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Akhirnya mereka berpelukan dengan erat dibawah pendaran sinar bulan yang dikelilingi oleh cahaya bintang yang bersinar dengan terang. Kini jantung keduanya berdebar dengan amat kencang seakan ini adalah yang pertama kalinya mereka sedekat ini. Antara membelai kedua pipi Melia sambil memajukan wajahnya kedepan. Antara memberanikan diri untuk mencium bibir istrinya yang sudah lama tak dirasakannya. Melia tak menolak ciuman Antara dan malah menikmati setiap detiknya, disetiap pagutannya.


Awalnya Melia hanya diam saja karena ini ciuman pertama mereka setelah lama tak bersama, tapi Antara tak patah semangat, ia menuntun bibir istrinya lebih dalam menikmati manisnya ciumannya. Hingga membuat Melia terbuai dengan ciuman yang dia berikan, bahkan ada gelenyar panas yang dirasakan Karin didalamnya.

__ADS_1


Sensasi nikmat yang keduanya rasakan seolah menghilangkan rasa canggung yang sempat mereka rasakan keduanya setelah lama tak bersentuhan seperti ini. Awalnya Antara pikir Melia akan marah padanya namun ternyata Melia dengan senang hati kembali membalas ciumannya. Antara semakin bergairah dibuatnya saat merasakan Melia mulai menikmati setiap permainan bibirnya. Saling memagut, menikmati kebersamaan mereka kembali setelah sekian lama.


...****************...


__ADS_2