JERAT CINTA WANITA MALAM

JERAT CINTA WANITA MALAM
PENDARAHAN


__ADS_3

"Ada apa dengan kalian semua, huh! Apa sebegitu buruknya aku hingga mendengar kehamilanku tak ada satupun yang berbahagia!!" Pekik Karin, baginya mereka sudah sangat kelewatan, seakan anak yang dikandung saat ini adalah anak yang tidak mereka harapkan.


"Karin, bukan begitu maksud, Bunda. Bunda hanya ingin mengetahui apa benar kamu tak salah, soalnya sebelum kita memeriksakan kandungan mu ke dokter, kita tidak bisa terlalu yakin tentang kehamilan mu ini, jangan sampai kamu terlalu bahagia namun ternyata kehamilan mu ini termasuk kehamilan palsu." jelas Weni.


Kehamilan palsu (pseudocyesis) adalah kondisi ketika seorang wanita mengalami gejala dan tanda yang mirip dengan kehamilan asli. Namun, sebenarnya tidak terjadi kehamilan dan tidak ada janin yang berkembang di dalam rahim. Tanda kehamilan yang muncul juga dirasakan selama beberapa minggu hingga bulan, layaknya kehamilan asli. Entah mengapa di pikirannya langsung terlintas tentang kehamilan palsu.


Karena tak mungkin dia mengatakan secara gamblang pada Karin jika dirinya memang tak mengharapkan cucu pertamanya datang dari Karin. Namun jika memang benar, dia juga tak tahu harus bersikap seperti apa, di satu sisi dia sebenarnya juga bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi oma namun, sisi lainnya dia pun harus menjaga perasaan menantu pertamanya itu, menantu yang sudah menderita karena perlakuannya dulu dan karena keegoisannya hingga membuat Antara memiliki istri 2 saat ini.


Karin terdiam mendengar ucapan mertuanya, "Apa iya, kehamilan palsu itu ada?" Tapi bagaimana jika benar bahwa dia sebenarnya tak hamil, lalu apakah setelah ini Antara akan kembali bersikap acuh padanya. Berbagai pikiran bergelayut dipikirannya saat ini hingga tiba-tiba pandangannya memburam dan seketika menjadi gelap.


"Karin!!" pekik Weni dan Antara bersamaan ketika melihat Karin tiba-tiba jatuh pingsan, terlebih saat melihat darah segar mengalir dari sela pahanya.


"Bunda.. ini.. darah! Karin berdarah, Bun!" Antara panik saat melihat begitu banyak darah yang keluar, bahkan pakaian yang digunakan Karin pun terkena banyak darah.


"Ayo cepat kita bawa, Karin ke rumah sakit jangan-jangan benar dia hamil dan—"


"Dan apa, Bun!" Potong Antara melihat ekspresi panik sang bunda.


"Dan, jangan bilang dia keguguran sekarang!" Weni membekap mulutnya sendiri saat sadar apa yang dia katakan. Ayo! Cepat, An, bawa dia ke dokter!" Pikiran Antara masih linglung, dia tak bisa berkata-kata.


Disisi lain dia tak ingin sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Karin jika memang dia hamil, namun dia tak mungkin juga meninggalkan Melia sendirian dirumah.

__ADS_1


"Bun, tapi.. tapi aku juga tak bisa meninggalkan Melia disini sendirian!"


"Tenanglah, urusan Melia, biar bunda yang urus, sekarang yang terpenting Karin, jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya. Ayo, cepatlah!!" Antara mengangguk lalu segera menggendong Karin dan membawanya masuk kedalam mobil, setelah memakaikan sabuk pengaman, Antara menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dari rumahnya.


Setelah sampai dirumah sakit, Karin segera ditangani oleh pihak dokter, khususnya oleh dokter kandungan. Sementara menunggu dokter kandungan tiba, Antara disuruh keluar dan menunggu oleh dokter yang menangani Karin. Tangannya masih dipenuhi oleh darah Karin, lebih tepatnya adalah darah janinnya. Karena


"Saat hamil, ibu hamil akan mengalami perubahan kadar hormon dalam tubuh. Sejak awal kehamilan, hormon progesteron akan meningkat dan membuat pembuluh darah ibu hamil melebar. Hal ini kemudian menyebabkan tekanan darah ibu hamil menjadi lebih rendah dari biasanya. Selain itu, gangguan kecemasan, dan yang melakukan olahraga atau aktivitas berat juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pingsan. Jadi saran saya, sebaiknya ibu Karin agar tidak stress berlebihan, karena itu akan memicu terjadinya keguguran," jelas Dokter yang memeriksa Karin


"Bapak beruntung karena janin masih bisa diselamatkan. Tapi saya harap bapak bisa menjaga emosi istri bapak, berpikir terlalu keras bisa membuatnya stress, untuk sementara saya sarankan agar ibu Karin untuk banyak banyak istirahat, dan jangan dulu beraktivitas yang berat. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan, beliau harus bedrest, namun bapak jangan cemas, karena ini hanya sementara.


Setelah 3 bulan, kita nanti bisa melihat kondisi janin didalam seperti apa, karena usia kandungan ibu Karin saat ini masih sangat kecil jadi belum banyak yang bisa kita lihat. Intinya, bapak harus menjaga mood istri bapak agar tidak stress, saya rasa hanya itu yang bisa saya sampaikan saat ini." jelas sang Dokter panjang lebar. "Sampai disini ada yang ingin bapak tanyakan?" lanjutnya.


Antara masih tertegun mendengar penjelasan sang dokter, ia masih mencerna semua yang dia katakan. "Pak, Bapak Antara! Bapak masih mendengarkan saya!" Panggilan Dokter tersebut membuatnya kembali tersadar.


"Tenang saja, Pak. Istri bapak baik-baik saja, kandungannya pun sehat, cuma memang 1 sampai 3 bulan pertama diawal kehamilan itu sangat rentan terjadinya keguguran." Tandas sang dokter lalu berlalu dari ruang IGD. Meninggalkan Antara yang kembali terdiam.


Tak lama ponsel Antara berdering. Ia mengambil ponselnya yang disimpan di saku celananya. Ternyata Sudarma, sang papa mertua yang menghubunginya. Setelah memberitahukan perihal kondisi Karin pada papanya, Antara kembali ke dalam bilik tempat Karin terbaring. Ia duduk tepat di hadapan Karin saat ini, matanya masih tertuju pada selembar foto USG yang tadi diberikan dokter padanya, ia juga ingat apa yang dikatakan oleh dokter kandungan itu.


Ini calon anak bapak, banyak berdoa saja, Pak dan terus beri istrinya support. Dan perasaan bahagia akan membuat janin di kandungan istri bapak akan tumbuh dengan baik.


Benar yang dikatakan Dokter tadi, Karin memang pingsan setelah perdebatannya dengan sang bunda tadi.

__ADS_1


Disaat dirinya masih sibuk dengan pemikirannya, terdengar suara lenguhan Karin.


Eengg..


"Kamu sudah sadar! Bagaimana perasaanmu?" terlihat wajah khawatir Antara.


"Aku dimana?" tanya Karin saat menyadari dirinya bukan di dalam kamarnya, terlebih saat menyadari selang infus yang kini terpasang dengan rapi di tangannya.


"Kamu dirumah sakit! Kamu mengalami pendarahan tadi."


"Pendarahan! Maksudnya?" Karin tak mengerti mengapa ia bisa pendarahan, bahkan dirinya saat ini tidak sedang datang bulan.


"Kamu ... kamu hamil!


Karin terperangah mendengar perkataan suaminya. "Aa-aku hamil!" tanya Karin memegang perutnya. Antara mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Karin. "Lalu, tadi katamu aku pendarahan, anakku! Anakku bagaimana? An, anak kita baik-baik saja 'kan!" Tiba-tiba Karin histeris hingga membuat dokter masuk ke dalam bilik Karin.


"Ibu! Ibu Karin, tenang, tenang ya.. Alhamdulillah kandungan Ibu saat ini baik-baik saja. Tadi memang Ibu sempat pendarahan tapi Alhamdulillah masih bisa diselamatkan jadi, tugas Ibu saat ini harus menjaganya dengan baik, dengan cara menjaga emosi Ibu dan jangan beraktivitas yang berlebih dulu selama 3 bulan kedepan," terang salah satu dokter jaga di ruang IGD tersebut. Penjelasan dokter tersebut membuat Karin kini bisa bernapas dengan lega.


Karin mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut dan bergumam, "Sehat terus ya, Nak. Mama dan Papa selalu ada di sampingmu. Kami akan menjagamu selalu sampai tiba nanti kamu lahir kedua, iya 'kan Papa!" ucapan Karin barusan menyentak kesadarannya, pikirannya jika saat ini dia sudah menjadi orang tua. Ada anak yang akan memanggilnya dengan sebutan, papa.


...****************...

__ADS_1


Mohon dukungannya kk, dengan memberikan Vote, gift juga boleh, hehe


Dan Like dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian semua agar outhor bisa semangat lagi berkarya, terima kasih🙏


__ADS_2